NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #3: Dandani Aku

Telinga Geun berkedut. Fokusnya bergeser total.

Tujuh Tael adalah kata suci yang kedudukannya setara dengan kitab suci agama manapun.

Di meja sebelah, empat pria bertubuh kekar sedang bermain Tuho. Mereka melempar anak panah ke dalam pot kecil sambil mabuk-mabukan. Mereka mengenakan pakaian kulit dengan pelindung bahu besi, pedang tergeletak sembarangan di meja.

"Kau gila, Hyung-nim?" salah satu pria yang lebih muda memprotes. "Tujuh tael memang besar, tapi rutenya lewat White Burial Valley! Dan lihat badai di luar! Kita bisa mati beku sebelum ketemu bandit!"

Pria yang dipanggil Hyung-nim, seorang botak dengan bekas luka memanjang di kepala, membanting cawannya.

"Kau ini pendekar atau penjahit?" bentaknya. "Grup Dagang Silvercrane sedang putus asa sejak pewaris mereka diculik. Pengawal utama mereka ditugaskan untuk mencari jejak pewaris. Karena itu mereka butuh merekrut pengawal pengganti untuk berangkat besok pagi. Siapa cepat dia dapat!"

"Tapi kelompok bandit Gang-dol..."

"Bandit juga manusia, bodoh!" potong si Botak. "Kau pikir mereka mau merampok di tengah badai salju begini? Mereka pasti sedang meringkuk di perkemahan mereka sambil memeluk selimut. Ini kesempatan emas! Aku sudah dikontrak mereka sebagai pemimpin pengawal bayaran. Kita kawal karavan lewat lembah saat badai, ambil tujuh tael per orang, lalu foya-foya di ibukota provinsi!"

Geun mendengarkan dengan seksama.

Otaknya berputar cepat. Kalkulator di kepalanya mulai berbunyi kling-kling.

Tujuh tael perak.

Satu tael cukup untuk hidup mewah seminggu seperti yang dia lakukan saat ini. Tujuh tael... dia bisa menyewa kamar terbaik, makan daging tiap hari, dan menyewa pelacur kelas atas sampai kering.

Bahaya? Bandit?

Geun menyeringai tipis.

Logika si Botak itu masuk akal. Di dunia ini, bandit biasanya malas. Siapa yang mau membegal di suhu di bawah nol derajat?

Dia pernah bekerja sebagai kuli angkut barang untuk karavan kecil. Dia tahu ritmenya. Tugas pengawal biasany cuma jalan, pasang muka sangar, makan gratis, lalu terima uang.

"Ini uang mudah," pikir Geun.

Masalahnya cuma satu.

Dia menunduk melihat dirinya sendiri. Baju rami bolong, celana penuh lumpur beku, sepatu yang jempolnya kelihatan.

Jika dia datang melamar kerja dengan tampang begini, dia tidak akan diterima sebagai pengawal. Dia akan dilempar ke kandang kuda untuk jadi tukang serok kotoran.

Dia butuh penyamaran.

Geun menoleh kembali pada Seo-yun yang masih berdiri canggung memegang teko arak.

Geun tersenyum. Kali ini bukan senyum mesum, tapi senyum bisnis.

"Hei, Nona Manis," panggil Geun.

Seo-yun waspada. "Ya, Tuan?"

Geun meletakkan lusinan koin tembaga lagi di meja. Mata Seo-yun membulat.

"Aku butuh bantuanmu," kata Geun sambil mencondongkan tubuh. "Bisakah kau mendandaniku?"

Seo-yun mengerjap, bingung. "Mendandani... Tuan?"

"Ya. Aku mau mandi air panas. Lalu carikan aku pakaian bekas ayahmu yang paling bagus. Pakaian yang terlihat gagah, seperti pendekar kelana. Rapikan juga rambutku."

Geun menatap Seo-yun dengan tatapan memohon yang dibuat-buat, lalu menyodorkan koin itu ke tangan gadis itu.

"Bikin aku terlihat ganteng. Sisanya buat kau jajan bedak."

Seo-yun menatap koin di tangannya, lalu menatap ayahnya lagi. Ayahnya di meja kasir sudah tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol dua tangan.

"Baiklah," desah Seo-yun. "Ikut saya ke belakang."

Satu jam kemudian.

Pintu ruang belakang terbuka.

Geun melangkah keluar.

Transformasinya drastis. Dia sudah mandi bersih. Rambut panjang nya yang tadinya kusut kini tergerai rapih. Wajahnya yang bersih ternyata cukup tampan meski ada bekas-bekas kerasnya kehidupan jalanan.

Dia mengenakan jubah wol tebal berwarna abu-abu tua bekas pemilik penginapan. Sedikit kebesaran di bahu, tapi justru membuatnya terlihat santai.

Dia tidak lagi terlihat seperti gembel yang akan mati besok. Dia terlihat seperti... pendekar muda yang misterius.

"Bagaimana?" tanya Geun sambil berputar, mengembangkan jubahnya.

Seo-yun harus mengakui, dia sedikit terkesima. "Tuan terlihat seperti orang yang berbeda. Lebih... manusiawi. Saya bahkan tidak mengenali Tuan."

"Hanya manusiawi? Tidak tampan?" Geun menaikkan alis.

"Jangan berharap terlalu tinggi. Tuan perlu makan lebih banyak dulu," jawab Seo-yun ketus, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.

Geun tertawa. Dia merasa segar. Perut kenyang, badan hangat, pakaian bagus. Kepercayaan dirinya melambung setinggi langit meskipun fakta kalau badannya masih tampak kurus.

Dia berjalan kembali ke aula utama penginapan.

Kelompok praktisi pimpinan si Botak masih di sana, sudah semakin mabuk.

Geun menarik napas panjang.

Dia mengingat gerakan Baek Ho, murid Qingcheng yang dia temui di kedai mie. Dagunya diangkat sedikit. Bahu ditarik ke belakang. Langkah kaki dibuat berat dan berirama.

Geun mendekati meja mereka. Dia tidak langsung bicara. Dia berdiri di sana, menatap mereka dengan tangan bersedekap, meniru pose "master yang sedang menilai junior".

Si Botak mendongak, matanya merah karena arak. "Apa lihat-lihat? Mau cari masalah?"

Jantung Geun berdegup kencang, tapi wajahnya tetap datar sedingin es. Dia menunjuk pedang di meja dengan dagunya.

"Aku dengar Grup Dagang Silvercrane butuh pedang tambahan," kata Geun. Suaranya dia buat lebih berat dan dalam. "Aku kebetulan tertarik."

Si Botak menyipitkan mata, menilai Geun dari atas ke bawah. Pakaian bagus meski agak tua, sikap tenang, tatapan mata yang tajam meskipun sebenarnya karena Geun menahan kantuk setelah kenyang.

"Kau praktisi?" tanya si Botak curiga. "Sekte mana?"

Geun tersenyum tipis. Senyum meremehkan yang sudah dia lihat seumur hidupnya. Geun ingin tertawa karena Si Botak tidak mengenalinya kalau dia sebenarnya pengemis bau sebelumnya.

"Aku tidak suka terikat aturan sekte," jawab Geun lancar. "Aku bergerak bebas seperti angin. Namaku Geun. Praktisi liar."

Salah satu teman si Botak tertawa. "Praktisi liar? Kau masih bau susu, Bocah. Apa kau bahkan pernah membunuh orang?"

Geun menatap orang itu tepat di mata. Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya membiarkan keheningan menggantung, membiarkan imajinasi mereka mengisi kekosongan itu.

Sebenarnya Geun sedang berpikir, "Kalau aku jawab pernah, nanti disuruh buktikan. Kalau jawab belum, nanti diremehkan. Mending diam saja biar dikira misterius."

Si Botak akhirnya mendengus. Mereka memang sangat butuh orang tambahan untuk memenuhi kuota pengawalan agar bayarannya cair. Tidak peduli bocah ini jago atau tidak, yang penting jumlah kepalanya pas. Dan kalau ada apa-apa, dia bisa mengorbankan bocah itu.

"Besok subuh. Gerbang timur. Bawa senjatamu sendiri," gerutu si Botak. "Kalau kau mati di jalan atau kencing di celana saat ketemu bandit, kami tidak akan menolongmu. Mengerti?"

"Aku tahu," jawab Geun singkat.

Dia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegap yang dibuat-buat.

Begitu sampai di kamarnya di lantai dua dan menutup pintu, Geun langsung kegirangan.

Geun melompat ke atas kasur empuk, memeluk bantal guling, dan tertawa cekikikan seperti orang gila.

"Tujuh tael! Tujuh tael perak!" gumamnya sambil berguling-guling kegirangan.

Di luar jendela, badai salju semakin ganas, melolong seperti serigala kelaparan.

Geun tidak peduli.

Dalam pikirannya, dia sudah membayangkan tumpukan koin perak, dadu yang berputar di meja judi, dan wanita-wanita cantik di rumah bordil ibukota yang akan menyambutnya sebagai raja.

Dia tidak peduli alasan lembah itu disebut White Burial Valley.

Dia tidak memikirkannya karena itu masalah untuk besok.

Malam ini, Geun akan tidur nyenyak.

"Ah, aku lupa beli pedang."

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!