"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kemampuan Tersembunyi.
"Datang ke kantor besok pagi."
Hanya sebaris kalimat singkat itu saja pesan yang Rihana terima, tetapi satu foto yang menyertai pesan itu membuat ia menjatuhkan ponselnya. Tangannya gemetar, kedua matanya melebar tak percaya atas apa yang ia lihat, detik berikutnya, tubuhnya luruh ke lantai. Foto itu adalah saat dirinya melakukan sabotase pada komputer Rieta.
"B-Bagaimana bisa? Bukankah di sana tidak ada CCTV? Tapi bagaimana bisa dia-"
Rihana tidak menyelesaikan kalimatnya, tangannya segera meraih ponselnya kembali yang kini sedikit retak, tetapi masih menyala, mengamati sekali lagi foto dirinya, dari sudut mana foto itu di ambil yang membuat wajahnya terlihat sangat jelas, memastikan nomor pengirim yang tertera, lalu menelan kasar salivanya. Nomor itu adalah nomor Liam- asisten Arlan.
Ia mengenal sosok Liam, pria itu bukan hanya sebagai seorang asisten Arlan semata, tetapi juga sebagai tangan kanan seorang Arlan Avalon. Dan semua informasi yang Liam dapatkan tidak pernah meleset. Tetapi, bagaimana cara Liam mendapatkan bukti itu? Di saat ruangan Rieta tidak terpasang CCTV. Ia tidak bisa memikirkan jawabannya sama sekali.
Melarikan diri?
Jelas tidak mungkin untuk ia lakukan saat ini. Dengan satu pesan yang baru saja ia terima, sudah bisa dipastikan jika Liam sudah mengawasinya sejak kejadian memalukan di hotel malam itu, atau bahkan mungkin sebelum itu. Dan kabur dari Arlan tidak pernah berakhir lebih baik dari mengakui kesalahan.
"Aku harus mencari cara."
.
.
Sementara itu, di tengah kekalutan yang tengah Rihana rasakan, Arlan tengah duduk di kursi kebesarannya, mengetukkan jemari pada meja seolah itu adalah hobi yang tidak bisa pria itu tinggalkan.
"Tuan, saya sudah mengirimkan pesan pada Nona Rihana," lapor Liam.
Arlan mengangguk singkat tanpa menatap sang asisten, pandangannya mengunci wajah Rieta, punggungnya yang semula bersandar, kini sedikit tegak.
"Jadi, katakan padaku bagaimana caramu bisa tahu jika yang Rihana menyabotase komputermu?" tanya Arlan pada Rieta.
"Paman sudah tahu jika aku memiliki kebiasaan menyimpan data mentah sebelum menyelesaikan pekerjaanku bukan?" alih-alih langsung menjawab, Rieta justru balas bertanya.
Arlan mengangguk. "Ya, lalu?"
"Dari data yang sudah aku buat, aku selalu menyimpan kejutan kecil di sana. Seperti virus, dan terhubung dengan data mentah yang aku buat. Data presentasiku saat itu bukan hanya dihapus, tapi disalin. Tentang apa tujuannya, aku tidak tahu," terang Rieta.
"Dan saat aku menghubungkan data mentah milikku untuk mencari data asli, itu ada di laptop pribadi Rihana."
"Virus?" ulang Liam dan Arlan serempak, lebih ke terkejut dengan pengakuan yang Rieta berikan.
Rieta mengangguk. "Bukan yang akan merugikan perusahaan, hanya sebagai antisipasi ketika ada seseorang yang ingin berbuat curang."
"Dan virus itu bisa aku hilangkan dengan mudah kapanpun aku menginginkannya atau menghancuran semua data yang sudah dibuat untuk menghindari plagiat melalui data mentah yang masih ada."
"Jadi, data asli dan data mentah yang Nona buat saling terhubung?" tanya Liam.
Rieta mengangguk.
"Apakah ada riwayat dia menghubungi pesaing bisnis kita, Liam?" tanya Arlan beralih pada asistennya.
"Sejauh ini tidak ada, Tuan. Saya sudah memeriksanya. Hanya saja, saya menemukan beberapa data perusahaan yang lama memiliki kemiripan dengan LR Corp, perusahaan kakak Anda," jawab Liam.
"Tidak terlalu mirip, karena beberapa bagian sudah diubah. Saya tidak melakukan apapun karena hal itu tidak membahayakan perusahaan sama sekali, dan saya bisa mengatisipasinya dengan mudah jika terjadi sesuatu," terangnya.
"Bagaimana jika itu hanya untuk pancingan?" ucap Rieta mengeluarkan pemikirannya.
Liam terdiam sejenak, mencerna kalimat yang baru saja Rieta ucapkan. "Maksud Nona, dia hanya ingin menguji apakah saya akan menyadari yang dia lakukan atau tidak untuk melakukan hal yang lebih besar?"
Rieta mengangguk. "Dengan asisten Liam bersikap seolah tidak menyadari apapun, secara tidak langsung asisten Liam sudah membuat mereka berpikir bahwa paman lengah."
"Mereka pasti akan melakukan sesuatu. Tapi pertanyannya, mengapa?"
Arlan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Perusahaanku lebih besar dari perusahaan kakakku. Sejauh ini, mereka tidak bisa melawanku dalam dunia bisnis. Saat ini hanya itu alasan yang terlintas dalam pikiranku. Andai itu alasannya, tujuannya jelas, ingin bersaing menggunakan cara kotor."
Arlan menghembuskan napas pelan, pandangannya beralih pada asistennya.
"Awasi setiap pergerakan kakakku, Liam. Termasuk Evan. Cari tahu apakah Evan menggunakan Rihana sebagai pion atau Rihana bergerak atas kemauannya sendiri."
Liam mengangguk. "Segera saya lakukan."
"Tentang foto Rihana, bagaimana kamu bisa memiliki foto itu, Rie?" tanya Arlan kembali beralih pada Rieta.
"Foto itu tentu saja palsu, tapi cukup untuk membuat seseorang yang melakukan kesalahan menunjukkan wajah asli," jawab Rieta enteng.
"Dan caramu mendapatkan foto?" tanya Arlan penasaran.
"Sebenarnya..." Rieta menunduk sembari memainkan jemarinya, sedikit merasa bersalah. "Aku menguasai peretasan. Jadi, aku meretas CCTV perusahaan. Maaf. Aku bersumpah hanya mencari semua yang berhubungan dengan Rihana saja, tidak ada yang lain," imbuhnya seraya mengangkat wajah.
Alis Arlan terangkat, beralih menatap asistennya yang juga melakukan hal sama, dan memberikan reaksi yang sama. Terkejut.
"Peretasan?" tanya Arlan.
Rieta mengangguk, kembali menunduk.
"Angkat wajahmu, Rie," pinta Arlan lembut.
Rieta menurut, mengangkat wajahnya hingga padangannya kembali bertemu dengan Arlan.
"Apakah kakakku tahu tentang ini?" tanya Arlan. "Termasuk tentang kamu bisa menciptakan virus komputer."
Rieta terdiam sejenak, menggali ingatannya sendiri. Selama ini ia selalu berhati-hati, menggunakan komputer diam-diam, juga menggunakan ponsel dengan hati-hati, dan semua yang ia lakukan selalu di belakang Tuan Marlan.
"Aku tidak pernah menjukkannya pada siapapun, Paman dan asisten Liam adalah orang kedua yang tahu tentang kemampuanku," ungkap Rieta.
"Kedua? Siapa orang lain yang tahu?" tanya Arlan mengerutkan kening.
"Sahabatku, Lenny."
Kedua pria itu kembali saling pandang. Liam mengangguk samar, sebagai jawaban atas perintah yang tidak Arlan ucapkan, lalu keduanya kembali mengarahkan pandangan pada Rieta.
"Lalu, kenapa kamu membutuhkan tenaga dua pria itu untuk mendapatkan foto Evan bersama wanita lain di hotel?" tanya Arlan.
"Untuk bukti perceraian di pengadilan."
.
.
.
Suasana ruang makan malam di kediaman Larson tampak begitu hening, lima orang yang tengah duduk menikmati makan malam terjebak dalam pikiran masing-masing.
Tuan Marlan menyuap setiap makanan yang terhidang di depannya dalam diam, tetapi tatapannya menerawang. Sesekali ia melirik ke arah menantunya, wanita yang tidak pulang ke rumah setelah melihat putranya bersama wanita lain.
Nyonya Melani terjebak dalam keheningannya sendiri setelah, begitu pula dengan Evan. Tatapan Evan sesekali mencuri pandang ke arah Rieta, yang kini tampak begitu manis dalam pandanganya dengan dress selutut yang melekat di tubuh mungilnya.
jauh berbeda dengan Arlan yang kini duduk di samping Rieta. Senyum tipis tersungging di bibirnya kala pikiranya merangkai skenario untuk menggoda Rieta tanpa mengundang curiga.
Namun, kesenangan itu terputus ketika tiba-tiba suara Evan menggema.
"Pa, Ma, ada yang ingin aku katakan," ucap Evan memecah keheningan panjang yang sudah berlangsung.
Pandangan semua orang seketika tertuju pada Evan tanpa terkecuali, menunggu apa yang akan Evan katakan selanjutnya.
"Aku ingin pernikahanku dengan Rieta dipublikasikan."
. . . .
. . . .
To be continued...