H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Mobil SUV hitam legam yang dikemudikan oleh Reagan Baskara akhirnya memasuki gerbang utama sebuah kawasan perumahan privat mewah di kawasan utara Bandung. Setelah melewati pos penjagaan ketat, kendaraan itu berhenti dengan mulus di pelataran halaman sebuah rumah bergaya klasik modern yang dikelilingi taman bunga terawat rapi.
Itu adalah kediaman utama keluarga besar Baskara tempat di mana orang tua Reagan tinggal.
Begitu mesin mobil dimatikan, Bu Aura lebih dulu turun dengan bantuan pintu yang dibukakan oleh sang sopir pribadi keluarga yang sudah bersiap di sana. Disusul kemudian oleh Kalea Mahika dan Reagan yang melangkah keluar secara bersamaan dari sisi yang berbeda.
Sebelum Mahika sempat merapikan lipatan hijabnya, pintu utama rumah besar itu terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya berwajah teduh dengan balutan dress rajut elegan melangkah keluar menyambut kedatangan mereka. Wajahnya berseri-seri penuh kehangatan.
Itu adalah Martha Baskara, ibunda kandung Reagan sekaligus kakak kandung dari Bu Aura.
"Aura! Adikku tersayang!" seru Martha riang, langsung menghambur memeluk adiknya erat-erat begitu Bu Aura mendekat.
"Mbak Martha! Aduh, kangen banget aku," balas Bu Aura membalas pelukan hangat sang kakak sambil tertawa renyah.
Setelah melepas rindu sejenak dengan adiknya, pandangan Martha beralih pada sosok gadis berhijab pastel yang berdiri agak canggung di dekat mobil. Mahika segera membungkuk sopan, hendak menyapa, namun sebelum ia sempat membuka suara, Martha justru melangkah cepat mendekatinya dan langsung merengkuh tubuh Mahika ke dalam pelukan yang begitu tulus.
Grep!
Pelukan hangat itu datang begitu tiba-tiba hingga membuat Mahika tertegun sejenak.
"Selamat datang di rumah kami, Nak Mahika," ucap Martha lembut, mengusap punggung Mahika penuh kasih sayang seolah ia sudah lama mengenal gadis itu. "Aduh, Ibu senang sekali akhirnya bisa ketemu langsung sama kamu. Aura tiap hari di telepon selalu muji-muji hasil kerja dan kehebatan desain kamu, lho."
Mahika merasa dadanya menghangat seketika. Rasa canggung dan takut yang sempat singgah di benaknya buyar tak bersisa, digantikan oleh kenyamanan luar biasa dari keibuan Martha.
"Terima kasih banyak sambutannya, Tante... Maaf kalau kedatangan saya tiba-tiba dan merepotkan keluarga di sini," balas Mahika tulus dengan senyum mengembang di balik hijabnya.
"Nggak merepotkan sama sekali, sayang! Justru rumah ini jadi jauh lebih hidup," jawab Martha ramah.
Martha kemudian melepaskan pelukannya, lalu menatap Mahika lekat-lekat dengan mata berbinar penuh makna. Ia tersenyum penuh arti, lalu melontarkan kalimat yang langsung membuat suasana mendadak hening.
"Kamu tahu, Nak Mahika?" kata Martha dengan suara lembut namun tegas. "Selama bertahun-tahun Reagan hidup, baru kali ini lho... kamu adalah perempuan pertama yang dia bawa langsung ke rumah ini dan diperkenalkan kepada kami."
Deg!
Mendengar pernyataan mutlak itu, mata Mahika langsung membelalak lebar. Sontak, ia menoleh kaget ke arah Reagan yang berdiri dengan wajah kaku di sampingnya.
Tanpa berpikir panjang, rasa panik dan gengsi membuat Mahika langsung membantah dengan cepat.
"Eh? Mohon maaf sebelumnya, Tante... S-saya sebenarnya nggak dibawa kok sama Pak Reagan ke sini!" sangkal Mahika buru-buru, melambaikan kedua tangannya canggung. "Tadi pagi saya cuma dipaksa ikut masuk mobilnya karena katanya biar efisien, tapi sumpah demi apa pun status saya di sini cuma sebagai mitra desainer, bukan..."
Belum sempat Mahika menyelesaikan kalimat pembelaannya, Reagan yang dari tadi diam mendadak kehilangan kesabaran. Urat di pelipis pria kaku itu berkedut kesal.
"Mahika! Kamu ini amnesia mendadak, ya?!" potong Reagan dengan nada suara tinggi penuh kejengkelan, menatap tajam ke arah gadis di depannya. "Jelas-jelas tadi pagi saya yang jemput kamu pakai mobil saya sampai depan teras rumahmu dan sekarang kamu malah berdiri di sini bilang nggak dibawa ke sini?!"
Mahika melotot sengit, sama sekali tidak mau kalah. "Ya memang benar kan! Kamu jemput aku karena mau jemput Bu Aura di bandara, bukan mau pamer ngajak aku main ke rumah orang tuamu! Jangan bikin asumsi aneh-aneh deh, Pak Reagan."
"Astaga... kalian berdua ini baru saja menginjakkan kaki di teras rumah tapi sudah mulai adu mulut seperti kucing dan tikus," komentar Bu Aura sambil menggelengkan kepala, tersenyum geli menyaksikan interaksi panas-dingin di antara keponakan dan anak didiknya itu.
Mahika langsung menghela napas panjang, memasang wajah melas setenang mungkin, lalu menoleh ke arah Bu Aura dan Martha.
"Bukan seperti itu, Bu... Astagfirullahaladzim," adu Mahika dengan nada memelas dramatis, menatap Bu Aura penuh permohonan. "Tante Aura, tolong selamatkan saya... Keponakan Tante ini benar-benar makhluk paling menyebalkan dan hobi memelintir perkataan orang."
Melihat Mahika mengadu secara langsung, Martha dan Bu Aura langsung tertawa lepas berbarengan.
"Wah, hebat ya, Re! Baru kali ini ada perempuan yang berani ngadu ke mamamu dan tantemu sambil ngejelek-jelekin kamu terang-terangan," goda Bu Aura jahil, menyenggol lengan Reagan.
Reagan mendengus dingin, membuang muka sambil melipat kedua tangannya di dada. "Biarin saja, Tante. Biar dia sadar kalau dia itu cerewet."
"Loh, kalau kamu masih kesal, kan ada bundanya tuh di sini! Adukan saja langsung kelakuan anak sulungnya yang kaku ini ke Bundanya, Mahika!" timpal Bu Aura makin gencar menggoda, membuat pipi Mahika merona merah padam karena salah tingkah.
Martha tersenyum hangat, meraih tangan Mahika dengan lembut untuk menuntunnya masuk ke dalam rumah. "Udah, biarin aja si Kulkas Tujuh Pintu itu ngomel sendiri di luar. Ayo masuk, Nak Mahika. Di dalam sudah disiapkan makan siang hangat sama koki rumah."
Mereka berempat akhirnya berjalan melangkah masuk ke ruang makan keluarga yang luas dan elegan. Meja makan kayu jati berukuran panjang sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan lezat khas Nusantara.
Sembari mereka duduk bersiap menikmati hidangan, obrolan hangat mengalir begitu saja. Martha, yang duduk di sebelah Mahika, menuangkan air hangat ke dalam gelas gadis itu dengan penuh perhatian.
"Mahika, Tante sudah dengar semua cerita dari Aura soal apa yang menimpamu di Jakarta beberapa waktu lalu," ucap Martha tiba-tiba dengan suara yang berubah lembut, menyentuh punggung tangan Mahika penuh empati. "Tante turut prihatin ya, Nak. Kamu anak yang sangat kuat bisa melewati cobaan seberat itu."
Mendengar ucapan tulus dari ibunda Reagan, suasana hati Mahika yang tadinya riang mendadak melunak. Tenggorokannya terasa sedikit tercekat.
"Terima kasih banyak, Tante..." cicit Mahika pelan, menunduk sejenak. "Jujur, awalnya memang terasa sangat berat dan hancur banget. Kakak kandung dan mantan tunangan saya sendiri tega berkhianat di hari pernikahan, lalu keluarga menuduh saya yang bukan-bukan."
Martha menggelengkan kepala pelan, tatapan matanya menyiratkan kemarahan sekaligus keibuan yang luar biasa. "Lelaki pengkhianat dan keluarga yang toxic seperti itu sama sekali tidak layak mendapatkan perempuan hebat sepertimu, Mahika. Kamu tidak kehilangan apa pun, justru mereka yang kehilangan permata paling berharga dalam hidup mereka."
Di seberang meja, Reagan yang duduk diam sambil memotong makanannya mendadak melirik ke arah Mahika. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, namun sorot mata dinginnya kali ini menyiratkan persetujuan mutlak atas ucapan sang bunda.
Bu Aura tersenyum bangga melihat keakraban antara kakak dan anak didiknya itu. "Makanya, sekarang Mahika sudah punya panggungnya sendiri di Bandung. Mahika Atelier bakal jadi kerajaan bisnis fashion yang merajai pasar nasional, dan tidak ada lagi yang boleh menginjak-injak harga dirinya."
"Betul sekali," dukung Martha antusias. "Dan kalau si Reagan ini berani macam-macam atau bikin kamu sakit kepala selama kerja di bawah naungan keluarga kami, bilang saja sama Tante. Nanti Tante jewer telinganya sampai merah."
Mendengar ancaman sang bunda pada anak kandungnya sendiri, Reagan mendengus pelan sambil menatap piring makannya. "Bunda ini malah membela orang lain. Jelas-jelas dia yang dari tadi cari gara-gara."
"Siapa yang cari gara-gara, hah?!" protes Mahika cepat, melotot tajam ke arah Reagan.
"Kamu," jawab Reagan singkat tanpa ragu.
"Udah, udah! Malah argumen lagi di meja makan!" lerai Bu Aura diiringi tawa renyah yang memenuhi ruang makan keluarga Baskara siang itu.
Di tengah gelak tawa dan obrolan hangat yang mengalir tanpa henti, Mahika merasa beban di dadanya benar-benar terangkat bersih. Di kelilingi oleh orang-orang tulus mulai dari Bu Aura, Martha, hingga si kulkas menyebalkan bernama Reagan Mahika sadar bahwa semesta sedang membayarnya secara kontan dengan kebahagiaan yang jauh lebih megah dari apa pun di masa lalunya.
untuk makan aja mereka susah ini malah mau neror Mahika 😝😝😝😝
kok "tatanan rambut di gulung longgar"🤔🤔🤔
posisi Ratu apa yang kamu janjikan Reno 😡😡😡😡toh semuanya Mahika yang biayanya
kesuksesan mu sedang menunggu di depan 💪