Kaisar tiba di rumah Adinda sekitar 2 tahun yang lalu. Keberadaannya membuat hidup banyak orang berubah, terutama Adinda. Harimau Hitam itu begitu misterius dengan kemampuan saktinya yang menakjudkan. organisasi Mafia Xavier, Papa Adinda, tak terkalahkan sejak ada Kaisar dalam berbagai penyergapannya.
Namun, pada suatu malam, Kaisar datang ke kamar Adinda. Kali ini bukan dalam wujud Harimau hitam raksasa, tapi seorang pria bermata membara dan berwajah sangat tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergabungnya Adinda
"Ini juga sudah kupikirkan baik-baik," kata Valent, "Kaisar, apa untungnya bagi kami?"
Kaisar bangun dan menatap semuanya. Lalu ia menhatap Orion. Adiknya itu hanya memandangnya dengan sedih.
"Yang kami berdua butuhkan hanya abu jenazah orang tua kami, dan tongkat Albert sahabatku. Sisanya bisa kalian bawa. Saranku, simpanlah unttuk keperluan pribadi kalian. Karena itu usahakan Xaviier tidak tahu,"
"Berapa nilainya?" tanya Gallard.
"Kuambil alih yang di sini," Valent mengangkat bongkahan emas yang ia ambil dari brankas perpustakaan. "Kalian lihat ini? Hanya ada satu bongkah yang tersimpan di kastil ini. Sisanya tembikar dan benda atik peninggalan Zafiry. Echo, kau telisik berapa nilainya… Hati-hati, bongkahannya rapuh,"
Echo mengambil emas mentah dari tangan Valent dan mengenakan kacamatanya. Ia mengaktifkan sistem deteksi di kacamata itu lalu terperajat.
"Astaga…" gumamnya.
"Wow!!" serunya kemudian.
"Ah gila…" dan seterusnya.
"Apa sih yang kau maksud?!" gerutu Luis.
“Gentleman, kandungan emas pada bongkahan yang pernah ditemukan di dunia adalah 92%, sebelum di hancurkan dan dipanaskan sampai cair,” Echo menurunkan kacamata canggihnya. Pekerjaannya memang meneliti barang rampasan, mana yang berharga mana yang tidak.
Lalu Echo mengangkat bongkahan di tangannya, “Dan bongkahan ini... mengandung 99% emas murni. Itu berarti tidak ada kristal atau kandungan lain yang tercampur di dalam sini. Ini bongkahan berharga. Toko emas tidak perlu lagi memisahkan antara emas dan mineral lainnya, langsung dicairkan bisa langsung lapis,”
“Wow...” desis semuanya.
“Gentleman, diperkirakan ada berton-ton bongkahan seperti ini di brankas Quon, “kata Kaisar. “Silahkan kalian ambil semua, kami hanya perlu jasad orang tua kami dan tongkat sihir sahabat kami, Albert The Wizard,”
**
Setelah Alfredo dan Echo keluar dari kamar Valent untuk mengabarkan rencana mereka ke 10 orang yang lain, terdengar ketukan elan di pintu kamar Valent.
Tok
Tok
Tok
Adinda masuk ke dalam kamar Valent dengan tubuh limbung. Kaisar beranjak lebih dulu dan menangkap tubuh ringkihnya.
“Kenapa kamu ke sini?! Kubilang kan kamu istirahat dulu...” desis Kaisar.
“Kak! Yang benar saja! Setelah tahu bahkan kakak masih membelanya?!” seru Orion marah.
“Ya ampun Ori...” keluh Valent. “Benar-benar tukang ngambek ini anak,”
“Orion,” Kaisar membaringkan Adinda di ranjang Valent, “Kamu tahu tidak kalau ibu pernah jatuh cinta ke seorang Ksatria muda yang saat itu memenangkan pertandingan pedang? Akibatnya Ksatria itu dan keluarganya dihakimi rakyat kita dan semuanya dihukum dengan cara dibakar oleh Ayah?”
“Eh? Pernah ada cerita begitu??” pekik Orion.
“Itu terjadi sebelum kamu lahir,” kata Kaisar, “Sampai akhir hayatnya ayah masih sangsi kamu adalah anak kandungnya. Walau pun dia menyayangi kamu sepenuh hati, tapi saat melihat kamu, aku tahu dia selalu merasa ragu. Apalagi cara ibu memandang kamu seperti diliputi kerinduan yang amat sangat...”
“Kak? Aku baru tahu...”
“Menurut kamu, setelah tahu, apabila ada keluarga si Ksatria yang balas dendam padamu, adilkah bagimu?”
Orion mengerutkan kening, lalu meringkuk.
Kaisar hanya tersenyum sambil mengelus kepala adiknya itu, “Kami tetap menyayangi kamu sepenuh hati,” kata Kaisar dengan lembut.
“Kai, aku ingin ikut menyusup ke Mansion Quon,” kata Adinda lemah.
“Untuk apa, Dinda? Kamu tidak ada hubungannya dengan ini,” desis Valent kuatir.
“Aku ingin ikut andil untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Kaisar dan Zafiry. Tolong bimbing aku,”
“Papamu bisa jantungan kalau mendengar itu. Bisa-bisa bukannya marah dia malah senang dikiranya kamu sekutunya untuk mengumpulkan semua harta rampasan Agha,” gerutu Valent.
“Kau juga, Val... aku selama ini berpikir kau anak buah setia Papa. Ternyata kamu hanya penyusup!” gerutu Adinda.
“Kau beritahu dia sampai mana sih, Kai?! Ini sudah proyek pemerintah! Semakin banyak yang tahu semakin terancam nyawaku!” desis Valent kesal.
“Adinda perlu tahu semuanya, dia calon Ratu, soalnya,”
“Omong kosong...” desis Valent.
Orion menatap Adinda dengan rasa kebencian mendalam.
Suatu hal yang wajar mengingat semua yang disayanginya lenyap karena leluhur Adinda. Di lain pihak ia juga mengakui kalau Kaisar benar, bahwa tidaklah adil menuduh orang yang tidak tahu apa pun. Dan suatu Makhluk tidak bisa memilih di mana ia dilahirkan.
Bagaimana pun Orion masih muda, dengan emosi meledak-ledak. Kalau di kalangan siluman, ia bahkan dianggap masih bayi.
Orion pun diam saja, berusaha menguasai hatinya yang terasa campur aduk.
"Terserah kalian saja," gumam Orion akhirnya.
Valent menghela nafas lega.
"Dinda, begini rencananya," Valent menyalakan kembali layar raksasa di depannya. "Penjaga ada dimana-mana, jadi tugas anak buahku adalah berbuat keributan. Seperti memaksa masuk untuk mengklaim kepemilikan properti otomatis mereka juga harus dihadapkan pada resiko ditembaki aparat,"
Kaisar mengangguk sekilas.
"Saat berbuat keributan, diharapkan polisi keluar semua untuk memeriksa yang terjadi. Orion, kau serang mereka dengan feromon agar terlena,"
"Yang akan kena bukan hanya polisi, anak buahmu juga," kata Orion sambil bergabung ke sebelah Valent.
"Mereka dibekali dengan masker bio hazard. Setelah itu mereka akan menyerang semua aparat dengan stun gun,"
"Oke," kata Orion.
"Adinda, tubuhmu kecil kau menyusup duluan, laporkan bagian mana yang masih ada polisinya, Orion akan menyerang dengan racun dosis rendah, hanya agar pingsan,"
"Baik," kata Adinda.
"Setelah semua aparat bisa di singkirkan, aku dan Kaisar masuk untuk mencari lokasi brankas,"
"Kita butuh rencana sampai D,"
"Pokoknya hasil akhirnya... Orion, kau bakar semuanya setelah anak buahku selesai menjarah. Saat semua properti hancur, Xavier akan panik dan akhirnya bisa pulang ke sini,"
Semua mengangguk setuju.
"Kau yakin tidak memiliki leluhur seorang Ksatria?" tanya Kaisar akhirnya.
"Ksatria? Hem... aku lebih percaya kalau leluhurku adalah dinas rahasia kerajaan," kekeh Valent.
**
"Hey, Princess," Orion menghampiri Adinda yang berusaha berdiri.
Darahnya terhisap lumayan banyak oleh Kaisar, jadi ia masih pusing.
Adinda menatap Orion dengan sayu.
Sungguh, ia tidak berharap adanya pertengkaran yang terjadi di antara keluarga. Tapi nasib berkata sebaliknya.
"Aku memang membencimu, tapi aku percaya ke penilaian kakakku. Kau sampai bersedia kehilangan banyak darah agar membuktikan Kalau kau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Agha. Aku salut akan hal itu,"
"Ya, aku memang ingin kalian semua percaya,"
"Tapi aku tidak akan semudah itu menganggapmu tak bersalah,"
"Sudah kuduga,"
"Aku masih tidak setuju Kak Cyril menikahimu. Darah kerajaan kami tidak kubiarkan tercemar pengkhianat,"
Adinda hanya tersenyum masam.
"Orion, itu namamu?" tanya gadis itu.
"Hm?" Orion mengangkat dagunya dengan angkuh
"Terkadang rencana Tuhan lebih manis dari pada rencana Makhluknya," kata Adinda.
"Tidak usah menyerangku dengan filosofis, semua juga tahu itu," kata Orion.
"Kalau begitu, siapa kamu mencoba mengeluh akan rencanaNya?"
Orion menarik nafas dengan kesal.
Lalu membalik badannya keluar dari kamar Valent untuk menghirup udara segar di taman.
sedih kalipun
tinggal menunggu kehancuran Xavier dan teman" dah
penasaran, apa saja ya wujud mereka..
yang jelas, Garth ini pasti titisan Conrad..
duhh, pokoknya dari awal aku padamu, bang Val.. 😍😍😍