Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Bara di Ujung Langit
Perjalanan menuju Gunung Merapi Tua memakan waktu tiga hari penuh.
Semakin dekat mereka ke lokasi, langit yang dulunya biru bersih kini berubah menjadi warna tembaga yang menyesakkan.
Debu vulkanik jatuh seperti salju hitam, menutupi jalanan dan pepohonan yang meranggas.
Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan rombongan pengungsi.
Wajah-wajah yang penuh jelaga, anak-anak yang menangis, dan para prajurit dengan zirah yang meleleh menjadi pemandangan yang menyayat hati.
"Kekuatan api naga itu... ini bukan api biasa," gumam Lu Feng, ia tidak lagi merokok atau bercanda.
Matanya menatap sebuah desa yang rata dengan tanah, di mana tanahnya masih mengeluarkan asap panas. "Ini adalah api kehancuran yang murni."
Ling'er berdiri di samping Jian Yi, tangannya yang kecil menggenggam erat ujung jubah hitam pria itu.
Wujud fisiknya yang imut tampak kontras dengan suasana yang mengerikan ini.
Namun, matanya yang besar kini berkilat dengan intensitas yang berbeda.
"Aku bisa merasakannya, Jian Yi," bisik Ling'er. "Kristal Api Langit itu... naga itu tidak hanya membawanya, dia menggunakannya untuk membakar jiwanya sendiri. Jika kita tidak segera menghentikannya, naga itu akan meledak dan menghanguskan seluruh wilayah ini dalam radius ratusan mil."
"Kalau begitu, kita tidak punya banyak waktu." jawab Jian Yi datar.
Saat mereka mencapai lembah terakhir sebelum pendakian gunung, langkah mereka terhenti oleh sebuah barisan barikade raksasa.
Ratusan prajurit dengan zirah emas yang berkilau—Unit Elit Penjaga Matahari dari Kekaisaran Pusat—menutup jalan.
Di tengah-tengah mereka, berdiri sebuah tenda megah dengan panji naga emas yang berkibar.
"Berhenti!" teriak seorang perwira muda dengan wajah sombong dan zirah yang terlalu bersih untuk berada di wilayah bencana. "Wilayah ini berada di bawah kekuasaan langsung Pangeran Ketiga! Warga sipil dilarang mendekat!"
Lu Feng maju selangkah, mencoba tersenyum ramah meskipun matanya terlihat kesal. "Dengar, kawan. Kami di sini bukan untuk piknik. Kami datang untuk membereskan masalah kadal terbang itu sebelum kalian semua terpanggang di dalam zirah mahal kalian."
"Beraninya kau!" Perwira itu menghunus pedangnya. "Pangeran Ketiga telah membawa sepuluh Master tingkat puncak dan satu Tetua Grand Master untuk menaklukkan naga ini. Kami tidak butuh bantuan dari pengembara berantakan dan... anak kecil ini."
Ling'er yang disebut "anak kecil" langsung menggembungkan pipinya. "Siapa yang kau panggil anak kecil, Tiang Listrik Berkarat?! Aku ini pusaka yang lebih tua dari nenek moyangmu!"
Jian Yi menahan bahu Ling'er sebelum ia melompat untuk menggigit kaki perwira itu. "Kami tidak punya waktu untuk berdebat. Minggir, atau aku akan memindahkan barikade ini bersamamu."
"Coba saja kalau—"
Kalimat perwira itu terputus saat sebuah suara berat bergema dari dalam tenda megah. "Biarkan mereka lewat."
Seorang pria dengan jubah kekaisaran yang mewah keluar.
Dia adalah Pangeran Ketiga, wajahnya tampan namun matanya penuh dengan ambisi.
Di sampingnya berdiri seorang pria tua dengan aura yang sangat tenang namun mematikan—seorang Grand Master dari istana.
Pangeran Ketiga menatap Jian Yi dengan teliti, lalu pandangannya beralih ke Ling'er. "Aku merasakan aura yang tidak biasa dari pedang yang kau bawa... oh, maksudku, dari gadis kecil di sampingmu itu. Kalian mengejar Kristal Api Langit juga, bukan?"
"Kami mengejar perdamaian. Kristal itu hanya bonus untuk memperbaiki 'bantal pelukku' ini." jawab Jian Yi dengan nada menyindir yang membuat Ling'er mencubit pinggangnya secara otomatis.
"Hmph. Sombong sekali," Pangeran Ketiga menyeringai. "Baiklah, kita lihat siapa yang akan sampai di puncak lebih dulu. Jika kalian mati, aku akan mengambil gadis itu sebagai koleksi pusaka istanaku."
Mata Jian Yi menyipit. Hawa dingin tiba-tiba meledak dari tubuhnya, membuat tanah di bawah kaki para prajurit membeku seketika meskipun udara di sana sangat panas. "Jika kau menyentuhnya, kau tidak akan punya istana untuk pulang."
Suasana menjadi sangat tegang. Tetua di samping Pangeran Ketiga segera bersiap, namun Jian Yi sudah berbalik dan melesat menuju puncak gunung dengan kecepatan yang membelah udara, membawa Ling'er di pelukannya.
"O-oi! Tunggu aku! Dasar pasangan gila!" Lu Feng menyusul di belakang, meninggalkan pasukan kekaisaran yang tertegun melihat kecepatan mereka.
Sesampainya di kawah gunung, pemandangan yang terlihat jauh lebih mengerikan.
Seekor naga raksasa dengan sisik hitam sekeras obsidian sedang meraung di atas lautan lava. Di tengah dadanya, sebuah cahaya merah menyala terang—Kristal Api Langit.
"ROAAAARRRR!"
Gelombang suara naga itu menciptakan guncangan hebat. Lava menyembur ke atas.
"Yi, dia menyadarinya!" teriak Lu Feng.
Jian Yi menurunkan Ling'er. "Ling'er, tetap di belakang Lu Feng. Aku akan membukakan jalan untukmu mengambil kristal itu."
"Hati-hati, Jian Yi!" seru Ling'er. "Api naga ini bisa membakar Qi! Gunakan teknik pedang yang murni!"
Jian Yi mengangguk. Ia tidak memiliki pedang fisik sekarang, tapi ia mengulurkan tangannya ke udara. "Ling'er, kembalilah sebentar. Aku butuh tarianmu untuk membelah naga ini!"
Ling'er mengangguk patuh. Tubuh mungilnya bersinar dan kembali menjadi bentuk pedang—namun bukan lagi pedang berkarat, melainkan pedang perak yang sangat indah dan memancarkan aura dingin yang kontras dengan lava di sekitar mereka.
Jian Yi menggenggam gagang Ling'er. Rasa hangat dan koneksi batin mereka meledak. "Lu Feng, jaga punggungku dari orang-orang kekaisaran itu!"
"Serahkan padaku, Yi! Pastikan kau menyisakan bagian naga yang enak untuk dipanggang!"
Jian Yi melesat jatuh tepat ke tengah kawah, menghadapi sang Naga Bencana sendirian.