Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*34
Tanpa berucap sepatah katapun, saat melihat wajah Rain, Aina ingin menutup kembali pintu apartemennya. Namun, tangan Rain langsung menahannya dengan cepat. Tangan itupun langsung terjepit pintu dengan keras. Namun, Rain tidak mengeluh sedikitpun.
"Tuan muda." Panik Dion saat melihat tangan tuan mudanya terjepit. "Tangan anda."
"Aku baik-baik saja." Rain berucap pelan. Namun, tangannya sedikitpun tidak dia lepaskan. Baginya, rasa sakit yang tubuhnya derita sama sekali bukan masalah besar.
"Kamu gila ya!" Kesal Ain bukan kepalang.
Pertanyaan itu langsung Rain jawab dengan suara lemah lembut. "Demi kamu, apa yang tidak bisa aku lakukan, Ain. Ah, jika kamu ingin tahu apa jawaban dari pertanyaan mu barusan. Jawabannya, iya. Aku memang gila. Gila karena kehilangan dirimu lima tahun yang lalu."
"Sakit!"
"Mama. Siapa? Papa udah pulang ya?" Suara kecil yang datang dari arah belakang Aina membuat mata Rain semakin berkaca-kaca.
Si pemilik suara pun langsung muncul dari celah mamanya. "Om." Rafka berucap lirih.
Mata Rain langsung mengembun. Dia pun langsung berjongkok. "Sayang, aku papa mu. Bukan om." Rain berucap sambil menggelengkan kepalanya.
"Papa?" Rafka langsung mengalihkan pandangannya dari Rain ke Aina.
"Mama. Benarkah apa yang baru saja om ini katakan? Tapi, Rafka kan sudah punya dua papa sebelumnya. Ada berapakah papa Rafka sebenarnya, Ma?"
"Rafka. Masuk!" Aina langsung berucap dengan nada agak tinggi.
"Tidak. Sayang. Jangan pergi dulu. Biar papa yang menjelaskan apa yang baru saja kamu tanyakan."
"Rain! Apa hak mu bicara dengan anakku. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun. Anakku tidak membutuhkannya." Kesal Aina semakin tidak tertahankan lagi.
"Rafka! Masuk!"
"Ba-- "
Seketika, ucapan Rafka tertahankan. Rain yang sudah tidak kuat untuk menahan hati, langsung meraih Rafka ke dalam pelukannya. "Sayang, aku papa kandung mu."
Ain yang kesal tidak lagi bisa menahan diri. Dia pisahkan pelukan Rain dari Rafka. Dia tarik anaknya untuk menjauh, sedangkan Rain malah terjatuh terduduk karena dorongan yang Aina berikan.
"Jangan bicara sembarangan, Rain. Tolong pikirkan terlebih dahulu jika kamu ingin mengeluarkan kata-kata. Dia bukan anakmu. Harus berapa kali aku menjelaskan hal itu padamu, ha?"
"Tidak, Aina. Tidak. Aku percaya. Sangat-sangat percaya kalau dia adalah anakku."
Seketika, tangan Rain merogoh saku, berusaha menemukan ponsel untuk menunjukkan foto laporan kehamilan Aina yang dia simpan dengan sangat baik.
"Lihatlah, Ain. Lihat! Aku menemukan laporan kehamilan kamu. Dia anakku. Aku yakin itu, Aina."
"Ain. Tolong, jangan menyangkalnya. Katakan yang sejujurnya, dia adalah anakku. Aku tahu aku salah. Aku tidak ada saat kamu butuhkan. Tapi, Ain. Aku-- "
"Cukup! Aku tidak ingin mengingat masa lalu lagi. Tolong pergi sekarang juga!"
"Aina." Buliran bening langsung jatuh secara perlahan melintasi pipi Rain. "Jangan usir aku, Ain. Jangan pergi lagi. Ku mohon."
"Nona-- "
Ucapan Dion langsung Rain potong dengan cepat. "Dion."
Rain tidak ingin si asisten ikut campur. Karena itu, dia tidak mengizinkan Dion bicara. Dia yakin, jika Dion bicara, maka pria itu akan mengeluarkan semua masalah yang telah ia derita di masa lalu.
"Kamu! Tolong bawa tuan muda mu ini pergi. Jangan buat kesabaran ku yang setipis tisu ini benar-benar sirna."
"Nona."
"Dion. Aku tidak mengizinkan kamu bicara. Diam lah!"
'Astaga.' Kesal Dion dalam hati.
"Maaf, tuan muda. Maaf, nona. Saya hanya akan mendengarkan apa yang tuan muda saya katakan. Maaf."
"Kalau begitu, aku akan panggilkan penjaga agar bisa mengusir kalian."
"Jangan, Aina. Jangan usir aku. Ku mohon. Izinkan aku tetap tinggal di sini. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu."
"Diantara aku dan kamu, tidak akan pernah jadi kita lagi. Seperti kata yang telah aku ucapkan di hari kita berpisah. Kata itu akan tetap kekal selamanya. Hubungan kita sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
"Tapi aku tidak pernah menceraikan kamu, Ain. Aku-- "
"Kita hanya menikah siri. Putusan cerai, tidak perlu melalui kantor urusan agama. Lagian, kita sudah berpisah selama lima tahun, Rain. Apakah selama lima tahun, kamu pernah menafkahi aku? Tidak, bukan?"
"Jadi, hubungan diantara kita berdua, sudah tidak ada lagi. Pernikahan siri kita juga sudah berakhir. Aku menganggap kita sudah bercerai di hari kamu putuskan hubungan dengan ku. Meski kata cerai itu tidak langsung kamu ucapkan, tapi aku mengganggap nya sah."
"Aina."