Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Yang Aneh
Saat ini mereka berada di tempat itu, tempat yang tak mau mereka kunjungi namun takdir yang selalu membawa mereka kembali.
“Kenapa setiap kali ada kilatan dari langit kita pasti nemuin hal-hal aneh?”
Dania heran memikirkannya.
“Aku juga heran kenapa bisa begitu…”
“Terus setiap kali kita kembali ke masa lalu ataupun masa depan pasti dalam waktu yang berbeda, kadang maju dan kadang mundur.”
“Kalau terus dipikirin bisa sakit kepala kita.”
“Terus kita harus gimana?”
“Ya aku gak tau.”
“Udahlah, kita jalani ajah kehidupan kita disini.Ya… itung-itung liburan.”
“Lah, iya! Bener juga… kita kan lagi di China, artinya kita harus jalan-jalan!”
“Asikk jalan-jalan gratis gak perlu ngurus visa dan paspor.”
Mereka tidak mempermasalahkan kembalinya mereka ke masa lalu, justru mereka memanfaatkan situasi tersebut untuk berlibur secara gratis.
Mia dan Dania menghampiri Zhang Rui dan Zhang Lin yang sedang berlatih pedang. Melihat Mia dan Dania yang datang menghampiri, mereka lantas memutuskan untuk beristirahat dan menemui mereka berdua.
“Bagaimana? Apakah sudah baikkan?”
Zhang Lin bertanya.
“Kami sudah tak apa.”
“Syukurlah.”
Mereka duduk di tengah lapangan, cuaca sedang mendung jadi mereka dapat dengan santai duduk disana tanpa takut tersengat sinar matahari.
“Apakah perang sudah berakhir?”
Tanya Dania.
“Perang telah lama berakhir.”
Zhang Rui menjawab.
“Telah lama? Lalu, mengapa kala itu kalian berperang melawan musuh?”
“Itu bukan perang besar, kami hanya menumpas sisa-sisa prajurit musuh yang tertinggal.”
“Oh…ternyata begitu…”
“Ya, kurang lebih seperti itu.”
“Lalu, setelah ini kalian mau apa?”
“Kami akan pulang, setelah itu kami akan pergi ke perbatasan di utara.”
“Pulang?Apakah pulang ke rumah kalian?”
Dania penasaran.
“Ya.”
“Apakah rumah kalian berada dekat dengan istana kerajaan?”
“Hmm, bisa di katakan begitu. Jarak kediaman kami ke istana sekitar 15 menit jika menaiki kuda.”
Mendengar itu Mia dan Dania tampak senang.
“Mengapa kalian seperti senang sekali saat mengetahui kami akan pulang ke rumah?”
Zhang Lin heran.
“Apakah kami boleh ikut? Kami tak memiliki rumah disini.”
Mia bertanya.
“Hmm itu tergantung kakak ku.”
Zhang Lin menoleh ke arah Zhang Rui.
“Kalian boleh ikut, tapi kalian tak boleh membuat masalah untuk kami.”
“Baik!”
Zhang Rui setuju untuk membawa Mia dan Dania kembali ke tempat asalnya yaitu di wilayah Xinzhen. Waktunya telah tiba, Mia dan Dania ikut kereta kuda berisi perlengkapan perang. Awalnya Zhang Lin menyuruh mereka untuk menunggangi kuda bersama ia dan kakaknya, namun Mia dan Dania menolak. Mereka lebih nyaman duduk bersama dengan senjata.
Hari pertama mereka kembali, mereka melewati hamparan padang rumput yang indah dengan gunung tinggi di sekitarnya. Mia dan Dania tidak pernah melihat tempat seindah itu, mereka sampai turun dari kereta kuda dan berlari-lari disana.
“Kalian ini seperti tidak pernah melihat padang rumput.”
Zhang Lin menggelengkan kepala.
“Memang kami tidak pernah lihat.”
Di tempat Mia dan Dania tinggal tidak ada tempat yang seperti ini. Di dekat rumah Mia dan Dania hanya ada hamparan sawah dan bukit yang tidak terlalu tinggi itupun dipenuhi oleh pohon sawit.
Perjalanan mereka masih sangat panjang, butuh waktu 4 hari untuk sampai ke Xinzhen. Kala itu baru memasuki musim semi, ada banyak bunga bermekaran sepanjang jalan. Bunga-bunga dari pohon persik dan pohon sakura bermekaran sepanjang jalan.
“Berhentiii!”
Mia berteriak. Rombongan berhenti secara mendadak.Mia langsung turun dari kereta kuda.
“Ada apa?”
Zhang Rui bertanya.
“Aku mau melihat pohon sakura.”
“Aa? Pohon sakura?”
Mereka semua heran mendengar perkataan Mia. Namun, Dania juga ikut turun dari kereta. Mereka meloncat-loncat ingin menggapai bunga sakura namun mereka tidak dapat mencapai bunga tersebut karena terlalu tinggi. Zhang Lin menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah aneh kedua gadis itu.
“Sini aku ambilkan.”
Zhang Rui memetikkan bunga sakura untuk mereka berdua.
“Wah… ada untungnya kau tinggi.”
Mia tersenyum padanya.
“Sudah, ayo kita melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan kita masih cukup jauh.”
“Baik, jenderal!”
Mereka naik ke atas kereta barang lagi.Mia dan Dania sangat menikmati perjalanan mereka.
Setelah 4 hari perjalanan akhirnya mereka sampai di Xinzhen, ibukota kerajaan. Di gerbang kota seorang penjaga menghampiri mereka.
“Selamat datang jenderal!”
Zhang Rui berbicara sebentar dengan penjaga gerbang itu. Tak lama rombongan mereka dipersilahkan masuk ke dalam wilayah Xinzhen.
“Memang mirip kayak yang aku tonton di Drachin.”
Mia menoleh ke kanan dan kirinya. Dan ia sampai bengong, dia masih tak menyangka akan melihat wilayah kota pada saat dinasti Yong.
“Tanghulu!”
Dania menunjuk ke arah tanghulu yang dijual oleh pedagang di tepi jalan.
“Kau mau?”
Zhang Lin bertanya.
“Mau!”
Dania bersemangat.
“Aku juga mau.”
Mia menoleh ke arah Zhang Rui.
“Apa?”
Zhang Rui tidak peka.
“Minta uang, aku mau itu juga.”
Mia tersenyum padanya. Zhang Rui mengeluarkan uang dari saku bajunya.
“Ini.”
Mia sangat senang karena diberi uang oleh Zhang Rui.
“Mereka seperti anak kecil.”
Zhang Rui memperhatikan kedua gadis itu yang sedang memakan tanghulu.
“Ayo, cepat!”
Zhang Lin memanggil mereka untuk kembali.
“Baiklah!”
Mereka membeli apapun yang mereka inginkan.
Setelah beberapa lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di depan gerbang kediaman keluarga Zhang.
“Ayo, masuklah.”
Zhang Lin mempersilahkan mereka untuk masuk. Rumah itu sangat luas dan ada taman bunga di depan rumah. Rumah ini adalah tipe rumah idaman bagi Mia dan Dania.
“Rumah kalian bagus juga.”
Dania memuji.
“Tentu saja, yang merancang rumah kami adalah salah satu sarjana terbaik yang lulus 6 tahun lalu.Rumah ini memadukan keindahan dan gaya artistik.”
“Kau benar Zhang Lin, rumah ini memang sangat indah dan artistik.”
Mia memberikan jempolnya.
Saat tiba di dalam rumah ada keluarga yang menyambut kedatangan kedua putra mereka. Melihat Zhang Rui dan Zhang Lin membawa wanita kerumah ayah dan ibu Zhang Rui dan Zhang Lin menjadi penasaran.
“Siapa kedua nona cantik ini?”
Tanya nyonya Zhang.
“Ibu, mereka adalah teman kami. Nama mereka adalah Xiao Ning dan juga Lan Qiu.”
Nyonya Zhang tampak senang dengan kedatangan Mia dan juga Dania.
“Ayo, ayo kemari! Duduklah!”
Nyonya Zhang menyuruh mereka untuk duduk.
“Kalian berasal dari mana?”
“Kami…”
Dania bingung harus menjawab apa.
“Kami berasal dari wilayah pegunungan.”
Untung saja Mia pandai berbohong.
“Oh, wilayah pegunungan…hmm apakah kalian sudah menikah?”
“Belum, kami masih lajang.”
Mendengar itu nyonya Zhang sangat bahagia.
“Baguslah! Kalau begitu kalian menikah saja dengan anakku!”
“Eeee?!”
Mia dan Dania terkejut.
Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut nyonya Zhang ibu dari Zhang Rui dan Zhang Lin. Tampaknya nyonya Zhang sangat menginginkan anaknya untuk cepat menikah dan memiliki anak.