NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Fitnah

Kekalahan beruntun yang dialami Maya di rumah—mulai dari pembelaan Vian hingga perubahan sikap Raka yang drastis—membuat gadis itu kehilangan akal sehatnya. Baginya, Safira adalah parasit yang perlahan meracuni kebahagiaannya. Jika di rumah Safira mulai mendapatkan perlindungan, maka di sekolah, Maya harus memastikan Safira hancur berkeping-keping hingga tidak ada lagi tempat bagi kakaknya itu untuk berpijak.

"Pokoknya, gue nggak mau tau. Safira harus keluar dari sekolah ini dengan cara yang paling memalukan," desis Maya di dalam toilet sekolah, berbicara kepada dua teman setianya, Sarah dan laras.

"Tapi May, dia sekarang deket sama Abian Byakta . Kalau kita macam-macam, gimana?" tanya Laras ragu.

Maya tersenyum licik, matanya berkilat penuh dendam. "Justru itu. Kita akan buat dia terlihat seperti wanita murahan yang mendekati Abian demi uang. Dan lebih dari itu, aku sudah menyiapkan 'hadiah' di tasnya."

Jam istirahat kedua adalah saat di mana gedung sekolah sedang riuh-riuhnya. Safira sedang berada di perpustakaan bersama Calista, namun tasnya ia tinggalkan di dalam loker kelas yang tidak terkunci rapat. Saat itulah, Laras menyelinap masuk dan memasukkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai dalam jumlah besar dan sebuah kalung berlian milik Maya yang sangat dikenal oleh seluruh siswa.

Beberapa menit kemudian, teriakan histeris Maya menggema di koridor kelas 11.

"Kalungku hilang! Kalung pemberian Papa untuk ulang tahunku hilang!" tangis Maya pecah, menarik perhatian puluhan siswa dan beberapa guru yang sedang lewat.

Raka yang kebetulan sedang berada di lantai yang sama bersama Bima segera menghampiri kerumunan itu. "Ada apa ini, Maya? Kenapa teriak-teriak?"

"Kak Raka... kalung berlianku hilang dari kotak perhiasan yang aku bawa buat latihan drama tadi," isak Maya sambil memeluk lengan Raka. "Itu kalung mahal, Kak. Papa bakal marah banget."

"Siapa yang masuk ke kelas terakhir?" tanya Bima dengan nada menyelidik.

"Tadi... aku lihat Safira masuk ke kelas sendirian saat kita semua di kantin," sahut Sarah dengan nada yang dibuat seolah-olah ragu namun meyakinkan.

Wajah Raka menegang. Ia ingin membantah, tapi tuduhan itu mengarah langsung pada adiknya. Di sisi lain, Safira yang baru saja kembali dari perpustakaan bersama Calista, tertegun melihat kerumunan di depan kelasnya.

"Ada apa ini?" tanya Safira dingin.

"Safira, Maya kehilangan kalung berliannya. Sarah bilang kamu masuk ke kelas sendirian tadi," ucap Bima dengan tatapan yang sulit diartikan.

Safira menaikkan sebelah alisnya. "Lalu? Kalian menuduhku mencurinya?"

"Coba periksa tasnya saja, Pak Guru! Biar adil," seru salah satu siswa yang terhasut provokasi Sarah.

Seorang guru kesiswaan yang sudah ada di sana mengangguk. "Safira, demi membersihkan namamu, tolong buka tasmu."

Safira hanya diam, ia memberikan tasnya dengan tenang. Namun, di dalam hatinya ia sudah tahu apa yang sedang terjadi. Ia menatap Maya yang sedang menyembunyikan senyum kemenangan di balik isak tangisnya.

Guru itu membuka tas Safira dan mengeluarkan isinya. Di dasar tas, terjatuh sebuah amplop cokelat tebal berisi uang puluhan juta rupiah dan... sebuah kalung berlian yang berkilau.

"Astaga! Jadi beneran kakaknya sendiri yang maling?" bisik-bisik siswa mulai memanas.

"Safira, jelaskan ini!" bentak Raga yang entah sejak kapan sudah sampai di sekolah karena dihubungi oleh pihak kesiswaan. Rupanya rencana Maya sudah sangat matang hingga melibatkan sang ayah.

Raga menatap Safira dengan amarah yang meluap. "Sudah jadi wanita simpanan Abian Byakta , sekarang kamu jadi pencuri juga? Apa uang dari Abian tidak cukup?!"

PLAK!

Suara tamparan itu tidak terdengar. Tangan Raga tertahan di udara oleh sebuah cengkeraman yang sangat kuat. Bukan Raka, bukan Bima.

Vian.

Vian berdiri di depan Safira, mencengkeram tangan ayahnya dengan wajah yang memerah karena marah. "Cukup, Pa! Jangan pernah sentuh Kak Fira lagi!"

"Vian! Kamu bela pencuri ini?!" teriak Raga.

"Pencuri?" Vian tertawa sinis. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku. "Papa mau liat siapa pencuri sebenernya?"

Vian menyalakan sebuah video di ponselnya. Seluruh kerumunan, termasuk Raka dan para guru, mendekat. Video itu memperlihatkan rekaman dari sebuah kamera tersembunyi berukuran mikro yang ternyata dipasang Vian di sudut kelas sejak pagi tadi—setelah ia melihat gelagat aneh Maya dan gengnya.

Di dalam video itu, terlihat jelas Laras masuk ke kelas, membuka tas Safira, dan memasukkan amplop serta kalung tersebut sambil tertawa kecil.

Suasana mendadak senyap. Wajah Maya menjadi sepucat kertas. Sarah dan Laras gemetar ketakutan.

"Aku sengaja pasang kamera itu karena aku tahu kalian bakal berbuat jahat lagi sama Kak Fira," ucap Vian dengan suara lantang. Ia menatap Maya dengan tatapan jijik. "Lo jahat, Maya. Lo bener-bener iblis berwajah malaikat."

Raka yang melihat video itu merasa dunianya berputar. Ia menoleh pada Maya, lalu pada ayahnya yang kini tampak bodoh dengan tangan yang masih menggantung di udara.

"Papa dengar itu?" tanya Raka dengan suara rendah yang mengancam. "Papa hampir menampar putri kandung Papa sendiri karena fitnah murahan ini. Apa Papa masih mau membela Maya?"

Raga terdiam, lidahnya kelu. Ia menatap kalung berlian di tangan guru itu, lalu menatap Safira yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu kata pun. Safira hanya menatap mereka semua dengan tatapan kosong, seolah semua drama ini tidak ada artinya baginya.

"Safira... Papa..."

"Jangan sebut namaku dengan mulut itu," potong Safira tajam. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat bulu kuduk semua orang berdiri. "Hari ini, di depan semua orang, aku ingin menyatakan satu hal. Aku, Safira Kirana, melepaskan nama belakang Maheswara."

Seluruh siswa terkesiap. Raga membelalak. "Apa kamu bilang?!"

"Mulai detik ini, aku bukan lagi bagian dari kalian. Kalian bisa memiliki rumah itu, harta itu, dan semua kepalsuan itu. Aku tidak butuh apa pun dari keluarga yang lebih buruk daripada sarang ular," ucap Safira.

Ia mengambil tasnya dari tangan guru, lalu berjalan melewati Raga tanpa menoleh sedikit pun. Vian segera mengikuti di belakangnya. "Gue ikut lo, Kak! Gue nggak mau tinggal sama orang-orang munafik!"

"Vian! Kembali!" teriak Ratih yang baru saja sampai dan melihat kekacauan itu.

Namun Vian tidak peduli. Ia terus berjalan di samping Safira.

Di luar gerbang sekolah, mobil Abian Byakta sudah menunggu. Abian bersandar di mobilnya, seolah ia sudah memprediksi bahwa Safira akan keluar dari sekolah ini hari ini juga.

Melihat Safira keluar bersama Vian, Abian segera melangkah maju. Ia melihat jejak ketegangan di wajah Safira, meski gadis itu mencoba menyembunyikannya.

"Kau sudah melakukannya?" tanya Abian lembut.

Safira mengangguk. "Aku sudah membuang nama itu, Abian ."

Abian tersenyum, sebuah senyuman penuh kebanggaan. Ia membukakan pintu mobil untuk Safira dan Vian. "Kalau begitu, selamat datang di duniamu yang baru, Safira. Dunia di mana kau adalah ratunya sendiri."

Dari kejauhan, Raka dan Bima berdiri di gerbang sekolah, menatap mobil mewah itu membawa adik-adik mereka pergi. Mereka merasa seolah-olah separuh dari jiwa mereka telah hilang. Penyesalan yang mereka rasakan sekarang bukan lagi sekadar rasa bersalah, melainkan rasa kehilangan yang permanen.

"Kita benar-benar sudah menghancurkan semuanya, Bim," bisik Raka dengan suara patah.

Bima tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap aspal jalanan, menyadari bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi suara lembut Safira yang mencari perhatian mereka, tidak akan ada lagi gadis yang mereka abaikan. Safira telah terbang tinggi, jauh dari jangkauan tangan-tangan yang pernah menyakitinya.

Di dalam mobil, Vian menatap Safira. "Kak, kita mau ke mana?"

Safira menatap ke luar jendela, melihat gedung sekolah yang perlahan menghilang. "Ke tempat di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri, Vian. Tanpa bayang-bayang mereka."

Abian yang menyetir sesekali melirik Safira lewat spion tengah. "Aku sudah menyiapkan apartemen untuk kalian berdua. Dan Vian, aku sudah mengatur perpindahan sekolahmu ke sekolah yang lebih baik."

"Makasih, Bang Abian ," ucap Vian dengan rasa hormat yang tulus.

Safira memejamkan matanya sejenak. Ia merasa beban berat di pundaknya selama bertahun-tahun akhirnya terangkat. Ini adalah babak baru. Tanpa dendam yang direncanakan, ia justru menghancurkan keluarganya hanya dengan cara menjadi dirinya yang kuat.

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

1
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!