NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

enam belas

Pagi itu cuaca di Bandung sedikit tidak bersahabat, udara yang dingin dan gerimis kecil, terlihat membasahi kaca bus, dimana alia berada.

Alia hanya mengenakan kemeja tipis berwarna coklat mahagoni dengan celana berwarna broken white, rambut yang ia ikat tinggi seperti ekor kuda terlihat bergerak kesana kemari, akibat dari gerakan bus yang terlihat mengangguk-angguk karena pijakan rem yang berulang kali dari supir, pagi itu lalu lintas terlihat padat merayap.

Alia menatap jalanan yang sudah basah, pandangannya terlihat begitu serius, ingin rasanya hari ini ia mengajukan cuti ijin untuk tidak masuk kerja.

Terus terang alia enggan bertemu dengan langit, lebih tepatnya ia takut bertemu pria brengsek itu. Namun alia harus bertindak profesional, tak selayaknya ia membawa masalah pribadinya ini menganggu pekerjaannya.

Bus yang ditumpangi alia berhenti di halte yang berada dekat dengan kantornya, alia mendesah berat, helaan nafasnya terlihat begitu berat menanggung beban di hatinya.

Mau tidak mau alia tetap turun di halte itu, tangannya meraih payung lipat yang ia simpan dalam tasnya. Langkah kaki alia berat melangkah, ingin rasanya ia melarikan diri saat ini, ia sangat takut bertemu langit.

Langkahnya yang lamat-lamat menuju rombongan karyawan yang berada di depan lift, tanpa ia sadari ada langkah yang berusaha menyejajari langkah kecilnya.

"Selamat pagi, alia" sapa seseorang yang berjalan di belakangnya, dengan reflek dan wajah terkejut, ia membalikkan tubuhnya. Jantung alia sempat berdetak kencang dan serasa ingin copot, namun senyuman ramah itu membuat alia kembali tenang.

"Selamat pagi pak bara.." jawab jingga dengan senyum ramahnya, kepalanya mengangguk hormat.

"Sepertinya lift itu sudah berangkat" ujar bara menunjuk lift yang barusan menutup dengan dagunya, "kita tunggu yang sebelah saja yah".

Alia hanya mengangguk setuju, ia melihat hari ini bara berjalan sendirian tanpa asistennya yang selalu setia menemani. Mata indah alia terlihat mencari sosok edo, sang asisten.

Sepertinya bara menyadari tatapan alia yang mencari, bara tersenyum tipis.

"Edo masih di Jakarta, hari ini saya hanya ingin pamit pada seseorang" tukasnya tenang memberi jawaban kepada alia yang tidak bertanya. Alia mengerutkan keningnya heran, mengapa pria di hadapannya ini tahu isi hatinya.

"Apakah kamu sibuk hari ini?" Tanya bara hati-hati, setelah alia menekan tombol nomor 8, wanita itu terlihat mengerutkan keningnya, namun ia tetap menjawab sopan.

"Tidak terlalu pak, apakah bapak ada perlu dengan saya?"

Bara terlihat menganggukkan kepalanya paham, senyum manisnya tersemat indah di wajah tampan itu.

"Nanti saya ingin bicara dengan kamu, bisakah saya minta waktu kamu sedikit, saat makan siang nanti"

"Bisa pak" angguk alia cepat, ia melangkah mengikuti bara dari belakang, begitu pintu lift terbuka.

"Nanti saya chatkan ke kamu alamatnya" sambung bara lagi dengan suara pelan, ia memelankan suaranya karena beberapa pegawai terlihat mulai ramai berlalu lalang.

 Lagi-lagi alia mengernyitkan keningnya heran, namun ia tidak menjawab, alia hanya mengangguk dan pamit meninggalkan bara yang masih tersenyum manis ke arahnya.

"Alia, kamu pesan apa nih?" Tanya sania yang sedang mengotak-atik ponselnya, membuka aplikasi gof**d.

"Maaf sania, aku mau keluar ada perlu sedikit" ujar alia, berdiri meraih tas sandangnya, mata indahnya menatap notifikasi di ponsel.

Bara mengirimkan sebuah alamat, yang tidak begitu jauh dari kantor mereka. Sania memandangi kepergian alia dengan tatapan penasaran, tidak biasanya alia makan di luar, biasanya ia lebih suka makan bareng dengan memesan makanan lewat aplikasi.

Sania mengedikkan bahunya, langkahnya mendekati fandi dan teman-temannya yang lain.

Alia berencana jalan kaki saja menuju tempat yang bara kirimkan, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mobil sport berhenti dengan decitan suara yang cukup keras di sampingnya.

Alia berhenti berjalan, memegang jantungnya yang serasa mau copot, dengan wajah pias. Terlihat sebuah mobil sport me*ce*es be*nz cabriolet, berwarna hitam metalik, dengan atap yang membuka perlahan.

Senyum menyebalkan pria di balik setir mobil itu, menatap alia yang masih pias terkejut. Wajah alia sontak berubah, perubahan air wajahnya dari terkejut menjadi raut penuh antisipasi dan perlindungan.

Padahal alia sudah merasa tenang sepagi tadi, kehadiran langit yang tidak tampak sejak pagi membuat dirinya tenang. Namun entah darimana datangnya pria brengsek di hadapannya tiba-tiba menghentikan langkah alia.

"Mau kemana?" Tanya pria itu dengan nada suara sok dekat, sok akrab.

"Ayo naik, aku akan antar" perintahnya santai dengan penuh keyakinan bahwa alia akan menurutinya, senyum smirknya juga tersungging di bibir.

"Tidak, terima kasih" tolak alia cepat tanpa basa basi, wajah wanita itu terlihat enggan dan tak suka.

"Saya ada janji"

 Alia melangkahkan kakinya meninggalkan langit yang tertegun, mata pria itu mengamati alia yang terlihat sudah menyebrangi jalan, memasuki sebuah cafe mungil.

Langit dengan rasa penasaran dan juga kesal karena niat baiknya di tolak, dengan sedikit emosi yang dipendam, menyalakan mobilnya dengan kasar, terlihat wajahnya mengeras dengan sorot mata tajam.

Sementara alia masuk ke kafe mungil dengan nuansa tenang itu, masih dengan berbagai perasaan yang campur aduk, hatinya masih merasa tidak tenang dengan kehadiran langit.

 Mata alia mengitari seisi ruangan mencari keberadaan bara, pria itu terlihat di sudut cafe, tersenyum melambaikan tangan ke arahnya, alia mengangguk dan melangkah perlahan menghampiri.

"Kamu mau pesan apa?" Tanya bara ramah, begitu alia duduk di hadapannya, bara mengamati alia yang terlihat sedikit gelisah.

"Apa aja pak, terserah!" Jawab alia singkat, namun beberapa kali matanya menoleh ke arah pintu masuk, hatinya masih khawatir, takut langit mengikutinya.

Bara melambaikan tangannya, memanggil seorang pramusaji yang berjalan ke arah mereka dengan senyum sopannya. Bara memesan makanan dan minuman yang sama, sementara alia masih terlihar gelisah dengan duduk tidak tenangnya.

 Helaan nafasnya yang terdengar berat, menarik perhatian bara yang memang sudah terganggu sejak alia duduk tadi.

"Apakah kamu keberatan bertemu dengan saya, alia?" Tanya bara hati-hati, alia yang terkejut menoleh menatap bara, dengan gerakan cepat mengibas-ibaskan kedua tangannya menunjukkan isyarat tidak.

 Kepalanya menggeleng, "tidak pak"

"Trus kenapa kamu kelihatan gelisah?, adakah sesuatu yang menganggu?" Tanya bara lagi penuh selidik. Mulut alia terbuka ingin menjawab, namun kemudian menutup kembali, karena pesanan mereka datang dan sedang di tata oleh pramusaji yang terlihat sangat cekatan.2 piring spaghetti, 1 piring kentang goreng dan 2 cup ice coffe latte, terletak rapi di atas meja mereka.

"Terima kasih" ucap bara dan alia bersamaan, ketika pramusaji itu selesai menata pesanan mereka.

"Saya tidak tahu, apakah pesanan ini cocok dengan selera kamu, alia, karena tadi kamu bilang terserah, maka saya pesan sama dengan selera saya" ucap bara dengan tatapan memelas lucu.

"Nggak apa-apa pak" geleng alia

 "saya bukan orang yang rewel dan pemilih" sahutnya lagi dengan santai.

"Baiklah kalau begitu, silahkan makan dulu" jawab bara tersenyum, tangannya meraih minuman dinginnya.

Alia juga melakukan gerakan yang sama, meraih gelasnya, dan menyesap dalam diam.

"Sebenarnya bapak ada perlu apa dengan saya?" Tanya alia disela-sela makannya, matanya mengamati bara yang terlihat sedikit gugup.

"Heummm.." terdengar gumaman tidak jelas dari mulut bara, pria itu menegakkan tubuhnya, menatap alia lekat.

"Bagaimana jawaban yang saya minta itu alia?, apakah saya bisa menerima jawaban itu hari ini?"

Alia mengernyitkan keningnya keheranan, menatap pria di hadapannya itu penuh tanya.

"Jawaban apa yah pak?" Tanya alia akhirnya, terlihat wajah bara keheranan menatap alia,

"Apakah kamu lupa?",

Alia memicingkan matanya, menatap bara dan mencoba menelisik maksud dari pria itu.

"Tentang perasaan saya alia" ujar bara mengingatkan, mata pria yang duduk di hadapan alia itu masih menatapnya heran.

"Astaga..." seru alia, wajahnya terlihat terkejut menahan malu,

"Maaf pak, saya lupa" pinta alia dengan tatapan penuh harap, dan senyum merasa bersalah.

Bara memalingkan wajahnya cepat, tatapan alia barusan membuatnya salah tingkah, debar di dadanya tiba-tiba berdetak lebih kencang.

"Bara..." panggil sebuah suara yang terdengar berat, alia dan bara menoleh bersamaan, senyum di wajah alia mendadak menghilang. Langit, pria yang sangat ingin ia hindari, berdiri dengan auranya yang terlihat mengintimidasi, menatap ke arah bara dan alia bergantian,

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya langit masih dengan tatapan mengintimidasinya, mata itu terlihat menatap penuh selidik.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!