Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Tegar.
...~•Happy Reading•~...
Mathias masih memperhatikan Ambar dengan seksama. "Anda tinggal dengan siapa di rumah?" Tanya Mathias lagi, mulai khawatir. Dia melihat Ambar yang tidak menyadari situasi yang sedang dihadapi dengan keluarga suaminya.
"Saya tinggal dengan anak dan ART, Pak." Ambar berkata pelan, mengingat anaknya yang sering takut mendengar teriakan dan makian dari keluarga Papanya.
"Apakah ART anda bisa dipercaya?" Tanya Mathias lagi. Ambar mengangguk yakin, sebab dia tahu, Seni bisa dipercaya.
"Iyaa, Pak. Hanya kasihan mereka di rumah, kalau saya pergi kerja. Keluarga Alm. suka datang untuk meneror mereka." Ambar menunduk dengan mata berembun.
"Begini, sekarang urus yang tadi saya katakan itu. Jika benar ada uang di bank yang cukup, anda berhenti kerja dulu sementara. Urus yang di rumah, sebagai istri sah. Jadi itu adalah hak anda dan anak anda."
"Lihat saya... Astagaaa, bagaimana anda mau berperang, jika anda sudah seperti ini." Mathias terkejut melihat mata Ambar mulai tergenang.
"Sekarang ini, anda harus kuat dan saatnya tegar demi anak anda. Pikirkan anak anda dan berjuanglah." Mathias berusaha menyemangati Ambar. Dia belum bisa membantu Ambar lebih dari itu, karena Ambar belum membutuhkan pembelaannya.
Ambar menunduk dan menenangkan hatinya. "Maafkan saya, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan saya. Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk saya." Ambar berusaha menahan gejolak hatinya. Mengingat kejadian yang dialami dan putranya sering diam dan bersedih.
"Baik, ini kartu nama saya. Kalau perlu bantuan hukum, hubungi saya. Tidak perlu datang ke sini. Ingat, jangan tanda tangani apa pun." Mathias mengingatkan sambil menyerahkan kartu nama pribadinya kepada Ambar.
"Baik, Pak. Terima kasih." Ambar berkata sambil mengatupkan tangan di dada, lalu pamit meningalkan ruangan. Mathias memandang punggung Ambar dengan berbagai tanya. Kondisinya lebih buruk daripada pertama kali bertemu dengannya.
"Sudah selesai, Bu Ambar?" Tanya Bagas, saat melihat Ambar berjalan ke ruang tunggu.
"Sudah, Mas. T'rima kasih, saya bisa duduk di ruang tunggu sebentar? Saya sedang pesan ojol." Ambar berkata sambil menunjuk kursi di ruang tunggu dengan jempolnya.
"Ooh, iya, Bu. Silahkan. Kalau mau minum juga, silahkan. Itu ada dispenser." Bagas heran melihat wajah Ambar yang tidak happy.
"Iya Mas, terima kasih." Ambar mengatupkan tangan di dada. Otomatis Bagas ikut mengatupkan tangan di dada.
Sepeninggal Ambar, Mathias menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. 'Ternyata dia tidak mengingatku, apalagi mengenalku. Yaaa... Bagaimana mau mengingatku, sedangkan banyak persoalan yang sedang dihadapinya.' Mathias membatin, sambil melihat langit-langit ruang kerjanya.
'Apakah aku tadi terlalu keras padanya?' Tanya Mathias dalam hati, mengingat wajah Ambar dan air matanya yang hampir tumpah.
Mengingat itu semua, Mathias menghubungi Bagas untuk datang keruangannya. "Bagas, Ibu Ambar sudah pulang?" Tanya Mathias setelah Bagas masuk ke ruangannya.
"Belum, Pak. Masih tunggu ojol di ruang tunggu. Tadi beliau minta ijin untuk tunggu di sana.
"Oooh... Kalau begitu, kau segera ke ruang tunggu, minta alamat rumah dan nomor telponnya. Nanti baru ke sini lagi dan kita bicara. Cepat..." Mathias mengingat tadi lupa minta alamat dan no telepon Ambar.
Bagas segera berlari keluar ruangan menuju ruang tunggu, karena khawatir Ambar telah pergi. Ternyata Bagas terlambat. Setelah sampai di ruang tunggu, dia melihat lewat kaca jendela, Ambar sudah duduk di atas motor ojol dan keluar dari tempat parkir menuju jalan raya.
Bagas kembali ke ruang kerja Mathias untuk melapor. "Pak, saya terlambat. Bu Ambar sudah jalan dengan ojol." Lapor Bagas. Mendengar itu, Mathias menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.
"Baiklah. Biarkan saja dulu, semoga beliau menghubungi kita lagi. Ada yang aku lupa tanyakan tadi. Semoga tidak bermasalah, dan jika ada masalah beliau mau menghubungi kita." Mathias merasa heran dengan sikapnya tadi kepada Ambar. 'Mungkin nanti aku akan ke restoran Sari untuk mengecek kondisinya.' Mathias membatin.
"Mulai sekarang, kau buatkan daftar hadir dan letakan di ruang tunggu. Agar client yang datang dengan kasus TQ bisa isi data mereka di sana." Mathias mengingatkan Bagas, sebab lupa mempersiapkan itu.
~**
Di sisi lain ; Ambar dalam perjalanan dengan ojol ke Restoran Ayam Baqcot. Dia akan kembali bekerja dan akan membicarakan pertemuannya dengan Mathias kepada Sari.
Setelah tiba di restoran, Sari memanggil Ambar ke ruangannya. Sekarang Ambar tidak melayani di restoran lagi, tetapi membantu di bagian keuangan. Sebagaimana yang pernah dikatakan Sari, ada karyawannya yang akan cuti melahirkan. Sehingga Ambar dipekerjakan di bagian keuangan.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Pak Mathias? Apakah kau bisa bertemu dengannya?" Tanya Sari, setelah Ambar berada di ruangannya. Dia sengaja tidak menghubungi Mathias, agar Ambar sendiri yang bicara dengan Mathias.
"Iyaa. Aku bisa bertemu dengannya, dan terima kasih sudah merujuk aku ke sana, Ri. Beliau sangat menolongku, karena ada hal-hal yang tidak terpikirkan olehku." Ambar menceritakan pertemuannya dengan Mathias kepada Sari.
Sari tahu permasalahan yang dihadapi, semenjak suaminya meninggal. Sari banyak membantu, sehingga merekomendasikan dia berkonsultasi dengan Mathias.
"Mungkin beberapa waktu ke depan, aku akan minta cuti, karena harus mengurus surat-surat yang berhubungan dengan kematian dan peninggalan Mas Rulof." Ambar menjelaskan.
"Iyaa, ngga pa'pa. Kau katakan saja, jika mau cuti." Sari mengerti kondisi yang sedang dihadapi Ambar.
"Aku menunggu Tara masuk dari cuti melahirkan saja, baru mengambil cuti. Agar ada yang bantu mengurus keuanganmu." Ambar merasa sungkan, mengingat kebaikan Sari. Jadi dia tidak bisa berlaku suka-suka.
"Baik, kalau begitu. Namun jika mendesak, kau libur saja. Nanti aku pegang keuangan sementara kau tidak ada." Sari mengerti kesulitan Ambar.
"Iyaa, Ri. T'rima kasih. Nanti selama aku cuti, tidak usah membayar gajiku. Kalau aku sudah balik bekerja lagi, baru kau bayar seperti biasa. Karena aku belum tahu, harus ambil cuti berapa lama. Besok aku libur seperti biasa saja dulu." Ambar mulai memikirkan apa yang dikatakan Mathias.
Dia harus libur kerja untuk mengurus persoalan yang sedang dihadapi. Dia harus sering ada di rumah untuk mendampingi Juha.
"Baik, nanti kita bicarakan lagi." Sari mengakhiri pembicaraan mereka, lalu Ambar segera keluar dari ruangan dan kembali ke ruang keuangan.
Menjelang sore hari, Ambar pamit kepada Sari untuk pulang. Sebab Sari belum pulang, karena masih harus mengawasi pekerjaan karyawan. Tamu yang datang makan di restorannya makin banyak dan ramai setiap hari.
Ambar memesan ojol untuk mengantarnya ke stasiun Gondangdia. Ketika tiba di stasiun, Ambar segera naik kereta ke arah Bekasi yang baru tiba. Ambar merasa bersyukur, belum padat jadi bisa dapat tempat duduk.
Ambar menyandarkan punggungnya, dan merenungi berbagai peristiwa yang dihadapi dengan keluarga Alm. suaminya. Seakan tidak pernah berhenti, walaupun suaminya sudah meninggal.
Dia merenungi apa yang dikatakan Mathias. 'Benar yang dikatakan Pak Mathias. Aku jangan santai atau cuek dengan kondisi yang terjadi. Aku tidak boleh mengabaikan tindakan mereka lagi.' Ambar membatin dan menyemangati dirinya.
...~●○♡○●~...