Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Cahaya temaram menyambut Seraphina saat dia memasuki kamarnya. Pintu pun segera ia tutup rapat-rapat.
Tubuhnya merosot ke bawah. Disusul dengan air mata yang tumpah setelah berusaha terlihat kuat didepan semua orang yang tak sekalipun pernah memihaknya.
Sekali lagi, Kalani berhasil menghancurkan kebahagiaannya. Sekali lagi, Kalani berhasil menunjukkan bahwa hanya dirinya yang paling pantas bahagia di dunia ini.
Seraphina?
Tidak.
Bahkan, kelahirannya saja mungkin tak pernah menjadi sukacita bagi semua orang.
"Kenapa aku selalu ditakdirkan untuk menangis, Tuhan?" keluhnya dengan isak tangis tertahan.
Dadanya terasa sesak. Dipukul sekeras apapun, tetap saja rasa sesak itu bertahan di sana.
"Aku hanya ingin bahagia. Apa harapan itu terlalu sulit untuk dikabulkan?" lirihnya nyaris putus asa.
Seraphina bangkit berdiri. Dia meraih mantel yang di gantung dekat pintu kamar mandi, mengenakannya, lalu bergerak mengambil dompet yang ada diatas nakas.
Air mata ia hapus. Seraphina ingin melarikan diri. Setidaknya, untuk sementara waktu.
"Sera," panggil sang Ayah.
Langkah Seraphina terhenti namun tubuhnya tidak berbalik.
"Kamu mau kemana malam-malam begini?"
"Jalan-jalan."
"Ini sudah larut malam. Kamu mau jalan-jalan kemana?"
"Kemana saja," jawab Seraphina. "Di sini terlalu sesak."
Seraphina kembali melanjutkan langkahnya. Sang Ayah pun tidak berusaha mencegahnya lagi.
"Aku akan menyusul Sera."
Kaivan berdiri. Kekhawatiran tumbuh didalam hatinya. Dia takut Seraphina melakukan hal yang nekat jika dibiarkan sendirian dalam keadaan seperti sekarang.
"Tidak perlu," cegah Romi.
"Tapi, Ayah... Aku mengkhawatirkan Seraphina."
"Dia tidak akan melakukan tindakan yang bodoh. Dia wanita yang kuat."
Kaivan kini hanya bisa pasrah. Sorot mata sang Ayah mertua terlihat sangat menakutkan. Kaivan tak punya nyali untuk membantah lagi.
******
Pukul empat pagi, Seraphina tiba diatas sebuah bukit yang berada di pedesaan. Tempat itu tidak asing baginya.
Bukit itu adalah tempat dimana Seraphina tumbuh. Bukit itu adalah tempat dimana Seraphina menghabiskan 12 tahun hidupnya bersama sang Nenek.
Bukit itu adalah saksi dimana seorang bayi kecil yang masih merah, dititipkan di sana karena dianggap sebagai pembawa sial.
Tepat dihari kelahirannya, kakaknya diculik. Disaat orangtuanya sibuk dengan rangkaian persalinan yang berlangsung rumit, kakaknya Kalani sedang disiksa oleh para penculik gara-gara sang Ayah yang tak punya waktu untuk mengangkat telepon.
Saat Seraphina lahir, barulah sang Ayah mengangkat telepon itu. Sayangnya, meski sudah membayar tebusan, namun Kalani tetap kembali dalam keadaan babak belur dan nyaris kehilangan nyawa.
Detik itu juga, kedua orangtuanya malah menyalahkan Seraphina. Mereka menganggap anak kedua mereka sebagai anak pembawa sial.
Andai dia tidak menyusahkan orangtuanya, mungkin Kalani tidak akan pernah mengalami penyiksaan itu. Andai dia mau lahir dengan cara yang normal, tak mungkin orangtuanya akan berlama-lama di rumah sakit dan hanya menitipkan putri pertama mereka kepada seorang pengasuh.
Tapi... apa semua benar-benar salah Seraphina?
Memangnya, Seraphina minta dilahirkan di saat yang bersamaan dengan tragedi penculikan Kalani?
"Nenek..." lirih Kalani. Dia mendekati sebuah makam yang mulai ditumbuhi oleh rumput-rumput liar.
Terakhir Seraphina kemari adalah saat calon suaminya direbut oleh Kalani lima tahun yang lalu.
"Nenek apa kabar?"
Suaranya terdengar serak.
"Nek, Sera rindu. Rinduuu sekali."
Air mata kembali menetes. Dia memeluk nisan itu dengan erat.
"Nek, hati Sera patah lagi," lirih Seraphina. Dia mengusap air matanya berkali-kali namun tetap saja pipinya basah, lagi dan lagi.
"Ternyata, Kaivan juga sama saja. Dia sama jahatnya dengan Arsenio. Dia juga menipu Sera, Nek."
Wanita itu mengadu. Suaranya terdengar seperti anak kecil. Sayangnya, mau seperti apapun dia mengadu, tak akan ada seseorang lagi yang akan langsung mengambil sapu dan berjalan tergesa-gesa menuju ke rumah orang yang menyakiti cucunya.
Seraphina tak akan menerima pelukan hangat lagi. Seraphina tak akan menerima senyuman tulus lagi.
Yang tersisa dari seorang wanita tua yang sudah 12 tahun merawatnya dengan penuh kasih sayang hanya tinggal kenangan.
"Sampai kapan Sera akan hidup sendirian, Nek? Sampai kapan Sera akan terus bersedih? Kapan mendung akan berlalu, Nek?"
Seraphina terus berbicara. Hanya di tempat itu, dia bisa memperlihatkan sosok dirinya yang sebenarnya.
Seraphina yang rapuh.
Seraphina yang lemah.
Seraphina yang hanya berharap ada satu orang yang benar-benar tulus mencintainya seperti cinta yang dulu diberikan oleh sang Nenek.
Dia tak serakah.
Dia hanya meminta satu orang saja.
Tidak banyak. Tapi, kenapa susah sekali untuk dikabulkan?
Matahari perlahan terbit dari ufuk timur. Cahayanya yang hangat membuat senyum Seraphina perlahan ikut terbit.
Keindahan itu masih sama. Dia masih bertahan, tak lekang dimakan waktu.
"Nenek... sudah waktunya Sera pulang. Tidak apa-apa, kan?"
Seraphina mengelus nisan itu. Menciumnya sebentar sebelum bergerak untuk menuruni bukit.
Saat diperjalanan turun, Seraphina tak sengaja berpapasan dengan dua orang lelaki. Satu diantaranya terus mengomel sehingga membuat Seraphina jadi sedikit takut.
"Sepertinya, mereka juga berasal dari kota. Kenapa pagi-pagi sekali sudah datang ke sini?" gumam Seraphina.
Dia sengaja menundukkan kepala. Berusaha untuk tidak menarik perhatian kedua lelaki asing itu.
"Marco, cepat!!! Kita tidak akan melihat matahari terbit lagi jika gerakmu selambat siput."
"Iya, tunggu. Aku... benar-benar kelelahan. Lagipula, kenapa harus sejauh ini jika hanya ingin melihat mataharj terbit, hah?"
Deg.
Lelaki itu tak menjawab. Tatapannya matanya terpaku pada seorang wanita yang baru saja lewat disampingnya.
Tubuhnya membeku selama beberapa detik. Dan, begitu dia menatap wanita itu sekali lagi, dia benar-benar yakin jika kali ini dia akhirnya berhasil.
"Kenapa malah berhenti? Katanya, kau buru-buru mau melihat matahari terbit?"
Lelaki itu tersenyum. Tatapannya masih tertuju pada punggung seorang wanita yang kian menjauh.
"Aku sudah melihatnya, Marco. Aku sudah melihatnya," sahutnya sambil tersenyum semakin lebar.
Tujuannya berhasil. Setelah lima tahun perjuangan menunggu matahari terbit, akhirnya hari ini dia menemukan apa yang benar-benar dia cari.
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭