NovelToon NovelToon
Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Mengubah sejarah
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arsip dan Ingatan

Ari tiba di Surabaya dengan tubuh yang belum sepenuhnya siap menerima ritme kota itu.

Ia turun dari kendaraan di depan penginapan kecil yang berdiri di antara bangunan-bangunan tua berwarna kusam. Tidak ada sambutan. Tidak ada transisi lembut seperti ketika ia kembali ke Yogyakarta. Surabaya menyodorkan dirinya apa adanya… panas, padat, dan terasa sibuk bahkan ketika tidak ada yang tampak tergesa.

Ari berdiri sejenak di trotoar, membiarkan punggungnya disentuh angin panas yang bercampur bau aspal dan debu. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya pelan. Kota ini tidak memberi ruang untuk mengendapkan perasaan. Semua seolah mendesak untuk segera bergerak.

Di kepalanya, pesan Wijaya semalam terngiang singkat dan fungsional:

Besok siang bisa ke perpustakaan. Aku atur akses.

Tidak ada kata sambutan. Tidak ada basa-basi. Ari justru menyukai itu.

Siang hari, Ari berjalan menuju gedung perpustakaan tempat Wijaya bekerja. Kawasan itu lebih administratif daripada kultural. Jalan lebar, bangunan beton, pagar besi, dan papan nama resmi yang tidak mencoba ramah. Ini bukan ruang yang mengundang orang untuk berlama-lama tanpa tujuan.

Begitu melangkah masuk, suhu ruangan berubah drastis. Pendingin udara bekerja tanpa kompromi. Bau kertas lama bercampur aroma pembersih lantai. Ari menurunkan tas kanvasnya dari bahu, mengamati sekeliling dengan kesadaran bahwa ia sedang memasuki ruang yang tidak dirancang untuk empati, melainkan ketertiban.

Wijaya sudah menunggu di dekat meja arsip.

Ia berdiri tegak, jaket bomber hijau tergantung di kursi, kemeja rapi, wajahnya nyaris tanpa ekspresi berlebihan. Ketika melihat Ari, ia hanya mengangguk kecil, seolah pertemuan ini sudah masuk jadwal mentalnya sejak lama.

“Perjalananmu?” tanya Wijaya.

“Capeknya beda,” jawab Ari jujur. “Kayak kota ini nggak ngasih waktu buat transisi.”

Wijaya tersenyum tipis. “Surabaya jarang peduli sama perasaan orang yang datang.”

Mereka berjalan menyusuri lorong arsip. Rak-rak tinggi berdiri rapat, membentuk jalur sempit yang membuat langkah otomatis melambat. Lampu putih memantul di lantai, menciptakan kesan steril yang hampir klinis. Di tempat seperti ini, ingatan tidak diperlakukan sebagai cerita, melainkan sebagai objek.

Wijaya berhenti di satu rak yang tidak diberi penanda mencolok. Ia menarik satu map coklat tua, meletakkannya di atas meja baca, lalu membuka perlahan.

“Kebanyakan orang nggak sampai ke sini,” katanya.

Ari mendekat. Matanya mengikuti halaman-halaman yang dibuka Wijaya. Laporan lama. Tahun-tahun yang terasa jauh, tapi istilahnya tetap akrab. Penyesuaian sistem. Efisiensi administratif. Sinkronisasi kebijakan lintas sektor.

“Bahasanya masih dipakai,” gumam Ari.

“Karena bahasa ini efektif,” jawab Wijaya. “Ia bikin perubahan terdengar teknis, bukan politis.”

Ari mengeluarkan buku catatan. Bukan untuk menulis cepat, melainkan mencatat perlahan, seperti seseorang yang tahu bahwa kata-kata ini tidak boleh disalahpahami. Di Surabaya, ia merasakan perbedaan jelas: tidak ada romantisasi pemikiran. Yang ada hanya mekanisme.

“Masalahnya,” lanjut Wijaya sambil menutup map itu, “bukan di arsip yang disimpan.”

Ari menoleh.

“Masalahnya di arsip yang pelan-pelan tidak lagi ditawarkan,” kata Wijaya. “Bukan dihapus. Hanya dipindahkan ke pinggir.”

Ari mengangguk. Ia memahami itu lebih baik dari yang ia harapkan. Di dunia musik, ia mengenal mekanisme serupa: suara tidak dilarang, hanya ditenggelamkan.

Mereka duduk berhadapan. Waktu berjalan tanpa terasa. Wijaya membuka map lain, lalu yang lain. Tidak semuanya dibaca. Beberapa hanya ditunjukkan sebagai bukti keberulangan. Ari merasakan sesuatu yang mengganggu: ini bukan cerita tentang masa lalu, melainkan tentang template.

“Lo sadar nggak,” kata Ari pelan, “kalau ini bukan soal siapa yang jahat.”

Wijaya mengangguk. “Ini soal siapa yang sabar.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Ari menutup buku catatannya sebentar. Ia menatap ruangan arsip, rak-rak tinggi, label-label kecil. Surabaya di luar gedung mungkin sibuk, tapi di sini, kesibukan itu diterjemahkan menjadi ketenangan yang mengatur.

“Kalau gue nulis ini,” kata Ari, “gue nggak pengin nulis sebagai orang yang paling paham.”

Wijaya menatapnya lama. “Bagus. Orang yang merasa paling paham biasanya jadi alat paling efektif.”

Ari tersenyum kecil. Ada rasa dingin yang menyusup… bukan karena AC, tapi karena kesadaran bahwa apa yang sedang ia lihat jauh lebih sistematis dari dugaan awalnya.

Di luar lorong arsip, suara langkah orang lain terdengar samar. Hidup terus berjalan di atas semua ini, tanpa harus tahu detailnya.

Dan Ari tahu, kunjungannya ke Surabaya bukan sekadar pertemuan dua sahabat lama. Ini adalah perpindahan posisi, dari pengamat jarak jauh menjadi seseorang yang berdiri cukup dekat untuk melihat bagaimana ingatan dikelola.

Mereka meninggalkan ruang arsip ketika sore mulai turun, tanpa isyarat khusus bahwa percakapan itu telah selesai.

Di Surabaya, waktu tidak pernah benar-benar melambat. Bahkan ketika matahari condong ke barat, kota tetap terasa bekerja. Wijaya mengajak Ari keluar lewat pintu samping gedung, jalur yang biasa ia gunakan agar tidak harus melewati lobi utama. Di luar, hawa panas kembali menyergap, kali ini bercampur bau knalpot dan suara mesin berat dari kejauhan.

“Lo belum makan?” tanya Wijaya sambil berjalan.

Ari menggeleng. “Belum kepikiran.”

Wijaya mengangguk singkat. “Ada warung kopi nggak jauh dari sini. Bukan tempat diskusi, tapi cukup buat duduk.”

Mereka berjalan menyusuri trotoar yang tidak terlalu ramah pejalan kaki. Truk lewat dengan jarak dekat. Beberapa sepeda motor memotong jalur seenaknya. Ari memperhatikan semua itu dengan kesadaran baru: Surabaya bukan kota untuk kontemplasi yang nyaman, tapi justru karena itu ia terasa jujur.

Warung kopi itu berdiri di sudut jalan besar. Meja besi, kursi plastik, kipas angin tua yang berdecit pelan. Tidak ada musik. Tidak ada Wi-Fi. Hanya kopi hitam kental dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti.

Mereka duduk berhadapan, memesan tanpa banyak bicara.

Beberapa saat mereka hanya minum. Kopi Surabaya terasa lebih pahit, atau mungkin Ari hanya lebih peka hari itu.

“Ada satu hal yang terus muter di kepala gue,” kata Ari akhirnya. “Kenapa setiap kali sesuatu berubah besar, kita selalu merasa datang terlambat.”

Wijaya tidak langsung menjawab. Ia menatap jalan, memperhatikan lampu kendaraan yang mulai menyala.

“Karena perubahan besar jarang diumumkan,” katanya pelan. “Ia datang sebagai penyesuaian kecil yang diulang cukup lama sampai orang berhenti menganggapnya perubahan.”

Ari mengangguk. Ia teringat musik, bagaimana pendengar tidak sadar sebuah genre bergeser sampai satu hari mereka menyadari lagu-lagu lama tak lagi diputar.

“Adaptasi itu perlu,” lanjut Wijaya. “Tapi adaptasi tanpa jarak bikin orang lupa bertanya: …siapa yang diuntungkan dari adaptasi ini.”

Ari mencondongkan tubuh. “Dan lo jaga jarak itu lewat arsip.”

“Lewat keterlambatan,” koreksi Wijaya. “Arsip selalu datang belakangan. Tapi justru karena itu, ia bisa melihat apa yang hilang.”

Ari terdiam. Ia mengeluarkan buku catatan lagi, membukanya kali ini bukan untuk mencatat fakta, melainkan satu-dua kalimat pendek, lebih seperti penanda agar pikirannya tidak melayang terlalu jauh.

“Kalau gue lanjut nulis,” katanya hati-hati, “ada kemungkinan gue diseret ke posisi yang nggak gue pilih.”

Wijaya menoleh. “Posisi apa?”

“Orang yang dianggap tahu,” jawab Ari cepat. “Atau orang yang dianggap bikin resah.”

Wijaya tersenyum tipis. “Itu dua posisi yang sering bertukar tempat.”

Ari tertawa kecil, lalu kembali serius. “Gue bukan aktivis. Gue nggak punya disiplin itu.”

“Sejarah nggak cuma ditulis aktivis,” kata Wijaya. “Banyak ditulis oleh orang-orang yang terlalu teliti untuk diam.”

Kalimat itu menancap. Ari menatap kopi yang hampir habis. Ia menyadari ketelitiannya selama ini sering ia anggap kelemahan… terlalu banyak mempertanyakan, terlalu jarang menyimpulkan.

“Gue nggak mau nulis buat nyadarin orang,” kata Ari.

“Bagus,” jawab Wijaya. “Orang jarang suka disadarkan.”

“Aku cuma pengin ninggalin jejak,” lanjut Ari. “Kalau suatu hari ada yang ngerasa ‘koq rasanya beda ya’, mereka tahu perasaan itu pernah dicatat.”

Wijaya mengangguk pelan. “Itu fungsi arsip sebelum arsip resmi.”

Angin dari arah pelabuhan membawa bau asin samar. Suara klakson panjang terdengar dari kejauhan. Surabaya hidup dari pergerakan… barang, tenaga, keputusan, semuanya selalu berpindah tangan.

“Lo tahu risiko terbesarnya apa?” tanya Wijaya.

“Apa?”

“Bukan ditekan,” jawab Wijaya. “Tapi dibuat nggak relevan. Dibanjiri hal-hal lain sampai catatan lo tenggelam.”

Ari tersenyum pahit. “Kayak musik indie di playlist algoritma.”

Wijaya tertawa singkat. “Persis.”

Mereka kembali diam. Tapi kali ini diamnya tidak kosong. Ada kesepahaman yang tidak perlu disepakati secara eksplisit.

Ari membuka ponsel, melihat Random. Tidak ada pesan baru. Ia mengetik, lalu berhenti, menghapus, lalu mengetik ulang.

Ari:

Hari ini gue di Surabaya.

Ketemu Jay.

Arsip itu bukan soal masa lalu.

Tapi soal apa yang pelan-pelan dipinggirkan.

Ia mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke bawah.

“Lo nggak takut?” tanya Wijaya.

Ari berpikir sejenak. “Takut salah, iya. Takut nulis, enggak.”

Wijaya mengangguk. “Takut salah itu sehat. Takut nulis itu berbahaya.”

Matahari hampir tenggelam. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Warung kopi itu tidak berubah, tapi waktu bergerak.

Mereka berdiri hampir bersamaan. Tidak ada kesan perpisahan besar. Tidak ada janji pertemuan berikutnya. Di Surabaya, hal-hal penting jarang diumumkan dengan kata-kata besar.

Di trotoar panas itu, mereka berpisah arah. Wijaya kembali ke institusi, ke sistem yang ia pahami dari dalam. Ari berjalan menuju penginapan, membawa catatan yang kini terasa lebih berat, bukan karena jumlah katanya, tapi karena konsekuensinya.

Di kamar penginapan malam itu, Ari membuka kembali buku catatannya. Ia membaca ulang apa yang ia tulis siang tadi. Tidak ada kesimpulan. Tidak ada tuduhan. Hanya pengamatan yang disusun pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia mulai menulis tentang semua ini, Ari merasa yakin pada satu hal sederhana:

…ia tidak lagi menulis dari luar.

Ia sudah cukup dekat untuk tahu bahwa ingatan selalu punya musuh paling halus: keteraturan yang terlalu rapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!