NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Pembuktian Li Shen dan Kesombongan Mo Wuxie

Li Shen menyadari bahwa muslihat dan persembunyian tidak lagi memiliki arti. Dengan langkah yang tenang namun pasti, ia keluar dari balik bayang-bayang batu besar. Di mulut gua yang pengap oleh aroma logam darah, tatapan mereka beradu.

Mo Wuxie menyipitkan mata, memindai sosok di hadapannya dengan ketertarikan yang sinis. “Tak ada qi. Tapi auramu ganjil. Kehendak Murni, ya?”

“Mo Wuxie,” panggil Li Shen. Suaranya datar, tanpa riak emosi, seolah sedang memanggil maut itu sendiri.

Senyum bengis tersungging di wajah sang algojo Tianyuan. “Kau tahu namaku. Berarti kau adalah bagian dari tikus-tikus yang baru saja kubantai.”

Li Shen tidak menyahut. Ia perlahan membuka balutan kain yang menyelimuti senjatanya hingga bilah pedang itu tersingkap, berkilauan dingin di bawah cahaya temaram gua. “Kau membunuh mereka semua.”

“Mandat dari Langit,” jawab Mo Wuxie singkat sembari mempererat genggamannya pada tombak hitamnya.

Kehendak Murni Li Shen naik perlahan, menciptakan presensi yang membuat udara di sekitar mereka mendadak membeku. “Mandatmu busuk.”

Tawa Mo Wuxie menggelegar, memantul di dinding-dinding batu. “Langit tidak peduli akan busuk atau bersihnya sebuah cara. Langit hanya peduli pada siapa yang berdiri paling akhir di atas tumpukan mayat!”

Ia mengangkat tombaknya. Tekanan tingkat 8 ranah Pemutus Takdir meluap dahsyat, menjadi genderang perang yang menandai dimulainya bentrokan.

Tombak Pemangsa Qi menghantam layaknya terkaman naga hitam. Li Shen meliuk, menghindari setiap tikaman di ruang gua yang sempit. Kehendak Murni-nya bekerja keras, menepis gelombang tekanan bertubi-tubi yang berusaha meremukkan tulang rusuknya.

Benturan pertama terjadi, mengguncang fondasi gua hingga ke akarnya. Mo Wuxie terkesiap saat merasakan perlawanan itu. “Tanpa qi, kau sanggup menahan Domain-ku?!”

Li Shen tetap membisu. Baginya, penjelasan hanya akan memberi celah bagi lawan untuk menemukan titik lemahnya. Ia memilih berfokus pada tarian pedangnya. Pedang Langit terhunus, melepaskan tebasan yang cepat, berat, dan sarat akan kehendak absolut.

Tombak dan pedang beradu sengit, memercikkan bunga api di tengah kegelapan. Mo Wuxie mencoba menyerap energi lawan sebagaimana biasanya, namun ia mendapati Kehendak Murni adalah substansi yang tidak bisa ditelan. Alih-alih menguatkan, energi itu justru berbalik menekan kekuatannya. Untuk pertama kalinya, sang Naga Merah mundur selangkah, mengambil jarak untuk menakar ulang lawannya. “Apa-apaan kau ini?”

Mo Wuxie kembali menerjang dengan keganasan yang meningkat. Tombak Pemangsa Qi menyapu dan menusuk bergantian, setiap gerakan dilingkupi tekanan Domain yang semakin masif. Dinding gua mulai retak, menjalar luas seperti akar pohon yang merusak tanah, sementara debu berjatuhan menyerupai hujan kelabu.

Li Shen bergerak dinamis. Ia tidak mencoba menahan serangan secara frontal, ia menghindar, memotong sudut, dan memanfaatkan dinding gua sebagai pijakan. Pedang Langit berkelebat, setiap tebasan diarahkan dengan presisi ke titik-titik sendi dan pergelangan tangan Mo Wuxie, memanfaatkan keterbatasan gerak senjata panjang di ruang sempit.

Alhasil beberapa serangan mengenai target. Darah Mo Wuxie mengalir lagi, sebelum menutup dengan cepat. “Bagus,” Mo Wuxie tertawa getir. “Aku akui kekuatanmu. Sudah lama aku tidak berdarah-darah seperti ini karena manusia biasa.”

Tiba-tiba, tekanan Domain melonjak tajam secara vertikal. Langkah Li Shen mendadak terasa berat, paru-parunya seolah menolak oksigen yang masuk. Meskipun Kehendak Murni-nya tetap bertahan, tubuh fananya mulai mencapai batas kelelahan fisik.

Mo Wuxie mengubah ritme. Ia tidak lagi mengejar dengan kecepatan, melainkan menekan secara perlahan, membatasi ruang gerak Li Shen, dan memutus jalur mundur. Sebuah sapuan rendah tombak memaksa Li Shen melompat, namun ujung bilah tetap berhasil merobek pahanya. Darah segar mengalir. Li Shen mendarat dengan satu lutut bertumpu pada tanah.

Sebelum ia sempat bangkit, tekanan Domain menghantam sekali lagi. Dinding gua semakin hancur. Li Shen mengerahkan sisa kekuatannya, menghantamkan Pedang Langit ke sisi tombak lawan. Benturan itu begitu keras hingga lengan Mo Wuxie terdorong mundur setengah langkah.

“Kau benar-benar menarik!” Mo Wuxie berteriak penuh kegilaan. “Tapi kau bukan tandinganku!”

Ia menghunjamkan ujung tombaknya ke lantai gua. Qi hitam dari udara, dari sisa darah, bahkan dari jasad para pemberontak yang masih hangat, tersedot masuk ke dalam bilah tombak secara simultan. Ini bukan lagi sekadar Domain, ini adalah teknik penghancur jiwa.

Li Shen merasakan Kehendaknya terhantam langsung seperti dipukul palu raksasa. Lututnya menghantam tanah. Pedang hampir terlepas dari jemarinya yang gemetar. Mo Wuxie melangkah maju, setiap langkahnya menciptakan getaran yang mematikan.

“Kehendakmu mungkin tak bisa kuserap,” geramnya, “tapi tubuhmu akan kuhancurkan menjadi debu!”

Tombak dicabut dan diayunkan dengan kekuatan absolut. Li Shen mengangkat pedang untuk menangkis. Benturan itu seketika menghancurkan batuan di bawah kakinya. Tulang lengannya bergetar hebat sebelum akhirnya remuk. Darah menyembur dari mulutnya saat tubuhnya terlempar menghantam dinding gua dengan dentuman keras.

Pandangannya kabur. Kehendak Murni masih menyala, namun wadah fisiknya telah hancur. Mo Wuxie tidak langsung mengakhiri nyawanya. Ia berdiri di atas Li Shen yang tergeletak tengkurap, bersimbah darah di antara serpihan batu.

“Lihat dirimu sekarang.” Mo Wuxie memutar tombaknya perlahan, lalu menghentakkannya ke lantai. “Fana tanpa qi. Tanpa Mandat. Tanpa perlindungan. Kau hanyalah kecacatan yang kebetulan keras kepala.”

Ia menginjak kepala Li Shen dengan sepatu zirahnya, menekan wajah pemuda itu ke tanah yang kotor. “Kau pikir menolak Langit membuatmu istimewa? Kau berhasil melukaiku, dan itu pencapaian besar bagimu. Tapi kau tahu apa artinya?”

Ia meludahi Li Shen dengan hina. “Artinya, kau pantas untuk mati. Dunia ini tidak butuh penolak, dunia ini butuh naga sepertiku. Dan kau tidak lebih dari sampah yang bersikeras melawan arus.”

Tombak Pemangsa Qi disentuhkan ke punggung Li Shen. Qi hitam berdenyut, siap untuk merobek organ dalam dan menghancurkan tulang belakangnya.

Namun, di tengah kubangan darah dan debu, sebuah pemandangan ganjil terjadi. Bibir Li Shen yang mencium tanah itu bergerak, mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat licik. Bukan senyum keputusasaan, melainkan senyum seseorang yang telah menjatuhkan jebakan terakhirnya.

Mo Wuxie yang terbuai oleh kesombongannya terlambat menyadari bahwa retakan di dinding gua telah menjalar ke langit-langit dengan kecepatan yang tidak wajar. Ia mendongak, dan wajahnya seketika memucat.

Langit-langit gua berguncang hebat. Massa batuan raksasa mulai runtuh serentak. Tekanan dari teknik pamungkas Mo Wuxie tadi ternyata telah melampaui batas struktur gua yang memang sudah rapuh akibat pertarungan mereka.

“Brengsek!”

Itulah umpatan terakhir yang terdengar sebelum seluruh ruangan gua runtuh total, menimbun keduanya dalam jutaan ton batuan gua di Hutan Batu Hitam.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!