Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi hari di rumah keluarga Ayodhya selalu diawali dengan keributan.
Prang!
Suara piring kecil yang jatuh ke lantai terdengar dari arah ruang makan.
"Cakra! Jangan berlari sambil membawa piring isi sosis goreng!" teriak Dewa dengan nada sangat kesal.
"Biarin saja, aku kan mau cepat-cepat kasih sosis ini buat Lula!" balas Cakra tidak mau kalah.
Cakra berlari kecil menghampiri meja makan dan meletakkan dua potong sosis di piring Lula.
Lula yang sedang mengunyah roti bakar menatap Cakra dengan mata bulatnya yang berbinar.
"Terima kasih, Kak Cakra yang berisik," ucap Lula dengan mulut penuh.
Cakra tertawa dan mengacak-acak rambut Lula sampai berantakan.
"Sama-sama, makan yang banyak biar cepat besar dan bisa kuajak main basket," balas Cakra.
Dewa berjalan menyusul dari belakang dan duduk di kursinya dengan wajah ditekuk.
Pemuda berusia lima belas tahun itu masih memegangi perutnya yang kemarin terluka.
"Berhenti mengacak-acak rambutnya, nanti dia tersedak bodoh," omel Dewa sambil menuangkan susu ke gelas.
Dewa lalu menggeser gelas susu putih itu tepat ke sebelah piring Lula.
Dia tidak mengatakan apa-apa dan membuang muka ke arah jendela.
Lula tersenyum lebar dan langsung meminum susu itu dengan dua tangan kecilnya.
"Susu dari Kak Dewa galak rasanya manis sekali," puji Lula dengan tulus.
Wajah Dewa sedikit memerah tapi dia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
"Cepat habiskan makananmu, aku dan Cakra harus segera berangkat ke sekolah," suruh Dewa pelan.
Arini yang baru saja datang dari dapur hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu.
Dia merasa rumahnya menjadi jauh lebih hidup sejak gadis kecil ini datang.
"Lula, hari ini kamu main di rumah saja ya sama pelayan," kata Arini lembut.
"Tante mau pergi ke mana?" tanya Lula bingung.
"Mama harus ke butik sebentar, nanti siang Mama belikan baju-baju baru yang cantik untukmu," jelas Arini.
Lula mengangguk patuh.
Setelah sarapan selesai, Cakra dan Dewa berangkat ke sekolah diantar oleh supir.
Arini juga pergi menggunakan mobilnya yang lain.
Bastian sudah berangkat ke kampus sejak subuh karena ada ujian praktik.
Kini tinggal Lula sendirian di rumah itu.
Lula merasa bosan dan memutuskan untuk berjalan-jalan ke halaman belakang yang sangat luas.
Tap tap tap.
Kaki kecil Lula melangkah di atas rumput hijau yang dipotong sangat rapi.
Di ujung taman itu, Lula melihat sebuah bangunan kaca kecil yang terlihat kusam.
Itu adalah rumah kaca yang sepertinya sudah lama tidak diurus.
Kriet.
Lula mendorong pintu rumah kaca itu dengan susah payah karena engselnya berkarat.
"Uhuk uhuk, debunya banyak sekali," batuk Lula sambil mengibaskan tangannya.
Di dalam rumah kaca itu, udaranya terasa pengap dan sangat panas.
Banyak pot-pot tanaman yang sudah kering dan mati.
Namun telinga Lula tiba-tiba menangkap sebuah suara rintihan yang sangat pelan.
"Sakit... tolong aku... gelap sekali di sini."
Lula menoleh ke arah sudut ruangan yang paling gelap.
Di sana terdapat sebuah pot besar berbahan keramik tua yang sudah retak.
Di dalam pot itu ada sebuah pohon bonsai beringin yang daunnya sudah rontok semua.
Batangnya terlihat keriput dan nyaris mati sepenuhnya.
Lula berlari kecil mendekati bonsai itu dengan wajah sedih.
"Kakek Pohon sakit ya?" tanya Lula pelan.
Bonsai itu bergetar sangat pelan merespon suara Lula.
"Anak manusia... suaramu terdengar hangat," bisik bonsai itu lemah.
"Aku sudah lama dilupakan di sini, akarku kering dan sebentar lagi aku akan mati."
Lula menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak boleh mati, nanti Lula bantu sembuhkan," ucap Lula penuh tekad.
Lula meletakkan kedua tangan mungilnya di atas tanah kering di dalam pot itu.
Dia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
"Tumbuhlah yang sehat, Kakek Pohon," batin Lula memanggil kekuatannya.
Cahaya hijau yang sangat terang memancar dari telapak tangan Lula.
Cahaya itu mengalir deras masuk ke dalam tanah dan menyelimuti akar bonsai yang mati.
Wusss.
Angin sejuk tiba-tiba berhembus di dalam rumah kaca yang pengap itu.
Keajaiban terjadi tepat di depan mata Lula.
Batang bonsai yang tadinya keriput mulai terlihat segar dan mengkilap.
Daun-daun kecil berwarna hijau muda tumbuh dengan sangat cepat dari ranting-ranting yang kering.
Hanya dalam waktu sepuluh detik, bonsai beringin itu kembali hidup dan tampak sangat gagah.
"Terima kasih, anak ajaib... rasanya aku kembali muda," ucap bonsai itu dengan suara yang jauh lebih kuat.
Lula membuka matanya dan tersenyum lebar hingga giginya terlihat.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa sedikit pusing karena dia menggunakan tenaga yang lumayan besar.
Bruk.
Lula jatuh terduduk di lantai berdebu itu sambil memegangi kepalanya.
"Lula capek sekali, mau tidur sebentar," gumam Lula dengan mata yang mulai berat.
Dia akhirnya tertidur di lantai rumah kaca dengan bersandar pada pot keramik itu.
Di waktu yang sama, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota Jakarta.
Brak!
Sebuah asbak kaca dilempar dengan keras hingga hancur berkeping-keping menghantam dinding.
"Bagaimana bisa Baskoro membatalkan tanda tangannya di detik terakhir?!" teriak seorang pria paruh baya berkumis tebal.
Pria itu adalah Surya, pemilik perusahaan saingan yang merancang jebakan untuk Grup Lentera.
Di depannya, seorang pria berjas hitam menunduk ketakutan.
"Maafkan kami Pak Surya, menurut informan, Baskoro sudah bersiap tanda tangan."
"Lalu tiba-tiba dia membaca pasal jebakan itu dan langsung membatalkan semuanya," jelas pria berjas itu gemetar.
Surya menggebrak meja kerjanya dengan amarah yang memuncak.