NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecolongan

Nadira sudah rapi dengan pakaiannya. Malam ini, ia sudah membuat janji dengan seseorang untuk pergi jalan-jalan. Saat sedang memperhatikan penampilannya melalui pantulan cermin, Rayzan masuk ke dalam kamar mereka.

"Nadira ... Kamu mau ke mana?"

"Keluar."

"Keluar? Sama siapa malam-malam begini?"

"Sama teman."

Rayzan mendekati Nadira. Ia memperhatikan penampilan istrinya yang terlihat begitu cantik malam itu.

"Kamu cantik banget, sayang."

"Aku tau," balas Nadira dengan percaya diri.

"Kamu mau ketemu Pak Revin, ya?"

Nadira menatap suaminya sambil mengernyitkan kening.

"Kalau iya, kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa, sih. Ya, wajar aja. Kamu, kan, wanita murahan."

"Jaga ucapanmu, Rayzan. Kamu sendiri sudah membuktikan aku perempuan seperti apa."

Lelaki itu tersenyum tipis. "Gini, Nadira ... Kamu sudah punya suami sekarang. Tapi kamu malah bertemu dengan laki-laki lain di luar sana, malam-malam lagi. Itu artinya kamu memang murahan."

"Aku nggak keluar sama Pak Revin. Aku, kan, sudah bilang sama teman. Kenapa, sih, kamu nggak percaya?"

"Kamu percaya kalau aku mencintaimu?"

"Nggak!"

"Oke! Aku juga nggak akan percaya kalau kamu nggak bertemu laki-laki lain di luar sana."

"Apaan, sih ... Aku ketemu sama Monic, teman kerjaku."

Rayzan pun menjaga jarak di antara mereka. Kemudian, ia duduk di tepi ranjang.

"Aku nggak percaya, Nadira! Aku akan tetap menganggap kamu sebagai wanita murahan. Mengerti?"

"Aku istrimu, lho. Masa kamu menghina aku?" ujar Nadira. "Kemarin-kemarin kamu minta maaf karena sudah menghina aku. Terus sekarang apa? Kok kamu malah melakukannya lagi?"

"Sudah sadar kalau aku ini suamimu?" tanya Rayzan sambil memandang Nadira.

Nadira melangkah mendekati suaminya.

"Ya, kita memang sudah menikah. Tapi bukan berarti aku akan menerima kamu. Kita akan cerai! Tapi selama kita masih terikat dalam pernikahan, itu artinya kamu nggak boleh menghina aku. Nanti kamu bisa zalim."

"Kamu juga zalim sama aku. Memangnya kamu melayani aku dengan baik layaknya seorang istri kepada suaminya? Kan enggak."

"Tadi kamu sakit dan aku merawatmu dengan baik. Terus apa lagi salahku?"

Rayzan menggelengkan kepalanya.

"Pergi saja ... Tapi jangan menyesal. Aku akan bilang kepada orang tuamu kalau ternyata kamu pernah dilecehkan."

"Maksud kamu apa, sih, ngomong begitu? Mau mengancam aku?"

"Iya. Aku nggak sabar melihat Mama dan Papa meminta maaf kepadaku. Pasti mereka akan memohon supaya aku nggak menceraikan wanita murahan seperti kamu!"

"Niat kamu nggak jauh berbeda dari Daulat. Mau mempermalukan keluarga kami, kan?"

"Tujuanku memang itu. Semua yang kulakukan karena sikapmu kepadaku."

Nadira kembali emosi. Ia melemparkan tasnya, kemudian menghampiri Rayzan.

Dengan gerakan cepat, Rayzan menarik lengan Nadira hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berbaring di atas ranjang.

"Ka-kamu mau ngapain?" tanya Nadira mulai gugup.

"Kamu sangat cantik. Aku nggak akan membiarkan kecantikan istriku dinikmati lelaki lain di luar sana."

[] [] []

Indah sedang duduk di dalam kamar bersama suaminya. Ia memperhatikan Ozan yang sedang bekerja di depan laptop.

"Gimana dengan Rayzan?" tanya Ozan. "Mereka baik-baik saja, kan?"

"Iya, Mas ... Tapi aku nggak bertemu dengan besan kita. Nadira bilang orang tuanya sedang pergi karena ada pekerjaan di luar kota."

"Hmm ... Eros memang punya bisnis. Dia sempat mengajakku untuk ikut dengannya. Katanya, sih, proyek besar. Tapi lihat saja sekarang," ujar Ozan. "Pekerjaan di kantor banyak banget sampai aku harus membawanya pulang begini."

"Mas tahu nggak ... Nadira dan Rayzan sudah berhubungan."

"Hah?"

Ozan terkejut mendengar ucapan sang istri. Ia tidak menyangka hal itu akan terjadi. Semua orang tahu bahwa pernikahan Rayzan dan Nadira tidak dilandasi rasa cinta.

Lelaki itu melepaskan kacamatanya. "Kamu yang benar kalau ngomong."

"Rayzan sendiri yang cerita, Mas."

"Anak kamu itu aneh. Hal seperti ini malah diceritakan."

Plak!

Indah memberikan pukulan kecil pada lengan suaminya.

"Mana mungkin Rayzan cerita secara detail tentang aktivitas mereka. Mas ada-ada saja."

"Terus kamu tahu dari mana, hm?"

"Jadi, Rayzan minta didoakan sama aku supaya dia cepat memberi kita cucu. Terus aku tanya bagaimana hubungan mereka. Dan Mas tahu? Nadira malah malu."

Indah tertawa kecil saat mengingat ekspresi menantunya.

"Aku yakin dia pasti malu sama Rayzan. Wajahnya langsung merah, Mas. Hehehe ..."

"Baguslah kalau begitu. Berarti kita nggak perlu khawatir lagi dengan pernikahan mereka."

"Itu yang aku maksud, Mas. Untungnya mereka sudah berhubungan. Aku pikir Rayzan nggak menyentuh Nadira setelah tuduhan dari Daulat."

"Aku nggak yakin itu ... Mereka sudah satu kamar. Mustahil anak kita itu nggak berbuat apa-apa."

"Ya, kan, bisa saja, Mas. Apalagi Rayzan pasti masih sayang sama Meidra."

Ozan kembali memakai kacamatanya dan menatap ponselnya.

"Aku nggak tahu bagaimana kalau Meidra tahu. Pasti dia kecewa sama kita karena kita sudah berjanji bahwa mereka akan menikah setelah Daulat."

"Meidra sudah datang, Mas. Dia ke sini mau menemui Rayzan."

"Terus bagaimana?" tanya Ozan.

"Ya menurut Mas bagaimana?" tanya Indah balik.

Ozan menggelengkan kepalanya, lalu kembali fokus pada layar laptop yang menyala.

"Semoga pernikahan anak kita baik-baik saja. Kita doakan saja supaya Meidra mendapatkan laki-laki lain."

"Aamiin..."

"Rayzan sakit, Mas. Dia demam," ungkap Indah. "Dan aku senang banget karena Nadira merawat anak kita dengan baik."

"Ya pasti dirawat. Orang dia suaminya," ujar Ozan. "Pasti Nadira sudah punya perasaan kepada anak kita. Kalau nggak, mana mungkin dia mau berhubungan dengannya."

"Mudah-mudahan saja, Mas."

[] [] []

Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Nadira, ruangan itu tampak begitu berantakan. Beberapa bantal tergeletak di lantai, sementara seprai sudah tidak lagi tertata rapi.

Nadira menatap Rayzan yang sedang tertidur pulas setelah mereka menghabiskan waktu berdua sebagai suami istri.

"Sialan, Rayzan! Dia bilang kakinya sedang sakit, tapi malah macam-macam sama aku," gerutu Nadira kesal.

"Bodoh kamu, Nadira! Kenapa, sih, kamu bisa kecolongan lagi? Malah tergoda sama tatapan Rayzan. Aneh!"

Nadira beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak lupa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sebelum pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Gara-gara dia, aku jadi gagal jalan-jalan."

Beberapa menit kemudian, Nadira keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti pakaian. Wanita itu memperhatikan kamarnya yang begitu berantakan. Beberapa pakaian miliknya dan pakaian suaminya berserakan di lantai.

"Huuuh ... Aku benci kamu, Rayzan. Kenapa, sih, aku malah membiarkan dia melakukan itu?"

"Semoga aku nggak hamil. Aku takut banget hamil anaknya Rayzan. Aku benci semua ini."

"Rayzan pasti senang. Lagi-lagi dia berhasil membuatku seperti ini."

Nadira mendekati suaminya yang masih tertidur. Ia mengernyitkan kening ketika melihat bibir Rayzan sedikit bergetar.

"Rayzan, hei."

Nadira membungkukkan tubuhnya untuk melihat keadaan pria itu.

"Di-dingin, Nadira."

"Lho ... Kamu demam lagi."

"Uhuk..." Rayzan menggigil.

"Telepon Umi. A-aku mohon."

Nadira segera mengambil ponsel Rayzan. Kemudian, ia menghubungi mertuanya melalui ponsel tersebut. Nadira memberitahu Indah agar datang lagi ke rumah karena Rayzan kembali jatuh sakit.

Nadira duduk di samping Rayzan dan menyelimuti tubuh pria itu. Tanpa diduga, Rayzan malah berusaha duduk dan memeluk istrinya.

"Kamu demam tinggi," ujar Nadira setelah memeriksa keadaan pria itu. "Atau kita ke rumah sakit saja? Kamu harus dirawat."

"Cukup istriku yang merawatku. Pasti aku bahagia."

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!