Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
H-2 keluarga Aya sudah berkumpul, kakang dan teteh beserta keluarganya yang berdomisili di luar kota semuanya datang. Bu Aisyah dan almarhum Bapak Muhamad memiliki lima orang anak, tiga laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama bernama Guntur, anak kedua adalah Guruh, anak ketiga adalah Cakra, anak keempat adalah Wulan dan anak bungsu tidak lain dan tidak bukan adalah Cahaya.
Karena pernikahan Aya dilaksanakan dengan sederhana, hanya akad nikah saja, maka persiapannya pun tidak seheboh seperti persiapan pernikahan pada umumnya. Tidak ada sewa gedung, tidak ada sewa tenda atau pelaminan yang harganya puluhan juta, hanya dipasang tenda kecil milik paguyuban masyarakat di kampungnya. Tidak ada pesan katering, hanya menyewa jasa tukang masak dikampungnya.
"Nong, memangnya hanya akad nikah saja ga ada resepsi?" tanya Kang Guntur.
"Iya akad nikah saja ga usah ada resepsi," jawab Aya datar.
"Kenapa? Nong kan anak bungsu harusnya justru pesta pernikahannya dilaksanakan dengan meriah soalnya ini yang terakhir di keluarga kita."
"Ibu kan, sudah sering mengadakan pesta pernikahan dari anak pertama sampai anak ke empat, semuanya dilaksanakan meriah... jadi untuk kali ini biarlah sederhana saja... sayang uangnya tau," jawab Aya.
"Ih kamu mah banyak uang nya juga, dasar pelit!" kata Wulan ikut nimbrung.
"Eits... bukan pelit tapi BER-SA-HA-JA," sahut Aya.
"Iya sama aja artinya tetap saja PE-LIT," kata Wulan.
"Tolong bedakan arti PELIT dengan BERSAHAJA cek di mbah google sono!" sanggah Aya tidak mau kalah.
"Sudah sudah, yang menjalani kan Nong jadi biar saja yang penting Nong bahagia," ujar Bu Aisyah menengahi perdebatan keduanya.
"Cakep... tuh kayak ibu dong pemikirannya bijaksana," sahut Aya sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
"Sudah sana Nong istirahat, besok kan kamu mau nikah," perintah Bu Aisyah.
"Asiyaaap!" celetuk Aya.
Aya berbaring di kamarnya, pikirannya berkelana entah ke mana. Ia jadi teringat dengan Rizal, lalu membuka handphonenya ingin mengirim pesan pada Rizal.
"Zal."
"Lagi apa?"
Aya mengirim dua pesan sekaligus, tidak ada jawaban dari Rizal. Sekitar sepuluh menit baru ada tanda getar di handphonenya.
"Iya Teh, maaf baru balas. Assalamualaikum." Rizal seperti biasa selalu mengucapkan salam.
"Waalaikum salam."
"Zal besok kamu sudah siap??"
"Iya Teh Insyaallah."
"Nanti besok saat akad, kamu jangan gemetaran ya masangin cincinnya!"
"Iya Teh Insyaallah."
Aya hendak membalas lagi pesan Rizal namun diurungkan karena Wulan datang menghampirinya. Aya dan Wulan usianya selisih tiga tahun, jadi hubungan mereka layaknya teman, maka tidak heran jika berbincang terkadang memakai kata "Elo Gue". Saat ayah meninggal, Wulan baru lulus SMA, alih alih melanjutkan pendidikan ia malah memilih menikah dengan pria dewasa dan mapan yang usianya selisih sepuluh tahun dengannya. Kini ia sudah mempunyai seorang anak yang sudah duduk di kelas 2 SMP, dan sekarang sedang hamil besar anak kedua.
"Nong, udah deh elo jujur aja sama gue," ujar Wulan dengan nada berbisik.
"Jujur apaan? Tukang jujur naik haji," kelakar Aya.
"Udah jujur aja, gue ga akan bilang siapa-siapa." Wulan berbisik lagi.
"Jujur apaan? Telah jujur pahlawanku ... menggali liang jujur eh ketemu pocong di jujuran," canda Aya mempelesetkan kata jujur.
"Elo, Hamdan ya??"
"Hamdan? Hamdan siapa?" tanya Aya bingung.
"Hamdan ATT... hamil duluan alias tekdung tekdung," ujar Wulan dengan gemas.
"Eh, si Teteh mulutnya ga ada akhlak ya ... sekate kate kalo ngomong... aku mah wanita solehah calon bidadari surga, cantik mempesona, baik hati, jujur, pandai juga rajin menabung, idaman para pria... ga mungkin melakukan perbuatan nista seperti itu... aku ga mau ya masuk neraka pake jalur VVIP... Teteh tuh lagi hamil besar loh kalau ngomong jangan sembarangan loh!" Aya mengomeli dan menceramahi Wulan.
"Habisnya elo nikah dadakan, ga pake resepsi segala seperti terkesan terburu-buru dan ada apa-apa nya."
"Teteh mau bilang aku pelit lagi, awas ya nanti anaknya ga tak persen lagi, ga tak beliin baju lebaran!" ancam Aya.
"Hehehe... jangan dong... iya setuju elo mah ga pelit tapi BER-SA-HA-JA" kata Wulan kemudian cengengesan.
"Kenapa menikahnya dadakan? udah gitu calonnya juga dadakan... elo nikahnya ga sama mantan elo yang joreh itu kan?" imbuh Wulan.
"Dadakan gimana orang umur udah tiga puluh begini kok di bilang dadakan... si Teteh udah dibilang jangan ngomong yang jelek-jelek lagi hamil besar kaya gitu, mau nanti anaknya joreh juga!" ceramah Aya. (Joreh\=Jelek)
"Ih amit amit jabang bayi ga mau lah!"
"Coba liat mana foto calon suami elo!" imbuh Wulan.
"Ga ada fotonya besok aja lihat langsung orangnya... udah ah, pergi sana! aku mau tidur." Aya mengusir Wulan.
"Iya iya... ciye... ciye... yang besok mau nikah," goda Wulan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dor... Dor... Dor...
Bunyi petasan menggelegar bersahutan, pertanda pengantin pria dan rombongannya sudah datang. Rizal beserta keluarga dan rombongan masuk ke tempat akad nikah akan dilangsungkan. Prosesi ijab kabul akan dilaksanakan di dalam rumah keluarga Aya yang cukup luas dan besar. Para tamu undangan yang terdiri dari keluarga, tetangga, kerabat dan sahabat sudah menempati tempat duduknya, sebagian ada yang duduk di dalam rumah dan sebagian lagi duduk di kursi yang sudah disiapkan di teras dan halaman rumah keluarga Aya.
Rizal terlihat sangat tampan dengan mengenakan jas dan dalaman kemeja warna putih serta peci. Rizal beserta keluarga sudah duduk di ruangan tempat akan dilaksanakannya akad nikah. Sementara pengantin wanita masih di kamar, pengantin wanita baru akan keluar dan duduk bersanding dengan suaminya setelah ijab kabul dilaksanakan, agar lebih afdol.
Aya sudah selesai dirias, proses merias pengantin dimulai sejak subuh tadi selepas salat subuh. Aya mengenakan baju pengantin berwarna putih dan memakai jilbab karena memang sejak dulu ia bercita-cita jika kelak menjadi pengantin dia akan memilih baju pengantin berjilbab. Ia duduk di kamarnya ditemani Wulan.
"Ateu, itu calon suaminya ganteng bingits!" ujar Sisil, anaknya Teh Wulan. Aya hanya membalas dengan senyuman. Wulan yang penasaran langsung keluar hendak melihat pengantin pria lalu masuk lagi ke kamar menemani Aya.
"Ih, Nong beneran iya ganteng banget calon suami lo... nemu di mana tuh?" tanya Wulan.
"Kepo, mau tempe aja!" canda Aya. Sebenarnya hati Aya sedang dag dig dug, walau ini pernikahan sandiwara tapi hatinya tetap saja merasa deg degan seperti pengantin pada umumnya. Perasaan campur aduk antara senang, cemas, takut, sedih semuanya menjadi satu.
Terdengar pembawa acara sudah memulai acara. Sambutan dari keluarga kedua mempelai sudah disampaikan. Lantunan ayat suci Alquran sudah dibacakan. Sekarang waktunya pembacaan ijab kabul.
Kang Guntur sebagai wali dari Aya menjabat erat tangan Rizal mengucapkan lafal ijab. Kemudian dijawab lafal kabul oleh Rizal.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Cahaya binti Muhamad dengan mas kawin tersebut tunai." Rizal mengucapkan lafal kabul dengan satu helaan nafas.
"Bagaimana sah?" sahut penghulu kepada saksi dan para hadirin
"Saaaaaaaaahhhhh...!!" semuanya kompak menjawab
"Alhamdulillah."
Alhamdulilah akhirnya sah ya.
Jangan lupa Like komen dan vote ya. Terima kasih.