NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pie menggodanya!

Semester dua baru saja dimulai..

Suara riuh tawa dari para siswa di SMP Negeri yang kembali masuk sekolah.

"Hello Pie, sudah lihat jadwal pelajaran yang baru?" Wangi parfume manis dari tubuh Putri menguar.

"Hai, Put. Aku baru saja datang. Ada di mana?"

Putri menunjuk dengan telunjuknya yang putih ke arah mading. Pie mengikuti arah tunjuk Putri.

"Oww.. Kau sudah menyalinnya?"

"Sudah!" Putri mengangkat selembar kertas yang sudah tertulis rapi jadwal pelajaran selama enam hari sekolah.

"Thanks. Aku salin dulu."

"Okay.." Pie berlalu dari hadapan Putri

Di depan mading ada beberapa siswa yang mengerumuni untuk menyalin jadwal.

"Kau.. Menyalin jadwal juga?" Fang menunjuk dengan dagu jadwal pelajaran yang tertempel di dalam kaca mading.

"Hu.umb. kau sudah?" Pie mencari Jadwal pelajaran kelas 3a.

"Belum." Fang mengangkat bahu sembari memperlihatkan buku yang masih bersih dari tulisan. Fang belum sempat menulis jadwal.

"Mau ke mana?" Pie yang ingin pergi seketika menghentikan langkah dan menoleh ke arah Fang.

"Mau ke kantin."

"Sarapan?"

Pie mengangguk.

"Ya."

"Boleh kutemani? Kebetulan aku belum sarapan juga." Fang memandang gugup Pie yang notabene mantan kekasihnya saat kelas dua.

"Ayo." Pie berjalan lebih dulu diikuti oleh Fang.

"Ciiee.. Mau ke mana tuh berduaan?" Caca mengerling nakal melihat Pie berjalan bersama Fang.

"Ayo kantin, Ca." Ajak Pie berlalu.

"No, aku sudah kenyang." Caca melangkah menuju kelas.

Fang menjajari langkah Pie yang santai, tinggi mantannya itu hanya sebatas bahunya saja. Kulit Pie yang sawo matang menambah kesan manis gadis itu.

"Kau liburan ke mana, Pie? Pesanku tak kau balas."

"Hm? Aku tidak ke mana-mana." Pie masuk ke kantin langsung memesan sarapannya, begitu juga Fang.

Tatapan Pie sekilas bertabrakan dengan sepasang manik yang tak sengaja melihat ke arahnya.

Senyum Pie seketika mengembang.

"Kau ada hubungan dengan Kim?" Fang yang melihat ekspresi Pie sedikit tak suka.

"Hm? Kim? Bukankah kita teman?" Pie menatap tak percaya Fang yang sedikit aneh.

"Benarkah? Kalian seperti ada sesuatu." Fang mengikuti Pie yang memilih meja. Dirinya duduk di depan Pie.

"Hanya perasaanmu saja, Fang." Pie mulai menyuapkan sarapannya.

"Bagaimana jika kita kembali bersama?" Ucapan Fang membuat Pie menghentikan sarapannya.

"Kau bercanda? Mengulang hubungan sampah itu?" Pie tersenyum sinis, ia segera menghabiskan makanannya.

Fang terdiam. Ia memang sadar, dulu dirinya hanya mempermainkan Pie yang polos.

"Tapi aku ingin memperbaikinya, Pie."

Pie menggeleng. Lebih baik mereka menjadi teman seperti yang lain.

"Kau sudah tak menyukaiku, Pie?"

"Tidak. Perasaanku yang tulus dan suci sudah rusak oleh ba jingan." Fang kembali terdiam. Sungguh menusuk kalimat Pie untuknya. Namun, Fang sadar itu akibat ulahnya juga.

"Hei, Kim. Mau jadi pacarku tidak?" Pie bersiul genit ketika Kim berlalu di depannya.

Kim hanya tertawa pelan sembari berlalu ke dalam kelas.

"Patah hati membuatmu gila, Pie?" Caca menatap bingung Pie yang seperti orang lain.

"Jangan buat anak orang terseret, Pie." Caca mengingatkan.

"Aku menyukainya." Pie tersenyum sembari memandang pepohonan di belakang kelas.

Caca menutup mulutnya tak percaya.

"Kau tak percaya, 'kan?" Pie menoleh tersenyum miris.

"Apa kau serius?" Pie mengangguk.

"Aku mendukungmu, Pie." Caca menepuk bahu Pie pelan.

Pie tertawa dengan ucapan sahabatnya yang menurutnya plin plan.

Kim, lumayan tampan dengan kulit putih dan tinggi, kepribadiannya pemalu, pendiam, ceria, tidak terlalu mencolok meskipun ia keren.

Pagi itu, Pie menunggu Kim datang untuk memberikan surat yang ia tulis semalam. Dirinya duduk di tepi lapangan Volly di mana Kim biasanya bermain.

"Hai."

Sapa Pie ketika Kim berjalan ke arahnya. Suasana sekolah sudah ramai, namun di area lapangan volly sedikit sepi.

"Hai."

Kim tak bisa berbasa-basi, dia hanya melakukan apa yang dia perlukan.

"Aku ingin bicara denganmu, Kim."

"Bicaralah."

Kim melepaskan tas selempangnya, ia seperti bersiap untuk pemanasan.

"Kuharap kau mau membacanya." Pie memberikan sebuah surat kepada Kim.

Anak laki-laki itu terdiam melihat surat tersebut.

"Dariku." Sambung Pie.

Kim mengambilnya.

"Bye."

"Kau mau ke mana?" Kim menatap Pie yang beranjak pergi.

Pie menoleh ke belakang.

"Kelas. Ini sudah jam pertama."

"Oke."

Pie meninggalkan Kim dan berpapasan dengan geng Kim. Mereka hanya saling menyapa dan bergabung bersama Kim yang segera menyimpan surat tersebut ke dalam tasnya.

"Guru olahraga mengatakan kita bisa main apa saja untuk mengisi jam pelajaran."

"Bagus, ayo kita main."

Kim dan teman-temannya bersiap bermain Volly.

Tanpa mereka sadari, Pie dari kejauhan melihat Kim dengan tersenyum.

"Kuharap kau menerimaku, Kim." Gumam Pie.

Dua hari berlalu...

Ze menghampiri Pie yang duduk seorang diri di depan kelas.

"Pie, Kim memberikan ini untukmu." Ze yang satu kelas dengan Kim menyerahkan surat kepada Pie.

"Oh, thanks Ze. Di mana dia?"

"Mengerjakan tugas di kelas." Ze duduk di sisi Pie yang membuka surat tersebut.

"So sweet sekali kalian." Ze memakan cemilan yang ia bawa tanpa rasa ingin mengintip isi surat Kim untuk Pie.

"Kami belum memulainya." Perlahan Pie membacanya dalam hati, bibirnya tak berhenti mengulas senyum ketika kata demi kata ia baca yang terdengar manis.

"Jadi apa kesimpulannya?" Ze menunggu Pie yang masih mencerna isi surat tersebut.

"Dia membalas suratku dengan ramah, Ze." Pie tersenyum lebar.

Beberapa temannya sudah mengetahui sikap Pie beberapa hari ini terhadap Kim, termasuk Ze.

"Aku turut bahagia mendengarnya, Pie."

"Astaga, aku gugup." Wajah Pie memerah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Dia sangat lucu." Pie terkikik geli

"Hei, dia menatapmu." Bisik Ze ketika melihat Kim keluar dari kelas dan menatap ke arah mereka.

"Tidak, aku malu." Bisik Pie yang tak berani membalas tatapan Kim.

Diam-diam Ze melambaikan tangan memberikan isyarat untuk Kim menghampiri Pie yang masih menunduk.

"Halo, Pie. Kau sedang apa?"

Tiba-tiba posisi Ze sudah terganti dengan Kim.

"Astaga. Kau di sini?" Gumam Pie mengedarkan padangan mencari keberadaan sosok Ze yang sudah menghilang.

"Ya. Kau sudah membacanya?"

Pie mengangguk pelan. Ia tak berani membalas tatapan Kim. Dirinya bingung dengan sikapnya sendiri yang tiba-tiba menciut.

Hari-hari sebelumnya, ia dengan percaya diri menggoda Kim. Tapi lihatlah sekarang ini, dirinya bagai kura-kura yang bersembunyi di dalam tempurungnya.

"Pie?"

"Ya?" Cicit Pie menunduk malu.

"Kau mau menjadi pacarku?" Suara Kim yang tenang membuat Pie menatap Kim yang sedang menatapnya.

Rasanya lidah Pie kelu, ia ingin berteriak kegirangan, hanya kedua pipinya terlihat memerah. Kim merasa Pie sangat lucu menggemaskan.

Pie mengangguk pelan tanda menerima Kim.

Cukup lama mereka terdiam, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah mereka.

"Berikan nomor teleponmu, Pie." Kim menyodorkan ponselnya.

Pie mengetikkan nomor teleponnya lalu memberikan pada Kim.

Getaran ponsel terasa di saku seragam Pie, ia mengambil ponsel dan mengecek satu nomor baru yang baru saja menelepon.

"Itu nomorku, Pie."

"Ya." Pie benar-benar gugup di hadapan Kim yang saat ini berubah manly, di mana Kim yang pemalu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!