Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Janji-Janji yang Teringkari

Sudut Pandang Rebecca

Namaku Rebecca.

Usiaku dua puluh lima tahun.

Dan kalau ada satu hal yang kupelajari sejak dini… hidup tak pernah menunggu kita siap.

Aku tidak dibesarkan oleh orang tuaku. Sejujurnya, aku nyaris tak mengingat mereka. Yang membesarkanku adalah kakak perempuanku.

Dia segalanya. Ibu. Ayah. Rumah. Tempat berlindung.

Dia merelakan hidupnya sendiri demi merawatku… lalu merawat anak-anaknya. Anak-anak lelakiku. Heitor dan Henrique.

Keduanya lahir saat aku sendiri masih hampir seperti anak-anak, tapi sejak hari pertama aku tahu aku akan melakukan apa pun untuk mereka.

Mereka kembar. Namun sama sekali berbeda.

Heitor impulsif, berkepala panas… seolah darahnya mendidih lebih cepat daripada orang biasa.

Henrique justru kebalikannya. Tenang. Suka mengamati. Tipe yang berpikir sebelum bertindak.

Dan aku? Aku berada di tengah-tengah, berusaha keras untuk tidak kehilangan akal.

Aku mengembuskan napas pelan, mengenang. Karena dulu tak selalu begini.

Ketika mereka berumur lima belas tahun… semuanya berubah.

Kakakku mulai sering kelelahan. Lebih dari biasanya.

Awalnya ia bilang itu cuma stres… pekerjaan… rutinitas. Tapi aku tahu. Aku selalu tahu.

Lalu diagnosis itu datang.

Kanker.

Kata itu masih terasa perih.

Dia berjuang. Dengan segenap yang ia punya. Tapi tak selalu berjuang saja cukup.

Di rumah sakit… di saat-saat terakhir… ia menggenggam tanganku. Lemah, tapi dengan tatapan tegas yang tak pernah lekang.

"Jaga mereka untukku."

Tenggorokanku tercekat.

"Pasti kujaga."

"Berjanjilah."

"Aku berjanji."

Ia menarik napas dalam. Lalu mengucapkan sesuatu yang tak akan pernah kulupakan.

"Ayah mereka…"

Jantungku berpacu. Kami tak pernah membahasnya. Tak pernah sekali pun.

"Dia berbahaya."

Kalimat itu membekukanku.

"Sangat berbahaya."

"Kalau begitu, kenapa—"

"Berjanjilah kau tak akan pernah mencarinya."

Kuremas tangannya. Bingung. Takut.

"Berjanjilah."

Aku menatapnya. Dan meski tak sepenuhnya paham… aku berjanji.

"Aku berjanji."

Setelah itu ia memejamkan mata. Beberapa hari kemudian… ia pergi.

Aku menelan ludah. Masih perih. Akan selalu perih.

Tapi aku terus melangkah. Karena tak ada pilihan lain.

Aku mengambil hak asuh kedua bocah itu. Belajar dengan cara yang keras. Bekerja apa saja yang kutemukan. Kulewati malam-malam tanpa tidur, hari-hari tanpa makan yang layak. Tapi aku tak pernah membiarkan mereka kekurangan apa pun. Tidak pernah.

Karena mereka keluargaku. Dan aku berutang segalanya kepada kakakku.

Tapi semuanya mulai berantakan… beberapa minggu lalu.

Malam itu aku sedang jaga shift di klub. New York memang tak pernah tidur, dan tempat itu buktinya. Musik menghentak. Lampu-lampu berpendar. Terlalu banyak orang berjejal. Dan aku di balik bar, mengerjakan tugasku. Tanpa banyak memandang siapa pun. Tanpa memberi celah. Itu aturannya, dan aku mematuhinya.

Sampai dia muncul. Duduk di depan bar. Lalu mulai mengajakku bicara.

"Kamu harusnya lebih sering tersenyum."

Aku tak menggubris. Terus menggosok sebuah gelas.

"Gadis secantik kamu tak sepantasnya—"

"Mau pesan minum apa?"

Kupotong langsung. Dingin.

Dia tersenyum. Tapi bukan senyum biasa. Senyum itu… ganjil.

"Kamu."

Aku memutar bola mata. "Itu tidak ada di menu."

Dia tertawa, tapi tak mendesak. Malam itu ia menghabiskan minumannya, membayar, lalu pergi.

Kukira semuanya berakhir di situ. Ternyata tidak.

Keesokan harinya, sebuah paket tiba di apartemen. Tanpa nama pengirim.

Aku mengernyit. Kubuka. Sebuah kotak sederhana. Di dalamnya… bunga. Dan sepucuk catatan.

"Meski kau mengabaikanku kemarin… kau tampak cantik sekali."

Perutku bergolak. Hawa dingin merayap naik di sepanjang tulang punggungku.

Ini tidak manis. Tidak romantis. Ini salah. Sangat salah.

Kuremas catatan itu, kubuang semuanya ke tempat sampah, lalu kucoba melupakannya.

Tapi tak bisa. Karena di hari-hari berikutnya… aku mulai menyadari sesuatu.

Mobil-mobil. Selalu yang itu-itu. Melintas pelan. Berhenti terlalu dekat. Orang-orang yang memandang. Mengawasi.

Dan dia. Selalu dia. Muncul di jalan. Di tempat kerja. Di tikungan.

"Kebetulan?" tanyanya.

Tapi aku tahu ini bukan kebetulan.

Aku mulai berjalan lebih cepat. Melirik ke balik bahu. Mengunci pintu dua kali. Tiga kali.

Aku pergi ke polisi. Kujelaskan semuanya. Kutunjukkan pesan-pesannya. Kuceritakan tiap kejadian. Tapi mereka cuma mengangkat bahu.

"Apa dia sudah melakukan sesuatu secara langsung?"

"Belum."

"Kalau begitu, kami tak bisa berbuat banyak."

Belum.

Kata itu terus terngiang di kepalaku.

Lalu… dia mulai bergerak. Pesan-pesannya berubah. Bunga berubah menjadi ancaman.

Dan suatu hari… datang sebuah foto.

Jantungku berhenti.

Heitor dan Henrique. Keluar dari gerbang sekolah. Diambil dari kejauhan. Tapi jelas. Terlalu jelas.

Tanganku mulai gemetar.

"Mereka tampan sekali."

Napasku tercekat.

"Sayang sekali kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka."

Kurasakan seluruh duniaku runtuh.

Aku sanggup menahan apa saja. Ketakutan apa pun. Kejaran apa pun. Tapi bukan mereka. Jangan mereka.

Aku mulai menolak pekerjaan. Menghindari keluar rumah. Mengganti-ganti rute. Tapi percuma. Karena dia selalu tahu. Selalu selangkah di depan.

Dan saat itulah aku mengerti. Ini tak akan berhenti. Tidak dengan sendirinya. Dan jika aku tak berbuat sesuatu… dia akan menyakiti mereka.

Kupejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam. Mencoba berpikir. Mencari jalan keluar. Apa pun itu.

Dan di situlah sebuah nama kembali muncul. Nama yang kujanjikan untuk kulupakan.

Ayah mereka.

Satu-satunya orang yang mungkin lebih berbahaya… daripada pria yang tengah memburuku.

Dadaku menyesak. Janji itu bergema di kepalaku.

"Berjanjilah kau tak akan pernah mencarinya."

Aku sudah berjanji. Aku sudah bersumpah.

Tapi… bagaimana kalau janji itu harus dibayar dengan nyawa mereka?

Kubuka mata. Bertekad. Takut. Diliputi rasa bersalah. Namun tanpa pilihan.

Karena bila memang harus… akan kulanggar janji apa pun. Demi melindungi mereka.

Episodes
1 Janji-Janji yang Teringkari
2 Kebenaran
3 Masa Lalu Mengetuk Pintu
4 Tak Ada Jalan Kembali
5 Menanti Neraka
6 Pria yang Kutakuti
7 Darah Dagingku
8 Jalur yang Bersilangan
9 Beban Kebenaran
10 Di Antara Rasa Takut dan Kepercayaan
11 Demi Mereka
12 Terkonfirmasi
13 Bayangan yang Sama
14 Aturan
15 Di Antara Pilihan
16 Keheningan
17 Kendali
18 Terguncang
19 Batas
20 Percobaan
21 Aku Bukan Milikmu
22 Antara Harga Diri dan Nalar
23 Penyesuaian
24 Garis-Garis Berbahaya
25 Kegelisahan
26 Mencoba Menjadi
27 Serbuan Keluarga
28 Nyaris
29 Sekarang Ini Urusan Pribadi
30 Harga Diri
31 Ketahuan
32 Terbongkar
33 Cuma Jangan Lari
34 Sesuatu yang Layak Diperjuangkan
35 Interogasi
36 Tatapan
37 Sesuatu yang Tak Pernah Kumiliki
38 Perburuan
39 Menjauh
40 Tanpa Jejak
41 Keheningan yang Melukai
42 Bukan Cuma Itu
43 Tanpa Kendali
44 Tinggallah
45 Berhadapan Muka
46 Yang Datang Setelahnya
47 Pilihan
48 Babak Baru
49 Harga Diri
50 Kesunyian
51 Otoritas/Saudara
52 Penyesuaian
53 Kekacauan yang Menyenangkan
54 Hari Pertama
55 Rindu
56 Jarak yang Berbahaya
57 Akhirnya
58 Penyerahan Diri
59 Keluarga
60 Tatapan
61 Permainan Kotor
62 hantu-hantu masa lalu
63 Penjelasan
64 Awal yang Baru
65 Perubahan
66 Amplop Itu
67 Persimpangan Jalan
68 Tanpa Pelarian
69 Kebenaran
70 Pilihan
71 Delapan Belas
72 Masa Lalu
73 Awal Baru
74 Selamanya
75 Epilog — Selamanya Milik Kita
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Janji-Janji yang Teringkari
2
Kebenaran
3
Masa Lalu Mengetuk Pintu
4
Tak Ada Jalan Kembali
5
Menanti Neraka
6
Pria yang Kutakuti
7
Darah Dagingku
8
Jalur yang Bersilangan
9
Beban Kebenaran
10
Di Antara Rasa Takut dan Kepercayaan
11
Demi Mereka
12
Terkonfirmasi
13
Bayangan yang Sama
14
Aturan
15
Di Antara Pilihan
16
Keheningan
17
Kendali
18
Terguncang
19
Batas
20
Percobaan
21
Aku Bukan Milikmu
22
Antara Harga Diri dan Nalar
23
Penyesuaian
24
Garis-Garis Berbahaya
25
Kegelisahan
26
Mencoba Menjadi
27
Serbuan Keluarga
28
Nyaris
29
Sekarang Ini Urusan Pribadi
30
Harga Diri
31
Ketahuan
32
Terbongkar
33
Cuma Jangan Lari
34
Sesuatu yang Layak Diperjuangkan
35
Interogasi
36
Tatapan
37
Sesuatu yang Tak Pernah Kumiliki
38
Perburuan
39
Menjauh
40
Tanpa Jejak
41
Keheningan yang Melukai
42
Bukan Cuma Itu
43
Tanpa Kendali
44
Tinggallah
45
Berhadapan Muka
46
Yang Datang Setelahnya
47
Pilihan
48
Babak Baru
49
Harga Diri
50
Kesunyian
51
Otoritas/Saudara
52
Penyesuaian
53
Kekacauan yang Menyenangkan
54
Hari Pertama
55
Rindu
56
Jarak yang Berbahaya
57
Akhirnya
58
Penyerahan Diri
59
Keluarga
60
Tatapan
61
Permainan Kotor
62
hantu-hantu masa lalu
63
Penjelasan
64
Awal yang Baru
65
Perubahan
66
Amplop Itu
67
Persimpangan Jalan
68
Tanpa Pelarian
69
Kebenaran
70
Pilihan
71
Delapan Belas
72
Masa Lalu
73
Awal Baru
74
Selamanya
75
Epilog — Selamanya Milik Kita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!