Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Jejak di Museum
#
"Kamu harus dengar ini dari aku."
Syafira duduk di sofa ruang keluarga—masih dengan air mata di pipinya. Irfash duduk di sampingnya, memegang tangan istrinya erat. Mahira dan Raesha duduk berhadapan dengan orang tua mereka.
Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi. Tapi tidak ada yang peduli.
"Mama..." Mahira bersuara pelan. "Mama tahu tentang kutukan ini dari kapan?"
Syafira menarik napas dalam. "Sejak sebelum aku menikah dengan Papamu. Nenekmu—ibuku—yang ceritakan. Dia bilang, setiap generasi di keluarga kita, ada satu wanita yang akan... yang akan membawa ingatan Putri Aisyara. Dan wanita itu punya tugas: memutuskan kutukan."
"Kenapa Mama nggak cerita ke aku dari dulu?" Suara Mahira bergetar.
"Karena aku berharap itu bukan kamu." Syafira menatap putri bungsunya dengan mata penuh penyesalan. "Aku berharap kutukan itu sudah putus. Atau setidaknya... melewati generasimu. Tapi begitu kamu mulai mimpi—begitu kamu mulai bertanya tentang kalung Nenek—aku tahu. Aku tahu kamu yang terpilih."
"Terpilih untuk apa? Mati kayak Aisyara mati?" Mahira bangkit berdiri. "Mama bilang Nenek yang ceritakan. Berarti Nenek juga tahu. Kenapa dia nggak bantu aku?! Kenapa dia cuma ninggalin surat dan kalung terus pergi?!"
"Karena Nenek juga nggak tahu caranya!" Syafira ikut berdiri. "Dia cuma tahu kutukan ini ada. Cuma tahu sejarahnya. Tapi cara memutuskannya? Tidak ada yang tahu!"
"Syafira," Irfash menarik istrinya duduk kembali. "Tenanglah. Kita jelaskan pelan-pelan." Ia menatap Mahira dengan pandangan serius. "Duduk dulu, nak."
Mahira ingin protes. Ingin marah. Tapi ia melihat wajah ayahnya—wajah yang biasanya tegas kini penuh kekhawatiran. Ia duduk kembali.
"Ini bukan cuma soal kutukan," lanjut Irfash. "Ini soal dua keluarga yang terikat takdir. Keluarga Qalendra—keluarga kita—adalah keturunan Sultan Mahmud. Dan keluarga Al-Hakim adalah keturunan Pangeran Zarvan."
"Papa tahu tentang Al-Hakim?"
"Tentu aku tahu. Kenapa kau pikir aku sangat ingin merger dengan mereka?" Irfash tersenyum pahit. "Ini bukan sekadar bisnis, Mahira. Ini upaya untuk... menyatukan kembali apa yang dulu terpisah. Memperbaiki kesalahan masa lalu."
"Tapi Papa nggak bilang apa-apa ke aku!"
"Karena aku nggak yakin kamu yang terpilih. Aku berharap bukan kamu." Irfash mengusap wajahnya—gesture yang sangat jarang ia lakukan. "Tapi sekarang Zarvan sudah di Jakarta. Kalian sudah bertemu. Dan—" ia menatap kalung di tangan Syafira, "—kamu sudah menemukan kalung pasangan. Semua tanda menunjuk padamu."
Mahira merasakan dadanya sesak. "Jadi... jadi semua ini memang takdir? Aku nggak punya pilihan?"
"Kamu punya pilihan," kata Syafira lembut. "Kamu bisa menolak. Bisa menjauh dari Zarvan. Bisa coba lupakan semuanya dan hidup normal."
"Tapi?"
"Tapi kutukan tidak akan putus. Dan di kehidupan selanjutnya, kalian akan bertemu lagi. Berulang. Hingga seseorang akhirnya menyelesaikannya." Syafira meraih tangan Mahira. "Atau... kamu bisa hadapi ini sekarang. Dengan pengetahuan yang kita punya. Dengan dukungan keluarga. Dan semoga—semoga kali ini endingnya berbeda."
Mahira menatap kalung di tangan ibunya. Kalung Zarvan. Belahan jiwa yang sudah menunggunya 300 tahun.
"Aku mau tahu lebih banyak," ucapnya akhirnya. "Tentang sejarah. Tentang apa yang benar-benar terjadi di masa lalu. Kalau aku harus hadapi ini, aku harus tahu semua faktanya."
"Museum Sejarah Jakarta," kata Syafira. "Di sana ada koleksi artefak dari kesultanan-kesultanan kecil di Jawa Barat. Termasuk... kesultanan tempat Aisyara tinggal. Papa punya kenalan kurator di sana. Besok kita bisa—"
"Sekarang," potong Mahira. "Aku mau pergi sekarang."
"Mahira, ini jam 2 pagi—"
"Aku nggak bisa tidur, Ma. Aku nggak akan bisa tidur sampai aku tahu semuanya." Mahira menatap orang tuanya dengan determinasi. "Please. Hubungi kuratornya. Bilang ini urgent."
Irfash dan Syafira saling menatap. Akhirnya Irfash mengangguk. "Baik. Aku akan coba hubungi Pak Arman. Semoga dia mau buka museum tengah malam begini."
***
Pak Arman—pria berusia 60-an dengan kacamata tebal dan rambut beruban—ternyata bersedia.
"Untuk keluarga Qalendra, saya selalu siap," katanya saat menyambut mereka di pintu museum yang gelap. "Tapi saya penasaran, apa yang begitu urgent sampai harus tengah malam?"
"Kami butuh informasi tentang Kesultanan Jayakarta," jawab Irfash. "Khususnya periode 1720-an."
Wajah Pak Arman berubah serius. "Kesultanan yang hilang?"
"Hilang?"
"Iya. Kesultanan itu runtuh secara tiba-tiba sekitar tahun 1724. Tidak ada catatan resmi kenapa. Yang ada cuma... rumor." Pak Arman membimbing mereka masuk ke dalam museum yang remang-remang—hanya diterangi lampu emergency. "Ikut saya. Koleksinya ada di lantai dua."
Mereka menaiki tangga—dinding dipenuhi lukisan-lukisan kuno dan replika artefak. Mahira merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada aura aneh di tempat ini. Seperti masa lalu yang masih hidup.
"Di sini." Pak Arman membuka pintu ruangan dengan label "Koleksi Kesultanan Nusantara - Abad 18". Ia menyalakan lampu—dan ruangan terang benderang.
Mahira tercekat.
Di tengah ruangan, ada sebuah vitrin besar dengan mahkota emas di dalamnya. Mahkota dengan ukiran rumit dan batu permata yang masih berkilau meskipun sudah ratusan tahun.
"Mahkota Sultan Mahmud," jelas Pak Arman. "Satu-satunya artefak yang tersisa dari kesultanan itu. Ditemukan oleh arkeolog Belanda tahun 1890-an di reruntuhan istana."
Mahira melangkah lebih dekat. Ada sesuatu yang familiar dari mahkota itu. Seperti ia pernah melihatnya. Pernah... menyentuhnya?
"Dan ini," Pak Arman menunjuk vitrin lain di sebelahnya. Di dalamnya ada sebuah keris dengan sarung emas dan ukiran kaligrafi Arab. "Keris Sulaiman. Konon ini keris pusaka sultan yang punya kekuatan mistis. Bisa melihat kebenaran dan kebohongan."
Mahira menatap keris itu—dan jantungnya berdegup kencang tanpa alasan.
"Apa... apa ini bisa disentuh?" tanyanya.
"Tidak. Ini artefak yang sangat berharga dan—"
"Pak Arman," Irfash memotong. "Ini untuk riset keluarga. Sangat penting. Bisa tidak kita... kita pegang bentar saja?"
Pak Arman ragu. "Tapi aturannya—"
"Saya akan tanggung jawab penuh. Apapun yang terjadi."
Setelah debat singkat, Pak Arman akhirnya menyerah. Dengan hati-hati ia membuka vitrin dan mengangkat keris itu.
"Jangan sampai jatuh," peringatnya sambil memberikan keris itu ke Mahira.
Mahira menerimanya dengan tangan gemetar. Keris itu berat. Dingin. Dan—
—VISI MELEDAK.
***
*Ruang tahta. Sultan Mahmud duduk dengan keris ini di pangkuannya.*
*"Pangeran Khalil," suara Sultan berat. "Kau bersumpah setia padaku."*
*Khalil berlutut. "Hamba bersumpah, Yang Mulia."*
*"Lalu kenapa hamba mendengar kau menginginkan putriku?"*
*Keheningan. Khalil tidak menjawab.*
*"Aisyara akan menikah dengan Pangeran Zarvan. Ini sudah diputuskan. Kau tidak boleh mengganggunya."*
*"Tapi Yang Mulia—"*
*"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN!" Sultan mengangkat keris itu. "Kalau kau berani menyentuh putriku, hamba akan bunuh kau dengan tangan hamba sendiri."*
*Khalil menunduk. Tapi di matanya—ada api kebencian yang membara.*
***
"MAHIRA!"
Raesha mengguncangnya. Keris jatuh—tapi Pak Arman menangkapnya dengan cepat.
"Ya Allah," gumam kurator itu sambil meletakkan keris kembali ke vitrin. "Apa yang terjadi?"
"Aku... aku baik-baik aja." Mahira memegang kepalanya yang pusing. "Cuma... cuma deja vu."
"Deja vu sampai pingsan?" Pak Arman menatap curiga.
"Pak Arman," Syafira angkat bicara, "ada tidak catatan tentang putri Sultan Mahmud? Namanya... Aisyara atau Zahara?"
"Zahara..." Pak Arman berpikir. "Ada. Tunggu sebentar." Ia berjalan ke meja di pojok ruangan, membuka laptop dan mencari di database. "Ini. Putri Zahara binti Sultan Mahmud. Tapi ada nama lain yang sering disebut... Mahira Kencana."
Mahira tersentak. "Apa?"
"Mahira Kencana. Nama asli sebelum dinobatkan sebagai putri. Konon dia anak angkat Sultan—bukan anak kandung. Tapi sangat dicintai hingga diberi status putri." Pak Arman membaca layar laptopnya. "Dia meninggal usia 19 tahun dalam keadaan misterius. Beberapa catatan bilang dibunuh. Beberapa bilang bunuh diri. Tidak ada yang pasti."
Mahira Kencana.
Nama itu bergema di kepala Mahira. Nama yang sama dengan namanya sekarang.
"Ini... ini bukan kebetulan," bisiknya.
"Tidak," jawab Syafira. "Ini takdir. Kamu adalah dia. Reinkarnasi lengkap dengan nama yang sama."
Pak Arman menatap mereka bingung. "Maaf, saya tidak mengerti—"
"Tidak apa-apa, Pak." Irfash mengalihkan perhatian. "Ada lagi informasi tentang Pangeran dari kerajaan utara? Yang dijodohkan dengan putri?"
"Oh, itu." Pak Arman mengklik beberapa file. "Ada catatan singkat. Pangeran Dzarwan Al-Hakim dari Kesultanan Pasundan Utara. Tunangannya meninggal tiga hari sebelum pernikahan. Dia sendiri terluka parah—nyaris meninggal—tapi selamat. Setelah itu dia dan keluarganya menghilang. Tidak ada catatan kemana mereka pergi."
"Mereka ke Timur Tengah," gumam Mahira. "Dan membangun dinasti baru."
"Kamu tahu dari mana?" tanya Pak Arman.
Mahira tidak menjawab. Ia hanya menatap mahkota Sultan Mahmud di vitrin—dan merasakan beban yang sangat berat di dadanya.
Semua ini nyata.
Sejarah ini nyata.
Dan dia—Mahira Qalendra—adalah reinkarnasi dari Putri Mahira Kencana yang 300 tahun lalu meninggal tragis.
"Pak Arman," Mahira bersuara pelan. "Kalau... kalau saya mau akses ke dokumen asli? Kronik sejarah? Apa bisa?"
"Dokumen asli ada di ruang arsip khusus. Tidak semua orang boleh akses—"
"Tapi kami boleh, kan?" Irfash menatapnya dengan pandangan serius. "Ini untuk keluarga kami, Pak. Untuk... menutup luka masa lalu."
Pak Arman terdiam lama. Akhirnya ia mengangguk. "Baik. Tapi hanya kalian. Dan harus dijaga kerahasiaannya."
---
**BERSAMBUNG KE BAB 12**