Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pintu Terkunci
Asap tipis berwarna keperakan merayap dari sirkuit panel biometrik di samping pintu baja ruang kerja Arkananta. Bau kabel terbakar yang tajam menusuk indra penciuman, menandakan bahwa sistem keamanan High Tower sedang dipaksa bekerja di luar batas toleransinya. Arkan berdiri di depan pintu itu, napasnya keluar secara manual dan berat, menciptakan uap kecil di udara ruangan yang suhunya terus merosot akibat kebocoran energi hampa dari pori-pori kulitnya.
Telapak tangan Arkan menyentuh permukaan pintu. Logam itu bergetar hebat. Sumsum tulangnya berdenyut panas, mengirimkan sinyal integritas tulang besi yang menuntut untuk dilepaskan dalam satu hantaman destruktif. Di seberang menara, ia merasakan denyut migrain Nayara yang berdegup selaras dengan retakan pada butiran tasbih kayu istrinya.
"Buka akses pintu ini sekarang. Saya mendeteksi adanya malafungsi sistemik yang disengaja pada sistem keamanan sayap barat," ucap Arkananta. Suaranya tidak keras, namun frekuensinya begitu rendah hingga mampu menggetarkan kaca meja kristal di belakangnya.
Suara statis terdengar dari interkom dinding, disusul oleh nada suara yang mengandung pretensi otoritas. "Mohon maaf, Tuan Arkananta. Instruksi langsung dari Nyonya Besar menyatakan bahwa seluruh akses keluar-masuk ruang kerja utama sedang dalam status penangguhan. Ini adalah prosedur standarisasi demi menjaga stabilitas mental Nyonya Nayara pasca insiden halusinasi semalam".
Rahang Arkan mengunci rapat. Otot pipinya berkedut samar. "Status mental istri saya bukan merupakan yurisdiksi unit penjaga. Lakukan verifikasi ulang pada kode biometrik saya atau saya akan menganggap ini sebagai tindakan penahanan ilegal".
"Kami hanya mengimplementasikan regulasi, Tuan. Lagipula, bukankah lebih baik Anda melakukan meditasi di dalam? Mengingat integritas Anda sedang dipertanyakan oleh dewan keluarga setelah insiden di pesta tempo hari. Menantu High Tower yang lemah hanya akan menjadi beban bagi suksesi Empire Group," balas suara itu, kini lebih berani dan merendahkan.
Arkan menarik tangannya dari pintu. Ia melihat bekas telapak tangannya tertinggal di permukaan baja dalam bentuk perubahan warna logam yang memerah akibat induksi panas Void. Ia memejamkan mata, mencoba melakukan teknik absorbsi untuk menarik rasa perih di kepala Nayara yang merambat melalui ikatan luka mereka.
"Arkan... jangan lakukan itu," bisik sebuah suara di dalam kesadarannya. Itu bukan suara dari interkom. Itu adalah resonansi batin dari Nayara. Di sayap bangunan yang berbeda, Nayara sedang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri yang juga terkunci rapat.
Ia menggunakan sapu tangan kasar dari panti asuhan untuk membalut jemarinya saat ia menyentuh gagang pintu logam yang mulai terasa panas. "Gagang pintu ini... saya merasakan kemarahan Anda di sini, Arkan. Tolong, jangan biarkan mereka memiliki alasan untuk melabeli Anda sebagai ancaman fisik bagi keluarga," ucap Nayara lirih, suaranya bergetar menahan nyeri migrain yang masih tersisa dari serangan jarum ghaib semalam.
Arkan menyandarkan keningnya pada pintu yang dingin namun terasa membara di saat yang sama. "Mereka telah melakukan pemutusan jalur komunikasi fisik kita, Nayara. Mereka sedang menguji berapa lama martabat kita bertahan sebelum salah satu dari kita berteriak memohon bantuan".
"Maka kita tidak akan memberikan teriakan itu kepada mereka. Saya masih memiliki tasbih ini, meskipun retakannya semakin dalam. Saya masih memiliki bau melati dari panti yang menjaga kewarasan saya," jawab Nayara.
Tekanan di Balik Logam
Di lorong luar ruang kerja Arkan, dua penjaga bersenjata lengkap berdiri dengan posisi kaku. Kepala penjaga, Sersan Ganda, menatap lampu indikator pintu yang berwarna merah darah dengan senyum sinis. Ia memegang tablet digital yang menunjukkan grafik energi di dalam ruangan Arkan yang tidak stabil.
"Tuan Arkananta, saya sarankan Anda menjauh dari pintu. Sensor tekanan mendeteksi adanya anomali energi dari dalam. Jika Anda mencoba melakukan perusakan aset High Tower, saya memiliki otoritas untuk melepaskan gas penenang," ancam Ganda melalui interkom.
Arkan tertawa singkat, suara yang terdengar seperti gesekan logam tajam. "Otoritas Anda hanyalah pinjaman dari rasa takut Nyonya Besar, Ganda. Anda membicarakan aset material, sementara saya membicarakan integritas manusia yang Anda injak-injak dengan prosedur konyol ini".
"Integritas tidak ada nilainya jika Anda tidak bisa keluar dari ruangan itu, Tuan. Nyonya Besar benar, Anda telah terinfeksi oleh kerentanan gadis panti itu. Lihatlah diri Anda sekarang, terkunci seperti pesakitan di gedung milik Anda sendiri," sahut Ganda.
Nayara mendengar percakapan itu melalui celah ventilasi yang terhubung secara sistemik. Ia merasakan ulu hatinya ditinju oleh penghinaan yang dialamatkan pada suaminya. Ia meremas sapu tangan Terra di tangannya, mencari kekuatan dari tekstur kain yang kasar dan jujur.
"Tuan Ganda, apakah standar operasional Anda mencakup penghinaan terhadap anggota keluarga Empire Group?" suara Nayara tiba-tiba masuk ke frekuensi interkom, tajam dan stabil meskipun napasnya tersengal.
"Nyonya Nayara? Anda seharusnya sedang dalam masa istirahat medis. Mengapa Anda mengintervensi jalur komunikasi keamanan?" Ganda tampak terkejut, suaranya sedikit meninggi.
"Saya tidak melakukan intervensi. Saya sedang melakukan validasi terhadap kualitas sumber daya manusia di menara ini. Jika pimpinan penjaga saja tidak memiliki etika bicara, bagaimana kami bisa mempercayakan keselamatan High Tower pada Anda?" balas Nayara.
Arkan merasakan kebanggaan yang menyakitkan di dadanya. Keanggunan batin Nayara sedang bekerja, melawan serangan verbal tanpa harus kehilangan martabatnya. Namun, ia juga merasakan suhu tubuh Nayara merosot lagi. Istrinya sedang memaksakan diri di tengah sisa racun halusinasi.
"Nayara, kembali ke tempat tidur Anda. Jangan habiskan energi Anda untuk meladeni subjek yang tidak memiliki kapasitas logika," perintah Arkan dengan nada yang berat namun penuh kelembutan pelindung.
"Saya tidak akan kembali ke ranjang yang terasa seperti penjara, Arkan. Jika pintu ini terkunci secara digital, maka saya akan mencari kunci yang tidak bisa mereka sita," jawab Nayara.
Dilema di Ambang Kehancuran
Arkan kembali mengepalkan tinjunya. Ia menatap ke arah kamera pengawas di sudut ruangan, membayangkan Nyonya Besar sedang duduk di ruang kendali dengan tatapan puas. Tekanan batin untuk mendobrak pintu itu semakin besar. Integritas tulang besinya bisa dengan mudah merobek engsel baja tersebut, namun ia tahu itu adalah jebakan hukum.
"Anda sedang menunggu saya melakukan destruksi fisik, bukan? Agar Erlangga memiliki bukti otentik bahwa saya tidak stabil secara psikis untuk memimpin Empire?" tanya Arkan pada kehampaan ruangan.
Interkom terdiam sesaat sebelum suara Nyonya Besar masuk, menggantikan suara Ganda. "Setiap aksi memiliki konsekuensi suksesi, Arkan. Jika kau menghancurkan pintu itu, kau menghancurkan klaimmu atas takhta ini. Pilihlah: martabatmu sebagai Komandan yang patuh pada aturan, atau emosimu sebagai suami yang gagal".
"Saya memilih opsi ketiga, Ibu. Opsi yang tidak pernah ada dalam buku prosedur Anda," jawab Arkan dengan nada dingin yang absolut. Ia tidak memukul pintu itu. Sebaliknya, Arkan duduk di lantai, bersila tepat di depan pintu yang terkunci.
Ia meletakkan tangannya di atas lantai marmer, melakukan sinkronisasi dengan getaran bangunan. Ia mulai menarik energi Void yang tadinya destruktif menjadi energi statis yang menekan sistem kelistrikan pintu tersebut secara halus.
"Apa yang Anda lakukan, Arkan? Sensor energi menunjukkan lonjakan yang tidak wajar!" suara Ganda terdengar panik.
"Saya hanya sedang melakukan meditasi, Ganda. Bukankah itu instruksi Nyonya Besar? Saya sedang melakukan pembersihan batin terhadap kotoran yang Anda tinggalkan di udara ruangan ini," sahut Arkan tenang.
Nayara di seberang sana merasakan getaran itu di bawah telapak kakinya. Ia memahami strategi Arkan. Ia pun duduk bersila di balik pintunya, menggenggam tasbih kayunya erat-erat. Ia mulai melantunkan dzikir secara lirih, suaranya merambat melalui pipa-pipa logam yang terhubung antar kamar.
"Subhanallah, Walhamdulillah..."
Suara dzikir Nayara yang halus bertemu dengan frekuensi energi Arkan yang berat di dalam struktur bangunan. Perpaduan itu menciptakan resonansi yang aneh; lampu-lampu di sepanjang lorong mulai berkedip-kedip tidak beraturan. Para penjaga di luar mulai merasa mual dan pening, sebuah efek samping dari pertemuan dua kutub energi yang sedang berkolaborasi.
Lampu-lampu halogen di sepanjang lorong sayap barat High Tower meredup secara ritmis, menciptakan suasana mencekam yang belum pernah terjadi dalam sejarah menara tersebut. Di ruang kendali pusat, layar monitor menunjukkan fluktuasi voltase yang ekstrem pada sirkuit kunci biometrik.
Nyonya Besar memperhatikan indikator tersebut dengan kening berkerut; ia tidak menduga bahwa isolasi fisik justru akan memicu sinkronisasi energi antara Arkan dan Nayara yang melampaui logika sistem keamanan. "Sersan Ganda, lakukan prosedur manual. Amankan posisi pintu dan pastikan tidak ada kebocoran sinyal dari dalam ruangan Arkananta," perintah Nyonya Besar melalui jalur privat.
Ganda, yang kini merasakan tekanan di ulu hatinya semakin kuat, mencoba menyentuh panel kontrol di luar pintu Arkan. Namun, begitu jarinya mendekat, sebuah percikan listrik statis meloncat dari permukaan logam, menyengat ujung sarafnya hingga ia terpaksa menarik tangan dengan umpatan tertahan.
"Tuan Arkananta! Hentikan sabotase frekuensi ini sekarang juga! Anda sedang membahayakan integritas sistem kelistrikan seluruh sayap bangunan!" teriak Ganda, suaranya kini tidak lagi mengandung nada merendahkan, melainkan kecemasan yang nyata.
Arkan tetap memejamkan mata di balik pintu. Napasnya kini selaras dengan lantunan dzikir Nayara yang merambat melalui getaran lantai. "Saya tidak melakukan sabotase, Ganda. Sistem Anda sedang mengalami kegagalan karena ia tidak didesain untuk menahan beban kebenaran yang sedang saya tekan ke dalamnya. Lakukan pembukaan akses secara sukarela, atau biarkan hukum fisika yang menyelesaikannya untuk Anda".
Nayara, di balik pintu kamarnya, merasakan tasbih kayu di genggamannya bergetar hebat. Retakan melintang pada butiran kayu itu tampak berpendar redup, menyerap sebagian beban energi Void yang dikirimkan Arkan agar suaminya tidak mengalami pecah pembuluh darah.
"Arkan, suhu di sekitar saya mulai menstabil. Tekanan di kepala saya berkurang," bisik Nayara, suaranya kini terdengar lebih jernih di dalam frekuensi resonansi mereka.
"Pertahankan fokus Anda pada kekuatan batin, Nayara. Jangan biarkan dinginnya High Tower masuk ke dalam ruang jiwa Anda. Saya akan menyelesaikan ini dalam hitungan detik," jawab Arkananta.
Runtuhnya Otoritas Palsu
Tiba-tiba, suara alarm sistem keamanan berbunyi pendek, diikuti oleh suara desis mekanis dari kunci baja yang terbuka secara otomatis. Arkananta telah berhasil memaksa sistem biometrik melakukan reboot paksa melalui tekanan statis Void.
Pintu besar itu bergeser terbuka perlahan, mengungkapkan sosok Arkan yang berdiri tegak dengan aura yang begitu menekan hingga dua penjaga di depannya mundur tiga langkah secara spontan. Ganda mencoba mengangkat senjata kejutnya, namun tatapan mata Arkan yang mendingin membuatnya terpaku.
Arkan melangkah keluar, jas hitamnya berkibar meski tidak ada angin di lorong tersebut. "Prosedur pembersihan batin saya telah selesai, Sersan. Sekarang, minggir dari jalur saya sebelum saya melakukan audit terhadap kredibilitas Anda sebagai kepala keamanan," ucap Arkan. Suaranya datar, namun mengandung otoritas seorang Komandan yang tidak bisa dibantah.
"Tuan... Nyonya Besar memberikan instruksi agar Anda tetap..." kalimat Ganda terputus saat Arkan melewatinya begitu saja. Arkan berjalan dengan langkah lebar menuju sayap barat, tempat Nayara berada. Setiap langkahnya meninggalkan jejak suhu dingin di atas lantai marmer yang mewah.
Di saat yang sama, pintu kamar Nayara juga terbuka. Nayara berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat namun dagunya tetap terangkat tinggi. Ia masih mengenakan gaun malam dari pesta, kini tertutup oleh syal rajut sederhana yang ia bawa dari panti asuhan.
Mereka bertemu di tengah lorong penghubung. Arkananta segera meraih jemari Nayara, memastikan istrinya masih memiliki suhu tubuh yang manusiawi. Ia melihat bekas kuku di telapak tangan Nayara—tanda keteguhan martabat yang menyakitkan.
"Anda bertahan dengan sangat baik, Nayara," bisik Arkan sembari mengusap luka bulan sabit di tangan istrinya dengan ibu jari.
"Saya memiliki alasan untuk tetap tegak, Arkan. Dan alasan itu tidak berada di dalam server komputer High Tower," jawab Nayara. Ia menatap ke arah kamera pengawas yang masih mengikuti setiap gerak-gerik mereka.
Konfrontasi di Balik Lensa
Arkananta mendongak, menatap langsung ke lensa kamera pengawas dengan tatapan yang seolah mampu menembus layar monitor di ruang kendali Nyonya Besar. Ia tahu ibunya sedang memperhatikan kegagalan rencana isolasi ini.
"Ibu, pintu kaca dan kunci digital Anda tidak akan pernah cukup untuk menampung integritas yang sudah terkristal. Malam ini, Anda baru saja membuktikan bahwa High Tower memiliki celah keamanan yang sangat besar: ketakutan Anda sendiri terhadap kebenaran," ucap Arkan dengan nada kaku yang menyerang poin logis lawan secara langsung.
Di ruang kendali, Nyonya Besar mengepalkan tangannya hingga gemetar. Ia mematikan layar monitor dengan kasar. Kekalahan ini bukan hanya soal pintu yang terbuka, tapi soal hilangnya kendali psikologis yang selama ini ia gunakan untuk menekan putranya.
Nayara merapatkan syalnya. "Arkan, leher saya tidak lagi terasa tercekik. Tapi saya mencium bau parfum yang asing di lorong ini—bau yang sama dengan surat kaleng yang saya terima tempo hari".
Arkan menajamkan penciumannya. "Itu adalah residu dari keberadaan pengkhianat di dalam staf internal kita. Seseorang telah membantu Kyai Hitam menanamkan pemancar frekuensi di dekat kamar Anda".
"Maka kita harus menemukan pengkhianat itu sebelum matahari terbit," ucap Nayara tegas.
Arkan mengangguk. Ia memberikan isyarat pada bayangan di ujung lorong. Bayu muncul dari kegelapan dengan langkah tanpa suara, membawa tablet taktis yang sudah terenkripsi.
"Tuan Arkananta, saya telah mengamankan data transmisi ilegal yang keluar dari menara ini saat sistem diisolasi tadi. Ada satu koordinat yang terus mengirimkan laporan kepada Erlangga," lapor Bayu dalam poin-poin singkat yang padat dan tanpa jeda.
Arkananta menatap Nayara, lalu kembali ke Bayu. "Lakukan prosedur pelacakan total. Jangan biarkan satu bit data pun lolos. Nayara, mari kita kembali ke ruang kerja saya. Tempat itu kini lebih aman daripada kamar yang sudah terkontaminasi ini".
Mereka berjalan beriringan, meninggalkan para penjaga yang masih terpaku dalam kebingungan. Di tengah kemewahan High Tower yang kini terasa rapuh, Arkan dan Nayara berdiri sebagai satu unit fungsional yang tidak bisa lagi dipisahkan oleh dinding kaca manapun. Martabat mereka tidak lagi hanya bertahan, tapi mulai melakukan serangan balik yang sistematis.