Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjara cinta
Di dalam kamar hotel, Risma menangis sampai sesenggukan, Risma duduk di atas ranjang sambil melipat kedua kakinya dan menumpukan kepala di atas lututnya tersebut. Risma merasa sangat kecewa.
'Ternyata orang tua yang menemuiku di toko dulu adalah orangtuanya Mas Dafa,' batin Risma.
"Sekarang tidak ada gunanya aku di sni, sebaiknya aku pulang saja. Setidaknya di Kota S aku bisa melakukan sesuatu," gumam Risma di sela-sela tangisannya.
Risma pun beranjak dari ranjang dan mengeluarkan kopernya untuk membereskan barang-barangnya, di lihatnya ponsel yang sedari tadi berbunyi. Namun di abaikannya karena tahu siapa yang menelpon dirinya.
Setelah selesai berkemas, Risma menelpon resepsionis untuk memesankan taksi untuknya.
"Maaf, Nona Muda kami tidak bisa memesankan taksi untuk Anda," kata resepsiaonis yang menerima teleponnya.
"Apa maksudnya?" Risma terkejut mendengar kata resepsionis tadi.
"Jika Nona Muda sampai 1 keluar dari hotel ini, taruhannya pekerjaan kami, Nona Muda. Kami semua akan di pecat. Jadi mohon maaf saya tidak bisa membantu," ujar resepsionis itu kembali.
"Huufftt, baiklah. Kalau kalian tidak bisa bantu, aku bisa cari sendiri," kata Risma dengam geram.
Risma langsung menutup telponnya. Risma tampak sangat kesal. Karena Risma tahu itu ulah siapa.
"Mas Dafa benar-benar licik," kata Risma sambil membanting tubuhnya ke kasur. Air matanya kembali meluruh di pipi lembutnya.
"Apa dia benar-benar akan mengurungku di sini?" gumam Risma.
Karena terlalu lama menangis, Risma pun tertidur pulas. Hingga dia tidak menyadari kedatangan Dafa.
Dafa yang baru datang melihat pemandangan koper dan barang-barang milik Risma lainnya yang sudah selesai di packing dengan rapi di samping ranjang.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Sweety, tidak akan pernah," gumam Dafa.
Lalu dia berbaring di samping Risma perlahan karena Dafa tidak ingin membangunkan Risma. Dafa mengecup kening Risma cukup lama dan mengelus-elus pucuk rambutnya.
'Maafkan aku, Sweety. Bukan maksud aku menyakiti kamu. Aku hanya tidak sanggup kehilangan kamu,' batin Dafa.
Risma menggeliatkan tubuhnya dan berganti posisi tidur, Dafa dapat melihat dengan jelas wajah istrinya yang kini menghadap ke arahnya. Dilihatnya sisa-sisa air mata yang sudah mengering di pipi Risma, perlahan Dafa mengusap pipi Risma.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Tidak terasa cukup lama Risma tertidur. Kini, dia terbangun karena merasa lapar. Ketika akan beranjak bangun Risma terkejut melihat Dafa tidur di sampingnya dengan memeluknya.
'Kok Mas Dafa ada di sni? Perasaan tadi udah aku kunci pintunya,' batin Risma.
Perlahan-lahan Risma berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Dafa, setelah berhasil, Risma pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelah itu Risma berniat keluar untuk membeli makanan.
"Selamat malam Nona Muda," sapa seseorang.
Deg.. deg ... deg...
Risma sangat terkejut mendengar ada orang menyapanya.
"Ka.. ka..ka.. kalian ngapain ada disni?" tanya Risma tergagap.
"Kami bertugas memastikan keamanan Anda, Nona Muda," jawab laki-laki yang memakai jas hitam tadi.
"Aku baik-baik saja. Kalau perlu mengawasi, awasi saja boss kalian yang gila itu," sewot Risma. Dan Risma pun beranjak pergi meninggalkan bodyguard suruhan Dafa.
Ketika baru beberapa langkah Risma merasa di ikuti oleh seseorang dan Risma pun menoleh ke belakang, dan benar saja salah satu budyguard tadi mengikutinya.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Risma.
"Ini sudah jadi tugas saya, Nona," jawab orang yang mengikuti Risma tadi.
"Aku hanya pergi cari makan, tidak bisakah kamu tidak mengikutiku?" tanya Risma kembali.
"Maaf, Nona, saya tidak bisa melalaikan tugas," jawab orang itu lagi.
Dengan langkah yang penuh dengan kekesalan, Risma pergi keluar hotel untuk mencari makan. Dan di luar dugaan ternyata begitu banyak bodyguard suruhan Dafa mengikuti langkah kakinya ketika Risma sudah di luar hotel.
Risma tidak dapat berbuat apa-apa, setelah membeli makan dan di bungkus, dia kembali lagi ke kamarnya.
Di lihatnya Dafa sudah bangun dan baru selesai mandi. Dafa duduk sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
Jangan di tanya kenapa Dafa setenang itu ketika tidak melihat Risma di sampingnya setelah dia bangun. Karena dia sudah menginstruksikan pada semua bodyguardnya untuk terus mengawal kemana Risma melangkah. Dan terbukti bodyguardnya selalu menuruti perintahnya.
"Kamu beli apa, Sweety?" tanya Dafa seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Risma hanya diam tidak menjawab pertanyaan Dafa, bahkan Risma menyiapkan piring untuk menuangkan makanan yang baru dia beli. Dan mengambil gelas serta minuman.
"Makan lah," kata Risma menyodorkan piring yang berisi nasi goreng tersebut ke arah Dafa. Dafa tahu kalau sekarang Risma sedang marah.
Risma memilih duduk di kursi balkon untuk menikmati nasi gorengnya. Setelah habis, dia berniat masuk ke kamar mandi. Karena memang tadi Risma belum mandi.
Dafa merasa kesal karena Risma mengabaikannya. Tak kurang akal Dafa pun mengikuti Risma untuk masuk ke kamar mandi.
"Mau ngapain?" tanya Risma dengan juteknya.
"Nemenin kamu," kata Dafa dengan santainya.
"Idih, sana, sana," kata Risma sambil mendorong tubuh Dafa keluar kamar mandi dan langsung mengunci pintu kamar mandi.
Dafa tersenyum melihat Risma yang tampak kesal karena ulahnya tersebut.
Kini dia menikmati nasi goreng pemberian Risma sambil menunggu Risma selesai mandi.
Setelah selesai makan, Dafa membuka laptopnya untuk melihat-lihat email masuk. Dan benar saja ada beberapa email masuk dari Ryo. Dafa membuka satu persatu email Ryo itu.
"Kinerjamu selalu membuat aku puas, Yo," gumam Dafa setelah melihat apa isi email dari Ryo.
Tuuuutt... tuuutt..
Dafa menelpon Ryo, setelah dua kali berdering terdengar suara Ryo di seberang sana.
"Temukan wanita liar itu gimana pun caranya. Jangan memberi celah sedikitpun buat dia!" perintah Dafa.
"Aku mengerti," jawab Ryo.
Lalu Dafa mematikan telponnya. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, pertanda Risma sudah selesai mandi. Dafa terus melihat ke arah Risma yang sudah berpakaian baju piyama tersebut dengan senyum terbaiknya.
"Ke sini lah aku ingin bicara," kata Dafa sambil menepuk kasur di sampingnya, menyuruh Risma untuk duduk di situ.
Tanpa menjawab, Risma duduk di samping Dafa, sambil bersandar ke dinding ranjang tersebut.
"Sebenarnya tadi yang kamu lihat di mall itu tidak sepenuhnya benar. Aku janjian ketemu dengan Luna itu untuk membicarakan soal pembatalan perjodohan..." kata Dafa. Dia menjeda kalimatnya untuk melihat ke arah Risma, ingin melihat bagaimana reaksi Risma.
Setelah tidak mendapat tanggapan apa-apa, Dafa mencoba untuk melanjutkan ceritanya kembali. Tangannya meraih tangan Risma dan menggenggam jari jemarinya.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku, Sweety. Aku hanya memberikan penjelasan yang harus kamu pahami. Memang sedikit rumit, karena orangtua Luna sedang berada di luar negeri. Oleh karena itu Papi dan Mommy belum bicara dengan keluarga besar kami," jelas Dafa panjang lebar.
Risma masih tetap diam tanpa kata, entah kemana arah pikirannya saat ini. Risma bingung harus melakukan apa. Mau percaya dengan Dafa, sangat sulit untuknya saat ini. Mau pergi dari tempat ini juga tidak mungkin karena pengawal Dafa ada di mana-mana dan terus mengawasinya.
Bersambung.
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭