NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:50.5k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Biru Memberikan Respon

#31

Kantor Kementrian. 

Pria berjas hitam melangkah terburu-buru menuju ruangan Pak Mentri. 

Tok

Tok

Pintu diketuknya, lalu ia masuk tanpa menunggu izin dari pemilik ruangan. “Tuan—”

Pria itu langsung berbisik pada Pak Menteri, aura wajah Pal Menteri pun langsung berubah setelah mendengar bisikan sang ajudan. “Bereskan!” 

“Baik, Tuan.” 

Sang ajudan pun pergi untuk melaksanakan perintah Pak Menteri, sementara Pak Menteri kembali diam dengan ekspresi yang rumit. 

•••

Mobil Miranda kembali tiba di rumah, gadis itu berjalan gontai dengan tatapan kosong, noat hati tak ingin bicara, namun, melihat keberadaan Gunawan yang keluar dari ruang kerjanya, Miranda pun menghampiri pria itu. 

“Papi sudah bilang, jangan—”

“Kenapa Papi begitu jahat?” Miranda langsung menyela ucapan Gunawan. 

“Kembali ke kamarmu,” ujar Gunawan, tak terpengaruh dengan ucapan putrinya. 

“Apa salah Biru, Pa? Kenapa Papa tega mencelakainya!” jerit Miranda. 

“Tunggu apa lagi?! Segera bawa dia ke kamar, dan jangan beri izin keluar dengan alasan apapun!” 

Anak buah Gunawan segera membawa Miranda ke kamarnya. “Papi! Jelaskan padaku! Aku tak akan memaafkan Papi jika sampai Biru tidak siuman! Papi!” jeritan Miranda tak lantas membuat nalurinya sebagai ayah terketuk. 

Semakin keras Miranda beraksi melawan, semakin keras pula ia bertahan. Uang dan kekuasaan benar-benar telah mematikan sisi kemanusiaan Gunawan. 

•••

Kembali ke rumah sakit. 

Ayu sedang duduk di kursi yang berada di sisi pembaringan pasien, sambil menggenggam tangan Biru. 

“Biru, buka matamu, Nak. Mama rindu melihat senyum di wajahmu,” kata Ayu mencoba membangun komunikasi. Mungkin saja, bisa membuat Biru bereaksi. 

“Tolong beri Mama kesempatan untuk berperan sebagai mama yang sesungguhnya untukmu, Nak. Peran yang dulu terpaksa Mama berikan pada orang lain karena keadaan memaksa. Tapi sejujurnya jauh di dalam lubuk hati Mama, rasa bersalah ini terus menghantui.” 

“Dua puluh tahun lamanya, Mama hanya bisa berangan-angan, memasak untukmu, memandikanmu, menghapus air matamu, memelukmu bila kau sulit tidur. Tapi sekarang? Mama lebih sedih lagi, karena kau hanya berbaring dalam diam. Lekas bangun, ya, Nak. Dan beri Mama kesempatan untuk mengurus dan memanjakanmu.” 

Sejenak Ayu melepaskan genggaman tangannya, ia meraih beberapa lembar tisu karena wajahnya basah bersimbah air mata. 

“Maafkan Mama, ya. Mama masih saja cengeng, padahal sudah semakin tua.” Ayu kembali menggenggam tangan Biru. 

Dan tiba-tiba wanita itu merasakan ada pergerakan tipis dari jari jemari Biru. “B-Biru,” panggil Ayu tak percaya. Dan sekali lagi jari telunjuk Biru bergerak pelan. “Kau dengan Mama, Nak? Kau merespon ucapan Mama!” jerit Ayu senang, wanita itu buru-buru menekan tombol untuk memanggil dokter. 

Tak la kemudian dokter dan dua orang perawat datang ke kamar Biru. “Dok, baru saja tangan anak saya bergerak usai saya berbicara dengannya.” 

Dokter segera memeriksa kondisi tanda vital Biru, “Bagus sekali, Bu. Sepertinya putra Anda memang mendengar semua yang Anda ucapkan, dan gerakan kecil tadi adalah responnya.” Kalimat dokter membuat bibir Ayu tersenyum lebar. 

“Benarkah, Dok?” tanya Ayu belum percaya. 

“Iya, Bu. Benar sekali, teruslah berbicara, agar putra Anda bisa segera kembali ke alam sadarnya.” 

“Baik, Dok. Akan saya lakukan,” sahut Ayu dengan semangat, wajahnya pun berseri-seri bahagia, jika hanya berbicara saja, bukan hal yang sulit bagi Ayu. 

Selepas dokter meninggalkan ruangan, ponsel Ayu tiba-tiba berdering, wanita itu berjalan menghampiri benda tersebut. “Assalamualaikum,” ucap Ayu. 

“Waalaikumsalam, Kak,” jawab Karmila. 

“Apa kabar kalian, Mil?” 

“Alhamdulillah, keluarga di sini sehat, Kak.” 

Ayu tersenyum lega, namun, sesaat kemudian ucapan Karmila membuatnya tercekat. “Kak, belakangan ini aku sulit tidur malam, tapi terus terusan kepikiran Biru. Tapi aku coba telepon, ponselnya tak aktif, Biru sehat-sehat, kah?” 

Deg! 

Karena ada begitu banyak peristiwa beberapa minggu belakangan ini, Ayu jadi lupa mengabari Karmila tentang musibah yang menimpa Biru. 

“Kak, kok diam? Biru tidak apa-apa, kan?” Suara Karmila terdengar resah. 

“Biru— Biru—” Ayu pun kebingungan hendak darimana mulai mengatakannya. “Sebelumnya— Kakak minta maaf, ya? 

“Minta maaf, untuk apa, Kak? Kakak jangan membuatku takut, aku sudah coba bicara dengan Bang Ismail, tapi jawabannya makin membuatku takut.” 

“Sebenarnya Biru—” 

••• 

Karmila masih terus terisak usai panggilan berakhir, “Bang, antar aku ke Ibu Kota, Bang,” pintanya pada sang suami. 

“Bukan Abang, tak mau, Mil. Tapi, ada baiknya kita beri Kakak ipar kesempatan untuk menjadi ibu yang sesungguhnya bagi Biru,” ucap Ismail mencoba membujuk Karmila agar mau diam di rumah sambil menunggu kabar. 

“Abang tak paham perasaanku, aku juga ibunya Biru, Bang,” ungkapnya tak terima. 

“Abang juga sama, Mil, kau pikir Abang merasa tenang? Tidak, Abang juga ingin berlari segera. Tapi, coba pikirkan perasaan Kak Ayu, jika kita juga berada di sana.” 

Akhirnya Karmila hanya bisa pasrah pada keputusan suaminya, ia tak berani melawan, selama Ismail tak berbuat zalim terhadapnya. 

•••

Di kantor Giana. 

“Bagaimana perkembangannya?” 

Giana mempertanyakan hasil laporan yang masuk ke kantor polisi. 

“Sejauh ini semua sudah saya laporkan termasuk bukti-bukti dan kesaksian Jono. Tapi mungkin akan rumit karena ini adalah kasus 20 tahun yang lalu.” 

Giana menghela nafas perlahan, fisik dan psikisnya pun lelah, menghadapi masa lalu yang tak kunjung menemukan titik akhirnya. 

Kini muncul saksi baru, tapi si saksi juga memberikan kesaksian berdasarkan uang. Jadi sangat mungkin bila hal itu nanti akan diperkarakan oleh pihak Gunawan. 

“Tapi, tenang saja, Bu. Saya sudah menyiapkan rencana cadangan, bila kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi. Sekaligus ini akan jadi upaya terakhir kita, tapi paling tidak kita sudah berusaha maksimal, dan selanjutnya semua akan berjalan sesuai takdir Allah.” 

•••

Hari berikutnya.

Dentuman musik menggema di dalam mobil mewah tersebut, sang pemilik mobil ikut menggoyangkan kepala dan tangannya mengikuti irama musik. 

Hatinya riang gembira karena baru saja mendapatkan uang berlimpah, semalam ia juga berpesta ditemani beberapa wanita. 

“Jalan kemana lagi, ya?” gumamnya dengan gaya orang kaya, padahal hanya kebetulan mendapat uang kaget. 

Jono pun mengarahkan mobilnya ke apartemen nya, niat hati ingin berganti pakaian. Karena tiba-tiba Jono ingin mendatangi muc ikari cantik yang biasanya memberinya pekerjaan. Sepertinya akan lebih menantang bila menggoda sang muc ikari dengan uangnya. 

Mobil mewah Jono masuk ke basement, dan parkir di tempatnya, tapi setelah mobil berhenti dan parkir dengan benar. Beberapa pria misterius menghampiri mobil tersebut. 

“Sialan! Apa mau kalian?!” teriak Jono marah karena mereka membuat Jono terkunci di dalam mobilnya sendiri. 

Klek! 

Klek! 

Klek! 

Jono semakin panik, setelah mereka menghalangi nya keluar dari mobil, detik berikutnya orang-orang itu memasukkan sebuah benda berasap, dan tak lama kemudian mobil di penuhi dengan kepulan asap tebal. 

Jono menjerit meminta tolong, namun semakin lama suaranya semakin melemah, hingga hilang sama sekali. 

1
Esther Lestari
main sosor saja kamu Jordy. kurang tamparannya untuk bocah tengil itu Miranda
Esther Lestari
jodohkan papa nya Jordy dgn Ayu, dan Jordy jodohnya Miranda🤭😄
Dozky 2 Crazy
kerrrennnn 👏👏💃💃
Dozky 2 Crazy
mbak giana kerrren
Dozky 2 Crazy
ex part makin seruuu n menarik author 👏👏👏
Rahmawati
sukurin, makanya jgn asal sosor
Rahmawati
kirim pesan sambil senyum senyum, sedikit tidak nama miranda udah ada di hati jordy
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Jordy main sosor aja kek soang🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
apakah Jordy jodoh Miranda 🥰
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain,emang msh di luar negeri 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ada yg kangen nih 🤭
ensa17
et dah bocah main sosor aja
Nar Sih
sip👍miranda tampar tuh si jordi tengil enak aja main cium dikira perempuan apaan ngk sopan 🤣
Nar Sih
oalah jordi itu pasti nama laki,,yg mobil nya ditabrak miranda ya kak moon ,
Aditya hp/ bunda Lia
Nah ... makan tuh cap 5 jari mantap kan? kamu maen sosor ajah
Aditya hp/ bunda Lia
Naaah, ... Jordan jodohin Sama Ayu ajah
Rahmawati
pingin nurut aja sm biru, demi kebaikan km
Sh
setuju deh Miranda dan biru....terus cowok rese yang punya mobil..buat siapa
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
beneran nih 🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Orang yg ditabrak mobilnya, mungkin itu jodohnya Miranda 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!