Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membantu
Nayla ia melirik jam dinding masih pukul 06.46. Kenapa pak tono masuk secepat ini? Batinnya menjerit panik. Padahal rumusnya tinggal tiga baris lagi selesai. Jika ia tidak mengumpulkan tugas ini, habis sudah nilainya untuk semester ini.
"Kalian tau kenapa saya masuk lebih awal?"
pak tono sambil melipat tangannya di dada, berdiri di papan tulis. "karena hari ini saya ada rapat guru jam tujuh tepat. jadi tugas Minggu lalu... Kumpulkan di meja saya sekarang juga. Ketua kelas, koordinasikan."
Mendengar instruksi itu, seisi kelas langsung kasak-kusuk panik. Nayla menatap buku tulisnya yang masih setengah kosong dengan campur aduk antara pasrah dan nekat.
Pak tono melirik jam tangannya, menghela napas pendek, lalu melangkah lebar keluar kelas menuju ruang rapat. Begitu bayangan pak tono menghilang di balik pintu, keheningan kelas langsung pecah, suasana berubah menjadi kekacauan total.
"Ayo cepat kumpulkan! Dua menit lagi saya bawa ke meja pak tono!" teriak ketua kelas sambil menggebrak meja, berusaha menertibkan situasi.
Nayla tidak membuang waktu. Ia membuka buku tugasku, lalu menyalin jawaban secepat kilat. Tangannya bergerak tanpa henti mengabaikan tulisan yang berantakan namun masih bisa terbaca. Begitu kalimat terakhir selesai ditulis, Nayla langsung berlari kedepan dan melempar bukunya ke tumpukan paling atas tepat sebelum ketua kelas membawa tumpukan buku itu pergi. Nayla bernapas lega, bersyukur keberuntungan masih berpihak padanya.
Waktu berjalan cepat, tak lama bel istirahat berbunyi, terlewati begitu saja oleh rutinitas pelajaran selanjutnya yang padat.
suasana yang tadinya hening, dan penuh coretan rumus di papan tulis, seketika berubah riuh. bel pulang pun berbunyi nyaring, di mana semua seisi kelas langsung memasukan alat tulisnya ke dalam tas dengan senyum lebar terutama Nayla. Ia tersenyum beban tugas pak tono yang sempat membuat panik tadi pagi kini digantikan oleh bayangan kasur. hari Jum'at ini, seluruh siswa dipulangkan lebih cepat.
Tanpa perlu komando ketua, terdengar suara seretan kursi yang beradu dengan lantai, di susul Dengan suara resleting tas yang ditarik terburu-buru. Buku-buku dimasukkan asal, ketua kelas maju ke depan, memimpin doa pulang dengan kecepatan satu setengah kali lipat dari biasanya, yang langsung disambut seruan "Amin!" paling kompak.
Begitu guru keluar dari pintu, gelombang siswa langsung menghambur ke koridor.
Di luar, langit siang itu cerah, berpadu dengan angin sepoi-sepoi yang seolah ikut merayakan. Koridor sekolah mendadak penuh sesak bagi pasar malam. Ada yang berjalan cepat-cepat menuju gerbang kerena jemputannya sudah menunggu, dan ada yang saling melempar canda merencanakan pergi pantai bersama
"Eh, jadi kan sore ini?" teriak sebuah suara di antara kerumunan, mencoba mengalahkan kebisingan.
Langkah-langkah kaki membawa mereka melewati gerbang sekolah. Di balik punggung mereka sekolah perlahan sepi, namun langkah kaki yang tadinya bersemangat itu mendadak melambat. Realitas pahit langsung menghantam kesadaran mereka. hari Sabtu di daerah ini masih harus berangkat sekolah kecuali anak SMA hari Sabtu libur. Di hari Jum'at ini ternyata bukan gerbang menuju akhir pekan, melainkan hanya jeda singkat sebelum mereka harus kembali memakai seragam besok pagi.
Suasana di gerbang sekolah penuh tawa, kini berubah menjadi ruang keluhan, dan mulai sepi.
"Ingat ya besok masih ada ulangan harian matematika!" sahut temannya yang lain, sukses membuat suasana hati makin mendung.
Meskipun begitu, mereka tetap melangkah keluar gerbang. Setidaknya, sisa hari Jum'at ini bebas dari tugas. Aku mendengar obrolan itu tersenyum kecut. pengingat tentang ulangan harian matematika besok memang sukses menjadi awan hitam membayangi akhir pekan yang seharusnya menyenangkan. Sambil membenarkan posisi tali di pundak, aku mulai melangkah meninggalkan area gerbang sekolah yang kian lengang. langkah kakiku berirama menyusuri trotoar jalanan menuju rumah, mencoba menikmati hembusan angin siang dan melupakan sejenak rumus-rumus yang belum sepenuhnya kuasai.
Begitu sampai di rumah, Aku mengucapkan salam lalu melangkah masuk. Aroma tumisan bawang dan kepulan asap selalu menjadi penyambung pertamaku setiap kali melangkah masuk ke rumah. Di sudut dapur yang sempit itu, ibu sedang berdiri menghadap kompor, tangannya yang tampak kasar bergerak cekatan membalik masakan di atas kuali.
Siang itu, pekerjaan ibu seolah tidak ada putusnya. Baru selesai masak sayur dan lauk pauk untuk makan siang kami di rumah, ibu sudah harus berbolak balik menyiapkan masakan berikutnya. Kuali besar, panci, dan baskom yang baru di pakai langsung dipindahkannya ke bak cuci piring. ibu harus bergegas mencuci semuanya karena wadah-wadah itu akan segera digunakan kembali untuk memasak bahan jualan besok pagi.
Aku berdiri terpaku di ambang pintu dapur, memandangi punggung ibu yang sedikit membungkuk. Suara gemericik air yang mengalir beradu dengan dentang kuali yang digosok. Dari tempatku berdiri, mataku tertuju pada kedua telapak tangan ibu.
Tangan itu kini terlihat begitu rapuh. Kulitnya memutih, keriput, dan mengembang karena terlalu lama terpendam air dan terkena kerasnya sabun cuci secara terus-menerus. Di beberapa bagian, kulitnya tampak mengelupas, kering, dan kasar. Tidak ada lagi kelembutan di sana semuanya telah terkikis oleh minyak panas, uap kompor, dan air dingin yang membilas tanpa henti setiap hari.
Rasa sedih yang teramat sangat tiba-tiba menghantam hatiku. Ada sebak yang tertahan di tenggorokan saat menyadari bahwa setiap suap nasi yang mengenyangkan dan setiap rupiah yang membiayai hidupku, lahir dari rasa perih di tangan yang rapuh itu. ibu tidak pernah mengeluh, meski aku tahu kulit tangannya pasti terasa kaku dan perih di tangannya.
"Eh sudah pulang? Ayo ganti baju, ibu sudah siapkan makan siang," katanya lembut.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, menahan air mata agar tidak terjatuh di depannya. Dalam hati, aku berjanji akan belajar lebih giat dan berkerja keras, agar suatu nanti aku bisa membahagiakan ibu dan juga bapak yang sudah berjuang mencari rezeki.
Aku melangkah ke meja makan, mencoba mengulas senyum terbaik agar ibu tidak menangkap kegundahan di mataku. Di atas meja, sepiring nasi hangat dengan lauk seadanya sudah tersaji. Setiap suapan begitu berat. Rasa bersalah dan haru bercampur aduk di dalam hati, namun aku tetap menghabiskannya, menghargai setiap tetes keringat ibu yang menjelma menjadi energi di tubuhku.
Selesai makan, aku segera membawa piring kotor ke dapur. Di sana, ibu sudah mulai bersiap untuk memasak menu jualan besok. Tanpa diminta, aku langsung mengambil posisi di sebelahnya.
"Biar aku yang kupas bawang, bu," kataku sambil meraih pisau.
Ibu sempat melarang, menyuruhku istirahat setelah pulang sekolah, tapi aku bersikeras. Sambil mengupas bawang, aku memperhatikan ibu yang sedang mengulek bumbu. Sesekali ibu meringis kecil, memijat pergelangan tangannya yang tampak kaku. aku pun berinisiatif mengambil alih ulekan itu, membiarkan ibu beristirahat sejenak, tapi ibu melarang ku. Aku pun mengangguk melanjutkan mengupas bawang.
Dalam keheningan dapur yang hangat oleh aroma bumbu, kami bertukar cerita kecil, mencoba mengusir lelah yang menggelayuti hari penuh kesibukan.
pokoknya harus Sampek ending