Aku kira setelah, aku berhasil kabur dari sebuah desa yang sangat membingungkan dan penuh dengan keanehan hidupku akan lebih baik dan tidak mengalami hal-hal yang sangat membuatku takut tapi nyatanya aku salah besar, aku dan ketiga temanku malah terjebak kembali di sebuah desa tua yang lebih menakutkan dan mengerikan, yang paling aneh semua orang di desa itu menatap kami berempat dengan tatapan yang mengerikan, kecuali pada Erlangga mereka menatap Erlangga dengan senyum indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erlangga!
"Aneh kenapa orang-orang ini selalu menatapku dengan tajam, seperti ingin memangsa buruan nya saja" bingung Nayla, saat ini dirinya tengah berjemur di pagi hari.
Tadi malam merupakan malam yang panjang bagi Nayla, sepertinya dia tertidur nyenyak semalam, ini untuk pertama kalinya Nayla berada ditempat itu, bisa tidur dengan nyenyak.
"Nayla" panggil Arin, kebetulan sekali Arin baru saja selesai bersih-bersih.
"Hai Rin, sini" ucap Nayla sambil menepuk kursi yang berada di sebelahnya.
"Kenapa kamu Nay? Kayak orang bingung?" tanya Arin, kini bokongnya sudah duduk sempurna di kursi yang tadi Nayla tunjukan pada Arin.
"Coba lihat orang-orang di desa ini, sedari kemari ngeliatin kita gitu amat, aku takut mata mereka keluar" bisik Nayla pada Arin.
"Aku juga bingung Nay, aku sebenarnya udah pengen cepet-cepat pulang deh, nggak betah ditempat beginian" tutur Arin.
"Kamu sama Dika sebelumnya mau kemana dulu Rin? kok bisa sampai di kosan yang waktu itu?" tanya Nayla penasaran, pasalnya dia juga tidak tahu kenapa bisa berada di tempat yang tidak dia kenali sama sekali.
Sudah berusaha untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi tapi sayangnya Nayla tidak bisa mengingat apa-apa, jika dipaksa maka kepalanya akan terasa sangat sakit.
"Kita ke warung aja yuk, kemarin aku lihat ada warung di desa ini" usul Nayla.
Keduanya pergi ke warung yang dimaksud oleh Nayla tadi.
Tapi saat belum selesai belanja Arin pamit pulang duluan pada Nayla, karena ada panggilan alam yang tidak bisa dia tahan.
"Berapa bu?" tanya Nayla ramah.
"50 ribu!" jawab ibu itu datar sambil menatap tajam pada Nayla.
Melihat hal tersebut buru-buru Nayla mengeluarkan uangnya senilai 50 ribu, kemari saat hendak mencuci bajunya Nayla tidak sengaja menemukan uang 300 ribu di dalam kantong bajunya.
Pikir Nayla lumayan buat beli jajanan seperti sekarang ini.
"Bukannya itu Erlangga?" tanya Nayla pada diri sendiri saat melihat Erlangga tengah mengobrol ramah pada penduduk desa ini.
"Kenapa penduduk itu bisa tersenyum ramah pada Erlangga? sedangkan dengan aku, Arin dan Dika selalu menatap tajam?" Nayla terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Nayla yang baru saja akan melangkah, mendekati Erlangga dan penduduk desa itu, iya urungkan karena seorang menepuk pundaknya.
"Astaga, Arin! lu ngagetin kamu aja" kesal Nayla.
"Heheh sorry, abisnya dari tadi aku pamggilin nggak noleh-noleh, liat apa sih sampe fokus banget gitu?" Arin bertanya sambil mencari apa yang sedari tadi Nayla lihat, sampai-sampai tidak meresponnya.
"Nggak ada apa-apa juga Nay" bingung Arin.
Mendengar ucapan Arin membuat Nayla menyeritkan dahinya. "Tadi ada orang disana?" Nayla menunjuk ke arah dimana dia melihat Erlangga tenaga mengobrol ramah dengan penduduk desa tadi, tapi kenapa sekarang tidak ada siapa-siapa disitu.
"Ah, udah yuk Nay, balik ke penginapan" ajak Arin sambil menarik-narik tangan Nayla agar ikut dengannya, sedangkan Nayla masih bertengkar dengan pikirannya sendiri.
Sore harinya mereka menghabiskan waktu untuk melihat-lihat desa sekitar, sambil menyapa penduduk desa itu, tapi tidak ada satupun orang yang merespon Arin, Nayla dan Dika, tapi beda dengan Erlangga, mereka selalu menyapa ramah Erlangga, hal itu membuat ketiganya bertanya-tanya ada apa sebenarnya.
"Mereka pada kenapa sih, kok cuman Erlangga doang yang disapa ramah?" sungut Arin tidak terima, padahal dia sudah berusaha untuk menyapa penduduk desa itu seramah mungkin.
"Mana saya tahu, saya juga bingung" jawab Erlangga dengan entengnya.
"Sekarang gini dah, kita mau tetap di tempat ini atau gimana?" kini Nayla keluar dari pembahasan tentang penduduk desa ini.
Nayla juga berpikir tidak mungkin dia akan tetap ditempat itu selamanya, sedangkan dirinya memiliki rumah tempat pulang.
"Kamu bener juga Nay, gimana kalau kita besok cari jalan pulang? atau nggak tanya-tanya sama penduduk desa ini dimana arah ke kota, kalau tidak sama datuk gimana?" usul Arin.
Erlangga sepertinya dia tidak ingin membahas hal ini. Buktinya saja dia pergi katanya ingin istirahat.
"Kalian ngerasa nggak sih kalau ada yang aneh sama Erlangga?" sahut Dika yang sedari waktu itu selalu memperhatikan gerak-gerik Erlangga.
Mendengar pertanyaan Dika, mereka berdua menganggukkan kepala kompak. Bukan hanya Nayla yang merasa aneh pada Erlangga, tetapi kedua temannya juga.
Sementara itu di kamar Erlangga, dirinya tengah menatap kosong keluar jendela kamarnya.
"Maaf Nay, maaf telah membawamu ke tempat yang seharusnya bukan tempatmu berada" sesal Erlangga, dia menjambak kasar rambutnya sendiri.
"Aku terlalu egois, ternyata membawamu ketempat ini, hanya membuat kamu terus ketakutan, aku hanya ingin melihat senyummu lagi Nay" ucap Erlangga lagi.
Dia tidak menyangka jika alam gaib akan membuat Nayla merasa sangat ketakutan, tapi kenapa makhluk-makhluk tak kasat mata itu hanya menakuti Nayla, Arin dan Dika sedangkan dirinya saja tidak.
Ditambah lagi penduduk di desa ini, selalu menatap ketiga orang itu dengan tajam, sebenarnya Erlangga tidak senang melihat itu semua tapi apalah daya dia tidak bisa berbuat banyak. Karena makhluk tak kasat mata ada yang jahat dan juga baik.
Baik dalam veris jika kita tidak mengusiknya dan kita mau membantunya, jahat karena dia selalu mengganggu ketenangan kita, tanpa sebab dan alasan apapun. Bagaimana bisa begitu? tentu saja bisa.
Apalagi jika hidup di alam yang bukan alam kita, hidup di alam mereka, sudah dipastikan yang paling berkuasa di tempat ini makhluk tak kasat mata, mereka pemiliknya, jadi sudah pasti bebas bagi mereka mau menampakan wujudnya atau tidak.
Yang menjadi pertanyaan apakah orang-orang yang berada di desa ini juga sebenarnya makhluk tak kasat mata? tapi kenapa Nayla tidak menyadarinya, seakan lupa akan apa yang dikatakan paman dan bibi padanya.
"Maaf Nay, kamu harus sembuh dan pulang ke tempat asalmu, tempat kamu bukan disini Nay, aku yang bersama disini, maaf" hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut Erlangga, entah apa yang sebenarnya sudah dia lakukan.
Erlangga siapa Nayla sebenarnya apakah mereka saling mengenal satu sama lainnya?.
Kenapa sepertinya Erlangga sangat mengenal Nayla?, dan kenapa Nayla tidak kenal dengan Erlangga, tapi merasa sangat familiar dengan sosok Erlangga.