NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putra Mantan Kekasih

#25

Kesibukan kembali menggeliat, setelah mendapatkan gambaran kasar tentang desain pakaian yang diinginkan Bu Andini, Ayu dengan cekatan membuat desain sesuai pola kasar gaun serta kebaya yang ia gambar di pertemuan sebelumnya. 

Setiap warna serta detail aksesoris amat diperhatikan Bu Andini, karena bertindak sebagai tuan rumah, maka wanita itu tak mau terlihat berpenampilan asal. Setidaknya harus kelihatan glowing membahana daripada para tamu-tamu yang hadir di sana. 

“Sudah siap?”

“Apanya, Kak?” 

Giana meletakkan tas kerjanya di meja, kemudian menghampiri meja kerja Ayu. “Sketsa yang aku minta.” 

Wajah Ayu terlihat lemas, “Aku tak yakin ini akan disukai Bu Menteri,” kata Ayu seraya menunjukkan hasil sketsa yang ia gambar.

Giana sengaja melimpahkan pekerjaannya pada Ayu, sekaligus melatih Ayu agar bisa menaklukkan tantangan, serta keinginan customer. Seperti saat ini. 

Jadi Giana cukup mengawasi dari belakang, sambil membenahi apa saja yang kekurangannya, bila sudah siap dan sesuai dengan ekspektasi yang ia bayangkan, barulah mereka bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya, yakni pemilihan kain kemudian menjahit sesuai pola. 

Karena belakangan ini jadwal pekerjaannya semakin padat. “Yakin saja, sebenarnya Bu Andini berucap hal yang tak sesuai dengan kata hatinya. Dia akan tetap suka, bila hasil rancanganmu, sesuai dengan keinginannya.” 

“Tenang saja, jika beliau tak suka aku akan mengakui itu hasil karyaku. Dan jika beliau suka itu akan menjadi hasil karyamu,” sambung Giana, demi menghibur Ayu. 

Ayu melotot ke arah Giana. “Ish, Kakak. Mana bisa begitu.” 

Giana terkekeh, “Aku hanya bergurau, ayo kita diskusikan lagi, karena besok kita harus mencari kain yang cocok untuk gambar ini.”

Keduanya pun melanjutkan diskusi. 

•••

“Ini yang Anda minta, Tuan.” Seseorang menyerahkan berkas pada Tian, pria itu buru-buru membukanya. 

Terkejut, namun, bibirnya melengkungkan senyuman licik, ketika membaca hasil pencarian orang yang ia suruh. “Ini bayaranmu,” katanya. 

“Terima kasih, Tuan. Hubungi saya kembali jika Anda butuh bantuan.” 

“Ah, berisik loe, udah buruan pergi,” usir Tian. 

Tian tersenyum, sambil menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan selanjutnya. 

•••

Biru melangkah keluar meninggalkan Firma Guns, selepas jadwal magangnya berakhir hari itu, dan di lobi depan Miranda sudah menantinya. Gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya manja, “Ayo, katanya mau mengantarku.” Miranda segera memeluk lengan Biru, dan mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut. 

Dari lantai atas, Gunawan melihat adegan itu dengan perasaan yang rumit. Putri kesayangannya, kini memiliki gelagat akan segera menjadi milik pria lain selain dirinya, apa dia sudah rela? 

Jawabannya tentu tidak akan pernah rela, sampai kapanpun juga tetap tidak, begitulah seorang ayah. Dan mungkin di dunia ini perasaan seorang ayah memang demikian, bagi mereka anak gadis mereka adalah putri kecil yang harus ia jaga dan lindungi seperti porselen antik. 

Sementara itu, di atas roda dua, motor Biru melaju membelah keramaian jalan raya. Di belakangnya, Miranda sangat bahagia karena pada akhirnya ia bisa memiliki pria yang memang ia harapkan jadi kekasihnya. 

“Mau makan dulu?” tanya Biru ketika berhenti di lampu merah. 

“Nanti saja, sekalian di Mall.” 

“Okay.”

Motor kembali melaju, setelah lampu berganti warna. 

Sebenarnya Miranda sudah menawarkan pergi dengan mobilnya, tapi sisi lelaki Biru, menolak hal itu, termasuk jika Mengajak gadis itu makan di luar, semuanya bayar dengan uangnya. Walau Miranda tak keberatan bila mereka bergantian membayar. 

Miranda tumbuh di lingkungan yang serba instan, apapun yang diinginkannya akan langsung terpenuhi, mulai dari baju, make up, aksesoris, mobil, mungkin juga suami bisa ia dapatkan secara instan. 

Tapi Miranda tak mau, untuk sosok pria ia memiliki kriteria sendiri, bukan seperti Gunawan, yang terlalu sibuk di luar rumah, bukan juga seperti Tian yang sudah menjadi generasi instan sejak bayi. 

Ia ingin pria yang mandiri, baik, tapi juga mahal, bukan mahal dalam arti kata yang sesungguhnya. Tapi ‘mahal’ karena ia tak mudah terbujuk rayuan wanita, atau rayuan pengaruh buruk lingkungan. Dan beberapa kriteria itu Miranda dapatkan dari Biru. 

Mulai tahu keseharian Biru, bahwa pria itu menjadi selebgram serta model, demi membiayai kuliahnya sendiri. Lalu Biru juga ringan tangan, dalam beberapa hal ada sesuatu yang pantang untuk ia langgar, yakni kewajiban lima waktu yang tak boleh tertinggal satu kalipun. 

Karena itulah, Miranda semakin kagum pada sosok Biru. Setelah kekakuan diantara mereka sedikit mencair, Biru mulai enjoy bila Miranda mendekat atau sekedar mengajaknya sharing materi perkuliahan. 

Miranda yang tumbuh nyaris tanpa sentuhan fisik kedua orang tuanya, merasa senang di dekat Biru. Pria itu sangat dewasa, dan juga mengayomi, hingga Miranda merasa sangat nyaman berada di sisi Biru. 

•••

Setelah melakukan pembayaran mereka pun berlanjut mencari benda yang Miranda inginkan. 

“Apa yang ingin kau beli?” tanya Biru ketika mereka berkeliling. 

Tempat tas, tempat sepatu, toko pakaian, bahkan pernak-pernik, sepertinya tak ada yang cocok. “Belum ada benda yang cocok,” gumam Miranda.

“Gimana kalau tanya saja sama yang ulang tahun, dia menginginkan apa. Praktis dan tak perlu buang-buang waktu,” sahut Biru realistis. 

“Ih, nggak seru dong, nggak surprise, dong,” cebik Miranda

“Kalau mengikuti apa katamu, namanya membeli untuk dirimu, bukan membeli untuk diberikan pada orang.” Benar lagi, tapi tetap berbeda dari sudut pandang Miranda sebagai seorang gadis. 

Walau berbeda, Biru tetap menunjukkan kesungguhannya menemani Miranda berkeliling. 

Di salah satu sudut restoran area sekitar, ada dua orang yang tanpa sengaja melihat kedekatan mereka. 

“Wah! Anak itu luar biasa sekali,” gumam Jono yang didengar oleh Anjani. 

“Apa yang kau bicarakan?” selidik Anjani heran. 

Jono menunjuk ke arah Biru dan Miranda yang masih berdiri di depan etalase salah satu outlet perhiasan. 

Sementara Jono melihat Biru, Anjani justru merasa mengenal outfit yang dikenakan gadis di sebelah Biru. “Miranda?” gumamnya. 

“Bukan gadis itu, tapi si pria—” Jono salah sangka, mengira Anjani menggumamkan nama gadis di sebelahnya. 

Anjani tersadar dari rasa terkejutnya, “Memang dia siapa?” 

Jono melirik wanita di sebelahnya, apa mungkin Anjani mulai menua, sampai-sampai ia lupa wajah mantan kekasihnya? 

“Kau tidak menyadari wajah pria itu?” 

“Ada apa dengan wajahnya?” 

“Dia putra mantan kekasihmu, apa kau sudah melupakan wajah Restu?” Pertanyaan Jono membuat Anjani seketika menurunkan sendoknya. 

“Apa? Darimana kau tahu?” Wajah Anjani pucat seketika, terkejut, namun, belum juga percaya dengan perkataan teman kumpul kebonya tersebut. 

Jono tersenyum sembari berdecih pelan, pria itu menyentil abu rokok di tangannya hingga debu tersebut, jatuh ke dalam asbak. “Tentu saja aku tahu, semua yang terjadi di desa kita tercinta, aku masih tahu, termasuk anak itu, yang sejak kecil diasuh Karmila dan suaminya.” 

Deg! 

Perasaan Anjani mendadak gelisah, bagaimana mungkin anak itu bisa mengenal Miranda? Tidak, ini tak bisa dibiarkan. 

1
Nar Sih
moga aja bnr klau biru dan miranda saudara satu ayah biar mereka ngk pcran
Reni
weeee mbak Jani makin lengket sama mas Jono
Rahmawati
semakin seru ini, lanjutttt
MomRea
kenapa gak langsung kena OTT saja Gunawan dan antek-anteknya 😡
MomRea
jgn jgn si Miranda adik kandung Biru lain ibu ?
Esther Lestari
tidak bisa dibiarkan karena Miranda dan Biru satu ayah, begitukah Anjani
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan beneran udah tua tuh 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yakin dia putrimu 🤭
Meliandriyani Sumardi
nah kan...ini nih tanda nya kalau biru sama miranda sebenarnya saudara satu ayah....😄anjani bisa ngelak tapi pasti fakta berbicara🤣🤣 lanjut kak
Agus Tina
Semakin penasaran ...
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ketahuan nih😒
Cindy
lanjut
Eva Karmita
kecewa banget sama sikap Biru berasa kayak Malin Kundang... kenapa Ngada sopan"nya sama ibunya 😩 biar bagaimanapun Ayu tetaplah ibu kandungnya biar di cuci seluas air laut an Ayu tetaplah ibu kandungnya Biru
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Esther Lestari
Tian sepertinya berbahaya ini buat Ayu dan Biru. Punya rencana apa kamu Tian.

Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan
Reni
biru sengaja ya sedikit menjauh dari mama ayu dia bertindak sendiri aduhhhh sayang ketahuan Tian 🤧
Reni
biru g secerah namamu kau bikin kelabu ayu lagi dan lagi pola pikirmu melukai mamamu miris
Nar Sih
semoga biru bisa memberi kejutan pada mama ayu dgb segaja msuk firma hukum punya si gunawan
Siti Siti Saadah
asyyyyyyiiiiiikkkkk
Rahmawati
hmmm apa biru sengaja deketin Miranda biar bisa mencari bukti bukti ttg kebusukan gunawan ya
Rahmawati
kok gedeg ya sama biru😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!