NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.20

Setelah selesai mandi dan sarapan, Juned kembali merekam dengan ponselnya untuk membuat konten.

“Ini angle dapur bagus banget!”

Tidak ada yang sempat menegurnya karena pada detik berikutnya, sesuatu yang jauh lebih penting terjadi. Bunyi BIP dari alat milik Moren mendadak berhenti dan hening jatuh seperti benda berat yang dilempar ke lantai. Senter yang sejak tadi berkedip liar, kini menyala stabil. Terlalu stabil. Cahayanya putih, dingin, dan tepat mengarah ke sudut dapur, ke arah rak piring tua yang sejak awal kedatangan tidak pernah benar-benar mereka sentuh.

“Kenapa berhenti?” bisik Susi dari atas kursi.

Moren menelan ludah.

“Harusnya… kalau berhenti, berarti….”

“BERARTI APA?!” teriak Paijo.

“Berarti sumbernya… dekat.”

Tidak ada yang bergerak, bahkan napas pun terdengar terlalu keras. Anang perlahan menoleh ke arah rak piring itu, wajahnya pucat seperti mie yang dimasaknya pagi tadi.

“Rak itu…,” katanya pelan. “Dari kemarin… piringnya selalu beda posisi.”

Semua langsung menoleh padanya.

“KENAPA BARU NGOMONG SEKARANG?!”

“Aku kira aku capek!”

“ITU BUKAN CAPEK, ITU INTUISI!”

Bodat maju selangkah, sapu masih di tangan. “Moren. Arahkan ke situ.”

Moren menggeleng cepat.

“Kalau alatnya rusak, kita nggak bisa tahu, ”

“ARAHKAN.”

Nada Bodat tidak tinggi. Tapi cukup untuk membuat semua orang patuh. Dengan tangan gemetar, Moren memutar alat itu. Cahaya senter menyapu rak piring namun tidak terjadi apa-apa. Beberapa detik berlalu, Palui mulai menghela napas lega.

“Lihat? Paling cuma...”

BIP.

Satu bunyi yang pendek namun tajam. Rak piring bergetar sedikit, tapi cukup untuk menarik perhatian mereka. Ani menepuk tangan pelan.

“Oke. Ini resmi seru.”

“SERU DARI MANA?!” teriak Udin.

Rak piring itu tidak jatuh, Ia hanya bergerak. Seperti seseorang yang baru sadar sedang diperhatikan dan memilih untuk bergeser sedikit agar lebih nyaman. Satu piring meluncur keluar.

KRING.

Dan pecah. Semua menjerit, Wati berdiri sempurna dalam sepersekian detik. “Oke. SEKARANG aku bangun.”

Bodat langsung maju, sapu terangkat.

“Keluar,” katanya ke arah rak. “Kalau mau ribut, ribut di luar.”

Tidak ada jawaban, yang ada hanya bunyi BIP lagi. Tapi kali ini lebih cepat.

BIP.

BIP.

BIP.

“Kenapa dia bunyi lagi?!” tanya Juleha sambil masih membaca doa, tapi kini dengan nada setengah marah.

“Karena…,” Moren berkeringat. “Alat ini mendeteksi… interaksi.”

“INTERAKSI APA?!”

“Entitas… dengan lingkungan.”

Ani mencondongkan badan.

“Jadi dia main piring?”

“Bisa jadi.”

Ani mengangguk serius.

“Oh. Kreatif juga.”

Sementara Susi hampir jatuh dari kursi karena ketakutan. Kepanikan mencapai puncak ketika pintu dapur yang sejak tadi terbuka dan menutup sendiri.

TOK.

Tidak keras, Justru terlalu pelan seolah takut mengagetkan. Paijo langsung menangis, bukan terisak. Seperti orang yang baru sadar hidupnya salah jurusan.

“Aku cuma mau KKN,” isaknya. “Aku nggak daftar ini.”

Udin memeluknya.

“Tenang. Kita semua korban sistem.”

Juned mendekat ke pintu, kamera masih menyala.

“Ini dapet nggak ya audionya?”

“JUNED!” serentak semua orang berteriak.

Ia mundur.

“Refleks,” katanya lirih.

...🍃🍃🍃...

Moren menurunkan alatnya perlahan.

“Kesimpulan sementara,” katanya, mencoba kembali ke mode ilmiah meski suaranya bergetar. “Alat ini… bekerja.”

“BERARTI BENAR ADA APA-APA?!” tanya Surya.

“…iya.”

Tidak ada yang bersorak, juga tidak ada yang merasa lega. Kebenaran ternyata tidak selalu lebih baik dari ketidaktahuan. Bodat menurunkan sapu yang kina berada dalam genggamannya.

“Matikan.”

Moren mengangguk cepat. Ia mencabut kabel..Senter kembali mati, bunyi berhenti. Dan dapur kembali menjadi dapur. Rak piring diam serta pintu tetap tertutup.

“Jadi…,” kata Palui pelan, “kita masak di mana sekarang?”

Anang menatap panci.

“Di warung.”

“WARUNG MANA YANG MAU BUKA DI DESA BEGINI?!”

“Yang nggak ada entitas,” jawab Anang putus asa.

Mereka memutuskan keluar posko bukan karena berani. Tapi karena ruang terbuka terasa sedikit lebih aman saat siang hari. Halaman depan disinari matahari yang kini sudah tidak ragu. Tapi sinarnya tidak membuat hangat, hanya membuat terang. Terang yang mengungkap betapa lelahnya wajah-wajah mereka. Moren duduk di tangga, alat rongsokan itu di pangkuan. Kali ini ia tidak terlihat bangga. Lebih seperti orang yang baru menyadari bahwa hobinya punya konsekuensi.

“Maaf,” katanya pelan.

Tidak ada yang menyalahkannya. Karena diam-diam, semua tahu rasa penasaran mereka sama besarnya. Ithay jongkok di depan alat itu.

“Kalau kita perbaiki lagi….”

“JANGAN,” jawab hampir semua orang.

Ithay mengangguk.

“Oke.”

Masalahnya, ketenangan tidak bertahan lama. Karena dari dalam posko,

BIP.

Terdengar satu bunyi pelan, padahal alat itu mati. Semua menoleh ke arah Moren, Wajah Moren pucat.

“Aku… sudah cabut semuanya.”

BIP.

Kali ini terdengar dari arah ruang tengah. Juned menelan ludah.

“Itu… dari mana?”

Moren berdiri perlahan.

“Harusnya… tidak bisa.”

Bodat menghela napas panjang.

“Oke.”

Ia meraih gagang pintu.

“Kalau ini ulah alat, kita rusak. Kalau ini ulah yang lain… kita ngomong baik-baik.”

“NGOMONG KE SIAPA?!” teriak Susi.

Bodat menoleh.

“Siapa pun yang merasa terganggu.”

Pintu dibuka, tapi ruang tengah itu kosong. Tidak ada alat, senter, botol, kabel. Hanya satu benda di lantai yaitu kertas bekas dengan tulisan spidol besar-besar:

SENSOR

Hurufnya kini sejajar. Ani mendekat pelan.

 “Tulisannya rapi sekarang.”

Tidak ada yang tertawa karena mereka semua tahu, tidak ada satu pun dari mereka yang merapikan tulisan itu. Wati duduk di lantai, menatap kertas itu lama.

“Kesimpulan,” katanya akhirnya. “Teknologi nggak salah.”

Semua menoleh padanya.

“Yang salah,” lanjutnya, “kita nyoba ngerti sesuatu yang nggak mau dijelasin.”

Bodat mengangguk pelan.

“Mulai hari ini, aturan baru.”

“Apa?” tanya Udin.

“Kita hidup normal.”

“Dan kalau kejadian aneh?”

“Kita pura-pura capek.”

Palui mengangguk cepat.

“Itu keahlianku.”

Sejak saat itu, alat itu tidak pernah ditemukan lagi diposko mereka. Tidak di dapur, ruang tengah bahkan gudang. Tapi sejak hari itu, Piring tidak pernah bergeser, Pintu tidak pernah menutup sendiri. Dan setiap malam, tepat pukul dua, Satu bunyi terdengar dari sudut posko. Pelan, Pendek, Seperti pengingat.

BIP.

Tidak ada yang membahasnya, Tidak ada yang merekamnya. Karena beberapa hal Lebih aman dibiarkan tidak jadi konten.

...🍃🍃🍃...

Bersambung....

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!