NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:51.9k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intrik Licik

​"Ibu tahu tidak, Ayra sekarang sudah jadi mahasiswi?"

Ucap Rayyan setelah beberapa saat merenung. Tentu saja membuat Elly tersentak kaget.

"Kok bisa?"

"Ya bisalah, itu kan pakai uang aku, Bu."

Elly mengeluarkan dengusan dari hidungnya. Wajahnya terlihat sangat kesal.

"Terus, dia makan sehari-hari dan untuk membiayai hidupnya dari mana? Kan tidak mungkin kalau hanya mengandalkan uang gono-gini dari kamu."

Rayyan mengedikkan bahunya. Tapi dia baru ingat, kalau dulu pernah dengar ibunya Ayra punya beberapa petak kos-kosan. Entah masih beroperasi atau sudah mandek.

"Ibu tahu tidak kalau almarhumah ibunya Ayra punya beberapa petak kos-kosan? Mungkin dari hasil itu."

"Jadi selama menikah sama kamu, duit hasil dari kos-kosan itu dia kekepin sendiri? Dasar ular licik!" umpat Elly. Tangannya terkepal kuat dan rahangnya mengetat menimbulkan suara 'kreot' di giginya yang saling beradu. Kalau ada Ayra di sini sudah dia unyeng-unyeng kepalanya. Kalau perlu sampai rambutnya tercabut semua.

"Enggak ada cewek yang enggak licik!"

"Hei, apa maksud kamu? Ibu ini juga cewek!" hardik Elly dengan matanya yang melotot galak.

"Iya, kedua adik Bang Rayyan juga cewek. Jangan bicara sembarangan, Bang!"

"Sama saja!" jawab Rayyan pelan, seperti gumaman yang nyaris tak terdengar. Tapi ia cepat-cepat berdiri dan masuk ke kamarnya sebelum tangan dan mulut ibunya beraksi.

***

​Beberapa hari setelah kedatangan Ayra dan Zavian ke kantor polisi, Zavian menerima kabar bahwa laki-laki bernama Julian, yang telah mencoba melecehkan Ayra, tetap bersikeras pada keterangannya. Julian mengaku tidak ada seorang pun yang memberinya akses masuk ke acara pesta tersebut.

​"Dia tetap mengaku datang atas inisiatif sendiri dan menyamar sebagai staf salah satu vendor di bagian katering," ujar polisi memberikan laporan.

​Namun, laporan tersebut sama sekali tidak membuat Zavian puas. Hatinya tetap meyakini bahwa ada seseorang yang sengaja memberikan akses kepada Julian demi mencelakai Ayra.

​"Tapi siapa? Stella? Tidak mungkin. Dia bahkan tidak tahu aku akan datang membawa pasangan. Bryan, atau Marissa? Marissa?"

​Pikiran Zavian sempat tertuju pada Marissa. Namun, serupa dengan Stella, Marissa pun seharusnya tidak tahu jika ia akan hadir bersama pasangan. Lelaki itu mengacak rambutnya dengan frustrasi.

​"Sepertinya aku harus menanggapi serius keinginan Ayra untuk menjadi pengasuh Kenzie. Dengan begitu aku bisa jadi lebih dekat lagi sama dia dan bisa mudah mengawasi demi keselamatannya." Gumam Zavian.

"Lebih baik sekarang aku ke rumahnya." Ia segera beranjak ke luar kamar dan mencari putranya. Bermaksud akan mengajaknya ikut. Tapi ia tak menemukan Kenzie dimanapun.

"Nola, Kenzie kemana?" Tanya Zavian pada salah seorang asisten rumahtangga.

"Mas Kenzie tadi diajak pergi sama Ibu Marissa."

"Kenapa nggak bilang sama saya?"

"Katanya sudah"

Zavian mendengus kesal. Matanya menyorot tajam pada Nola. Membuat perempuan itu tertunduk gemetar.

"Kamu sudah konfirmasi ke saya tidak?" Sentaknya kemudian. Kepala sang ART pun semakin menunduk ketakutan.

"Ma-maaf Tu-tuan..."

Melihat sang asisten rumah tangga gemetar ketakutan, akhirnya Zavian menanyakan ibunya.

"Ibu saya dimana?"

"Nyonya Euginia sedang pergi sama tuan Willy. Katanya mau ke kondangan."

Zavian mengibaskan tangan, menyuruh asisten rumah tangganya itu pergi. Dia sendiri langsung menelepon Marissa.

"Hallo Marissa, kamu bawa Kenzie ke mana?"

"Kami di mall."

"Shareloc. Dan jangan ke mana-mana sebelum saya datang!"

Zavian langsung memutus sambungan telepon dan menyambar kunci mobilnya yang tergantung di key holder. Tak berapa lama satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Itu dari Marissa yang mengirimkan alamat dimana ia dan Kenzie berada.

***

"Ay, aku lagi di mall XXX sama Kenzie. Kamu bisa datang ke sini? Katanya Kenzie mau ketemu," tulis Marissa dalam pesan singkat yang langsung ia kirimkan kepada Ayra.

Tak sampai lima menit, Ayra sudah membalas pesan itu dengan jawaban singkat, "Oke."

Senyum tipis yang sangat samar tersungging di bibir Marissa. Rencana kecilnya tampaknya mulai berjalan.

"Ayo Onty, aku mau pulang!" rengek Kenzie yang sedari tadi tidak berhenti merajuk. Padahal, Marissa sudah merayu anak itu dengan berbagai cara, mulai dari membelikan mainan, es krim, hingga mengajaknya ke wahana permainan. Namun, rasa senang Kenzie hanya bertahan sebentar, setelah itu ia kembali merengek minta pulang. Baru setelah diberitahu bahwa Zavian akan datang, anak itu mulai kembali tenang dan mau menunggu kedatangan sang ayah.

Tak berapa lama Zavian datang. Kenzie pun langsung berlari menyambutnya sambil tertawa-tawa.

"Ayo Pa, kita main balap mobil!" ajaknya sambil menarik tangan ayahnya ke arah permainan yang diinginkannya.

Dengan sabar, Zavian mengikuti langkah sang putra diikuti Marissa yang berjalan di samping Zavian. Orang yang memperhatikan pasti akan mengira mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Apalagi saat Marissa dengan sikap lemah lembut menyuapi Kenzie dengan snack yang tadi dibelinya. Sesekali ia menyuapi Zavian juga. Meski pada awalnya lelaki itu menolak, tapi karena Marissa terus menempelkan ke bibirnya, Zavian pun terpaksa membuka mulutnya menerima suapan dari tangan wanita itu.

Ayra yang baru datang dan memasuki area permainan anak, merasa ada yang menghentak jantungnya. Dari kejauhan ia melihat semua itu. Awalnya dia ragu untuk terus melangkah. Entah kenapa ia merasakan ada yang nyelekit di hatinya dan terasa panas.

Tapi saat akan berbalik, Marissa sudah keburu melihatnya. Wanita itu pun langsung menghampirinya.

"Ay, sudah datang, dari tadi kami menunggumu loh. Katanya Kenzie ingin ketemu kamu." Kata Marissa dengan menyebut kata kami, seolah-olah ia, Zavian, dan Kenzie memang pergi bersama.

"Oh maaf, saya datangnya agak telat. Tapi baiknya saya pulang aja, takut ganggu kalian." Kata Ayra. Suaranya sedikit bergetar.

Marissa tersenyum manis, lalu menarik tangan Ayra ke luar area permainan.

"Kita ngobrol di luar ya, Ay. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sama kamu."

Mereka duduk di salah satu bangku panjang yang disediakan untuk para pengunjung mall. Sekadar untuk beristirahat sejenak setelah lelah mengitari mall.

"Memangnya Mbak Marissa mau tanya apa ke saya?"

Marissa kembali tersenyum. Tangannya mengusap lembut punggung tangan Ayra.

"Sebelumnya aku minta maaf, Ay, jika kamu marah melihat kebersamaan kami." Ucap Marissa. Matanya menatap lekat Ayra, seolah merasa tidak enak pada wanita muda itu.

"Kenapa saya harus marah, Mbak. Saya dan Mas Zavian nggak ada hubungan apa-apa kok. Hanya kenalan biasa saja." Jawab Ayra mencoba bersikap wajar.

"Benar, Ay? Oh syukurlah. Tadinya aku merasa nggak enak loh waktu Tante Eugenia ingin menjodohkan aku dan Mas Zavian."

Tubuh Ayra terasa kaku mendengar ucapan Marissa. Dan nyeri di dadanya semakin nyelekit, meski ia tak tahu di mana letak salahnya dari perkataan Marissa. Toh antara dia dan Zavian tidak ada hubungan apa-apa. Apalagi melihat perbedaan status sosial dirinya dan laki-laki itu sangat jauh berbeda. Bak bumi dan langit.

"Nggak usah merasa nggak enak, Mbak. Saya dan Mas Zavian benar-benar nggak ada hubungan apa-apa."

"Baiklah kalau begitu aku tak akan ragu lagi menerima Mas Zavian untuk jadi suamiku. Kata Tante Eugenia, tak ada yang lebih pantas untuk menjadi mama sambungnya Kenzie. Aku kan adik kandung almarhumah kak Meutia. Jadi kasih sayangku pada Kenzie tak akan berbeda jauh dengan kasih sayang ibu kandungnya."

Ayra mengangguk sambil menyangkutkan tasnya ke bahu. Dia ingin segera pergi. Jika lebih lama di sini, takut tak bisa menahan gejolak hatinya.

"Ya udah Mbak, kalau gitu saya pergi aja. Selamat bersenang-senang."

"Ay..."

Ayra mengangkat wajahnya. Marissa tengah menatapnya dengan mimik seakan merasa berdosa. Lalu tangannya meraih tangan Ayra.

"Sekali lagi aku minta maaf ya Ay."

"Santai Mbak, Mbak Marissa nggak salah apa-apa kok. Saya permisi."

Ayra menarik tangannya, lalu pergi dengan hati yang tidak karuan.

Sementara, Marissa menatap punggung Ayra dengan sorot mata tajam, seperti ingin melubangi punggung itu. Wajahnya yang tadi lembut, berubah drastis memperlihatkan aura dingin yang berbahaya.

1
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
Yul Kin
lanjut kak
Anonymous
ENTAH KENAPA SAYA INGIN MEMBUNUH ORANG INI SI LITZHA
Ummi Rafie
jangan² Monalisa yg maksa masuk di pernikahan ayra
Dini Yulianti
akhirnya sah jg
Cookies
lanjut thor
Dini Yulianti
musuh terberat ayra hanya si sasa marisa, psyco dia, kalo semacam elly sama lizta mah hanya kelas teri
Ramlah Ibrahim
kna sambungan nya kenpa tiba2 kerlur cerita lain
Ma Em
Bu Elly sok soan mau manas2 in Zavian agar TDK jadi menikah dgn Ayra kalau Zavian tdk dengar Rayyan ngancam mau keluar dari perusahaan Zavian lah emang kalian siapa samapi Zavian mau mendengar omongan Rayyan dasar orang tdk tau malu , semoga Ayra bahagia bersama Zavian .
Yul Kin
pecat Rayyan dan lita kak, gedeg aku sama mereka, klg mak Lampir jg
Ma Em
Elly ,Anika dan Serly sombong didepan nyonya Euginia , Elly kamu itu tdk ada apapa nya kalau dibandingkan dgn nyonya Euginia dasar norak pake perhiasan kayak toko emas berjalan , Elly ,Ayra itu bkn jadi pengasuh tapi calon istri orang kaya .
Dini Yulianti
nah gitu ay jangan egois, zavian jadi leluasa lindungin kamu, kuliah masih bisa jalan meski udh nikah, zavian beda sama rayyan
Anonymous
Pantau terus si marissa van.. Gunakan semua aksea yg dikau punya
Anonymous
Please zavian.. Jgn butek2 banget... Gunakan kekuasaan keluarga loe..
Ma Em
Demi keamanan dan perlindungan penuh dari Zavian Ayra tentu hrs mau cepat menikah dgn Zavian jgn ditunda lagi karena Marissa sangat berbahaya .
Ma Em
Zavian seorang pengusaha yg berkuasa masa kalah oleh kelicikan Marissa .
Anonymous
AWOKAWOK dibutuhkan Spy seperti Loid
Ma Em
Rayyan sekarang Ayra berada diatas mu dan sebentar lagi akan menjadi istri bosmu , jgn sampai kamu cari masalah dgn Ayra kalau Elzian tau kamu pasti dipecat Rayyan .
Retno Harningsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!