NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba Menjadi

Sudut Pandang Dante

Garasi itu sunyi. Sebagaimana yang kusuka. Tanpa bising. Tanpa orang. Tanpa kerumitan.

Atau setidaknya… begitulah yang kukira.

"Jadi yang ini?"

Suara Henrique bergema. Bersemangat. Berlebihan.

Kupejamkan mata sesaat. Menarik napas dalam. Lalu berbalik.

Keduanya sudah di sana. Berdiri. Memandangi mobil itu seolah mainan baru.

"Bukan," jawabku. "Bukan yang itu."

Henrique memasang wajah kecewa. "Ah, ayolah… ini kencang."

"Justru karena itu," kataku. Ketus. "Kalian tak akan mulai dengan yang ini."

Heitor, yang lebih pendiam, mengamati segalanya. Mobil itu. Ruang di sekitarnya. Jarak. Selalu mengamati.

"Lalu yang mana?" tanyanya.

Kutunjuk sebuah mobil yang lebih sederhana. "Yang itu."

Henrique mengembuskan napas dramatis. "Serius?"

"Serius." Aku melipat tangan. "Atau kalian tak usah menyetir."

Hening. Dua detik.

"Oke." Henrique mengangkat tangan. "Aku mau nyetir."

"Kalau begitu, masuk," kataku. Sederhana.

Ia tak buang waktu. Masuk ke bangku pengemudi. Bersemangat. Gugup. Persis seperti dugaanku.

Heitor tetap di luar. Mengamati.

"Kau nanti juga," aku menatapnya.

"Nanti."

Ia mengangguk. Tanpa membantah.

Aku masuk ke mobil. Ke bangku penumpang. Henrique menatapku. "Sekarang gimana?"

Aku mengembuskan napas. "Sekarang kau dengarkan. Dan jangan bertindak konyol."

"Susah," ia menggumam.

Kuabaikan. "Atur bangkunya."

Ia menurut. "Spion." Ia menuruti juga. "Sabuk pengaman."

"Sudah tahu." Ia memasangnya.

Aku menatapnya sesaat. "Kalau kau menabrak—"

"Iya, iya. Aku bakal mati."

Aku memutar bola mata. "Bukan. Aku yang bakal membunuhmu duluan."

Ia tertawa. Dan itu… terasa aneh. Tapi tidak buruk.

Mobil menyala. Pelan. Terkendali. Sebagaimana seharusnya. Henrique berkonsentrasi. Lebih dari yang kuduga.

"Bagus," kataku. Tanpa banyak berpikir.

Ia menoleh ke arahku. Terkejut. "Serius?"

"Serius."

Heitor muncul di jendela. Mengamati. "Jangan terlalu dipuji. Dia bisa besar kepala."

Henrique mengacungkan jari tengah ke arahnya. "Diam. Nanti kacau."

"Lanjutkan," kataku.

Dan ia melanjutkan.

Setelah beberapa menit… kami berhenti. Henrique keluar. Dengan senyum di wajah.

"Aku hebat kan. Nggak mati. Itu sudah jadi awal yang bagus." Ia tertawa.

Heitor masuk. Lebih kalem. Lebih terkendali. Tapi matanya… penasaran.

"Giliranmu," kataku.

Ia mengangguk. Menyalakan mobil. Tanpa tergesa. Tanpa gugup. Lalu menyetir. Berbeda dari saudaranya. Lebih presisi. Lebih waspada.

"Kau pernah melakukan ini sebelumnya?" tanyaku.

"Tidak," jawabnya. "Cuma mengamati."

Aku mengangguk. Masuk akal.

Ketika kami berhenti… keduanya tersenyum. Dengan cara mereka sendiri. Berbeda. Tapi tulus.

Aku keluar dari mobil. Bersandar ke pintu. Mengamati keduanya berdebat soal siapa yang lebih hebat.

"Aku lebih hebat," kata Henrique.

"Kau hampir menabrak," balas Heitor.

"Nggak nabrak."

"Hampir."

"Nggak dihitung."

"Dihitung."

Aku menggeleng pelan.

Dan kemudian—

"Terima kasih."

Suara Heitor terdengar. Lebih pelan.

Aku menatapnya. "Untuk apa?"

Ia mengangkat bahu. "Karena sudah berusaha."

Itu menangkapku lengah.

"Aku sedang belajar," kataku. Tanpa berbelit.

Henrique menatapku. "Iya, kelihatan. Dan nggak jelek-jelek amat. Untuk sekarang."

Aku memutar bola mata. "Enyah sana."

Ia tertawa.

Kami bertahan di sana sedikit lebih lama. Mengobrol. Ringan. Sederhana. Tanpa tekanan. Tanpa tuntutan.

Dan untuk pertama kalinya… tak terasa dipaksakan. Tak terasa aneh. Terasa… mungkin.

Aku menatap keduanya. Dan satu hal jadi jelas. Aku tak tahu cara menjadi ayah. Tapi mereka… juga sedang belajar menjadi anak.

Dan mungkin… kalau kami keliru bersama-sama… pada akhirnya akan berhasil juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!