NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Eumm, kalau begitu kita istirahat saja, ini sudah larut. Nisa, tolong antar mereka ke kamar ya!" Titah pak RT pada anak gadisnya itu, menyudahi ketegangan diruang tengah rumahnya.

"Iya, Pak. Raisa, kau bisa membawa suamimu ke kamar belakang kan?" Nisa bertanya pada Raisa yang baru saja bangkit dari tempat duduknya, wanita itu mengangguk tersenyum lalu memapah suaminya ke kamar belakang dibantu oleh sopir pribadi mereka.

Nisa berdiri di ambang pintu pembatas ruang tengah dan ruang belakang, setelah lelaki yang bekerja sebagai sopir itu keluar dari kamar yang akan ditempati oleh Raisa dan Angga ia segera menyuruh Raisa menutup pintunya.

"Kau, ada satu kamar lagi di belakang, tapi ya dekat dapur dan kamar mandi. Kau mau tidur disana atau tidur di ruang tengah saja? Tapi bisanya suhu di ruang tengah itu sangat dingin saat subuh tiba"

"Kalau begitu aku di kamar itu saja!"

"Oke, kamarnya ada dibelakang. Aku mau istirahat"

"Baik cantik"

"Hah?"

"Tidak, tidak. Aku bilang aku akan pergi!"

"Yasudah pergi saja!"

Lelaki itu mengelus dadanya pelan kala Nisa beranjak pergi dengan wajah kesal, ia lalu berjalan ke arah dapur, mencari keberadaan kamar yang dikatakan Nisa. Setibanya di kamar kecil sederhana itu ia menutup pintu lalu merebahkan diri di atas kasur kapas jadul tersebut, tak lama sudah terlelap akibat kelelahan diperjalanan tadi.

Berbeda dengan Raisa dan Angga yang terpaksa berada didalam satu kamar yang sama dengan tempat tidur yang sangat pas pasan untuk digunakan oleh dua orang dewasa. Angga yang berbaring disebelah kanan melirik Raisa yang berada sisi kirinya, wanita itu masih sibuk memperkuat perban di kakinya, tak memperhatikan Angga yang menatapnya sejak tadi.

Usai perban itu di erat kan, Raisa memundurkan badannya ke arah bantal, hendak berbaring namun segera sadar kalau Angga tengah menatapnya.

"Aku harus tidur disini, jangan usir aku karena tak ada tempat tidur lain yang tersisa" ucapnya pelan, ragu-ragu untuk berbaring disebelah suaminya.

"Angga, kau tidak senang aku mendapatkan cincinnya kembali? Aku begitu takut saat hampir tenggelam ke dasar laut hanya untuk mencari cincinnya"

"Terserah, aku tidak peduli. Tapi jangan coba-coba mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Ucapnya cuek.

Raisa kembali duduk, menatap kesal pada suaminya itu.

"Apa yang kau lihat?" Tanya Angga ketus.

Raisa segera melepaskan cincin ditangannya lalu dengan kasar memberikannya pada Angga.

"Apa hatimu terbuat dari batu? Melihat keadaanku yang begini tidakkah kamu iba?"

"IBA? BUAT APA? Aku bahkan berharap kamu mati, kau selalu saja menyusahkanku!"

Wanita ini menarik dan menghela nafas panjang, ia mempertaruhkan nyawanya untuk mengambil cincin berlian pemberian laki-laki itu dari pantai berombak yang hampir membuat nyawanya melayang, namun suaminya masih saja bersikap dingin kepadanya.

"Setelah pulang nanti ayo kita bercerai" ucapnya lalu memilih untuk tidur membelakangi Angga.

Angga terkejut lantaran untuk pertama kalinya Raisa meminta untuk bercerai, menyadari kalau perkataannya mungkin terlalu kasar, Angga menggaruk kepalanya, lelaki ini tengah kebingungan apakah dia harus meminta maaf namun yang keluar dari mulutnya justru berbanding terbalik dengan apa yang ada didalam hatinya.

"Baik, aku bahkan sudah menunggumu mengatakan hal itu dari dulu" ucapnya.

Air mata Raisa terus mengalir membasahi bantal dibawah pipinya, kalimat "aku bahkan berharap kamu mati" yang diucapkan suaminya beberapa menit lalu cukup membuat suasana hatinya berantakan.

"Ternyata bagaimanapun aku berkorban untuknya, aku tak pernah memiliki ruang dihatinya. Baik, jika ingin bercerai ya bercerai saja. Mungkin aku akan lebih bahagia tanpanya" batinnya penuh sesak.

Kaki dan tangannya gemetar hebat menyimpan luka yang tak kalah sakit dari luka luar ditubuhnya, pada akhirnya air matanya kering seiring berjalannya waktu hingga ia terlelap dengan perasaan hancur.

***

Pagi pun tiba dan Nisa segera menyiapkan sarapan untuk seluruh orang dirumah, mendengar suara ribut di belakang membuat lelaki yang tidur di kamar berukuran kecil itu terbangun dengan mata yang masih kantuk, ia beranjak ke arah dapur sambil mengusap kedua matanya bergantian.

Menyadari lelaki itu kini berada di belakangnya membuat Nisa terkejut bahkan hampir melayangkan sendok goreng ditangannya.

"Kamu ini, jangan berdiri seperti itu. Aku terkejut!" Tegur Nisa.

"Jadi bagaimana seharusnya aku berdiri? Begini?" Jawab lelaki itu menyondongkan dadanya kedepan sementara bagian bokongnya condong kebelakang.

Nisa menyunggingkan bibirnya, merasa jijik dengan pose yang tak biasa itu.

"Dasar laki-laki gila, mau jadi dancer dangdut?"

Raisa terbangun saat mencium aroma masakan dari dapur, sambil meregangkan tubuhnya diatas kasur sambil menguap. Sementara itu Angga menarik selimut mereka untuk menutupi seluruh tubuhnya sebab dipagi hari udara pedesaan lebih dingin dibandingkan saat malam.

Wanita itu cuek saja bahkan beranjak dari atas tempat tidur tanpa melirik suaminya tersebut, ia membuka semua jendela dan juga pintu rumah agar udara berganti. Kebetulan saat itu Indra dan Pak Suparmin baru saja tiba di halaman begitu Raisa membuka pintu, ketiganya saling tersenyum terutama saat tiba-tiba istri pak RT datang dari dalang membawa buah segar.

"Ibu darimana pagi-pagi sekali?" Tanya Raisa.

"Ibu baru saja memetik buah segar dari ladang, untuk kalian bawa pulang nanti, ini cocok dimakan saat panas. Di kota tempat kalian tinggal, panas kan?"

"Wahhh, terimakasih Ibu. Tapi ibu tidak perlu repot-repot, kalian sudah merawat dan menyelamatkanku, aku sudah banyak berhutang pada kalian semua!" Ucap Raisa terharu.

Indra ikut tersenyum lalu mereka berjalan masuk ke dalam rumah, mereka juga membawa beberapa makanan untuk diberikan kepada Raisa, disusul oleh anak-anak yang ikut bermain bersama mereka tempo hari.

"Ehhh, Nak Angga kok sudah bangun saja!"

Indra menoleh ke arah lelaki yang baru saja disapa oleh wanita paruh baya tersebut, benar saja bahwa lelaki itu merupakan pemilik perusahaan tempat Indra bekerja.

"Wahh, ternyata Pak Angga lebih tampan jika dilihat lebih dekat" batinnya.

"Iya Bu, rencananya kami akan pulang pagi ini agar tidak terlalu malam sampai di kota. Ngomong-ngomong apa mereka Indra dan Pak Suparmin yang ibu ceritakan kemarin?" Tanya Angga saat mendapati ada dua orang yang baru pertama kali dilihatnya di rumah tersebut.

Wanita paruh baya itu tersenyum.

"Ingatanmu bagus juga, ya merekalah yang sudah menolong dan membaw istrimu ke rumah ini" jawabnya.

Angga segera mengulurkan tangannya menyapa kedua lelaki itu sambil tersenyum, mereka saling bertukar cerita beberapa saat sebelum Nisa dan Raisa membawa sarapan ke ruang tengah.

"Owhh iya, ngomong-ngomong Pak RT dimana?" Tanya pak Suparmin setelah menyadari kalau sejak tadi beliau memang tidak kelihatan.

"Disini!" Seru lelaki yang mulai beruban itu dari halaman, ia muncul membawa sebuah kotak styrofoam berukuran besar, membuat semua orang kebingungan, terutama Angga yang penasaran mengapa orang-orang desa sudah beraktifitas dipagi-pagi buta.

"Kebetulan Bapak sudah lapar, ayo sarapan dulu" ucapnya mencairkan suasana.

Mereka lalu sarapan bersama, sesekali Indra dengan sengaja mengambil potret Raisa dan Angga secara diam-diam. Setelah sarapan Raisa dan Angga lalu bersiap untuk pulang, sopir mereka sibuk memasukkan buah tangan dari Pak Suparmin dan Pak RT, banyak warga desa yang juga memberangkatkan kepergian mereka. Sebelum pulang Angga mengucapkan beberapa kali ucapan terimakasih pada orang-orang itu dan menitipkan sebuah amplop tebal pada Pak Suparmin dan Pak RT, meski mereka sudah menolak namun lelaki itu tetap bersikeras memberikannya.

Tangisan haru kemudian tumpah begitu saja saat masa perpisahan tiba, sebab sudah tumbuh sebuah rasa yang biasa disebut kasih sayang diantara mereka. Setelah keluar dari perkampungan suasana tiba-tiba berubah sunyi, sopir yang mengemudikan mobil itu segera memasang musik agar ia tak ikut serta merasakan ketegangan di kursi belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!