NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:64.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Ampun, Mayor!

Mendengar nama sang kakek disebut, raut wajah Yudhana mendadak mengeras.

Pernikahannya dengan Vina bukanlah sebuah kecelakaan sosial, melainkan ikatan sakral yang dipaksakan oleh Opa Gema berdasarkan janji suci masa lalu. Opa Gema telah berjanji di hadapan almarhum ayah Vina saat Vina masih kecil untuk merawat dan menikahkan gadis itu dengan cucunya demi melunasi hutang budi persahabatan mereka di masa lampau. Opa Gema memegang teguh kehormatan janji itu mati-matian, dan Yudhana—sebagai cucu yang paling patuh pada kakeknya—dipaksa menelan mentah-mentah perjodohan tersebut tanpa bantahan.

Hebatnya, Opa Gema sama sekali tidak pernah tahu bahwa di belakang layar, Yudhana memelihara hubungan khusus dengan Tanti. Bagi sang kakek, Tanti hanyalah salah satu kerabat jauh keluarga besar, dan perjodohan Yudhana dengan Vina adalah harga mati yang harus dijalankan demi menjaga kehormatan janji leluhur. Jika sampai Opa Gema tahu bahwa Tanti berani merusak rumah tangga Yudhana dan Vina, kemurkaan sang kakek akan menjadi malapetaka besar bagi Tanti maupun karier militer Yudhana.

Pura-pura amnesia.

Kalimat Tanti kembali melintas di telinga Yudhana, namun tuduhan itu kali ini justru terdengar hampa dan mengusik nuraninya. Yudhana tahu persis, tatapan mata cokelat bening Vina saat menatapnya dengan pandangan asing bukanlah sebuah kepura-puraan. Tidak ada kelicikan di balik tawa renyah Vina saat mengunyah arum manis di pasar malam; yang ada hanyalah jiwa muda berusia delapan belas tahun yang jujur, bebas, dan tak tersentuh oleh beban dunia militer.

Tanti yang melihat Yudhana hanya diam membisu mulai merasa ada sesuatu yang keliru. Biasanya, setiap kali ia menjelek-jelekkan Vina, sang Mayor akan langsung mengangguk setuju. Namun hari ini, pria di sampingnya itu tampak berada di dimensi yang sepenuhnya berbeda.

"Mas Yudhana!" panggil Tanti dengan nada panik tertahan. "Kenapa kamu diam saja? Minggu ini gugatan cerainya harus sudah didaftarkan ke Pengadilan Agama dan dilaporkan ke staf personel Batalyon! Kalau kamu terus mengulur waktu seperti ini, nama baikmu sebagai Komandan bisa hancur karena ulah cewek panti yang nggak punya otak itu!"

Yudhana mengetuk-ngetukkan jemarinya di lingkar kemudi, mengabaikan ocehan Tanti di sampingnya seraya pandangannya tertuju kosong pada jalanan yang macet.

Ketukan jemari itu berirama lambat, mencerminkan pergolakan batin yang hebat di dalam kepala sang perwira. Bayangan Vina yang menolak amplop uang belanjanya, Vina yang dengan bangga menghitung modal warung kecil bersama Ita, serta cara gadis itu memanggilnya dengan sebutan 'Om Tentara' tanpa rasa takut sedikit pun, terus berkelebat silih berganti. Ada sudut di dalam dada Yudhana yang mendadak terasa nyeri—sebuah rasa asing yang menolak gagasan bahwa Vina akan segera pergi dari kehidupannya.

"Mas," suara Tanti melunak, berubah menjadi rengekan manja. Wanita itu mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh lengan seragam Yudhana. "Kamu tidak sedang berubah pikiran, kan? Kamu tidak mungkin ... kasihan pada cewek panti itu, kan?"

Yudhana sontak menarik lengannya pelan, mengalihkan persneling mobil dengan gerakan tegas tanpa menoleh sedikit pun ke arah Tanti.

"Tanti," panggil Yudhana, suaranya terdengar sangat rendah, datar, dan dingin—sebuah intonasi bariton yang langsung membuat nyali Tanti ciut seketika. "Urusan perceraian ini adalah ranah privat rumah tangga saya. Saya yang akan memutuskan kapan waktu yang tepat untuk mengurusnya ke instansi hukum. Dan ingat satu hal: jangan pernah membawa-bawa nama Opa Gema dalam urusan ini. Kakek saya tidak tahu apa-apa tentang hubungan kita, dan kalau sampai beliau tahu bagaimana perilakumu mencoba merusak pernikahan yang beliau restui berdasarkan janji almarhum ayah Vina ... kamu sendiri yang tahu akibatnya."

Pernyataan itu meluncur begitu tajam, menohok telak ke ulu hati Tanti.

Tanti terperanjat kaku di kursinya. Mata tajamnya membelalak menatap profil samping Yudhana yang mengeras. Ancaman halus itu menyadarkannya bahwa selama ini ia bermain api di atas fondasi yang rapuh. Opa Gema tidak pernah merestui kehadirannya sebagai pengganti Vina; di mata sang kakek, Vina adalah satu-satunya cucu menantu yang sah berdasarkan wasiat suci masa lalu.

"Mas ... kamu ngomong apa sih?" suara Tanti bergetar, separuh marah dan separuh panik. "Kamu mulai membela dia? Setelah semua penghinaan yang dia lakukan padaku, kamu masih ragu untuk menceraikannya?!"

"Bukannya ragu," potong Yudhana dingin, kepalanya menoleh separuh untuk menatap Tanti sekilas dengan sorot mata pekat yang sulit diartikan. "Hanya saja ... akhir-akhir ini saya menyadari ada banyak hal dalam rumah tangga saya yang luput dari perhatian saya. Termasuk cara saya menghargai janji kakek saya dan memperlakukan istri saya sendiri."

Jantung Tanti seolah berhenti berdetak mendengar pengakuan itu. Darahnya berdesir panas, menyadari ancaman nyata yang mulai menggeser posisinya. Yudhana—pria yang dulunya menuruti semua kemauannya—kini mulai berbalik arah dan mempertanyakan segalanya.

"Kamu sudah gila, Mas!" geram Tanti dengan suara gemetar tertahan, air mata palsunya hampir mendesak keluar akibat rasa terancam yang teramat sangat. "Kamu tersihir oleh sandiwara anak panti itu! Awas saja!"

Yudhana tidak membalas ancaman itu. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan kota yang mulai lengang saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Mobil SUV dinas itu melaju kembali membelah malam yang dingin, membawa serta keheningan yang kian menenggelamkan Tanti dalam kepanikan murni, sementara di dalam dada Yudhana, keraguan itu menjelma menjadi badai penyesalan yang tak lagi mampu ia bendung.

bersambung...

1
Nur Cahaya
semangat Vina 💪
Daneen
Wkwkwkk
Daneen
Duh bahaya kali Vina kalau bersuara
Mulaini
Jangan-jangan opa Gema sudah tahu atau memang belum tahu ya kalau cucunya Yudhana telah mengabaikan Vina sebelum kecelakaan.
Daneen
Alhamdulillah ikut senang thor
Mulaini
Vina katakan aja ke kakek Gema kalau kamu tidak mengenalnya dan kita lihat gimana reaksi Yudhana.
Teh Euis Tea
alhamdulilah akhirnya lolos jg, srmangat mommy
Mulaini
Yudhana jadi nikmati aja hasil dari keegoisan mu.
Esther
Kapok kamu Yudhana, hadapi tuh Opa Gema yang datang disaat yang tepat saat Vina tidak ada dirumah
Mulaini
Yudhana kamu jadi panik kan secara kakek mu datang berkunjung dan Vina gak ada di rumah.
Mulaini
Yudhana pelihara aja tuh gengsi mu.
Mulaini
waalaikumsalam...
Alhamdulillah 🤲
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
Kar Genjreng
rasano sebabagus bagus nya mengemas bangkai lambat laun pasti akan tercium aromanya busuk' nya,,,mamcussss 🤣🤣 sedang kan cucu menantu nya sedang mengais rezeki ,,, karena tidak sudi hidup nya menggantung kepada Pria ,,kaku dan mengabaikan bagus Kakek datang selamat datang Kek dan selamat sore 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!