Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Rapat di Rumah Kiai
Pertemuan itu berlangsung sore hari, di ruang tamu Kiai Wahid yang sama tempat Zaki dan Darto pernah menyajikan teh beberapa minggu lalu. Kali ini ruangan itu lebih penuh. Selain Kiai dan Bu Nyai, hadir pula Ustaz Malik, dua ustaz senior lainnya, Ustaz Zahid dari Kediri, dan beberapa tokoh desa termasuk Pak Lurah Suryo, yang duduk di sudut dengan wajah tenang namun matanya sering melirik ke arah pintu.
Zaki dan Darto, seperti biasa, bertugas menyajikan minuman. Kali ini mereka bergerak lebih hati-hati, karena suasana di ruangan itu terasa berbeda, lebih berat, seperti udara sebelum badai.
"Jadi," kata Kiai Wahid setelah semua duduk, "saya kumpulkan Bapak-bapak semua untuk membicarakan langkah selanjutnya. Kabar dari Jakarta dan Surabaya semakin tidak enak didengar. Perundingan tampaknya di ambang kegagalan."
"Benar, Kiai," sahut salah seorang ustaz senior. "Kenalan saya di Malang bilang, tentara Belanda sudah mulai bergerak mendekati garis demarkasi. Kalau perundingan gagal total, serangan bisa terjadi kapan saja."
"Apa rencana kita untuk pondok?" tanya Ustaz Zahid, suaranya tegang. "Saya khawatir dengan keselamatan anak-anak, termasuk Nafisah."
Kiai Wahid menghela napas panjang, tangannya terlipat di pangkuan. "Saya sudah memikirkan beberapa kemungkinan. Kalau keadaan benar-benar memburuk, kita perlu rencana pengungsian. Bukan hanya untuk santriwati, tapi untuk seluruh pondok."
"Ke mana, Kiai?" tanya Pak Lurah Suryo, suaranya terdengar terlalu ingin tahu untuk sekadar formalitas.
"Ke arah pegunungan," jawab Kiai. "Ada beberapa dusun di lereng yang lebih aman, jauh dari jalur utama yang biasa dilewati pasukan. Saya sudah berkirim surat pada kenalan lama di sana."
"Itu rencana yang bagus," kata Ustaz Zahid. "Tapi bagaimana dengan waktu pelaksanaannya? Kita tidak bisa menunggu sampai serangan benar-benar terjadi."
"Betul," sambung Ustaz Malik. "Kita perlu tanda-tanda yang jelas. Kalau ada kabar pasti bahwa serangan akan terjadi dalam waktu dekat, kita harus bergerak cepat, dalam hitungan hari, bukan minggu."
Diskusi berlanjut lama, membahas rute pengungsian, siapa yang bertanggung jawab atas kelompok mana, dan bagaimana menjaga agar kepanikan tidak menyebar ke seluruh santri. Zaki dan Darto berdiri di sudut ruangan, mendengarkan sambil sesekali mengisi ulang gelas teh yang mulai dingin.
"Kang," bisik Darto pelan, "kamu dengar itu? Pengungsian ke pegunungan."
"Iya," bisik Zaki. "Kalau itu terjadi, bagaimana dengan aturan pemisahan santri putra-putri?"
Darto menggeleng, tidak tahu jawabannya.
Di tengah pembicaraan, seseorang mengetuk pintu dengan tergesa. Seorang santri muda masuk dengan napas terengah, wajahnya pucat.
"Kiai," katanya, hampir tidak bisa mengatur napas. "Ada kabar dari kota. Baru saja diterima lewat kurir."
"Kabar apa, Nak?"
"Belanda... Belanda sudah mulai menyerang, Kiai. Tadi malam. Di beberapa titik di Jawa Barat dan Jawa Timur bagian utara. Kurirnya bilang, ini bukan lagi ancaman. Ini sudah dimulai."
Ruangan itu mendadak sunyi, sesunyi malam sebelum azan subuh. Kiai Wahid menutup mata sejenak, seperti sedang mengumpulkan kekuatan, lalu membukanya kembali dengan tatapan yang lebih tegas dari sebelumnya.
"Kalau begitu," katanya, suaranya tenang tapi penuh keputusan, "kita tidak bisa menunggu lagi. Besok pagi, saya akan mengumumkan kepada seluruh santri. Kita mulai persiapan pengungsian hari ini juga."
Ustaz Zahid berdiri, wajahnya penuh kekhawatiran. "Saya akan langsung menjemput Nafisah malam ini juga, Kiai. Membawanya pulang ke Kediri lebih aman."
"Zahid," kata Kiai, suaranya lembut tapi menahan. "Kediri juga tidak sepenuhnya aman. Dan perjalanan malam hari, di tengah kabar seperti ini, justru lebih berbahaya. Biarkan dia di sini dulu, bersama rombongan pengungsian. Insyaallah, kami akan menjaganya seperti anak sendiri."
Ustaz Zahid terdiam, mempertimbangkan kata-kata itu dengan berat hati. Akhirnya ia mengangguk pelan, meski wajahnya masih menyimpan kecemasan yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.
"Baik, Kiai. Saya percayakan pada Panjenengan."
Zaki dan Darto keluar dari rumah Kiai dengan nampan kosong dan hati yang penuh. Malam sudah turun sepenuhnya, dan halaman pondok yang biasanya tenang kini mulai riuh oleh bisik-bisik santri yang entah dari mana sudah mendengar kabar itu.
"Kang Zaki." Darto berhenti di tengah halaman, menatapnya serius. "Kalau besok pengumumannya benar, kita akan mengungsi. Semua orang. Termasuk..."
"Termasuk Nafisah," sambung Zaki pelan.
Mereka berdua berdiri diam sejenak, membiarkan kata-kata itu mengendap. Di kejauhan, lampu-lampu minyak di asrama putri menyala satu per satu, dan Zaki bisa membayangkan kepanikan kecil yang mulai menjalar di sana, sama seperti di sisi putra.
"Kang," kata Darto lagi, suaranya lebih pelan dari biasanya, "apa pun yang terjadi besok, dan hari-hari setelahnya, saya akan ada di sampingmu. Kita hadapi bersama."
Zaki menoleh pada sahabatnya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di hari pertama dengan seekor ayam yang lepas, ia melihat Darto tanpa senyum jahil, hanya ketulusan yang polos dan kokoh.
"Terima kasih, Darto."
Mereka berjalan kembali ke asrama dalam diam, langkah mereka diiringi suara jangkrik malam yang, entah kenapa, terdengar lebih sunyi dari biasanya, seolah alam sendiri sedang menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi ketika matahari terbit esok hari.