NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitrika Shanty

​Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
​Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Terakhir dan Amarah Sang Naga

Udara di puncak Pegunungan Giok terasa membeku. Li Hua terbaring lemah di atas tanah berbatu, napasnya pendek dan tersengat rasa sakit yang luar biasa. Rambutnya yang kini memutih tersapu angin, dan wajahnya yang tadinya merupakan simbol kecantikan abadi Permaisuri Xuan kini menampakkan kerutan-kerutan keletihan, seolah waktu puluhan tahun dipadatkan dalam satu malam ritual.

​Tian Long berlutut di sampingnya. Hatinya hancur berkeping-keping melihat wanita yang paling dicintainya harus menanggung beban kutukan darah demi keselamatan anak-anak mereka. Ia melihat tangan Li Hua yang kini gemetar, tangan yang dulu begitu kuat memegang panah kini tampak rapuh seperti daun kering.

​"Maafkan aku, yang mulia..." bisik Li Hua dengan suara serak. "Aku tidak lagi cantik... aku tidak lagi berguna..."

​Tian Long tidak menjawab dengan kata-kata. Air matanya jatuh menetes di pipi Li Hua. Dengan penuh kasih sayang, ia merengkuh tubuh rapuh itu, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang lembut dan lama di kening istrinya. Ciuman itu bukan hanya tanda cinta, melainkan sumpah setia yang melampaui raga dan waktu.

​"Kau adalah napas dalam hidupku, Li Hua," bisik Tian Long tepat di telinganya. "Dulu kau mencintaiku saat kau buruk rupa, dan sekarang, di mataku, kau adalah wanita paling agung yang pernah diciptakan langit. Istirahatlah. Biarkan aku menyelesaikan ini."

​Amarah Sang Naga Hitam

Kaisar ​Tian Long berdiri perlahan. Saat ia berbalik menghadap Nenek Shira yang berdiri di puncak air terjun, aura di sekitarnya berubah. Kesedihan yang mendalam berubah menjadi amarah yang dingin dan mematikan. Pedang Naga Hitam di tangannya mulai bergetar, mengeluarkan dengungan rendah yang menggetarkan bebatuan di sekitarnya.

​Nenek Shira tertawa, suaranya melengking tinggi. "Lihatlah dirimu, Kaisar! Kau membela seorang wanita tua yang sekarat dan dua bayi yang kekuatannya sudah terkunci! Kau sendirian!"

​"Aku tidak sendirian," suara Tian Long terdengar berat, bergema di seluruh lembah. "Aku membawa harapan setiap rakyat yang telah kau sakiti, dan aku membawa cinta dari seorang ibu yang kau khianati!"

​Tian Long menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap tebasan pedangnya melepaskan gelombang energi hitam yang membelah sihir-sihir gelap Nenek Shira. Pertempuran itu bukan lagi sekadar duel fisik, melainkan benturan antara dendam masa lalu dan pelindung masa depan.

​Kebangkitan Sang Pelindung Bayangan

​Di tengah pertempuran, saat Nenek Shira bersiap melepaskan kutukan "Hujan Jarum Hitam" untuk melenyapkan Tian Long, sebuah ledakan perak terjadi dari arah jalur pendakian.

​"Jangan lupakan aku, Nenek Tua!"

​Sesosok pria dengan tubuh bersimbah darah namun tatapan mata yang membara muncul. Itu adalah Mu Feng. Meskipun zirah dan tubuhnya penuh luka sayatan, ia berhasil bertahan dari runtuhan kristal di istana. Mu Feng tidak datang sendirian; ia membawa cermin perunggu milik Li Hua yang telah hancur namun energinya masih berdenyut.

​"Mu Feng! Kau masih hidup!" seru Tian Long.

​"Aku punya janji pada keponakanku!" jawab Mu Feng. Ia melempar pecahan cermin itu ke arah Tian Long. "Gunakan ini! Gabungkan dengan pedangmu! Hanya cahaya kejujuran yang bisa menghancurkan kegelapan dendamnya!"

​Akhir dari Sang Dukun Kuno

​Tian Long menangkap pecahan cermin itu dan menempelkannya ke hulu pedangnya. Seketika, pedang itu memancarkan cahaya putih yang menyilaukan, memantulkan sinar matahari pagi yang mulai muncul dari balik awan.

​Nenek Shira berteriak, matanya terbakar oleh cahaya pantulan tersebut. "TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN!"

​"Ini adalah akhir dari ambisimu!" Tian Long melompat tinggi, mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan horizontal yang sempurna.

​Cahaya putih itu memotong sihir hitam Nenek Shira dan langsung menghantam jantung dukun tua itu. Tubuh Nenek Shira mulai retak, bukan mengeluarkan darah, melainkan debu hitam yang tertiup angin. Sebelum ia benar-benar menghilang, ia menatap ke arah bayi kembar yang tertidur di belakang Li Hua.

​"Kutukan... tidak akan pernah... benar-benar hilang..." gumamnya sebelum menjadi abu yang lenyap ditelan derasnya air terjun.

​Mukjizat Cinta

​Keheningan kembali menyelimuti Pegunungan Giok. Tian Long segera berlari kembali ke arah Li Hua. Ia melihat istrinya sudah memejamkan mata, wajahnya pucat pasi.

​Namun, tiba-tiba, dua liontin giok di leher Tian Shu dan Li Mei bersinar lembut. Energi yang telah tersegel di dalamnya tidak keluar, melainkan memancarkan sisa-sisa kehangatan yang mengalir masuk ke tubuh Li Hua.

​Perlahan, keajaiban terjadi. Rambut putih Li Hua mulai kembali menghitam di bagian pangkalnya. Meskipun ia tidak kembali menjadi wanita yang sangat muda, kerutan di wajahnya melunak, memberikan kesan seorang wanita yang dewasa dan anggun. Kekuatan Mata Emasnya memang hilang, namun nyawanya terselamatkan oleh kasih sayang anak-anaknya sendiri melalui koneksi giok tersebut.

​Li Hua membuka matanya, menatap wajah Tian Long yang kini tersenyum lega.

​"Kau kembali padaku," bisik Tian Long sambil memeluknya erat.

​"Kita semua kembali..." jawab Li Hua lemah, menatap ke arah Mu Feng yang berdiri tertatih-tatih di dekat mereka.

​Menuju Kedamaian yang Baru

​Nenek Mayang mendekati mereka, wajahnya penuh haru. "Nenek Shira sudah tiada, namun dunia luar masih bergejolak. Tiga kerajaan akan tetap mencari kalian. Pegunungan ini bukan lagi tempat yang aman."

​"Kita tidak akan kembali ke istana untuk sementara," ucap Tian Long tegas. "Kita akan menetap di desa kecil di balik gunung ini. Kita akan hidup sebagai orang biasa sampai anak-anak ini cukup kuat. Biarlah dunia menganggap Kaisar dan Permaisuri telah tewas di pegunungan ini."

​Li Hua mengangguk setuju. Ia melepaskan mahkota kecil yang tersisa di rambutnya dan menjatuhkannya ke sungai. "Takhta bisa dibangun kembali, tapi keluarga hanya ada satu. Mari kita mulai hidup yang baru, Tian Long."

​Mereka berjalan menjauh dari kuil tua itu, menuju lembah yang hijau di bawah sana. Mu Feng berjalan di belakang mereka, menjadi bayangan pelindung bagi keluarga kecil tersebut. Di leher si kembar, giok itu tetap bersinar redup, menyimpan kekuatan besar yang suatu hari nanti akan membangkitkan kembali Dinasti Cahaya

1
EF Shahna
kaya nya bakal seru cerita selanjutnya
Dedeh Dian
Hem sangat sangat bagus sekali ceritanya... apalagi bagi AQ yg cepat tersentuh... makasih author
Rika Ashanty: sama-sama ka🙏👍terus jadi pembaca setia ya,maksih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!