Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 14
"Bu..." bisik Maya seraya membukakan pintu mobil untuk Zemima begitu mereka tiba di pekarangan luar. Suaranya tertahan, sarat akan kekhawatiran dan rasa ingin tahu.
Zemima hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya lurus menatap jalanan yang membentang di depan. Dalam diam, kepala Zemima sibuk memetakan setiap detail yang baru saja ia saksikan. Usia kandungan enam bulan, keberadaan Arsyad yang tahu selama empat bulan terakhir, serta deretan barang mewah baru.
"Apa benar wanita bernama Dina itu hanya orang asing yang tinggal di rumah mertuaku? Atau ini ada hubungannya dengan Mas Arsyad? Tapi dia akhir-akhir ini sibuk dengan proyek? Lalu mobil dan moto mewah? Juga ucapan ibu yang mengatakan jatah bulanannya Tiga Puluh Lima Juta? Apa itu kebetulan?"
"Mas Arsyad tak mungkin punya uang sebanyak itu kalau harus membelikan mobil, motor mewah, juga uang bulanan yang sebegitu besar, sementara semua gaji san kartu kredit sudah di blokir dan tinggal pembayaran saja? Lalu kalau wanita itu ada hubungannya dengan Mas Arsyad, kapan dia punya waktu untuk wanita itu, kalau dia sangat sibuk? Bahkan bersamaku saja dia tak ada waktu..."
Itulah beberapa pertanyaan yang ada di kepala Zemima. Jujur dia merasa janggal dan curiga dengan semua yang ada di rumah keluarga suaminya, dia tak mengira akan banyak kejutan di sana. Dan mereka semua memiliki jawaban dan alibi yang belum bisa dia nyatakan kebohongannya.
Malam itu berjalan begitu lambat. Suasana rumah milik Zemima dan Arsyad tampak sunyi memikat. Zemima duduk di sudut sofa ruang keluarga lantai atas, mengenakan gaun tidur bahan sutra berwarna navy, dengan buku di tangannya, yang sejujurnya tak satu kata pun benar-benar ia baca.
Jarum jam dinding berdenting halus, tepat menunjukkan pukul dua dini hari.
Terdengar derak pintu utama di lantai bawah dibuka dengan amat pelan, disusul suara helaan napas berat dan langkah kaki yang terseret letih. Arsyad melangkah menaiki tangga. Langkahnya limbung, kemeja kerjanya yang putih sudah kusut berkerut, dasinya mengendur miring, dan jaket jasnya terkulai di lengan kiri.
Begitu menginjakkan kaki di lantai atas, Arsyad terkejut mendapati Zemima masih terjaga, duduk anggun dalam remang cahaya lampu sudut.
"Sayang...?" panggil Arsyad gagap. Ia mengusap wajahnya yang kusam dan dipenuhi minyak, matanya merah karena mengantuk dan lelah yang luar biasa.
"Kamu... belum tidur?"
Zemima menurunkan bukunya perlahan, mengulas senyum lembut, senyuman yang dalam beberapa jam terakhir telah menjadi topeng paling sempurna.
"Belum, Mas. Nungguin kamu," jawab Zemima tenang.
"Kok baru pulang jam segini? Apa pesawatnya kembali delay?"
Arsyad berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tepi sofa dekat Zemima. Bau keringat bercampur parfum yang mulai samar tercium dari tubuhnya. Ia mengusap lehernya yang kaku.
"Iya, Dek... Proyek cabang baru benar-benar menguras energi. Mas memaksakan pulang dengan jadwal penerbangan malam hari karena sudah sangat rindu sama istri Mas ini.. sudah hampir empat hari Mas nggak ketemu kami..." sahut Arsyad dengan suara serak, dengan ucapan rotomatis seperti biasa.
"Kasihan sekali suamiku," tutur Zemima lembut. Ia berdiri, mengusap bahu Arsyad dengan jemarinya yang dingin.
"Kamu kelihatan capek banget, Mas. Mau aku ambilkan minum atau buatkan teh hangat?"
"Nggak usah, Dek... nggak usah," cegah Arsyad cepat, melambaikan tangannya lemah. Mata pria itu sudah setengah terpejam, napasnya berat menahan kantuk.
"Mas cuma mau tidur... capek banget, serasa mau lepas semua badan Mas."
Tanpa melepas sepatu kulitnya yang masih membalut kaki, apalagi mengganti kemeja kusutnya, Arsyad langsung merebahkan diri telentang di atas tempat tidur berukuran king size mereka. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam empuknya kasur. Hanya dalam hitungan detik, dengkuran halus mulai terdengar dari tenggorokannya.
Zemima berdiri mematung beberapa saat di sisi ranjang, memperhatikan Arsyad yang sudah lelap terlelap. Napas teratur dan dengkuran halus pria itu membuktikan betapa fisiknya berada di titik kelelahan tertinggi.
Zemima mendengus pelan tanpa suara. Ia lalu berbalik dan berjalan menuju koper berukuran sedang yang diletakkan Arsyad begitu saja di dekat pintu kamar. Sebagai istri yang terbiasa teratur, membongkar koper suami setelah perjalanan dinas adalah hal rutin yang selalu ia lakukan.
Zemima menarik resleting koper itu pelan agar tak menimbulkan bising. Di dalamnya, pakaian kotor Arsyad sudah menumpuk tidak beraturan. Dengan cekatan, jemarinya memilah-milah baju-baju tersebut.
"Mana yang kemeja kantor, mana yang kaus santai..." gumam Zemima pelan pada dirinya sendiri.
Ia memisahkan kemeja-kemeja bahan katun halus dan jas kerja Arsyad ke dalam kantong khusus untuk dikirim ke laundry langganan besok pagi, sementara pakaian santai dan celana dalam ia masukkan ke dalam keranjang pakaian kotor untuk dicuci oleh Mbak Mirna, asisten rumah tangganya.
Saat sedang merogoh saku celana bahan hitam yang berada di bagian paling bawah koper, jemarinya menyentuh selembar kertas kecil bertekstur licin yang terlipat rapi.
Zemima menariknya keluar. Di bawah pendar lampu kamar yang remang, ia membuka lipatan kertas tersebut. Itu adalah sebuah struk cetak resmi dari salah satu toko perhiasan ternama di pusat perbelanjaan mewah Jakarta.
Mata Zemima memicing tajam saat membacanya detail demi detail:
1x Kalung Emas Putih Rose Gold - Diamond Series
Total Pembayaran: Rp48.500.000,-
Metode Pembayaran: EDC BCA (Debit Direct)
Tanggal & Waktu: Kemarin, 19:45 WIB
Dada Zemima berdesir dingin. Sebuah kalung berlian seharga nyaris lima puluh juta rupiah?
"Kalung...?" bisik Zemima lirih.
Ia memutar ingatan dan matanya menyisir sekeliling kamar. Tidak ada kotak perhiasan baru di dalam koper, tidak ada pula hadiah yang diserahkan Arsyad saat ia tiba tadi. Kalung itu jelas bukan untuknya.
Pikiran Zemima mendadak berputar cepat memproses semua kejanggalan yang saling bertautan:
Akses kartu kredit dan rekening pribadi Arsyad sudah ia blokir sejak kasus empat bulan lalu, dan semua alokasi gaji Arsyad dipotong langsung untuk cicilan rumah serta kebutuhan pokok yang ia kelola. Jika keuangan Arsyad dibatasi ketat, dari mana pria itu bisa mendapatkan uang tunai di rekening sebesar Rp48,5 juta hanya untuk sebuah kalung? Belum lagi mobil SUV mewah, motor baru, dan klaim uang bulanan Rp35 juta untuk ibunya di rumah mertua?
"Uang dari mana, Mas...?" gumam Zemima pelan sambil menoleh menatap sosok Arsyad di ranjang.
Zemima mengambil ponselnya dari dalam saku gaun tidur, lalu memotret struk pembelian perhiasan tersebut dengan sudut pencahayaan yang sangat jelas. Setelah memastikan foto tersimpan di cloud pribadinya yang terkunci, ia melipat kembali struk itu dan menyimpannya di tempat semula di saku celana Arsyad.
Zemima merapikan sisa isi koper, menutupi kembali resletingnya, lalu berdiri tegak.
Ia berjalan mendekati ranjang, berdiri di samping Arsyad yang masih tertidur pulas seolah tak pernah melakukan kebohongan kepada istrinya.
"Jika kamu dan kalian tak mau jujur, maka aku yang akan mencari tahu sendiri, Mas!" bisik Zemima pelan.