Surat keterangan infertil dari rumah sakit, membuat hidup Anyelir seketika hancur. Tidak ada kebanggaan lagi pada dirinya karena kekurangan tersebut. Namun sebuah kesalahan semalam bersama atasannya, membuat dia hamil. Mungkinkah seorang wanita yang sudah dinyatakan mandul, bisa punya anak? Atau ada sebuah kesalahan dari surat keterangan rumah sakit tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATM BAB 2
Robby menghela nafas berat melihat Anye meringkuk di atas ranjang. Bahunya tampak berguncang, jadi meski tanpa melihat wajahnya, dia tahu jika istrinya tersebut sedang menangis. Ia berjalan ke arah Anye, duduk di sisi ranjang, mengalus kepala sang istri. "Gak usah dengerin ucapan Mbak Ririn."
"Gimana mau gak didengerin, Mas, ngomongnya di depan aku," sahut Anye di sela-sela isakannya. "Dia itu kayak sengaja."
"Ya maksud Mas, jangan dimasukin hati. Mas gak akan nikah lagi kok. Mas bakalan setia sama kamu."
Anye sudah sangat sering mendengar kalimat seperti itu dari mulut suaminya, tapi tetap saja, kalimat tersebut tidak bisa membuat hatinya tenang. Ia takut suaminya itu tidak akan bisa terus bertahan dengan kesetiaan jika ibu dan kedua saudara perempuannya terus mendorongnya untuk menikah lagi. Ya Allah, sebenarnya dosa besar apa yang telah ia lakukan hingga diberi ketetapan seperti ini, tanya Anye dalam hati.
"Sayang, gimana kalau kita adopsi anak?" ujar Robby.
"A-adopsi?" Anye ingin memastikan suaminya tak salah ucap.
"Iya, benar, adopsi. Kita bisa mengadopsi bayi dari panti asuhan."
Ucapan Robby membawa angin segar untuk Anye, dia menyeka air mata lalu bangun. "Kamu yakin, Mas, mau mengadopsi anak?"
Robby mengangguk sambil tersenyum. "Salah satu orang di kantor, ada yang sudah menikah 8 tahun tapi belum diberi keturunan, mereka lalu mengadopsi anak dari panti asuhan. Prosedurnya emang sedikit lebih ribet ketimbang langsung ngambil anak dari seseorang untuk diasuh, tapi status hukumnya jelas kalau dari panti."
Anye mengangguk cepat. "Aku setuju, Mas." Setidaknya meski mandul, dia bisa merasakan menjadi seorang ibu dengan mengadopsi anak. Tahun ini, pernikahannya dengan Robby sudah menginjak tahun ke 4, sepertinya memang sudah saatnya mereka mengadopsi anak.
"Ya udah, tidur yuk, Mas capek banget," Robby memijat pundaknya yang terasa pegal karena seharian ini banyak sekali yang harus dia urus. Ayahnya sudah meninggal, menjadikan dia yang merupakan anak laki-laki satu-satunya, menggantikan peran alm. ayahnya.
"Mau aku pijatin?"
"Gak usah. Mas tahu kamu capek juga seharian ini."
Ngomongin capek seharian, Anye jadi keingat kejadian saat dia diabaikan tadi, tidak diajak untuk keluar menyambut tamu. Seketika, senyum di wajahnya musnah, berganti dengan ekspresi kesal.
"Maaf ya, tadi kamu gak Mas ajak keluar. Kata Ibu pekerjaan di dapur belum selesai, jadi kamu gak bisa pergi begitu aja, takut malah hidangan buat tamu gak siap. Tenang aja, nanti pas nikahan Raisa, di gedung kok, semua sudah terima beres, WO yang menangani, jadi gak akan merepotkan kamu kayak tadi."
"Halah alasan kamu aja, Mas. Bilang aja biar kamu bisa bebas PDKT dengan yang namanya Sera itu."
"Apaan sih, Nye, jangan mulai deh. Kalau emang Mas mau nikah lagi, udah sejak setahun yang lalu, saat keluar hasil tes yang menyatakan kamu tidak subur, Mas langsung nyari calon istri. Buktinya apa, Mas tetap setia sama kamu. Mas itu cinta banget sama kamu, Nye."
Wanita mana yang gak baper mendengar ucapan cinta dari suaminya, begitu pun dengan Anye. Dia luluh setiap kali Robby menyatakan cinta. Ia langsung memeluk suaminya tersebut dan mengecup pipinya, lupa akan rasa marahnya.
...----------------...
Pagi hari, Bu Dini yang baru kembali dari pasar, mengerutkan kening saat melihat putranya tengah bersiul sambil mengelap mobil. Bukan karena mengelap mobil apalagi bersiul yang membuat dia merasa aneh, melainkan melihat putranya tersebut sudah rapi pagi-pagi begini di saat hari libur kerja.
"Tumben pagi-pagi sudah rapi," Bu Dini tak bisa menahan diri untuk bertanya. Dia melipir dulu ke rumah Robby sebelum pulang untuk meletakkan barang belanjaan. "Mau jalan-jalan ya, ibu ikut dong?"
"Em... " Robby menggaruk kepala yang sejatinya tidak gatal.
"Kamu ini kenapa sih, Rob, gak boleh ibu ikut?" wanita paruh baya tersebut merengut. "Pasti gak dibolehin sama Anye ya?" dia bicara lumayan kencang agar Anye yang ada di dalam rumah bisa mendengar.
"Apaan sih, Bu, gak seperti itu," sanggah Robby.
"Lalu?"
Robby ragu untuk mengatakan, takut ibunya tidak setuju.
"Mas, sarapan dulu," disaat bersamaan, Anye keluar dari rumah. Mood yang tadinya bagus, mendadak buruk melihat ibu mertua ada di halaman bersama suaminya. Beban banget memang, punya rumah bersebelahan dengan mertua. Tapi mau bagaimana lagi, Robby sudah terlanjur membangun rumah di tanah warisan ayahnya tersebut bahkan sebelum mereka menikah.
Bu Dini memperhatikan Anyelir yang juga sudah berpakaian rapi. "Ibu gak ditawari sarapan?" ucapnya dengan nada menyindir.
"Ayo, Bu, masuk, kita sarapan bareng." Sebenarnya dengan agak berat juga Anye mengatakan itu. Dia masuk terlebih dulu untuk menyiapkan satu piring lagi karena mertuanya ikut sarapan, tak lama kemudian, Robby dan Bu Dini menyusul ke meja makan.
"Kalian mau kemana sih, pagi-pagi sudah rapi?" Bu Dini kembali bertanya.
Anye yang sedang mengambilkan makanan untuk Robby, menatap suaminya itu.
"Dih, malah sama-sama diam," Bu Dini jadi curiga karena tak ada satu pun dari keduanya yang mau menjawab pertanyaan gampang tersebut.
"Em.... kami mau ke panti asuhan, Bu," sahut Robby.
"Ya elah, sok kaya banget mau nyumbang panti asuhan," Bu Dini memutar kedua bola matanya malas. "Baru juga beberapa bulan kamu naik jabatan jadi manager, Rob, udah mau sok sok jadi donatur. Noh, Raisa butuh dana banyak buat nikah, mending kamu nyumbang dia aja."
Anye menghela nafas panjang, kemudian duduk setelah meletakkan piring berisi makanan ke depan Robby.
"Kami mau mengadopsi anak, Bu."
Ucapan Robby membuat mata Bu Dini langsung terbeliak lebar dan mulutnya menganga.
sebenarnya robby suami yang baik dan bertanggung jawab, tapi karena kebohongannya yang menjadikan posisi anye jadi bulan2nan hinaan keluarga robby, sedang robby sebagai suami selama ini juga lemahhh...tak tegas dalam melindungi istrinya dan sekarang saat anye minta cerai, robby ingin bertahan...kebohonganmu yang akan membuat anye pergi darimu Rob...