Terperangkap pernikahan dadakan membuat Ustad Syamir harus menerima Syahira sebagai istrinya. Padahal dia hendak menikahi Zulaikha, wanita sholeha yang diidamkannya. Semua itu pupus karena kesalahan satu malam. Niat hati Ustad Syamir menolong Syakira justru berbuntut pengerebekan warga dan nikah paksa. Tak hanya batal nikah dengan Zulaikha, Ustad Syamir harus menikah dengan Syahira, wanita gaul dari Jakarta yang jelas-jelas tidak dikenalnya.
Ustad Syamir harus menelan pil pahit karena gunjingan orang ditambah lagi dia harus membatalkan pernikahannya. Selain itu dia harus mengantarkan Syakira ke Jakarta tanpa memiliki bekal yang cukup.
Apakah Syamir dan Syahira akan tetap bersama atau memilih bercerai mengejar mimpi mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenang-kenangan
Keesokan harinya, Syamir membawa pulang si Mbok dari rumah sakit. Beruntung sekali ini hari libur Syamir, jadi seharian ini ia bisa mengurus si Mbok tanpa perlu mencemaskan soal pekerjaannya. Syamir kini tengah mengemasi barang-barang si Mbok dibantu oleh Zulaikha.
"Mbok, jaket rajut Mbok yang kemarin ditaruh di mana ya?" Syamir kebingungan mencari jaket tersebut.
"Ini Syam." Dengan segera Zulaikha memberikan Jaket itu pada Syamir.
"Terima kasih Zul." Syamir meraih jaket itu.
"Sama-sama Syam."
Saat mereka sedang sibuk beres-beres tiba-tiba datang dokter Edward dengan membawa sekeranjang buah di tangan kanannya.
"Whoa, sudah mau pergi ternyata." Edward kini masuk ke kamar si Mbok.
"Eh, dokter." Syamir lalu menghampiri Edward.
"Ini, terimalah. Anggap saja ini reward untuk Mbok kamu karena telah berhasil sembuh." Edward menyodorkan keranjang buah itu pada Syamir.
"Tidak usah repot-repot dok. Mendapati si Mbok sudah sembuh saja saya senang bukan main." Ujar Syamir.
"Terimalah, tidak baik jika ditolak." Edward kembali menyodorkan keranjang buah itu.
"Baiklah, terima kasih banyak ya dok." Syamir lalu menerima keranjang buah itu.
"By the way, Zulaikha di mana ya?" Edward kini mencari-cari Zulaikha.
"Zulaikha tadi keluar sebentar." Jawab Syamir.
"Oh, baiklah." Edward kini terlihat sedikit kecewa.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba Zulaikha datang.
"Wa'alaikumsalam." Ucap semua orang.
"Nah, itu dia. Kebetulan sekali, Zul, itu dokter Edward mencarimu." Kata Syamir.
"Ada apa ya dok?" Tanya Zulaikha.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Boleh kita keluar sebentar?" ucap Edward.
"Em, bagaimana ya..., baiklah."
"Okay, kalau begitu kami pamit dulu ya." Kata Edward.
"Syam, Mbok, Zulaikha keluar dulu ya. Assalamualaikum." Zulaikha lalu keluar menyususl Edward.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Syamir dan Mbok.
Zulaikha dan Edward lalu berjalan meninggalkan kamar inap Mbok. Mereka lalu berhenti di taman rumah sakit. Zulikha dan Edward lalu duduk di bangku taman.
"Ada gerangan apa sehingga dokter membawa saya ke sini?" Zulaikha merasa agak risih.
"Zul, hari ini kamu akan meninggalkan rumah sakit. Masihkah aku bisa menemuimu? Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, terutama terkait islam." Edward terlihat sedikit bersedih.
"Iya dok, hari ini saya akan meninggalkan rumah sakit, dan besok saya akan kembali pulang ke kampung. Ibu dan Bapak sudah berpesan untuk segera pulang jika sudah tidak ada urusan atau kepentingan apapun lagi di sini." Jelas Zulaikha.
"Pulang ke kampung? Lalu bagaimana aku akan menemuimu lagi, aku masih ingin belajar islam lebih banyak." Kini Edward benar-benar murung.
"Dok, belajar islam bisa dari mana saja dan dari siapa saja. Terutama orang tersebut memang seorang yang expert dalam ilmu agama dan amanah dalam menyampaikan ilmu. Sementara Zulaikha justru juga masih dalam tahap belajar. Kita sama-sama belajar tentang islam lebih dalam ya. Meski nanti Zulaikha sudah pergi, Zulaikha berharap dokter tetap istiqomah untuk terus menggali ilmu agama."
Edward tampak masih sedih, ia lalu mengeluarkan sebuah catatan kecil dan sebuah pena. Ia lalu menyodorkannya pada Zulaikha.
"Tulislah alamat rumahmu di sini. Aku akan mengunjungimu jika ada waktu."
Zulaikha lalu mengambil catatan dan pena itu. Ia menuliskan alamat rumahnya dengan lengkap. Ia menyodorkan kembali catatan dan pena itu pada Edward.
"Thank you. Zulaikha, to be honestly, aku sebelumnya adalah pria yang tak baik. But, after i meet you, aku perlahan berubah. Aku kembali mengenal islam yang mana adalah agamaku. Aku kembali merasa menemukan tujuan hidupku yang sempat hilang." Edward kini menatap Zulaikha dengan penuh kesungguhan. Sementara Zulaikha kini diam tertunduk.
"Saya senang mendengarnya, semoga Allah selalu mencurahkan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada dokter."
"aamiin."
"Jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, Zulaikha izin pamit ya dok." Zulaikha kini beranjak.
"Wait, i have something for you. Not big but special." Edward merogoh kantong sakunya. Ia mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk bulan. Gantungan itu menyala saat disentuh.
"Ini, terimalah. Ini akan menjadi pengingatmu tentang diriku." Ucap Edward.
Dengan sedikit ragu Zulaikha lalu menerima gantungan kunci itu.
"Tolong hubungi aku jika terjadi sesutu padamu ok." Tambah Edward.
"Baik, kalau begitu saya izin pamit ya Dok, Assalamualaikum." Zulaikha lalu beranjak pergi.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Edward.
Zulaikha meninggalkan dokter Edward dengan perasaan haru, entah kenapa hatinya merasa pedih saat meninggalkan pria itu. Zulaikha lalu melanjutkan langkahnya. Saat sampai di pintu kamar ia melihat Syahira yang tengah berada di kamar. Ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk kamar. Zulaikha lalu duduk di kursi yang ada di luar kamar.
Sementara itu, beberapa saat yang lalu, Syahira datang ke kamar inap si Mbok. Syahira yang masih takut akan ditolak habis-habisan oleh si Mbok memberanikan dirinya untuk masuk ke kamar. Ini karena hari ini si Mbok dan Syamir akan pulang, maka dari itu ia memaksakan diri untuk menjenguk mertuanya itu.
"Assalamualaikum." Syahira mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Syamir.
"Sya." Syamir membukakan pintu. Syamir tampak girang saat melihat kedatangan Syahira.
"Untuk apa wanita itu datang ke sini Syam?" Si Mbok yang tengah duduk di ranjangnya kini mendelik ke arah Syahira.
"Mbok, dia istri Syam. Sudah tentu dia akan mengunjungi kita karena hari ini kan Mbok sudha mau pulang." Jawab Syamir.
"Rausah sok cari perhatian." Ujar Si Mbok.
"Mbok!" Syamir kini merasa tak enak atas sikap si Mbok pada Syahira.
"Mbok, Sya ke sini untuk menjenguk Mbok. Sya ikut senang mendengar kabar kesembuhan Mbok." Syahira kini mendekati si Mbok. Si Mbok malah membalikan tubuhnya dari Syahira. Syahira kemudian mengelus dada.
"Mbok, Sya bawakan buah untuk Mbok. Nanti dimakan ya." Syahira memberikan keranjang buah itu pada Syamir.
"Rausah repot-repot. Mbok sudah dapat banyak buah dari dokter Edward. Lebih baik kamu bawa pulang lagi buahnya." Ucap si Mbok dengan ketus.
"Mbok, tidak boleh menolak pemberian. Mbok selalu bilang begitu kan pada Syam?" timpal Syamir.
"Syam, kenapa koe baik tenan karo dia? Memangnya bakal sampai kapan pernikahan kalian akan bertahan? Syam wes bagi tahu soal pernikahan kalian kepada kedua orang tuanya? Belum kan? Mereka itu orang kaya Syam, ora sama kaya kita, kita wong cilik. Mbok yakin kamu malah akan dicaci dan dihina habis-habisan sama mereka. Mbok ndak sanggup membayangkannya. Untuk apa kamu terus memperjuangkannya? Lagi pula pernikahan kalian juga karena paksaan, bukan karena sebab saling suka." Mbok kini terlihat marah.
"Syam memang belum memberi tahu pada kedua orang tua Sya soal pernikahan kita. Tapi besok, Syam akan memberi tahu mereka. Syam siap menanggung segala resikonya, Syam siap dengan apa yang akan Syam terima di sana. Syam rela memperuangkan rumah tangga kami karena Syam mencintai dan menerima Sya apa adanya Mbok." Dengan tegas Syamir mengutarakan isi hatinya. Si Mbok terbelalak saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut anaknya.
"Syam! Kamu ngomong opo to? Kamu kan sukanya hanya sama Zulaikha? Lagi pula jika kamu memang bener-bener tulus mencintainya, itu hanya akan bertepuk sebelah kanan. Dia belum tentu mencintaimu dengan tulus Syam. Mungkin saja dia bersikap sperti ini karena ada maunya. Ingat waktu dia pertama kali kau tolong? Kondisinya habis mabuk-mabuk Syam. Jangan-jangan dia memanfaatkanmu karena dia ingin kau yang bertanggung jawab untuk perbuatan terlarangnya."
"Astagfirullah. Cukup! jangan asal fitnah Mbok. Itu dosa besar, eling Mbok. Eling." Syamir kini mencoba menenangkan si Mbok yang tengah dikuasai oleh amarah.
"Halah, rausah sok naif Syam. Kita harus berfikir realistis, sekarang ngaku kamu! Kamu ndak memanfaatkan anak saya kan untuk mempertanggung jawabkan anak yang ada di perutmu?"
"What?" Syahira benar-benar kaget mendengar apa yang baru saja Mbok katakan padanya.
"Mbok! Nyebut Mbok, nyebut." Syamir berulang kali mencoba menenangkan ibunya.
"Mbok, dengar baik-baik. Mungkin memang benar Sya adalah anak yang nakal, suka keluyuran malam-malam. Tapi Sya gak sekotor itu. Senakal-nakalnya Sya, Sya masih bisa menjaga kesucian Sya. Jika memang Mbok tidak mengharapkan Sya di sini, baiklah. Sya pamit sekarang, Assalamualaikum." Syahira tak kuasa menahan rasa sakitnya. Ia langsung pergi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Meilhat Syahira yang pergi dengan hati yang hancur, Syamir benar-benar marah. Tak sangka jika ibunya akan berkata seperti itu kepada Syahira. Syamir lalu menyususl Syahira.
"Sya, tunggu Sya." Syamir mencoba mengejar Syahira.
"Biarkan saja Syam. Biarkan dia pergi." Ucap si Mbok.
"Ndak. Syamir akan mengejarnya, dia istri Syam, dan Mbok baru saja menyakiti hatinya. Syam harus minta maaf padanya dan mengobati luka di hatinya." Syamir tidak menggubris perintah dari ibunya. Ia lalu mengejar Syahira.