Dua bulan lalu, Luella Brynn dipaksa menikah dengan seseorang Bernama Edric Alton yang tidak ia inginkan dan tidak ia kenal. Hanya untuk mengikuti permintaan mendiang orangtua Edric. Pernikahan hanya sebatas formalitas di hadapan orangtua Edric, dan begitu orangtua Edric meninggal. Luella di ceraikan begitu saja oleh Edric. Tidak ada kata perpisahan, hanya ada selembar cek dengan nominal fantastis sebagai rasa terimakasih karena Luella bersedia membantu Edric. Lalu bagaimana dengan kehidupan Luella dan Edric pasca bercerai? Dengan status baru yang akan mereka bawa satu sama lain, sedangkan usia Luella terbilang masih sangat muda bahkan usianya terpaut 15 tahun dengan Edric.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 (21++)
Setelah mendapat fakta jika HR menampar Luella, Cal memberikan teguran keras kepada Via selaku HR di dalam perusahaannya. Cal meminta Via mencabut surat peringatan untuk Luella, dan meminta maaf kepada Luella di hadapan semua karyawan. Jika Via menolak, Cal tidak akan segan untuk mengeluarkan Via dari kantornya.
Tidak ada pilihan lain untuk Via selain mengikuti permintaan CEOnya meskipun dengan terpaksa dan dengan dendam yang akan ia tanam untuk Luella.
Luella memaafkan dengan sepenuh hati, namun Luella tahu, jika ini bukanlah akhir dari segalanya. Luella pun akan bersiap untuk menerima serangan dari Via, karena Luella tahu Via tidak akan melepaskannya begitu saja.
Dan hari ini kegiatan di kantor berjalan dengan normal, tanpa ada desas-desus lagi tentang sikap HR kepada karyawan. Yang popular hanyalah desas-desus tentang kedekatan Luella dengan CEO.
Namun sebagai CEO, Cal tidak ingin membantah hal tersebut. Cal sengaja membiarkan semua karyawan membicarakan dirinya dengan Luella.
“Wih backingan CEO nih” Goda Sarah.
“Apasih” jawab Luella sambil tersenyum tipis.
“Mantan pacar CEO, Mantan suami CEO, sekarang di kejar COO dan juga CEO”
“Ini cuma kebetulan Sarah, karena proyek kemarin”
“Kalau harus milih, kamu milih siapa?”
“Huh??? Sarah!”
“Hahaha aku penasaran, akum au tahu diantara mereka ber empat, siapa yang akan kamu pilih?”
“Kenapa Pak Edric masuk kategori?”
“Siapa tahu dia mau ngejar kamu lagi, mau bersaing sama Henry. Karena sama-sama dari masa lalu”
“Astaga”
Sarah tertawa lepas karena berhasil menggoda Luella dengan mudahnya. Dan setelah hari itu, semua karyawan yang lain mendadak berubah sifatnya. Semua terlihat baik dan begitu akrab dengan Luella.
Luella tidak menghindari atau tidak bersikap sebaliknya, ia justru menikmati hari-hari dimana ia bisa berteman dengan semua orang.
“Terimakasih Pak Cal” Gumam Luella
“Ngelamun aja” ucap Sarah.
“Iya, kenapa ya ngelamun itu enak. Damai rasanya”
“Eh sembarangan, bahaya lho”
“Hahaha iya Sarah, tahu”
“Besok weekend kemana?”
“Dirumah, laundry, bersihkan rumah sama mau beli beberapa bahan makanan”
“Yah, gak seru. Ibu-ibu banget kegiatannya”
“Namanya juga janda Sar, hehe”
“Cari pacar dong”
“Gak ada yang mau sama janda, kalaupun cowoknya mau, belum tentu orangtuanya bisa menerima”
“Luella, jangan kolot. Kamu janda juga gak pernah disentuh, rumah ada, kerjaan oke, apa lagi?”
“Iya deh yang selalu muji”
“Bukan gitu, ini fakta yang harus dibuka. Lagian CEO itu semua kan lagi bersaing, pilih aja sambil tutup mata, gak akan zonk juga”
“Ssstt! Sarah. Nanti ada yang dengar” ucap Luella panik.
Sarah dan Luella meninggalkan kantor, keduanya sama-sama pulang kerumah masing-masing.
Dirumah Luella hanya duduk di sofa rumahnya, dia melihat ponselnya memeriksa pesan Henry, dan ternyata memang tidak ada pesan dari mantan pacarnya tersebut.
“Apa aku keterlaluan sama Henry?” ujar Luella.
Sementara di tempat lain, Henry tengah berada di sebuah restoran mewah bersama seorang wanita cantik, dengan rambut pendek yang terlihat begitu seksi.
“Henry, hari minggu ada event, jangan lupa datang” ucap Grace.
Ya, namanya adalah Grace. Usianya tidak jauh beda dengan Henry, hanya selisih lima tahun. Henry berusia 35 tahun saat ini, sementara Grace berusia 30 tahun.
Grace adalah calon tunangan Henry yang dipilihkan oleh orangtua Henry untuk mendampinginya. Tapi Henry sama sekali tidak mencintai Grace, semua Henry lakukan hanya untuk menyenangkan orangtuanya.
“Iya. Aku jemput kamu” jawab Henry.
“Malam ini, kita ke tempat biasanya ya. Gak usah pulang, aku kangen kamu” Goda Grace.
“Oke” jawab Henry singkat.
Henry selama ini hanya terlihat seperti pemuas naf-su Grace. Apapun yang diminta oleh Grace tidak akan pernah di tolak oleh Henry. Karena saat di tolak, Grace akan mulai dengan drama kehidupannya dan mengadukan Henry kepada orangtuanya.
“Kamu sibuk apa seminggu yang lalu, kenapa aku kesulitan cari kamu” tanya Grace.
“Orangtuaku gak jelaskan sama kamu?”
“Henry, akum au jawaban dari bibir kamu”
“Kalau kamu sudah tahu, gak usah tanya. Jangan merusak suasana mala mini”
Grace hanya menghela nafas, menurutnya Henry memang sangat dingin, tapi Grace begitu yakin jika Henry memang mencintainya. Hanya saja sikap Henry sedikit menyebalkan untuk perempuan.
“Kalau kamu sudah selesai, kitab isa ke hotel” ucap Grace.
Henry segera memanggil pelayan restoran lalu membayar makanan yang sudah mereka pesan, kemudian keduanya meninggalkan restoran tersebut dan menuju ke hotel dimana segala sesuatunya sudah Grace siapkan.
Di perjalanan, tangan Grace tidak hentinya meraba paha Henry. Sebagai pria normal, Henry memang merasa terpancing, hanya saja dalam imajinasinya bukanlah Grace, melainkan Luella.
“Grace, ini masih dijalan” ucap Henry.
“Aku gak sabar”
“Tunggu sebentar, tidak lama lagi akan sampai kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau”
“Tapi mala mini aku mau lampunya di nyalakan, akum au lihat wajah kamu”
“Kamu tahu Grace, aku gak suka bercin-ta dengan keadaan terang”
“Please Henry”
Henry tidak menjawab, dia hanya fokus dengan mobilnya hingga mobil tersebut berbelok menuju hotel bintang lima, lalu keduanya segera turun dan masuk ke dalam kamar.
Grace merasa sangat senang, ia begitu tidak sabar ingin segera sampai di kamar dan melakukan appaun yang dia inginkan.
Begitu sampai di kamar, Grace segera mencium bibir Henry tanpa memberikan Henry kesempatan untuk melepas jasnya.
Ciuman itu begitu agresif hingga memancing sisi liar Henry. Tangan Henry mulai menarik ke belakang rambut Grace, hingga wanita itu mendongak keatas. Kemudian bibir Henry mulai menciumi leher jenjang tersebut tapi dalam keadaan memejamkan mata karena dalam imajinasi Henry hanyalah Luella.