Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Selir Agung
Udara sore di halaman Paviliun Utama terasa jauh lebih menyegarkan bagi Xiao Xiao. Kemenangan telak di depan Kaisar tadi bukan hanya soal uang, tapi soal harga diri. Lima ribu koin emas bukanlah jumlah yang sedikit. itu cukup untuk membiayai pasukan kecil atau membangun sebuah pasar.
Mao berjalan di belakang Xiao Xiao dengan wajah yang berseri-seri. Di tangannya, ia memegang daftar resmi segel kerajaan yang menyatakan bahwa dana ganti rugi tersebut akan segera dikirimkan ke kediaman Pangeran Keempat.
"Nona, saya masih tidak percaya," bisik Mao dengan suara bergetar karena senang. "Hanya dengan berpura-pura lemas, Anda bisa membuat Permaisuri yang angkuh itu kehilangan harta pribadinya. Tadi wajahnya benar-benar pucat pasi!"
Xiao Xiao berhenti melangkah, ia berbalik dan menatap Mao dengan serius. "Jangan terlalu cepat senang, Mao. Uang itu hanyalah alat. Permaisuri kehilangan hartanya, tapi dia tidak kehilangan taringnya. Dia pasti sedang menyusun rencana yang lebih kejam karena merasa telah dipermalukan oleh 'gadis ingusan' seperti kita."
Tak lama kemudian, Pangeran Wang Zhi Chen muncul dari arah ruang kerjanya. Ia sudah melepaskan jubah kebesarannya dan kini hanya mengenakan pakaian latihan yang lebih santai. Tatapannya tertuju pada Xiao Xiao yang sedang berdiri di bawah pohon persik.
"Lima ribu koin emas itu akan segera tiba," ujar Zhi Chen sembari melipat tangannya di dada. "Jadi, apa langkahmu selanjutnya? Kau bilang ingin mengelola keuangan istanaku agar kita tidak bergantung lagi pada mereka. Apakah kau akan membeli perhiasan untuk mengganti 'harta hantaran' palsumu itu?"
Xiao Xiao tersenyum tipis. Ia berjalan mendekati Zhi Chen, mengabaikan jarak yang cukup dekat di antara mereka. "Membeli perhiasan hanya akan membuang-buang modal, Pangeran. Uang itu akan aku gunakan untuk tiga hal."
Zhi Chen mengangkat alisnya. "Tiga hal?"
"Pertama, perbaiki seluruh sistem keamanan di paviliun ini. Aku ingin setiap sudut istana kita dijaga oleh orang-orang yang hanya setia kepada Anda, bukan kepada kasim atau selir dari istana utama," ujar Xiao Xiao tegas. "Kedua, aku akan membangun laboratorium obat dan kecantikan yang lebih besar. Kejadian kebakaran semalam membuktikan bahwa Paviliun Teratai Hitam terlalu mudah diserang. Aku butuh tempat yang aman untuk memproduksi 'Air Keajaiban' dalam skala besar."
Zhi Chen mengangguk setuju. "Lalu yang ketiga?"
"Yang ketiga adalah yang paling penting," Xiao Xiao menatap mata Zhi Chen dengan tajam. "Aku akan membeli informasi. Aku ingin tahu siapa saja menteri yang selama ini memakan uang pajak wilayah Barat yang kita baca semalam. Kita akan menyuap orang yang bisa disuap, dan menghancurkan orang yang tidak bisa diajak kerja sama."
Zhi Chen tertegun sejenak. Ia melihat ambisi yang begitu besar di mata istrinya. Gadis ini tidak hanya ingin hidup nyaman. dia ingin membangun kekuasaannya sendiri di dalam istana yang busuk ini.
"Kau benar-benar berjiwa pedagang, Xiao Xiao," gumam Zhi Chen.
"Saya bukan pedagang, Pangeran. Saya adalah mitra Anda," balas Xiao Xiao. "Sekarang, karena kita sudah punya modal, saya ingin Anda menemani saya ke satu tempat besok pagi."
"Ke mana?"
"Ke pasar pusat kota. Saya ingin melihat langsung bagaimana barang-barang beredar di sana. Dan saya juga ingin Anda melepaskan topeng itu sejenak --- pakailah caping atau penyamaran lain. Kita harus bergerak tanpa menarik perhatian mata-mata Permaisuri."
***
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, suasana di meja makan terasa lebih hangat. Tidak ada lagi ancaman kelaparan. Namun, tepat saat Xiao Xiao hendak beristirahat di kamarnya (yang masih berada di Paviliun Utama karena paviliunnya belum dibangun kembali), ia mencium bau sesuatu yang asing dari luar jendela.
Bukan bau asap, melainkan bau parfum yang sangat menyengat---parfum yang hanya digunakan oleh para selir tingkat tinggi.
Xiao Xiao mendekati jendela dan melihat sebuah bayangan wanita berdiri di kegelapan taman paviliun. Wanita itu tidak memakai seragam pelayan, melainkan hanfu mewah berwarna ungu tua.
"Siapa di sana?" seru Xiao Xiao.
Wanita itu berbalik. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang cantik namun terlihat sangat cemas. Itu adalah Selir Agung, wanita yang sebelumnya mengirimkan dupa beracun atas perintah Permaisuri. Namun kali ini, ia tidak datang untuk membunuh.
"Nyonya Muda... tolong aku," bisik Selir Agung dengan suara parau. Ia memegang lehernya yang tampak membiru, seolah-olah ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. "Permaisuri... dia memberiku 'hadiah' yang sama karena aku gagal membunuhmu semalam."
Xiao Xiao tertegun. Ternyata, permainan Permaisuri jauh lebih brutal daripada yang ia bayangkan. Ia tidak hanya menyerang musuh, tapi juga menghabisi anak buahnya yang gagal.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️