Benci jadi Cinta. Mungkin itulah ungkapan yang bisa menggambarkan perasaan Dimas. Namun bagaimana bila cinta yang tengah bersemi itu datang di saat yang tidak tepat?? Bahkan bercokol dengan sangat dalam hingga menutupi semua akal sehat, logika, dan dosa.
Hasrat yang begitu pekat teraduk dengan begitu indah dalam naungan gelora asmara.
Bahagia namun khawatir.
Senang namun takut.
Ketakutan dan juga kekhawatiran itu seakan tak lagi berarti saat geliat yang terjadi membakar gairah sampai menghanguskan nurani.
Cinta yang muncul di kala keduanya berstatus sebagai ibu dan anak. Cinta yang dianggap tabu oleh masyarakat. Cinta terlarang yang tak bisa mereka gapai.
Batasan norma menjadi penghalang bagi hubungan keduanya. Luna sang ibu tiri harus memilih antara mempertahankan rumah tangganya, atau memilih cintanya?
"Aku akan membuatmu bahagia, Lun. Meski itu berarti harus membuat semua dunia membenciku." Tatapan lembut Dimas membius Luna, di antara tetesan air shower, pandangan mereka saling mengunci.
"Dikucilkan pun aku tak peduli, Mas. Asal kamu selalu bersamaku." Luna mencium bibir Dimas lekat.
Sebuah Cinta yang muncul di saat yang tidak tepat, apakah bisa membawa mereka pada kebahagiaan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devy Meliana Sugianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belalai Gajah
Dimas menatap tubuh indah Luna dari belakang. Andai saja ia tidak sedang dalam proses penyembuhan, sudah pasti Dimas akan memeluknya dari belakang sembari mengecupi tengkuknya yang selalu beraromakan bunga. Dimas tersenyum, ia jadi ingin mengerjai Luna.
"Mama ..." panggil Dimas.
"Heung??" Luna menoleh, ingin tahu kenapa Dimas memanggilnya.
"Sini deh, Ma." Dimas pura-pura meringis kesakitan.
"Kenapa?? Apa ada yang sakit??" Luna lekas mendekati Dimas.
"Kebelet pi-pis, Ma. Pegangi donk!" Dimas menaik turunkan alisnya.
"Dimas!!" seru Luna malu.
"Beneran, Ma. Kebelet banget ini. Tangan nggak bisa dipakai." Dimas mengiba pada Luna.
"Dih, pencet bel saja. Kan nanti perawatnya datang." Luna mencari bel.
"Nggak mau! Aku malu! Sama bibik Jaenap aja aku nggak mau. Apa lagi sama perawat." Dimas menohon lagi pada Luna. "Kan cuma mama yang sudah pernah lihat punya Dimas, Ma."
"Dimas! Hihhh!! Geli dengernya tahu." Luna menutupi wajahnya yang memerah karena ucapan Dimas.
"Mama cukup bantuin Dimas buka celana aja kok, nanti kumasukin sendiri selangnya ke pispot." Dimas menunjuk ke arah benda plastik di dekat kamar mandi.
"Astaga!! Kamu serius."
"Serius, Ma. Tolong donk. Mama udah janji sama papa kan mau jagain Dimas."
"Iya, sih." Luna mengusap keningnya.
Gadis itu menghela napas panjang, ia memang sudah berjanji merawat Dimas, jadi mau nggak mau juga Luna harus menahan rasa malunya dan membantu Dimas. Namanya juga orang sakit, kan nggak mungkin bisa bergerak sendiri. Kelamaan di tahan juga nanti jadi kencing batu.
Luna berjalan mengambil pispot, lalu kembali pada Dimas. Dengan gerakan patah-patah Luna membantu Dimas melepaskan celananya. Pelan-pelan Luna bisa melihat belalai gajah Dimas yang masih berkelung hangat dalam sarangnya.
"Dim, udah ni, keluarin sendiri gih, terus pipis." Luna menoleh ke kanan supaya nggak melihat si gajah imut itu. Namun, Dimas dengan manjanya malah menarik tangan Luna.
"Sekalian nama, Ma?"
"Dimas!!"
"Tangan Dimas nggak sampai." Dimas memperlihatkan tangan kanannya yang terhalang dengan selang infus, kalau dipaksain bisa-bisa jarumnya lepas dan darah mengucur.
Luna memejamkan matanya saat tangannya turun untuk masuk ke dalam celah sempit pada celana Dimas. Ada rambut halus dan akhirnya kehangatan dari sarang gajah. Belalai gajah yang semula terkulai lemas mendadak berubah tegang, mengeras dan membuat Luna kaget.
"Kenapa, Ma? Kok kaget??"
"Dimas, jangan coba-coba, ya!! Kamu baru sakit!!" sergah Luna.
"Jadi kalau enggak sakit boleh?!" goda Dimas.
"Enggak!! Enak aja!" Luna bergeleng, dengan cepat dia menaikkan belalai gajah masuk ke lubang pispot supaya bisa pipis. Namun karena tegang, belalainya kan ke atas ya, susuh di suru ngadep ke bawah.
"Dimas!! Kamu itu mau pipis apa enggak sih?!" tukas Luna kesal.
"Gara-gara tangan lembut mama nih Dimas jadi tegang. Gimana kalau dilemesin pakai tangan mama juga."
"Gimana caranya??" tanya Luna polos.
"Ya diko-cok!!"
Wajah Luna langsung menghangat, dasar bocah gendeng. Dia nggajakin mamanya buat bikin dosa?? Nakal banget sih.
"Nggak mau!! Ko-cok aja sendiri!!" Luna mendengus dan melepaskan belalai gajahnya.
"Ehh ... tunggu!! Pi-pisnya gimana??" Dimas ternyata juga beneran kebelet pipis.
"Biarin!! Biar ngompol!!" ketus Luna lalu melingsut dari depan Dimas untuk menghubungi perawat lelaki yang berjaga di depan.
Dimas merasa kesal, mau ngerjain malah dikerjain. Makanya jangan nakal-nakal ya Dimas.
...-- BERSAMBUNG --...
lebih baik luma sembuh dan mereka berpisah.. jalani hidup masing2..