Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Yang Melintasi Batas Semua Hal
Setelah berhasil keluar dari jerat kesuksesan, proyek mereka makin berkembang dengan baik – bahkan sampai ada undangan dari lembaga antariksa internasional buat membuat karya seni yang bakal dikirim ke luar angkasa! Awalnya mereka pikir itu cuma lelucon, tapi ternyata beneran serius.
Di ruang rapat yang sekarang udah penuh dengan foto karya seni dari berbagai negara, Rania lagi ngomong sama timnya sambil masih ngga percaya:
"Jadi... mereka mau kita buat karya seni yang bakal ditempel di stasiun antariksa dan bahkan dikirim ke bulan? Beneran ngga sih? Kayak film aja deh!"
Hiro dari Jepang langsung jongkok kagum. "Kalau ini bisa jadi kenyataan, kita bakal jadi generasi pertama yang bawa seni tradisional dari seluruh dunia ke luar angkasa! Tapi gimana ya cara buat karya seni yang tahan di luar angkasa dan tetap bisa menunjukkan makna budaya kita?"
Masalahnya bukan cuma soal bahan yang kuat aja – mereka juga harus menyatukan motif dari berbagai budaya jadi satu karya yang padu, tanpa ada yang merasa kurang atau lebih penting. Plus, ada tuntutan dari pihak antariksa yang bilang karya itu harus tidak terlalu berat dan mudah untuk dipasang.
Kaya biasa aja, mereka lagi-lagi terjebak di jerat masalah yang kompleks banget. Malah ada beberapa anggota tim yang mulai berbeda pendapat – yang satu mau fokus ke motif modern, yang lain mau tetap tradisional saja. Sampai-sampai mereka sempat berantem kecil gara-gara tidak sepakat tentang bentuk karya yang akan dibuat.
"Saya merasa kita lagi terjebak di jerat perbedaan yang lebih besar dari sebelumnya," ucap Zahra dari Maroko dengan wajah sedih. "Padahal tujuan kita adalah menyatukan semua orang, tapi sekarang malah kita sendiri yang mulai terpecah!"
SOLUSINYA? BUAT KARYA YANG "HIDUP" DAN BISA BERUBAH!
Pas mereka lagi bingung, tiba-tiba aja Rania dapet ide dari neneknya yang lagi sakit di rumah sakit. Neneknya bilang, "Cinta itu kan bisa berubah bentuk tapi tetap jadi cinta. Mungkin karya kamu juga harus bisa begitu – bisa berubah bentuk tapi tetap membawa makna dari semua budaya."
Dari situ mereka punya ide brilian – bukannya buat satu karya besar yang tetap, mereka mau buat "Karya Seni yang Hidup" yang bisa berubah bentuk dan warna sesuai dengan sinyal dari Bumi!
Mereka mengumpulkan motif dari 100 negara yang pernah mereka bantu – mulai dari batik Indonesia, origami Jepang, tenun Maroko, ukiran Kenya, sampai sulaman Peru. Semua motif itu dibuat jadi pola digital yang bisa diubah-ubah, dan dipasang di panel LED fleksibel yang kuat dan ringan banget.
Yang paling kerennya – setiap pola akan berubah sesuai dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Kalau ada festival di Indonesia, pola batiknya bakal muncul lebih jelas. Kalau ada musim panen di Kenya, pola ukiran bakal berwarna lebih cerah. Bahkan anak-anak dari setiap negara bisa ngirimkan pesan atau gambar yang bakal muncul di karya seni itu!
"Jadi ini bukan cuma karya seni yang diam aja," ucap Rania dengan mata yang bersinar. "Ini jadi jembatan yang nyambungin Bumi sama luar angkasa, dan juga nyambungin semua negara di Bumi sendiri!"
Mereka juga kerja sama sama ilmuwan dari berbagai negara buat bikin bahan yang bisa tahan radiasi dan suhu ekstrem di luar angkasa. Malah ilmuwan itu juga ikutan antusias karena bisa belajar tentang makna budaya dari setiap motif yang digunakan.
"Saya dulu cuma mikir tentang angka dan rumus aja," ucap salah satu ilmuwan muda dari Amerika Serikat. "Tapi sekarang saya ngerti kalau setiap pola punya cerita dan makna yang dalam – kayak rumus aja tapi lebih indah!"
KEJUTAN DARI SEMUA SISI!
Hari peluncuran karya seni mereka yang diberi nama "Jerat Cinta yang Menyambung Semesta" jadi acara paling seru dan meriah sepanjang tahun. Banyak orang yang datang dari berbagai negara – mulai dari seniman tradisional, anak-anak muda, ilmuwan, sampai pejabat penting.
Yang paling mengejutkan adalah nenek Rania yang baru saja pulih dari sakit juga datang dengan dibawa dalam mobil kursi roda. Dia bahkan mau memberikan doa dan sesajen tradisional dari Karo buat karya seni yang akan dikirim ke luar angkasa.
"Semoga karya ini bisa membawa cinta dan kedamaian dari Bumi kita ke seluruh semesta," ucap neneknya dengan suara lembut tapi kuat. "Semoga semua orang yang melihatnya bisa ingat bahwa kita semua punya akar yang sama – cinta pada Bumi dan sesama manusia!"
Tak disangka lagi, dari balik kerumunan muncul Nara, Dito, Reza, dan Rendra yang membawa kue besar berbentuk planet Bumi. Mereka juga sudah siapin surat dari anak-anak yang pernah mereka bantu dari tahun-tahun dulu – sekarang sudah jadi orang tua atau bahkan nenek sendiri.
"Kita juga punya hadiah buat kalian," ucap Reza dengan senyum lebar. "Surat dari generasi kita yang cerita tentang bagaimana cinta yang pernah terjebak di dalam jerat bisa tumbuh jadi sesuatu yang luar biasa – sama kayak kalian yang sekarang sedang melakukan hal yang sama!"
Saat karya seni mereka mulai dipindahkan ke kendaraan yang bakal membawanya ke pelabuhan antariksa, semua orang berdiri dan menyanyi lagu bersama – lagu yang sudah jadi lagu perdana Bumi Kreatif selama puluhan tahun. Suara mereka yang penuh cinta dan semangat menggema di seluruh tempat, bahkan beberapa orang menangis haru karena merasakan kebesaran momen ini.
EPILOG – HARI KARYA SENI DIKIRIM KE LUAR ANGKASA
Hari peluncuran roket yang bakal membawa karya seni mereka ke luar angkasa, semua orang berkumpul di pantai Bali yang indah – tempat di mana Bumi Kreatif pertama kali mulai berkembang menjadi organisasi global.
Mereka semua duduk bersama di pasir pantai, menunggu sinyal dari pelabuhan antariksa. Rania duduk di antara Nara dan neneknya, tangan bergandengan erat. Timnya juga duduk berkelompok, masing-masing membawa karya seni kecil yang mereka buat sendiri.
"Lihat aja kakak, karya kita bakal terbang ke luar angkasa!" teriak seorang anak kecil dari Brasil yang ikutan datang.
"Ya kan! Dan nanti kalau kamu melihat bintang-bintang di malam hari, kamu bisa bilang 'ada karya kita di sana lho!'" jawab Rania dengan senyum.
Pada pukul 06.00 pagi tepatnya, layar besar yang dipasang di pantai menunjukkan roket mulai lepas landas. Semua orang berdiri dan bertepuk tangan dengan penuh semangat, beberapa orang menangis, beberapa orang bernyanyi, dan semua orang berdoa agar roket sampai dengan selamat.
Setelah roket menghilang ke langit, matahari mulai muncul dari balik laut – memberikan warna jingga dan kemerahan yang indah pada langit dan laut. Nara berdiri dan mulai berbicara:
"Puluhan tahun yang lalu, kita mulai dengan cinta yang terjebak di dalam jerat masalah dan konflik. Kini, cinta itu sudah bisa melintasi batas dunia dan sampai ke luar angkasa. Tapi ingat ya – cinta itu selalu ada di hati kita, di mana pun kita berada, dan dalam bentuk apa pun."
Rania kemudian melanjutkan kata-kata Nara:
"Jerat memang akan selalu datang sepanjang hidup kita – kadang dari masalah, kadang dari perbedaan, kadang dari kesuksesan sendiri. Tapi yang paling penting adalah kita tidak pernah menyerah untuk membawa cinta keluar dari jerat itu, dan menjadikannya jembatan buat menghubungkan kita semua."
Semua orang mulai berjalan ke laut yang tenang, membawa karya seni kecil mereka dan meletakkannya di pasir pantai – sebagai simbol bahwa cinta dan kreativitas mereka akan selalu ada di Bumi, meskipun sebagian dari mereka sudah terbang ke luar angkasa.