Sekuel off 'Pesona Mama Mertua Muda'
Wajib baca season satu duluan ya ≧∇
"Duniaku ikut mati tanpamu."
Kehidupan Javas hancur saat wanita yang paling dicintainya meninggal. Ia mencoba melarikan diri, menyingkir dari tempat yang menenggelamkan banyak jejak kenangan tentang wanita itu.
Namun, ia tak bertahan lama, Isvara selalu tinggal di kepalanya, sehingga pria itu memutuskan kembali.
Hanya saja, apa jadinya jika Isvara yang mereka pikir telah meninggal—justru masih hidup? Bisakah Javas menggapai dan melanjutkan hidupnya bersama wanita itu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donacute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 | Sheva Sudah Seperti Putri Saya
Isvara terdiam, ia masih panik. Tapi ia juga bisa melihat wajah Javas tidak kalah panik, gadis itu tadi mendengar sendiri bahwa Javas menyebut Sheva adalah putrinya pada dokter.
"Saya tadi sudah bicara sama dokter untuk menyelamatkan Sheva, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi, Va. Sheva pasti baik-baik aja." Sebenarnya Javas juga panik, tetapi ia malah lebih memilih untuk menenangkan gadis pujaan hatinya.
"Semoga apa yang Om bilang jadi kenyataan," ujarnya lirih yang langsung diaminkan oleh Isvara.
Dokter keluar dari ruang UGD setelah memeriksa keadaan Sheva, ia juga menjelaskan kepada Isvara dan Javas yang dikiranya adalah orang tua Sheva tentang keadaan Sheva yang sudah membaik. Sheva ternyata terkena penyakit typus, kondisinya sudah lebih baik bahkan sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Sheva memang masih perlu di rawat di rumah sakit selama beberapa hari.
***
Tiga hari berlalu, keadaan Sheva semakin membaik bahkan hari ini bisa saja Sheva diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Selama tiga hari juga, Javas–lah yang membantu Isvara mengurus Sheva di rumah sakit. Sahabat Isvara sudah tahu tentang keadaan Sheva, mereka ingin sekali langsung pergi menjenguk gadis kecil kesayangan mereka itu. Namun, Isvara melarang ketiga sahabatnya datang ke rumah sakit. Ia tidak ingin terlalu banyak orang di rumah sakit, takutnya malah mengganggu pasien yang lain.
Jadi baik ketiga sahabat Isvara termasuk Chilla, mereka bisa datang ke rumah saja saat Sheva sudah pulang dari rumah sakit. Jika memang berniat menjenguk Sheva, Chilla tau karena diberitahu oleh Javas.
Isvara meyakinkan ia bisa menangani Sheva di rumah sakit, toh ia tidak sendiri ada Javas yang sejak awal sangat membantunya. Isvara dan Javas benar-benar seperti sosok orang tua yang baik bagi Sheva, padahal keduanya bukan orang tua kandung gadis kecil itu.
Isvara kini sedang menemani Sheva yang sedang tidur di ranjangnya di rumah sakit, wajah Sheva sendiri sudah tidak sepucat tiga hari lalu. Tentu Isvara sangat bersyukur putrinya berangsur sembuh.
"Isvara," panggil Javas yang baru saja masuk rawat Sheva. Javas baru sadar bahwa ia telah salah memanggil nama, harusnya dirinya mulai membiasakan memanggil Isvara dengan panggilan Kinan apalagi sekarang mereka berdua ada di tempat umum yaitu rumah sakit.
"Kinan maksudnya."
"Kenapa?" tanyanya dengan malas. Jika tidak karena Javas sudah banyak membantunya mengurus Sheva, mungkin Isvara tidak akan membiarkan Javas tetap berada di rumah sakit.
"Makan siang dulu, saya sudah belikan makan buat kamu. Walau saya nggak tau kamu akan suka nggak sama makanan itu," katanya sambil menunjukkan plastik berisi beberapa kotak makanan yang sengaja ia beli untuk Isvara.
"Om nggak perlu repot-repot beliin saya makanan, saya juga belum lapar kok sekarang. Jadi Om makan sendiri aja makanannya," tolak Isvara dengan halus.
"Makan dulu, Isvara. Ini sudah siang, pagi tadi saya juga nggak liat kamu makan loh. Kamu pasti nggak mau 'kan, setelah Sheva sembuh malah gantian kamu yang sakit. Apa kamu bisa bayangin gimana sedihnya Sheva kalau bundanya sakit?" Ucapan Javas yang terakhirlah yang membuat Isvara akhirnya menerima makanan yang Javas belikan.
"Terima kasih, Om."
"Sama-sama."
"Terima kasih, Om," ujar Isvara lagi yang membuat Javas mengernyitkan keningnya bingung, karena Isvara mengucapkan terima kasih bukan hanya sekali.
"Sama-sama, saya tadi 'kan udah bilang sama-sama, Va."
"Terima kasih yang tadi terima kasih karena Om udah kasih aku makanan, tapi kalau terima kasih yang ini beda lagi. Aku mau bilang terima kasih karena udah bantuin bawa Sheva ke rumah sakit, aku nggak tau gimana jadinya Sheva kalau waktu itu Om nolak buat bantuin aku."
"Sebenarnya saya melakukan hal itu tulus sama kamu dan Sheva, saya sama sekali nggak berharap mendapatkan ucapan terima kasih dari kamu. Lagi pula mana mungkin saya menolak menolong kamu saat kamu sedang butuh bantuan, orang lain yang ada di posisi saya juga pasti melakukan hal yang sama," jawab Javas dengan lembut.
Isvara tersenyum. "Selain itu aku juga mau ngucapin terima kasih sama Om yang mau menemani aku di rumah sakit, padahal aku tau Om orang yang sibuk. Om juga beberapa hari ini perhatian banget sama Sheva, sampai buat Sheva bahagia ada di dekat Om."
"Untuk masalah nemenin kamu, saya anggap itu adalah kewajiban saya. Saya nggak mungkin biarin perempuan yang saya cintai di rumah sakit sendirian menunggui putrinya. Sedangkan untuk masalah Sheva, saya sayang sama anak perempuan kamu itu. Saya sendiri merasa bahagia ada di dekatnya, bagi saya Sheva sudah seperti putri saya sendiri. Saya tulus menyayanginya, bukan hanya karena dia anak kamu," jelasnya panjang lebar.
Isvara bisa melihat apa yang diucapkan Javas adalah sebuah kebenaran, Javas memang terlihat sangat tulus pada Sheva. Bahkan bisa dibilang Javas lebih dekat dan sayang pada Sheva dibandingkan pada anaknya sendiri, untungnya Chilla tidak harus melihat itu semua. Karena jika Chilla melihat hal itu gadis itu pasti akan merasakan sakit hati, karena saat kecil ia tidak merasakan kasih sayang Javas seperti yang saat ini dirasakan oleh Sheva.
"Aku memutuskan mengizinkan Om Javas buat dekat sama Sheva, aku mencoba untuk nggak bersikap egois. Sheva nyaman dan bahagia di dekat Om, enggak mungkin aku tiba-tiba melarangnya dekat dengan Om. Tapi untuk aku sendiri, jangan harap Om bisa seenaknya dekat sama aku. Aku nggak berminat sama sekali sama Om."
Javas malah tertawa setelah mendengar ucapan Isvara yang terakhir, padahal itu adalah penolakan dari Isvara terhadapnya. Namun, ia tidak terlalu memperdulikannya. Pria itu tetap akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Isvara jatuh cinta terhadapnya, dan dirinya dan Isvara bisa bahagia bersama.
"Makan dulu aja, nanti lagi ngobrolnya. Mumpung sekarang Sheva lagi tidur juga, jadi kamu bisa bebas makan tanpa ada gangguan," titah Javas pada Isvara, yang anehnya langsung dituruti oleh gadis cantik itu.
"Om juga makan, itu makanannya 'kan lebih juga," ujar Isvara sambil memberikan satu kotak nasi.
Akhirnya Javas dan Isvara makan bareng, walaupun Javas sesekali memandangi Isvara yang sedang makan dengan lahapnya. Selama di rumah sakit memang baru kali ini Isvara bisa makan banyak dan lahap, biasanya gadis itu hanya makan sedikit saja agar dirinya tampak sudah makan.
Menurut Isvara, bagaimana bisa ia makan dengan lahap sedangkan putrinya sedang sakit. Sedangkan sekarang keadaan Sheva juga sudah sangat membaik, jadi ia tidak perlu terlalu khawatir lagi.
Ada satu butir nasi yang menempel di pipi Isvara, tanpa permisi Javas mengambil butiran nasi itu. Saat Javas menyentuh pipinya, Isvara bukannya malah dia malah diam aja. Belum lagi jantungnya terus berdetak dengan kencang.
"Jangan berpikiran buruk, saya hanya membantu membersihkan pipi kamu," jelas Javas agar Isvara tidak salah paham padanya.
Saat Javas dan Isvara selesai makan, Sheva terbangun dari tidurnya. Gadis itu langsung mencari keberadaan Bunda dan Papanya, Papanya adalah Javas. Karena ajaran Javas, gadis kecil itu memanggil Javas dengan sebutan Papa sekalipun tanpa izin dari Isvara. Isvara juga memilih mengalah dan mengizinkannya saja, ia sadar bahwa putrinya memang membutuhkan sosok Ayah. Javas mau memberikannya, harusnya Isvara malah bersyukur. Karena ia juga belum siap menikah hanya demi memberikan Sheva seorang Ayah.
"Bunda sama Papa nggak ke mana-mana, sayang," ujar Javas dengan sangat lembut.
"Sheva takut sendirian, Pa. Papa sama Bunda nggak akan ninggalin Sheva 'kan?" tanyanya dengan nada anak kecil.
"Enggak akan, sayang. Tanya sama Bunda kalau Sheva nggak percaya."
"Iya, Bunda sama Papa nggak akan ninggalin Sheva. Tapi Bunda minta Sheva cepat sembuh, biar Sheva bisa pulang ke rumah lagi. Tau nggak Bunda sedih tau kalau Sheva sakit," kata Isvara menimpali.
"Sheva mau cepat sembuh kok, Bun. Sheva nggak suka di sini soalnya bau obat, Sheva sukanya di rumah," cicitnya. Bukan hanya anak kecil, orang dewasa pun banyak yang tidak suka dengan rumah sakit.