NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Kulit yang Mengelupas

Langkah Arlan terasa berat saat ia menapakkan kaki di koridor lantai empat apartemen Sektor Tujuh. Udara di sini tidak lagi hanya dingin; suhunya telah jatuh ke titik yang menyakitkan, seolah-olah bangunan beton ini sedang menghisap kehangatan dari sumsum tulangnya. Lampu lorong berkedip dalam ritme yang tidak sinkron, memancarkan spektrum hijau-kebiruan yang membuat bayangannya sendiri terlihat tertinggal satu detik di belakang gerakannya. Arlan meraba botol kecil berisi larutan penetral yang diberikan Dante di bunker tadi—cairan sisa koin perak yang kini meredakan api di paru-parunya, meski dadanya masih terasa sesak oleh sisa gas beracun dari perpustakaan.

Ia berhenti di depan pintu nomor 402. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu yang terasa seperti balok es. Arlan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia harus kembali menjadi anak yang naif, setidaknya untuk beberapa menit ke depan.

"Aku pulang," gumam Arlan saat pintu terbuka.

Aroma sup jagung menyeruak, namun ada yang salah. Bau manis jagung itu tertutup oleh aroma amis besi yang tajam, seperti bau genangan darah di jagal yang mencoba disamarkan dengan parfum murahan. Di dapur, sosok itu berdiri membelakangi pintu. Ia mengenakan celemek bunga-bunga yang sama dengan yang dipakai ibu Arlan selama bertahun-tahun.

"Kau terlambat, Arlan. Supnya hampir dingin," suara itu terdengar lembut, namun ada getaran statis di ujung kalimatnya.

Arlan melangkah mendekat, matanya tajam memperhatikan setiap detail. "Tadi ada kendala di kantor kurir. Banyak paket yang harus didata ulang karena sistem eror."

Sosok itu berbalik. Wajahnya adalah wajah ibu Arlan—persis hingga ke kerutan di sudut mata. Namun, saat cahaya lampu dapur yang redup menerpa lehernya, Arlan melihatnya. Selembar kulit di dekat rahang sosok itu terkelupas, menggantung seperti kertas basah. Di baliknya, bukan daging merah yang terlihat, melainkan permukaan perak yang mengkilap dan bersisik, memantulkan cahaya dengan cara yang tidak alami.

"Kenapa kau menatap Ibu seperti itu, Nak?" tanya sosok itu. Ia tersenyum, tapi otot-otot wajahnya bergerak terlalu lambat.

"Tahi lalatmu," bisik Arlan. Ia mengepalkan tangan di dalam saku mantel. "Ibu selalu bilang tahi lalat di pipi kanan itu adalah tanda keberuntungan. Kenapa sekarang ada di kiri?"

Senyum sosok itu membeku. Arlan memperhatikan dada sosok itu; gerakan naik-turunnya berhenti total. Ia sedang mengalihkan seluruh energi pemrosesannya untuk mencari jawaban logis. Hampa akustik mulai menyelimuti dapur, membungkam suara didih sup di atas kompor.

"Ibu... Ibu mungkin salah melihat di cermin tadi pagi," jawabnya. Suaranya kini terdengar lebih berat, seolah-olah ada dua frekuensi yang bertabrakan di tenggorokannya. "Kemarilah, Arlan. Makanlah. Kau terlihat sangat pucat."

"Aku melihat sketsa wajah Ayah hari ini," Arlan melangkah mundur, kakinya tidak sengaja menginjak serpihan mengkilap di lantai—sisik kulit perak yang jatuh dari tubuh sosok itu. "Wajah yang asli. Bukan wajah yang ada di foto-foto ruang tamu yang sudah kalian ubah."

Sosok itu mematikan kompor dengan gerakan yang kaku. "Ayahmu sudah lama pergi, Arlan. Jangan biarkan imajinasimu mengacaukan makan malam kita."

"Dia tidak pergi," potong Arlan, suaranya naik satu oktav, penuh dengan duka yang selama ini ia pendam. "Dia dihapus. Dan kau... kau hanyalah residu yang mencoba menempati ruang kosong yang dia tinggalkan. Kau bahkan tidak tahu bagaimana cara menangis yang benar, bukan?"

Sosok yang menyerupai ibunya itu berjalan mendekat. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi denting halus di atas ubin, seolah kakinya terbuat dari logam padat. Kulit di tangannya mulai retak-retak, menunjukkan lebih banyak permukaan perak yang dingin.

"Arlan, Ibu hanya ingin dunia ini sempurna untukmu," sosok itu mengulurkan tangan. "Tanpa rasa sakit, tanpa kehilangan. Jika kau menyerahkan koin-koin itu padaku, kita bisa menjadi keluarga lagi. Selamanya."

"Keluarga tidak dibangun dari salinan, monster!" Arlan membentak. "Ibuku yang asli mencintaiku karena kekuranganku, bukan karena kepatuhanku pada sistem."

Sosok itu berhenti tepat di depan Arlan. Matanya, yang tadi berwarna cokelat hangat, mulai memutih dan kehilangan pupil. "Sayang sekali. Replikasi organik di sektor ini memang sedang mengalami kegagalan sistem. Kau seharusnya menjadi bagian dari kesempurnaan ini, Arlan. Tapi kau memilih untuk tetap menjadi cacat."

Tangan sosok itu bergerak secepat kilat, mencoba mencengkeram leher Arlan. Arlan menghindar, namun ujung kuku perak itu sempat menggores pipinya, meninggalkan rasa dingin yang membakar. Ia tahu ia tidak bisa melawan secara fisik; sistem peniru ini jauh lebih kuat. Ia butuh solusi ketiga.

Arlan merjangkau rak bumbu di samping meja makan. Tangannya menyambar botol besar berisi asam cuka murni. Ini adalah strategi yang ia pikirkan sejak melihat kegagalan replikasi di perpustakaan—reaksi kimia sederhana untuk menghadapi teknologi yang sedang tidak stabil.

"Kau tahu apa yang terjadi pada perak yang tidak murni saat terkena asam?" Arlan membuka tutup botol itu dengan giginya.

"Apa yang kau lakukan, Nak?" sosok itu bertanya, suaranya kini sepenuhnya mekanis, kehilangan sisa-sisa kemanusiaan.

"Aku sedang memberimu kematian yang layak bagi sebuah mesin," Arlan menyiramkan seluruh isi botol asam cuka itu tepat ke wajah dan leher sosok yang sedang mengelupas tersebut.

Suara desisan nyaring memenuhi dapur, diikuti oleh asap putih yang berbau menyengat. Sosok itu menjerit—sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam di atas kaca. Permukaan perak di wajahnya mulai berbuih dan teroksidasi dengan cepat, berubah menjadi kerak hitam yang rapuh. Sensor-sensor pada tubuh peniru itu mengalami arus pendek, membuatnya kejang di lantai dapur.

Arlan berdiri mematung, menatap sosok yang kini kehilangan bentuk manusianya. Air mata jatuh di pipinya, namun matanya tetap dingin. Ia baru saja "membunuh" satu-satunya wajah yang ia kenal sebagai rumah, demi menemukan kebenaran yang lebih besar.

"Maafkan aku, Ibu," bisik Arlan pada kehampaan. "Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka menggunakan wajahmu untuk membohongiku lagi."

Ia tidak membuang waktu. Sesuai koordinat yang ia rekam dari halaman terakhir buku di perpustakaan, Arlan berlutut di bawah meja dapur. Ia meraba ubin lantai yang terasa lebih hangat dari bagian lainnya. Dengan menggunakan pisau dapur, ia mencongkel ubin tersebut.

Di bawahnya, terdapat sebuah kotak timah kecil yang dibungkus kain beludru hitam. Saat Arlan menyentuhnya, kunci tua di lehernya berdenyut kencang, memancarkan panas yang menjalar ke seluruh dadanya. Inilah alasan mengapa ayahnya menyimpan rahasia di titik pusat pengumpulan data ini.

Sosok di lantai mulai merayap kembali, mencoba meraih kaki Arlan dengan tangan yang kini hanya berupa rangka logam hitam. Arlan berdiri, mengantongi kotak timah itu, dan menatap ruang tamu untuk terakhir kalinya. Foto keluarga di dinding tampak bergoyang, seolah-olah realitas di dalam rumah ini sedang bersiap untuk dihapus total.

"Aku pergi," ucap Arlan tegas.

Ia melangkah keluar dari apartemen tepat saat sistem alarm gedung mulai melolong dalam frekuensi tinggi. Arlan tidak menoleh lagi. Di belakangnya, pintu nomor 402 perlahan mulai memudar, berubah menjadi bayangan kelabu yang perlahan-lahan kehilangan dimensinya.

Langkah kaki Arlan menghantam tangga darurat dengan irama yang pecah. Bunyi logam yang beradu dengan sepatu botnya menggema di sepanjang lorong vertikal itu, namun suara itu terdengar aneh—seolah-olah dinding beton apartemen Sektor Tujuh sedang menelan gema tersebut sebelum sempat memantul. Alarm gedung masih melolong, sebuah frekuensi tinggi yang menyiksa gendang telinga dan membuat pandangan Arlan sedikit kabur di tepian spektrum. Ia bisa merasakan kotak timah di saku mantelnya menekan paha, sebuah beban fisik yang terasa jauh lebih ringan daripada beban di dadanya setelah meninggalkan sosok di dapur tadi.

Di lantai dua, Arlan terhenti. Suhu udara mendadak turun drastis hingga uap napasnya membeku menjadi kristal-kristal halus di udara. Ia menoleh ke arah jendela besar yang menghadap ke jalanan bawah. Di sana, tiga unit kendaraan hitam tanpa plat nomor sedang berhenti dengan presisi militer. Sosok-sosok tinggi dengan mantel panjang kelabu turun—para Eraser.

"Sial, mereka lebih cepat dari perkiraan Dante," desis Arlan. Ia merapatkan tubuh ke dinding, mencoba menyinkronkan napasnya agar tidak menciptakan uap yang mencolok.

"Arlan, kau mendengarku?" Suara statik Dante terdengar dari alat komunikasi di balik kerah bajunya.

"Aku di tangga darurat lantai dua. Mereka sudah mengepung lobi utama," jawab Arlan, suaranya tertahan.

"Dengar, jangan lewat lobi. Sektor Tujuh sedang dalam proses penghapusan parsial. Jika kau terjebak di dalam saat sistem frekuensi pembersih aktif, kau akan ikut terhapus bersama bangunan itu. Kau harus mencari jalan keluar melalui jalur pembuangan limbah di rubanah."

"Limbah? Itu area mati, Dante. Tidak ada oksigen di sana."

"Itu satu-satunya tempat yang tidak memiliki sensor suhu karena memang didesain dingin. Gunakan kunci tuamu, Arlan. Kunci itu bukan sekadar logam. Jika koordinat yang kau ambil dari perpustakaan itu benar, kunci itu akan bereaksi pada pintu keluar darurat yang tidak ada dalam denah salinan."

Arlan mematikan komunikator. Ia tidak punya pilihan. Ia berbalik dan berlari menuju pintu rubanah. Namun, saat ia mencapai lantai dasar, seorang penghuni apartemen—Pak Budi, tetangga lamanya—berdiri mematung di tengah lorong. Wajah Pak Budi tampak datar, matanya terbuka lebar tanpa berkedip sedikit pun.

"Arlan? Mau ke mana terburu-buru?" tanya Pak Budi. Suaranya datar, tanpa intonasi, seperti suara mesin pembaca teks.

"Minggir, Pak Budi. Ada urusan mendesak," Arlan mencoba melewatinya, namun tangan Pak Budi mencekeram lengannya dengan kekuatan yang tidak masuk akal.

"Kau membawa sesuatu yang bukan milikmu, Arlan. Ibu mencarimu. Dia bilang supnya sudah dingin," Pak Budi memutar kepalanya hampir seratus delapan puluh derajat ke arah Arlan, sebuah gerakan yang mematahkan struktur leher manusia normal.

Arlan merasakan kengerian menjalar di punggungnya. Ia melihat kulit di punggung tangan Pak Budi mulai mengelupas, menampakkan kilau perak yang sama dengan yang ia lihat di dapur tadi. Infeksi sistem ini menyebar ke seluruh penghuni gedung.

"Lepaskan aku!" Arlan menyentakkan tangannya, namun cengkeraman itu semakin kuat. "Pak Budi, kau ingat saat kita memancing di sungai lima tahun lalu? Kau menangis karena kehilangan jam tangan pemberian istrimu. Ingat?"

Cengkeraman itu mengendur sesaat. Pupil mata Pak Budi bergetar, mencoba memproses fragmen memori duka yang dilemparkan Arlan. Itu adalah kelemahan utama para Peniru; mereka bisa menyalin wajah, tapi mereka gagal menduplikasi rasa sakit yang tulus.

"Jam tangan... hilang..." gumam Pak Budi, suaranya berderit.

Arlan menggunakan momen keraguan itu untuk menyentakkan lengannya hingga lepas dan menendang pintu rubanah hingga terbuka. Ia melompat ke dalam kegelapan basement, mengunci pintu dari dalam tepat saat Pak Budi mulai menggedor pintu dengan bunyi hantaman logam yang keras.

Di dalam rubanah, kegelapan terasa pekat dan lembap. Bau oli mesin dan karat memenuhi indra penciumannya. Arlan merogoh lehernya, menarik keluar kunci tua yang kini bersinar dengan cahaya keemasan redup. Cahaya itu tidak menerangi ruangan, melainkan membelah kegelapan seperti garis tipis yang menunjuk ke arah tumpukan pipa raksasa di pojok ruangan.

"Pintu itu ada di sana," bisik Arlan pada dirinya sendiri.

Ia merangkak melewati celah sempit di antara pipa-pipa panas. Di balik tumpukan kotak kayu tua, ia menemukan sebuah pintu besi kecil yang tertutup cat yang sudah mengelupas. Tidak ada lubang kunci di sana, hanya sebuah lekukan berbentuk persegi yang sama persis dengan kepala kunci tuanya.

Begitu Arlan menempelkan kuncinya ke lekukan itu, seluruh ruangan bergetar. Suara dengung rendah memenuhi udara, menetralisir lolongan alarm di atas sana. Pintu itu terbuka dengan suara desisan udara, menampakkan terowongan gelap yang menuju ke luar batas Sektor Tujuh.

Arlan menoleh ke atas, ke arah langit-langit gedung yang mulai terlihat transparan, menunjukkan proses penghapusan yang sedang berlangsung. Bagian-bagian dari apartemen itu mulai berubah menjadi butiran debu kelabu yang melayang ke angit. Kenangan masa kecilnya, aroma masakan ibunya, dan sisa-sisa kehangatan rumahnya kini sedang dihancurkan oleh sistem yang tidak berperasaan.

"Selamat tinggal," gumam Arlan dengan suara serak.

Ia melangkah masuk ke dalam terowongan dan menutup pintu besi itu tepat saat suara ledakan sunyi terdengar dari atas—tanda bahwa lantai empat, tempat tinggalnya, telah sepenuhnya hilang dari realitas.

Beberapa menit kemudian, Arlan keluar dari saluran pembuangan di tepian sungai yang kering, jauh dari perimeter pengepungan Eraser. Ia duduk bersandar pada dinding beton yang dingin, napasnya memburu dan dadanya terasa sakit karena kelelahan emosional yang luar biasa. Ia mengeluarkan kotak timah yang ia ambil dari bawah ubin dapur tadi.

Dengan tangan gemetar, ia membuka tutup kotak itu. Di dalamnya tidak ada emas atau senjata. Hanya ada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit asli yang sudah sangat tua dan sebuah Koin Perak dengan ukiran yang berbeda—koin itu tidak menggambarkan wajah, melainkan sebuah simbol jangkar yang dikelilingi api.

Arlan menyentuh koin itu, dan seketika, sebuah memori asing membanjiri benaknya. Ia melihat ayahnya berdiri di depan sebuah mesin raksasa, wajahnya penuh peluh dan duka. “Arlan, jika kau membaca ini, berarti duka adalah satu-satunya hal yang tersisa untuk menjagamu tetap nyata. Jangan biarkan mereka mengambilnya,” suara ayahnya bergema di kepalanya, begitu jernih hingga Arlan merasa ayahnya sedang berbisik tepat di samping telinganya.

Ia mengepalkan tangan, mendekap koin dan buku catatan itu di dadanya. Air mata yang tadi ia tahan kini mengalir bebas di wajahnya yang kotor oleh debu dan asam cuka. Di tengah kota yang sedang kehilangan jiwanya, Arlan menyadari satu hal: ia bukan lagi sekadar kurir yang mencari barang hilang. Ia adalah pewaris dari duka yang tidak boleh disalin.

"Aku akan menemukanmu, Ayah," janji Arlan pada kegelapan malam. "Aku akan mengembalikan setiap wajah yang mereka hapus."

Ia berdiri, menyeka air matanya, dan menatap ke arah pusat kota di mana cahaya hijau-kebiruan masih mendominasi langit. Arlan melangkah menjauh dari reruntuhan memorinya, menuju bunker rahasia tempat Dante dan Mira menunggu. Langkahnya kini tidak lagi berat karena ragu, melainkan mantap karena sebuah tujuan yang baru saja mengkristal dalam jiwanya yang terluka.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!