Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 Membalas Dengan Cara Serupa
Erlang Xuan muncul kembali di perpustakaan. Kepalanya Kepalanya pusing dan mata jiwanya tidak aktif selama beberapa menit. Setelah keadaannya membaik, ia meninggalkan perpustakaan klan.
"Akupuntur bintang suci!" Erlang Xuan menyebutkan nama teknik akupuntur yang tertulis di buku kuno. Teknik itu tertulis diingatannya, lengkap dengan titik akupuntur utama di tubuh manusia.
"Hm!" Ia berhenti di atas salah satu bangunan. Keningnya berkerut, dan matanya menyipit. Aura membunuh dapat dirasakannya dengan jelas, seolah dirinyalah target pembunuhan itu.
"Menarik!" Sudut bibirnya terangkat. Ia mengeluarkan sebuah belati dan melemparnya ke utara. Tak beberapa lama, teriakan kesakitan terdengar samar.
"Sudah kuduga!" Ia melesat ke sumber teriakan itu. Di sana, seseorang tergeletak tak bernyawa, dan disebelahnya terdapat sebuah lencana hitam dengan ukiran naga hitam.
"Naga hitam!" Lencana itu disimpan, dan sebuah dilempar ke belakang. Tak sampai semenit, satu orang tumbang, meski masih bernapas dan matanya belum terpejam.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanyanya yang dibalas dengan senyum sinis oleh pembunuh itu.
"Sepertinya kau lebih suka cara yang menyakitkan!" Erlang Xuan menyuntikkan kekuatan jiwanya ke kepala pembunuh itu. Tak beberapa lama, pembunuh. Tersebut berteriak kesakitan.
"Ternyata dia!" Ia menarik kembali kekuatan jiwanya dan menghabisi pembunuh itu. Selain mereka berdua, ada 10 orang lagi yang ditugaskan untuk membunuhnya.
"Jia Mei, sepertinya kamu belum kapok juga!" Pemuda itu meninggalkan wilayah klan Erlang. Beberapa saat kemudian, ia tiba ditempat pembunuh itu muncul pertama kali. Di sana, beberapa pembunuh bertopeng langsung menghadangnya.
Traaaanngggg
Sreeeekk
Denting logam terdengar. Suara itu diikuti dengan darah yang menyembur ke mana-mana. Dalam waktu singkat, 5 pembunuh ranah suci mati di tangannya. Sekarang, yang harus dihabisi adalah 3 orang pembunuh dengan kultivasi ranah raja.
"Tanpa suara tanpa peringatan. Pantas saja Nona Jia membencimu," ucap seorang pemuda. Dialah pembunuh ranah raja itu. Usianya baru 19 tahun, tapi aura membunuhnya sangat pekat.
"Sebelum masuk, langkahi dulu mayatku!" Pemuda itu menghunus pedangnya.
"Dengan senang hati!" Erlang Shen menyalurkan elemen es ke pedangnya. Tanpa basa-basi, ia menyerang pemuda itu.
Traang
Traangg
Dua pedang berbenturan. Benturan kedua pedang tersebut menciptakan suara yang memekakkan telinga. Sesekali, jarum-jarum es jatuh ke halaman paviliun yang megah.
Slasssshh
Dhuaaarrrrrr
Ledakan terdengar saat dua tebasan bertabrakan. Ledakan tersebut menyebabkan pemuda itu terjatuh dan menghantam tanah, sementara Erlang Xuan melayang di udara, tidak terluka sama sekali.
"Kultivasi tinggi, tapi pondasi lemah!" Erlang Xuan mencibir.
"Kurang ajar!" Pemuda itu geram. Ia menggenggam pedangnya dan mengeluarkan Qi yang sangat kuat.
"Qi langit!" Erlang Xuan mengernyit heran. Qi langit adalah salah satu Qi istimewa yang hanya dimiliki oleh orang-orang dengan tubuh kaisar. Meski tidak punya elemen, tapi pemilik Qi langit setara dengan pengguna elemen.
"Kamu yang memintanya!"
Qi Langit berkumpul dan membentuk puluhan pedang Qi. Pedang tersebut melesat ke arah Erlang Xuan dengan sangat cepat. Di detik berikutnya, ledakan keras terdengar berkali-kali.
Swuuuussss
Slasssshh
Sreeeekk
Lengan kiri pemuda terpotong. Meskipun demikian, ia tetap tenang, tidak panik atau kesakitan. Justru bibirnya membentuk senyum merendahkan.
"Apakah kemampuanmu hanya seperti ini?" Pemuda itu memprovokasi.
Erlang Xuan tak menanggapi. Ia hanya melihat pemuda itu sambil tersenyum. Mungkin pengguna elemen bawaan bisa dikalahkan dengan mudah, tapi dirinya tidak memiliki elemen bawaan. Semua elemennya di dapat dan diserap langsung dari sumbernya.
"Waktumu habis!" Ia di depan pemuda itu. Di saat yang sama, tubuh pemuda tersebut menua dengan cara tak wajar.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Sayang sekali aku bukan pengguna elemen bawaan. Jadi, Qi-mu tidak berguna." Jawaban itu tak menghilangkan rasa penasarannya. Ia ingin bertanya, tapi jiwa sudah hancur dan menjadi butiran cahaya.
"Aku penasaran siapa yang tinggal di sini!Erlang Xuan memasuki paviliun megah tanpa halangan. Tepat di depan salah satu kamar, ia mendengar suara seseorang yang membuatnya jijik. Apa lagi mata jiwanya menembus pintu dan melihat siapa yang bermain di ruangan itu.
"Menjijikkan!" Ia membuang muka. Adik perempuannya, Jia Mei yang usianya baru 17 tahun sedang melakukan kegiatan panas dengan seseorang.
"Sepertinya kau sudah ahli, perempuan rendahan!" katanya dengan tangan mengepal.
"Alasan ini bisa kugunakan untuk membunuhmu!" Sudut bibirnya terangkat. Seperti hantu, ia masuk menembus pintu dan memasuki kamar itu. Tentu saja kedatangannya tidak disadari oleh dua orang yang sedang mabuk asmara.
"Sekalian saja kalian seperti itu selamanya!" Erlang Xuan mengeluarkan serbuk berwarna biru. Ia memunculkan angin dan mengarahkan serbuk itu ke orang yang lagi panas. Saat serbuk tersebut menyentuh kulit keduanya, terjadi sesuatu yang membuat dua orang itu terkejut.
"Ada apa, sayang?" tanya Jia Mei.
"Pusakaku tersangkut, tidak bisa dikeluarkan, sayang!"
Jawaban itu membuat Jia Mei terkejut. Apa lagi, ia merasakan perih di area terlarangnya. Di sisi lain, kondisi keduanya membuat Erlang Xuan menahan tawanya.
"Kan jadi lengket!" ledeknya.
"Setelah 10 hari, baru bisa dikeluarkan. Setelah itu, aku pastikan punyamu akan kesakitan!" Erlang Xuan tak bisa lagi menahan tawanya. Ia begitu puas melihat penderita pasangan haram itu.
"Sebentar lagi, kita akan menikah. Apa salahnya bersenang-senang!" Jia Mei protes.
"Kupikir tekanan itu membuatmu merenung. Ternyata kamu semakin menjadi-jadi. Belum genap sehari, kamu sudah berbuat ulah." Tatapan Erlang Xuan berubah menjadi dingin.
"Lukamu belum sembuh, tapi kau sudah bercinta dengan tunanganmu!" lanjutnya.
"Kak, kumohon bantu kami! Akkh, sakit sekali, Kak!" Jia Mei memohon. Tentu saja
"Kamu suka seperti itu, kan? Jadi, nikmatilah! Paling cuma 2 atau 3 hari," jelasnya dengan wajah datar tanpa rasa kasihan sama sekali.
"Kak ja—" Sebelum Jia Mei mengatakan sesuatu, racun aneh membuatnya terlena. Keduanya melanjutkan kegiatan mereka dalam keadaan tidak sadar sama sekali.
"Aku berbohong! Setelah dua hari, kedua barang kalian tidak akan bisa dipisahkan!" Erlang Xuan tertawa renyah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi adik perempuannya setelah sadar.
Sementara itu, tanpa dia sadari, Jianxue sedang mengawasinya dari balik bayangan. Gadis itu hanya geleng-geleng kepala melihat perbuatan kakaknya. Entah kenapa, bulu kuduknya merinding saat membayangkan kondisi Jianxue dan pasangannya.
"Terlalu menakutkan!" katanya.
"Sepertinya akan ada pertunjukan menarik 2 hari lagi!"
Dua hari kemudian, Erlang Xuan kembali menemui adiknya. Kedatangannya disambut dengan tangis dan permohonan Jia Mei. Barang mereka tidak bisa dilepas, dan perempuan itu sudah sangat kesakitan.
Erlang Xuan menyelimuti keduanya dengan sinar yang panas. Meski terpisah, tapi keduanya disiksa oleh panas dari sinar itu.
"Tiga tahun lalu, kamu memberiku pil matahari biru. Kau sengaja mengurungku bersama dengan gadis lain. Malam itu, aku tersiksa, sementara kamu tertawa tanpa rasa bersalah."
Wajah Erlang Xuan memerah karena marah. Sampai sekarang, kejadian itu tidak bisa dilupakan. Selama semalaman, ia mengikat dirinya sendiri dan menahan siksaan dari pil itu. Alasannya hanya satu, tidak ingin menodai gadis tak bersalah. Kejadian itu hampir saja membunuhnya. Untungnya gadis itu memberinya pil penawar.