Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Reinkarnasi
"Tolong, ampuni nyawaku! Aku akan memberikan apa pun—hartaku, kekuasaanku, semua—"
Crat!
Belum sempat kalimat putus asa itu selesai, sebuah belati tipis telah bersarang di pangkal tenggorokan sang target. Kenzo menarik senjatanya dengan gerakan yang begitu halus, seolah-olah ia hanya sedang memetik sehelai daun. Tidak ada kebencian di matanya, tidak ada pula kepuasan. Hanya ada kekosongan yang dingin.
Kenzo berdiri tegak di tengah genangan darah, menatap jasad pria yang beberapa menit lalu adalah orang paling berkuasa di kota ini. Baginya, ini hanyalah rutinitas.
"Target tereliminasi," gumamnya datar ke arah mikrofon kecil di kerah bajunya. "Aku akan pulang. Jangan hubungi aku sampai novel ini selesai."
Tanpa menunggu jawaban dari markas, Kenzo melangkah mundur, tubuhnya seolah ditelan oleh bayang-bayang malam yang pekat.
Sesampainya di apartemen sederhana yang jauh dari kemewahan, Kenzo melepaskan jas hitamnya yang berbau mesiu dan anyir darah. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa hidupnya.
Di atas meja kayu yang mulai lapuk, dua benda kontras tergeletak berdampingan:
Sebuah plakat emas bertuliskan "Apex Predator"—penghargaan tertinggi bagi pembunuh nomor satu di asosiasi.
Sebuah surat medis kusam dengan cap rumah sakit yang menyatakan diagnosa fatal: Gagal Jantung Progresif - Stadium Akhir.
Kenzo melirik surat itu sekilas, lalu mengabaikannya. Baginya, kematian bukanlah musuh; itu adalah klien lama yang akhirnya datang menjemput. Ia menarik kursi, mengambil sebatang pensil, dan membuka lembaran kertas yang penuh dengan tulisan tangan.
Di sana, ia bukan lagi seorang pembunuh. Ia adalah seorang pria bernama Kenzo yang hanya ingin menanam sayur di lembah yang tenang.
"Seandainya aku bisa mencicipi kebebasan tanpa bau darah. Sebuah gubuk kecil, tanah yang subur, dan langit biru yang tidak pernah tertutup asap kota. Itulah satu-satunya mimpi yang tersisa..."
Saat ujung pensilnya bergerak untuk menuliskan titik terakhir di paragraf penutup, dadanya tiba-tiba berdenyut hebat. Rasa sakit yang tajam, seolah ribuan jarum panas menusuk jantungnya, membuat napasnya terhenti seketika.
Pandangannya mengabur. Pensil di tangannya terjatuh, menggelinding di lantai yang dingin. Kenzo tersenyum tipis—sebuah ekspresi langka yang belum pernah dilihat siapa pun. Dunia menjadi gelap.
"Ayah... Ayah, bangun! Ayo main bersama Lin'er!"
Sentuhan kecil di lengannya terasa begitu nyata. Kenzo tersentak, kelopak matanya terbuka perlahan. Ia tidak lagi mencium bau debu apartemennya, melainkan aroma kayu pinus dan tanah basah.
Ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang kayu keras. Di sampingnya, seorang anak kecil dengan pipi kemerahan dan mata bulat yang jernih menatapnya dengan penuh harap.
Kenzo terdiam. Insting pembunuhnya berteriak, memaksanya untuk waspada, namun tubuhnya terasa aneh—tidak ada lagi rasa sakit yang menyiksa jantungnya. Ia duduk dengan kaku, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, mencoba memproses situasi yang tidak masuk akal ini.
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang berdenging pelan bergema langsung di dalam kesadarannya.
[Ding!]
[Sinkronisasi Berhasil. Selamat Datang, Sang Kreator, di Dunia Novel Buatan Anda.]
[Mengaktifkan Sistem Pendukung...]
[Peringatan: Energi Sistem Terbatas. Modul yang tersedia: "Sistem Serba Guna Barang Bekas".]
Kenzo menatap panel transparan yang melayang di depannya. Matanya yang tajam langsung menganalisis teks tersebut. Sistem Barang Bekas? Di dunia kultivasi di mana orang-orang bisa membelah gunung dengan pedang, sistem semacam ini terdengar seperti sampah tak berguna.
Namun, Kenzo tidak kecewa. Sebagai orang yang biasa membunuh target dengan seutas benang atau sepotong kaca, ia tahu satu hal pasti:
Tidak ada benda yang sampah di tangan orang yang tepat.
sebentar😅😅