Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teratai darah dari Utara part 5
Mei Lian menerjang kalap. Tubuhnya bergetar hebat; pembuluh darah di lehernya menghitam, menandakan racun Teratai Terlarang telah mencapai titik kritis di mana jantungnya bisa pecah kapan saja.
"Mati... kita semua harus mati!" jerit Mei Lian dengan suara parau.
Satya bergerak secepat kilat. Ia tidak menyerang, melainkan memutar Toya Emasnya dengan teknik "Pagar Angin Gunung". Putaran itu menciptakan tekanan udara yang sangat kuat, menyedot kabut racun merah menjauh dari hidung mereka, lalu melemparkannya ke arah air terjun.
"Li Wei! Dia sudah di ambang maut! Kalau tidak ditolong sekarang, dia akan meledak jadi genangan racun!" teriak Satya sambil menahan kedua pergelangan tangan Mei Lian yang meronta gila.
Li Wei melompat maju. Wajahnya yang tenang berubah menjadi sangat fokus. "Tahan dia, Satya! Jangan sampai dia menggerakkan aliran darahnya!"
Satya mengunci tubuh Mei Lian dari belakang. "Waduh Nona, jangan berontak! Ini bukan mau pelukan, ini mau operasi darurat!"
Li Wei meletakkan kedua telapak tangannya tepat di punggung Mei Lian. Ia merapalkan mantra dalam bahasa Mandarin kuno dan seketika, tangannya memancarkan cahaya hijau giok yang sangat murni. Inilah jurus "Aliran Giok Pembersih Jiwa", teknik pengobatan tertinggi dari perguruan langit yang mampu menetralisir racun paling ganas sekalipun.
"Ugh... panas... dingin..." Mei Lian mengerang, tubuhnya melengkung lemas dalam dekapan Satya.
Li Wei memejamkan mata, keringat mengucur di dahinya. "Satya, salurkan sedikit hawa murni dari toyamu ke pundaknya. Aku butuh dorongan energi untuk mendorong racun ini keluar melalui ujung jarinya!"
Satya segera menempelkan ujung Toya Emasnya ke pundak Mei Lian. Energi meteorid yang hangat mengalir, bersatu dengan hawa dingin milik Li Wei. Perpaduan dua energi ini menciptakan efek luar biasa.
Sreeeet!
Cairan hitam kental mulai menetes keluar dari ujung kuku Mei Lian, jatuh ke lantai gua dan seketika melubangi batu tersebut karena saking korosifnya. Perlahan, warna kulit Mei Lian kembali normal. Pembuluh darah hitam di lehernya memudar, dan nafasnya yang tadinya memburu kini mulai tenang.
Mei Lian jatuh pingsan di lengan Satya. Li Wei mundur selangkah, wajahnya pucat karena kelelahan.
"Berhasil," bisik Li Wei. "Racun itu sudah netral. Tapi dia akan sangat lemah untuk beberapa hari ke depan."
Satya menyandarkan Mei Lian di dinding gua yang empuk oleh lumut. Ia menatap wajah wanita itu yang kini tampak damai saat tertidur, sangat kontras dengan sosok algojo kejam beberapa menit lalu.
"Repot juga ya kalau punya teman yang hobi minum racun sendiri," gumam Satya sambil mengelap keringat di dahi Mei Lian menggunakan ujung lengan bajunya yang kotor.
Keesokan harinya Mei Lian membuka matanya perlahan. Langit-langit gua yang dihiasi stalaktit berkilauan adalah hal pertama yang ia lihat. Aroma amis racun yang sempat menyesakkan dadanya kini berganti dengan wangi tanah basah dan aroma kayu manis yang terbakar dari tungku abadi di sudut gua.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun seluruh sendinya terasa seperti dipaku. Saat ia menoleh ke samping, ia melihat Satya sedang jongkok membelakanginya, sibuk meniup api kecil untuk membakar beberapa buah ubi hutan. Di dekatnya, Li Wei sedang duduk bersila sambil membersihkan pedang gioknya dengan kain sutra putih.
"Oh, lihat ini, Li Wei. Tuan putri dari Yangtze sudah bangun," celetuk Satya tanpa menoleh, namun telinga kera-nya sudah menangkap suara napas Mei Lian yang berubah ritme.
Mei Lian berusaha duduk, namun ia terhuyung. Ia meraba dadanya—jantungnya masih berdetak, meskipun lemah. Ingatan terakhirnya adalah rasa sakit yang luar biasa dan amarah yang membakar jiwa. Ia melihat ke arah pergelangan tangannya; bekas pembuluh darah hitam itu kini hanya menyisakan garis tipis kemerahan.
"Kenapa..." suara Mei Lian serak, hampir tidak terdengar. "Kenapa kalian menyelamatkanku?"
Satya berbalik, menyodorkan sepotong ubi yang masih mengepul panas. Wajah konyolnya kembali muncul. "Sederhana saja, Nona. Kalau kau mati di sini, siapa yang mau membersihkan lumpur yang kau bawa ke dalam gua ini? Lagipula, mengubur mayat cantik itu melelahkan, lebih baik menyelamatkannya lalu disuruh cuci piring, kan?"
Li Wei menyela dengan nada yang lebih tenang. "Kau telah dikhianati oleh egomu sendiri, Mei Lian. Dan teman-temanmu... Si Buta Feng dan Iron Khan, mereka pergi tak lama setelah ledakan itu. Mereka melihat racun merahmu meluap dan mengira kau sudah hancur menjadi debu bersama kami. Mereka kembali ke kamp Gao Zhan untuk melaporkan kematianmu."
Mei Lian tertegun. "Mereka... meninggalkanku?"
"Ya," Satya mengangguk sambil mengunyah ubi. "Mereka lari seolah-olah melihat hantu. Ya, memang tidak bisa disalahkan sih, wajahmu saat marah tadi lebih seram daripada buto ijo penghuni Lawu."
Mei Lian menunduk, rambutnya menutupi wajahnya yang kini pucat. Sebagai algojo Teratai Hitam, ia diajarkan bahwa kegagalan berarti mati. Ia tidak pernah membayangkan akan berada dalam posisi di mana musuh yang ia hina justru menjadi orang yang memberinya kesempatan hidup kedua.
"Sekarang kau punya dua pilihan, Nona Teratai," ujar Satya dengan nada yang tiba-tiba berubah serius, meskipun mulutnya masih penuh ubi. "Pertama, kau bisa lari mengejar teman-temanmu dan bilang kalau kau masih hidup—tapi kau tahu Gao Zhan tidak suka kegagalan, kau hanya akan dihukum mati atau dijadikan kelinci percobaan racun berikutnya."
Satya berdiri, berjalan mendekati mulut gua yang terbuka, memperlihatkan pemandangan matahari terbit yang membelah kabut Gunung Lawu.
"Atau pilihan kedua," lanjut Satya, "tetap di sini, makan ubi ini sampai tenagamu pulih, dan bantu kami menghentikan bosmu yang gila itu. Aku butuh seseorang yang tahu seluk-beluk teknik Teratai Hitam agar Lawu tidak berubah jadi kuburan masal."
Mei Lian menatap ubi di tangannya, lalu menatap punggung Satya dan ketenangan Li Wei. Ia merasakan sisa energi hangat dari Toya Emas Satya yang masih tertinggal di nadinya—energi yang tulus, tanpa niat membunuh.
"Kau pikir... aku akan berkhianat pada organisasiku hanya karena sepotong ubi?" tanya Mei Lian sinis, namun matanya mulai berkaca-kaca.
"Bukan karena ubi," sahut Li Wei lembut. "Tapi karena di sini, untuk pertama kalinya, kau diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai senjata beracun."
Mei Lian terdiam lama, sebelum akhirnya menggigit ubi itu dengan perlahan. Air mata jatuh membasahi pipinya yang kini bersih dari lumpur.
"Ubinya... terlalu panas, dasar Sableng," isaknya kecil.
Satya tertawa lebar, tawanya menggema memenuhi gua. "Nah, begitu dong! Kalau nangis kan kelihatan aslinya. Ayo cepat habiskan, karena sebentar lagi, rombongan 'Tangan Besi' itu akan sampai di lereng bawah. Kita punya pesta besar yang harus disiapkan!"