Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Hadiah pertama
Rapat para guru berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, bahkan berlangsung sampai jam terakhir pembelajaran. Anindia dan teman-temannya yang masih sibuk membaca di perpustakaan, kini terkejut ketika melihat jam. Mereka tidak menyangka bahwa mereka telah lama menghabiskan waktu di dalam perpustakaan.
"Wah serius nih jam segini?" Ujar Yudhi tidak percaya ketika melihat jam di tangannya.
"Karena dibawa santai, coba lo asyik liatin jam dari tadi ya pasti lama. Lagipula nih ya sejak kapan sih lo perhatian sama jam, biasanya juga gak tau waktu," ujar Dara dengan nada yang seperti biasanya.
"Ssttt jangan berisik, ini perpustakaan," ujar Yudhi yang sedikit merendahkan suaranya, serta meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya yang hanya ditanggapi dengan kekehan kecil oleh Dara.
Anindia menarik nafas lega, sepertinya Dara lupa akan rasa cemburunya tadi. Anindia pun beranjak ke arah rak novel di barisan depan untuk mengembalikan buku bacaannya ke tempatnya semula.
Ting!
Saat sedang menaruh novel itu kembali ke rak, tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan adanya notifikasi masuk. Anindia membuka ponselnya dan membaca pesan itu yang ternyata dari Keanu.
"Bentar lagi bel pulang, tunggu aja di depan gerbang sampe temen-temen lo balik. Ntar gue nyusul ke sana."
Anindia pun langsung mengetikkan balasan singkat, ia hanya mengetikkan satu kata yaitu 'iya'. Setelahnya ia pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya, sebelum akhirnya ia pun kembali menghampiri teman-temannya.
"Ngeselin lo Yudhi!"
Saat itu, Anindia bisa melihat bahwa Dara sedang memukuli Yudhi dengan buku yang dipegangnya. Untung saja mereka duduk di barisan belakang serta tertutup dengan rak di depannya, sehingga tidak menyita perhatian orang-orang di perpustakaan. Anindia mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan tingkah kedua temannya itu.
"Do, itu mereka kenapa?" Ujar Anindia kepada Edo.
"Biasalah Nindi, lo kayak gak paham aja," ujar Edo dengan nada santainya.
"Oohh..." Ujar Anindia dengan anggukan singkat.
Anindia hanya berusaha menahan senyum, ia paham apa yang Edo maksudkan. Dara yang blak-blakan dan Yudhi yang suka memancing emosi, sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Anindia maupun Edo. Dara yang memukuli Yudhi sudah pasti karena candaan keduanya.
Kringgg!
Saat itu, bel pulang pun berbunyi menandakan bahwa jam pembelajaran pun sudah berakhir. Anindia masih memandangi tingkah kedua temannya itu, seakan mereka tidak mendengar bahwa bel pulang baru saja berbunyi.
"Lanjut aja ya guys sampe lulus, aku sih mau pulang aja," ujar Anindia meledek kedua temannya itu.
"Gue juga mau pulang kali, males banget ngadepin nih jelmaan manusia satu ini," ujar Dara sembari menunjuk Yudhi.
"Enak aja jelmaan manusia lo bilang? Terus lo apa, jelmaan nenek sihir?" Ujar Yudhi yang tidak mau kalah dari Dara.
Edo hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah keduanya. Sementara Anindia langsung terkekeh sangat pelan ketika melihat ada saja gebrakan dari Dara dan juga Yudhi. Meskipun mereka berteman baik, tetap saja Dara dan Yudhi seperti kucing dan tikus.
"Moga jodoh, aamiin!" Celetuk Edo tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dara dan Yudhi.
"Udah-udah ah, ayo pulang. Emang kalian mau nginep di sini?" Ujar Anindia kepada teman-temannya.
"Iya ni mau balik," ujar Yudhi dengan nada lesunya.
Anindia berjalan lebih dulu menuju ke arah petugas perpustakaan yang merupakan teman sebaya mereka, untuk mengisi jam kunjung perpustakaan. Mereka yang menjaga perpustakaan merupakan anggota OSIS untuk menggantikan guru penjaga perpustakaan ketika rapat seperti ini.
Anindia pun langsung mengisi daftar kunjungan perpustakaan, sembari menunggu teman-temannya selesai mengembalikan buku ke tempatnya semula. Tak berapa lama, ketiga temannya pun menghampiri Anindia dan langsung mengisi daftar kunjungan juga.
Setelahnya, mereka pun keluar dari perpustakaan menuju ke kelas mereka untuk mengambil tasnya masing-masing. Setibanya di kelas, mereka bisa melihat jelas bahwa kelas itu sudah kosong, hanya ada mereka berempat yang berada di dalam sana.
"Udah guys, ayo back to home!" Ujar Yudhi setelah mengambil tasnya.
"Buru-buru pulang palingan juga mau tidur kalo gak ya nge-game," ujar Dara menimpali.
"Iyalah, tiada hari tanpa tidur dan game." Ujar Yudhi dengan nada santainya.
Mendengar perkataan Yudhi, Anindia dan Dara langsung terkekeh sementara Edo hanya diam tanpa kata. Tanpa kata lagi, mereka pun berjalan keluar kelas menuju ke arah gerbang.
"Nindi, Dara, gue sama Yudhi duluan ya," ujar Edo sebelum akhirnya berbelok ke arah tempat parkir.
"Iya, hati-hati," ujar Anindia dan Dara serempak.
Kedua pemuda itu hanya mengangguk singkat dan melambaikan tangannya sembari berlalu pergi, keduanya pun langsung mengambil motornya masing-masing.
"Hmm Nindi, lo ada hubungan apa sih sama Keanu?" Ujar Dara setelah Yudhi dan Edo menghilang dari pandangan.
Anindia terdiam sejenak, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia mengira bahwa Dara sudah lupa dengan rasa cemburunya, tapi ternyata dugaannya salah. Mereka berdua terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan gerbang sekolah.
"Gue cuma harap lo gak punya rasa sama Keanu. Apalagi tiba-tiba tadi dia perhatian banget sama lo, gak kayak biasanya," lanjut Dara penuh kecurigaan.
Saat itu, tiba-tiba saja Dara menepuk pundak Anindia, lalu ia tersenyum sedikit. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa bingung dengan sikap sahabatnya itu.
"Gue percaya kok sama lo, Nindi. Gue yakin lo bukan temen makan temen. Minimal lo gak ada rasa sama dia jadi gue punya peluang buat dapetin hati dia," ujar Dara ketika melihat Anindia hanya hening tanpa kata.
Anindia hanya menanggapinya dengan seutas senyum yang terlihat sedikit dipaksakan. Bagaimana mungkin Anindia bisa memberikan peluang kepada Dara untuk mendapatkan hati Keanu, sementara Anindia pun baru saja menaruh hati untuk suaminya itu.
"Yaudah Nindi, gue duluan ya? Supir gue udah jemput," ujar Dara dengan seutas senyum lalu berbalik pergi meninggalkan Anindia di depan gerbang itu.
"Iya Dar, hati-hati," ujar Anindia pada akhirnya.
Anindia menghela nafas panjang, merasa berat dengan pikirannya saat ini. Ia menoleh ke segala arah, berharap Keanu segera menghampiri dirinya. Dan benar saja, tak lama kemudian Keanu keluar dari area parkir dan menghentikan mobilnya tepat di hadapan Anindia.
"Ayo," ujar Keanu setelah ia turun dari mobilnya, bahkan langsung membukakan pintu untuk Anindia.
Anindia tertegun sejenak dengan perhatian singkat Keanu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Keanu yang ia anggap sebagai cowok yang paling menyebalkan, kini justru menunjukkan sisi lainnya.
"Nindi, ngapain bengong sih? Ayo!" Ujar Keanu membangunkan lamunan Anindia.
"Iya," ujar Anindia singkat dan langsung naik ke dalam mobil itu.
Setelah menutup pintu di sisi Anindia, Keanu pun langsung bergegas menuju pintu satunya. Ia pun langsung duduk di depan kemudi, menatap Anindia sekilas.
"Kenapa liatin aku gitu?" Ujar Anindia yang merasa aneh dengan tatapan Keanu.
Bukannya menjawab, Keanu hanya menyunggingkan senyum. Tanpa kata lagi, ia pun langsung memasang sabuk pengaman dan melajukan mobilnya menuju ke arah jalanan.
"Keanu, kok malah diem sih? Emang ada yang aneh ya dari aku?" Ujar Anindia yang hanya melihat keheningan dari suaminya itu.
"Gak kok, gak ada yang aneh," ujar Keanu dengan nada dinginnya, membuat Anindia langsung mengalihkan pandangannya karena merasa kesal dengan jawaban Keanu.
Keanu pun kembali memfokuskan diri pada jalanan di depannya, ia menyetir dengan hati-hati. Tapi, pandangannya sesekali tertuju pada Anindia yang fokus memperhatikan jalan dari balik kaca mobil.
"Lho kok lewat sini? Arah rumah kan bukan kesini, Keanu," ujar Anindia ketika Keanu membelokkan mobilnya ke arah lain.
"Udah diem aja," ujar Keanu singkat.
Anindia pun hanya bisa menarik nafas pasrah dengan jawaban singkat dari suaminya itu. Ia pun hanya diam tanpa kata, menuruti perkataan Keanu.
Mobil itu pun terus melaju membelah jalanan, membawa mereka ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh Anindia. Sementara Keanu terlihat santai, sejujurnya ia merasa gugup, terlebih ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Beberapa menit melaju di jalanan, akhirnya mobil itu pun berhenti di sebuah deretan toko. Anindia mengernyitkan dahinya, merasa bingung mengapa Keanu membawanya ke tempat itu.
"Ngapain kesini, Keanu?" Ujar Anindia.
"Gapapa, cuman pengen beli roti aja," ujar Keanu dengan sebuah senyuman misterius. "Mau ikut?"
Anindia langsung menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin ikut turun. Terlebih ia masih mengenakan seragam sekolah dan pergi hanya berdua dengan Keanu, membuatnya merasa takut jika ada teman-temannya yang melihat itu.
"Enggak deh Keanu, aku di sini aja," ujar Anindia.
"Ya udah, bentar ya," ujar Keanu yang langsung turun dari mobilnya.
Sembari menunggu Keanu, Anindia pun langsung mengambil ponselnya. Ia membuka sosial medianya untuk menghilangkan rasa bosan ketika menunggu Keanu.
Beberapa menit berlalu, Keanu belum juga kembali. Anindia menoleh ke arah toko dan mendapati Keanu yang baru saja keluar dari toko roti, dengan membawa sebuah kantong kertas di tangannya.
"Sorry lama," ujar Keanu setelah kembali ke dalam mobil.
"Gapapa kok," jawab Anindia singkat.
"Nih, gue beli roti tadi. Ini toko roti favorit gue jadi gue sering ke sini," ujar Keanu sembari memberikan kantong kertas itu kepada Anindia.
"Oh iya, makasih ya," ujar Anindia dengan seutas senyum tulus setelah menerima roti itu dari Keanu.
Keanu hanya menanggapinya dengan anggukan singkat, sementara Anindia langsung membuka salah satu roti lalu mencicipinya. Ia pun mengakui bahwa roti yang dibeli Keanu itu memang sangat lezat.
Saat ia sedang menikmati rotinya, tiba-tiba saja Keanu mengarahkan kepalan tangannya ke arah Anindia. Anindia yang masih mengunyah pun langsung merasa bingung dengan tingkah suaminya itu.
"Apa sih Keanu?" Ujar Anindia bingung.
"Coba buka," ujar Keanu singkat tapi terdengar serius.
Karena penasaran, Anindia pun langsung membuka kepalan tangan Keanu perlahan. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah liontin perak dengan mata hati di balik tangan Keanu.
"I-ini... Ini untuk aku?" Ujar Anindia yang merasa tidak bisa berkata-kata dengan hadiah tiba-tiba dari Keanu.
"Iya, suka?" Ujar Keanu singkat dengan seutas senyum tulus terukir di wajahnya.
Anindia hanya menganggukkan kepalanya, ia benar-benar suka dengan liontin itu. Tanpa kata lagi, Keanu pun langsung memasangkannya di leher Anindia. Anindia pun langsung menyibakkan rambutnya, membiarkan Keanu memasangkan liontin itu untuknya.
"Makasih ya Keanu, aku suka sama kalungnya," ujar Anindia yang tiba-tiba saja memeluk Keanu erat, untuk pertama kalinya.
Keanu yang terkejut dengan pelukan itu, akhirnya perlahan membalas pelukan Anindia. Untuk pertama kalinya mereka merasakan hangatnya pelukan satu sama lain, bahkan Keanu pun bisa mencium jelas aroma parfum mawar dari istrinya itu.
"Sama-sama, mulai sekarang kita jangan musuhan lagi ya. Gue belajar berubah buat lo," ujar Keanu di sela-sela pelukan itu.
Anindia mengurai pelukan, lalu ia mengangguk dengan antusias dengan seutas senyum cerianya. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Keanu ada benarnya. Mereka sudah menikah, dan seharusnya mereka bisa lebih memahami satu sama lain bukan bermusuhan seperti sebelumnya.
"Iya, mulai sekarang kita belajar buat nerima satu sama lain," ujar Anindia dengan senyum yang masih terpancar di wajahnya.
Keanu mengacak lembut pucuk kepala Anindia sejenak. Ia merasa senang karena Anindia menyukai hadiah kecil darinya. Tanpa kata lagi, Keanu pun langsung memulai mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan deretan toko itu di sana.
Setelah sebelumnya mereka mulai menerima secara diam-diam, kini keduanya sudah menunjukkan penerimaan satu sama lain secara terus terang. Pernikahan mereka memang baru hitungan hari, tapi kekuatan cinta mereka bisa mengalahkan ego dan keras kepala masing-masing.
Sepanjang perjalanan, keduanya saling bertukar pandang sekilas dengan seutas senyum yang masih terukir di wajah keduanya. Mereka baru menyadari bahwa jatuh cinta itu tidaklah seburuk yang mereka bayangkan. Dan mereka juga baru menyadari bahwa cinta setelah menikah itu memang benar nyata adanya.
^^^Bersambung...^^^