Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cyan melirik tipis ke sudut layar laptop, menggumam penunjuk jam, tertera pukul 14:57 waktu setempat. Tiga menit lagi dan pekerjaan hari itu dinyatakan usai. Ia sudah merindukan kasur empuk dan televisi lebarnya. Ingin segera pulang dan meregangkan badan.
Cyan menyelesaikan satu kalimat terakhir di dokumennya, membaca ulang satu kalimat yang baru saja ia ketik, menyimpan file, lalu menutup laptop perlahan. Seperti sudah menjadi rutinitas harian, suara langkah kaki mendekat ke mejanya. Dan tentu saja, ia tahu siapa orang itu tanpa harus repot-repot mendongak.
“Selamat sore, Bu Cyan.” Ramah, sopan di telinga. Ya, seperti biasa. Terlalu familiar karena setiap hari ia mendengar sapaan itu. Dan seperti biasa juga, respon Cyan tidak langsung menoleh. Matanya menatap fokus ke luar jendela, seolah lebih menarik daripada pria yang berdiri tersenyum kuda di sebelahnya saat ini.
“Kalau mau ngajak pulang, tunggu jamnya genap dulu,” ucap Cyan sambil membereskan barang-barang miliknya.
“Cyannn\~” panggil Magenta bernada manja, mendayu-dayu seperti ingin meminta sesuatu. Cyan akhirnya mendongak, sementara Magenta masih di sana dengan tas selempang tergantung di bahu. Satu tangannya terselip di saku jaket, tangan lainnya menopang tubuh di tepi meja.
Perfect!
Mungkin jika sifatnya sedikit ‘normal’, cewek-cewek di kantor itu tak ragu mengejarnya. Bukan lagi Magenta sebagai pemburu yang membuat kaum hawa berlari ketakutan, tetapi sebaliknya.
“Diam di situ, Mas, biar aku yang ngejar.”
Oh, no. Magenta geli sendiri jika mendengar hal itu.
“Kenapa, sih?” tanya Cyan, matanya beralih fokus ke Magenta.
“Kamu lapar gak?" Magenta balik bertanya, lengkap dengan senyum pelitnya.
“Loh emang kamu gak puasa?”
“Aku puasa,” jawab Magenta cepat.
“Yaudah aku juga,” balas Cyan sewot. Aneh sekali, pikirnya.
“Nah, itu dia … aku tuh mau ngajak kamu ngabuburit, keliling taman, terus buka puasa di luar,” katanya sambil sedikit mencondongkan tubuh, “aku tau satu kafe. Kita bisa ke sana. Bagus banget, estetik juga. Anak-anak muda sering ke situ,” sambung Magenta berharap sarannya diterima.
“Kafe?” Cyan malah memicingkan mata.
“Heem. Kafe yang ada rooftop-nya. Kita bisa lihat view kota dari atas situ. Habis buka puasa, sekalian bisa latihan di sana. Tenang aja, semua aku yang bayarin. Gimana, Syan?” pungkas Magenta dengan mata berbinar, penuh harap. Sontak saja Cyan melirik sekeliling, memastikan aman dari mata-mata.
“Latihan apa lagi?” tanya gadis itu penasaran.
“Latihan pacaran dong.”
“Gampang banget itu mulut ngomongnya,” ucap Cyan mendesah kecil.
“Jadi pacar yang baik itu butuh banyak latihan, Syan,” jawab Magenta yang kini sudah berdiri sedikit lebih tegak. Kedua tangannya terlipat sempurna di depan dada.
“Aku ikut kamu makan, tapi jangan aneh-aneh.”
“Siap. Aneh-anehnya sedikit aja, ya?” ucapnya tersenyum kuda.
“MATAMU!”
***
Mereka pulang dan meninggalkan kantor tepat pukul tiga sore. Matahari sore masih terpantau terang, tetapi enggan menusuk lebih dalam. Semilir angin berembus lembut, membawa aroma hangat dari jalan. Suasana yang Cyan suka meski tak bertahan lama karena malam akan menyapa.
Ngabuburit versi Magenta ternyata bukan sekadar jalan-jalan biasa. Ia mengajak Cyan memutari kota, menyelinap ke jalan-jalan kecil yang Cyan sendiri tak tahu ada tempat semacam itu. Sesekali Magenta mengoceh seperti burung lepas kandang dan Cyan menimpali.
“Sayang, itu di ujung jalan liatin deh. Rambunya miring kayak mau jatuh,” ucap Magenta tiba-tiba menunjuk sebuah papan jalan yang posisinya sedikit condong.
“Iya, kasian,” celetuk Cyan datar.
“Dia kayaknya udah capek berdiri. Bayangin aja udah berapa tahun dia di situ. Hujan panas, debu, belum lagi ada orang iseng mukulin dia,” tambah Magenta serius. Cukup membuat Cyan terkekeh pelan sambil menyenggol bahu Magenta.
“Kamu apaan, sih? Haha!”
“Latihan jadi pacar itu butuh observasi lingkungan, Sayang,” jawab Magenta sok bijak. Entahlah bila ada Raka bersama mereka saat ini, sudah tentu ia mual muntah bahkan masuk rumah sakit. Oke, sedikit berlebihan, tapi bisa saja terjadi. Lovephobia itu nyata adanya.
“Sejak kapan pacaran perlu observasi rambu lalu lintas?” Cyan menatapnya tak percaya.
“Sejak pacarnya itu kamu,” sahut Magenta tersenyum gombal. Cyan terpaksa memalingkan wajah, menahan tawanya. Lucu sekali, seperti gadis-gadis imut yang baru merasakan cinta.
“Ish najis. Diem deh,” katanya setengah menggerutu.
“Kalau aku diem entar kamu kangen. Jangan rindu, rindu itu berat. Biar kang mas saja.”
“Ngaco!”
“Hm? Tapi kamu senyum tuh sayang.”
“Aku nggak senyum dan jangan panggil aku sayang!”
“Tapi kamu nggak pernah nolak aku panggil ‘sayang’ kan? Kamu itu cuma mau. Bener nggak?”
“….”
“HAHAHA! MUKANYA MERAH CIYEE\~”
Cyan pilih nggak menjawab dan mendongak ke langit, memperhatikan perubahan warna sepanjang perjalanan mereka hingga tiba ke are rooftop. Siluet jingga kemerahan itu memantul di kaca-kaca gedung tinggi, membentuk nostalgia yang terputar setiap hari.
Beberapa meja sudah terisi, tapi suasananya masih terbilang sepi. Tidak masalah untuk Cyan yang kurang menyukai keramaian. Ia suka interaksi sederhana ini, tidak perlu ada saksi dan validasi. Yang penting bahagia, puas, dan bersama orang yang bikin nyaman.
Eh?
“Kita duduk di sana,” kata Magenta menunjuk meja paling ujung. Cyan manggut-manggut menurut tanpa protes. Ia pun berjalan lebih dulu, disusul Magenta.
Beberapa saat kemudian, azan Magrib berkumandang. Terdengar ucap syukur karena akhirnya berbuka juga setelah seharian berjuang menahan hawa nafsu. Wajah Cyan yang semula sendu berubah ceria ketika menyambut makanan di depannya.
“Selamat berbuka puasa, Sayang,” ucap Magenta mengusap punggung tangan Cyan.
“Selamat berbuka, Genta,” balas Cyan menahan salah tingkahnya. Padahal senyum sedikit saja agar Magenta senang, tetapi nyatanya sulit. Jika ada langit ketujuh, gengsi Cyan ada di lapisan kedelapan.
Mereka makan perlahan, menikmati momen itu dengan tenang. Tidak terburu-buru, tidak banyak bicara. Hanya sesekali saling menatap dan melepas senyum. Ah, so sweet sekali.
***
Setelah berbuka, Magenta berdiri lebih dulu, meregangkan badan sebentar. Cyan hanya menoleh, sedikit terkejut ketika terdengar suara aneh dari Magenta. Erangan yang mirip singa lapar.
“Ke pinggir, yuk,” ajaknya setelah itu. Cyan mengangkat alis, menatapnya sebentar.
“Mau ngapain?”
“Jualan ikan. Jelas-jelas mau lihat pemandangan. Gak bosen apa duduk-duduk di situ?” jawab Magenta sambil berjalan pelan menuju rooftop.
Cyan mendengkus malas, lalu mengikutinya dengan langkah pelan, menyesuaikan ritme Magenta. Ia menyandarkan siku di pagar, memandang jauh ke arah cakrawala yang perlahan mulai gelap.
“Indah ya,” gumamnya memghirup udara segar itu.
“Lebih indah lagi karena ada kamu di sampingku,” ucap Magenta, membuat Cyan tersentak dan hampir tersedak liur sendiri. Pengakuan yang terdengar sedikit bergurau memang, tetapi Cyan tetap merasa senang.
Magenta berdiri di atas sesuatu yang sedikit lebih tinggi. Entah pijakan kecil atau pembatas rendah, tapi yang pasti itu cukup untuk membuat tinggi mereka sejajar saat ini. Cyan menyadarinya, tapi ia memilih diam.
“Indah banget sebelum kamu tau, orang-orang di bawah itu pulang membawa ceritanya masing-masing,” ucap Cyan lalu memejamkan mata. Tidak berharap adanya respon, tapi ia tahu Magenta selalu mengomentari apa pun.
“Maksudnya cerita apa?”
Cyan tersenyum, lalu membuka matanya. “Banyak. Bagus kalau cerita bahagia, kalau cerita sedih atau kesialan mereka gimana? Kadang aku nggak tega aja gitu. Masalahku belum ada apa-apanya dibanding mereka yang buat makan aja susah. Itu alasanku lebih sering bersyukur,” jelas Cyan membuat Magenta manggut-manggut paham.
“Iya, kamu bener, Syan. Di depan kelihatan baik-baik aja, aslinya banyak pikiran sampai botak.”
Setelah itu, hening cukup lama seperti berdiam di kuburan. Tangan Magenta terangkat, berhenti, kemudian turun lagi. Cyan melihat dari sudut matanya, tapi ia tidak menoleh. Seolah ingin memberi Magenta ruang untuk memutuskan. Tangan itu terangkat lagi, sedikit lebih lama. Dan sesuai dugaan, turun lagi. Begitu terus hingga Magenta memiliki keberanian.
Hening memanjang, angin berhembus melambai tenang, seolah kalau mendadak ada suara kentut pun bisa terdengar jelas seantero kafe.
Sampai akhirnya, tangan Magenta bergerak. Pelan, tapi pasti, merangkul pinggang Cyan. Gadis itu tersentak, menoleh cepat. Tubuhnya bereaksi seketika, menegang sepersekian detik sebelum akhirnya tersadar. Mata mereka bertemu dan saat itu juga, dunia seolah berhenti berputar.
“Maaf,” katanya buru-buru melepas rangkulan.
“Hm?”
“A-aku .... itu, terlalu ....”
“Kalau itu bagian dari latihan pacaran, gak papa kok, Gen.”
Magenta melongo, lalu menelan ludah. Ia tersenyum ketika menyadari kalimat itu seperti lampu hijau baginya. Cyan tanpa sadar ikut mengulas senyum meski tak begitu jelas.
“Kalau peluknya borongan sama cium kamu boleh?”
“Itu nggak boleh!”
“Hehehe … oke siap Bos sayang. Jangan marah-marah, nanti cantiknya ilang.”
Pandangannya kembali ke kota, ke cahaya-cahaya yang berpendar di bawah mereka. Beberapa detik berlalu, heningnya terasa nyaman dan syahdu, menghanyutkan mereka dalam bayang-bayang kisah asmara yang masih abu-abu.
Lalu Cyan menyenderkan kepalanya ke bahu Magenta. Magenta membeku sebentar, jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya gemetar, tapi ia tidak melepaskannya dan memilih membiarkan rasa nyaman itu mengalir di antara mereka. Entah sejak kapan, tubuh mereka terasa menyatu, seperti masing-masing belahan jiwa yang menemukan pasangannya.
“Kenapa nyaman sih? Ini kan cuma latihan,” batin Cyan memejamkan mata.
“Kenapa rasanya kayak ada di samping orang yang gue cari selama ini?” Magenta ikut menggumam, cepat-cepat menyingkirkan pikiran itu.
Dan tepat ketika keduanya sama-sama menoleh, Magenta langsung menyodorkan bibirnya menyentuh bibir Cyan. Gadis itu mematung, matanya membelalak lebar. Ia menelan ludah gugup. Ingin memberontak, tetapi perlahan cengkeraman tangan Magenta membuat mentalnya melemah.
“Gen?” gumam Cyan, meremas ujung lengan Magenta.
“Ssssst.”
Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
jd gk sabar war takjil 🔪