NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Debu di Atas Reruntuhan

​Aula besar itu bergetar hebat. Langit-langit marmer mulai retak dan runtuh satu per satu saat Jian Yi melepaskan seluruh sisa Qi Grand Master-nya ke dalam bilah Ling'er.

Luka di dadanya yang menghitam mengeluarkan asap tipis, rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah ia rasakan, namun niat membunuhnya telah mencapai titik di mana raga tak lagi terasa.

​"Kalian ingin melihat akhir?" desis Jian Yi, suaranya seperti gesekan pedang di atas batu. "Maka tataplah matahari terakhir kalian."

​Ketiga Tetua Keluarga Yuan membelalak. Mereka merasakan tekanan gravitasi yang begitu besar hingga lutut mereka retak dan terpaksa berlutut di lantai.

​"T-tunggu! Kita bisa bicara!" teriak Tetua Logam, wajahnya pucat pasi.

​Jian Yi tidak memberi ruang untuk kata-kata. Ia mengayunkan Ling'er ke bawah dalam satu gerakan vertikal yang lambat namun mutlak.

​Teknik Terlarang: Kehancuran Sempurna – Hujan Air Mata Ungu.

​BOOOOOOMMMM!

​Bukan lagi suara tebasan, melainkan ledakan energi murni yang menelan seluruh kediaman Keluarga Yuan.

Cahaya ungu raksasa melesat ke langit, membelah awan dan menciptakan kawah sedalam sepuluh meter di pusat aula.

Ketiga tetua itu lenyap seketika, tubuh mereka hancur menjadi debu sebelum sempat berteriak.

Seluruh bangunan megah, simbol kesombongan selama ratusan tahun itu, runtuh menjadi puing-puing dalam hitungan detik.

​Keluarga Yuan telah musnah. Nama yang dulunya ditakuti, kini terkubur di bawah reruntuhan yang terbakar.

​Beberapa jam kemudian, di tengah kepulan asap dan sunyinya puing-puing, sesosok tubuh bangkit dengan susah payah.

Jian Yi bersandar pada Ling'er yang tertancap di tanah. Jubahnya compang-camping, dan wajahnya sepucat mayat.

​Luka di dadanya—Api Terlarang Pemakan Jiwa—masih ada di sana, berdenyut dengan warna hitam pekat yang mengerikan.

Setiap detak jantungnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas.

​"Jian Yi... kau masih hidup?" suara Ling'er terdengar sangat lemah, hampir seperti bisikan. "Jangan banyak bergerak. Fondasi kultivasimu retak. Jika kau tidak segera menekan racun itu, kau akan benar-benar menjadi debu."

​"Aku... tahu." bisik Jian Yi. Ia menatap ke arah kejauhan, ke arah di mana Sekte Jian-Gi-Tu-Bo berdiri. Ia ingin pulang, ingin melihat teman-temannya, tapi ia tahu ia tidak bisa. Membawa luka kutukan ini ke sekte hanya akan mengundang bahaya dan kesedihan.

​Dengan sisa tenaganya, Jian Yi berjalan menjauh dari kota, menuju pegunungan terlarang yang selalu diselimuti kabut abadi di Utara.

Di sana terdapat sebuah gua kuno yang pernah disebutkan oleh Ling'er, tempat di mana energi alam cukup murni untuk menekan racun.

​Sesampainya di dalam gua yang dingin dan gelap, Jian Yi terduduk bersila. Ia meletakkan Ling'er di pangkuannya.

​"Ling'er... aku akan mengunci gua ini dari dalam," ucap Jian Yi, napasnya tersengal. "Aku harus mengurung diri. Satu tahun... aku butuh waktu setidaknya satu tahun untuk mencoba menetralisir racun ini dan menyatukan kembali fondasiku yang hancur."

​"Satu tahun dalam kegelapan dan rasa sakit yang luar biasa... kau yakin bisa menahannya, Bocah?"

​Jian Yi memejamkan matanya. Bayangan senyum Coi Gi, Shi Tuzhu, dan Gi Jibo melintas di benaknya. Begitu pula wajah para kekasih mereka dan sekte yang baru ia bangun.

​"Aku harus bisa," jawabnya tegas. "Karena perjalananku untuk membantumu mendapatkan wujud fisik baru saja dimulai. Aku tidak boleh mati di sini."

​Jian Yi menggerakkan tangannya yang gemetar, membentuk segel pelindung Grand Master terakhirnya.

BLARR!

Pintu gua tertutup oleh runtuhan batu dan segel energi transparan.

​Suasana menjadi gelap total. Jian Yi mulai memasuki kondisi meditasi dalam, sebuah tidur panjang yang menyakitkan untuk menyembuhkan jiwa dan raganya yang hancur.

Di luar sana, dunia persilatan akan gempar mendengar runtuhnya Keluarga Yuan, namun sang pelaku utama kini telah hilang ditelan kabut pegunungan, bersiap untuk bangkit kembali sebagai sosok yang jauh lebih berbahaya.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!