Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejahilan Clyrine
Suara benturan keras handwrap Clyrine dengan focus mitts milik Damien masih bergema di dalam sasana. Keringat mulai membasahi dahi dan ceruk leher Clyrine. Napasnya terengah-engah, tetapi matanya berkilat penuh energi.
Di hadapannya, Damien berdiri tanpa goyah sedikit pun. Pria itu bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda lelah setelah menahan belasan kombinasi pukulan dari Clyrine.
"Napas lo masih berantakan. Pukulan terakhir lo terlalu mengayun," tegur Damien datar seraya menurunkan bantalannya. "Istirahat lima menit. Ambil minum."
Clyrine menghela napas tebal, menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung lengan kaos hitam Damien yang kebesaran. Ia berjalan menuju bangku panjang di tepi ring, tempat tas sekolah dan botol minumnya berada.
Saat hendak meminum air, matanya secara tidak sengaja menangkap ponsel milik Damien yang tergeletak di atas meja kecil dekat ring. Layarnya menyala sebentar memperlihatkan notifikasi pesan masuk, lalu redup kembali.
Sifat jahil yang sudah mendarah daging di dalam diri Clyrine mendadak bangkit. Rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan senyuman miring yang penuh rencana licik.
Kak Damien dari tadi sok lempeng dan dingin banget. Masa nggak bisa digodain sedikit? pikir Clyrine nakal.
Sambil pura-pura meneguk air minumnya, Clyrine melangkah pelan mendekati meja. Matanya melirik ke arah ruang penyimpanan peralatan—Damien sedang membelakanginya, sibuk merapikan sarung tinju ekstra di rak atas.
Dengan gerakan secepat kilat yang biasa ia gunakan saat menjahili musuh-musuhnya di sekolah, Clyrine menyambar ponsel Damien. Untungnya, layar kuncinya tidak dipasangi kata sandi—pria itu tampaknya terlalu polos atau terlalu percaya diri hingga tidak mengunci ponselnya.
Clyrine dengan cepat membuka aplikasi kamera.
Ia memasang wajah paling konyol yang bisa ia buat—menjulurkan lidah, menyipitkan satu mata, dan membuat tanda peace dengan jarinya yang masih terbalut handwrap hitam—lalu mengambil beberapa foto selfie. Tak berhenti di situ, ia memasang salah satu foto selfie konyolnya itu sebagai wallpaper layar kunci ponsel Damien!
"Lagi ngapain lo?"
Suara berat dan dingin yang tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinganya membuat Clyrine meloncat kaget.
"Huaa!" Clyrine refleks menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya, berbalik dengan cengiran lebar yang dipaksakan. "Nggak ada! Nggak ngapa-ngapain, Kak!"
Damien berdiri menjulang di hadapannya dengan lengan bersedekap, menatap gadis itu dengan alis terangkat curiga. "Ponsel gue mana?"
"Ponsel apa? Di meja tadi ada ponsel ya?" sahut Clyrine sok polos, matanya berkedip-kedip cepat.
Damien tidak menjawab dengan kata-kata. Langkah kakinya maju satu tindak, memangkas jarak di antara mereka hingga Clyrine harus mendongak rapat. Tatapan mata pria itu begitu tajam dan intimidatif.
"Clyrine. Serahkan," perintahkan Damien pelan tapi penuh penekanan.
Tahu ia tidak bisa kabur dari pria bertubuh tegap itu, Clyrine akhirnya menyerah. Dengan cengiran yang makin lebar, ia menyodorkan ponsel itu ke dada Damien. "Nih... cuma bercanda dikit, Kak. Jangan galak-galak napa."
Damien mengambil ponselnya, lalu menekan tombol daya untuk menyalakan layar kunci.
Seketika itu juga, langkah kaki Damien terhenti. Di layar ponselnya yang biasanya berlatar hitam polos, kini terpampang foto seraut wajah cantik berambut oranye-tembaga yang sedang menjulurkan lidah dengan pose menggemaskan sekaligus jahil.
Damien menatap layar itu cukup lama tanpa ekspresi.
Clyrine yang memperhatikan reaksi Damien mendadak menahan napas, sedikit cemas kalau pria itu bakal marah sungguhan. "Eh... kalau Kakak marah, gue ganti lagi deh—"
"Jangan pernah ubah wallpaper ini tanpa izin gue," potong Damien datar.
"Hah?" Clyrine membelalak kaget.
Damien memasukkan ponselnya ke dalam saku celana training-nya tanpa mengubah wallpaper tersebut, lalu menatap Clyrine dengan sudut bibir yang tertarik amat tipis—sebuah senyuman langka yang sangat menawan.
"Sebagai hukumannya karena lo sudah lancang," kata Damien seraya memasang kembali focus mitts-nya, "waktu istirahat lo habis. Tambah seratus kali push-up sebelum pulang."
"Hah?! Seratus?!" jerit Clyrine histeris. "Kak Damien jahat banget! Itu mah menyiksa anak di bawah umur namanya!"
"Sembilan puluh sembilan," sahut Damien tenang. "Makin banyak protes, makin tambah sepuluh."
Clyrine meringis kesal, menepuk dahinya sendiri. Tapi saat ia berbalik untuk mengambil posisi push-up, ia tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya—mengetahui foto konyolnya kini akan terus tersimpan di ponsel pria itu.
"Dua puluh... tiga puluh..." Clyrine meringis histeris. Baru sampai hitungan ke-35, kedua lengannya sudah gemetar hebat. Dadanya hampir menyentuh lantai matras sasana, napasnya terengah-engah seperti orang kehabisan udara.
Poni oranye-tembaganya basah kuyup oleh keringat, menempel di dahi. Rasa panas menjalar hebat di otot lengan dan bahunya.
Bruk!
Clyrine akhirnya menyerah total. Ia menjatuhkan seluruh tubuhnya ke matras dengan posisi telungkup, menempelkan pipinya ke lantai dingin sasana yang terasa begitu nikmat.
"Gue... nggak kuat, Kak!" cicit Clyrine lirih, suaranya teredam matras. "Tangan gue mau copot ini, beneran... Seratus mah pembunuhan berencana namanya!"
Damien berdiri menjulang tepat di sebelah tubuh Clyrine yang tergeletak pasrah. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada, memperhatikan punggung gadis remaja yang naik-turun cepat menghirup oksigen.
Tidak ada omelan lagi dari mulut Damien. Raut wajah tegasnya melunak sejenak, digantikan helaan napas pendek. Ia tahu fisik Clyrine sudah diperas habis-habisan sore ini—dari menahan emosi di perpustakaan, memukul focus mitts, sampai push-up paksa.
Damien berlutut di sebelah Clyrine. Tangan besarnya yang hangat tiba-tiba merengkuh tengkuk dan belakang lutut Clyrine, lalu dengan mudah menarik tubuh gadis itu berdiri menyender ke dinding sasana.
"Bisa berdiri nggak?" tanya Damien dengan suara berat yang pelan, berjarak begitu dekat di depan wajah Clyrine.
Clyrine menggeleng lemah, matanya terpejam rapat. "Lemas banget... Jangankan berdiri, megang sendok aja kayaknya tangan gue bakal gemetar."
Damien terkekeh pelan—suara tawa rendah yang jarang sekali keluar dari tenggorokannya. Ia merogoh saku celananya, mengambil botol air mineral yang baru dibuka, lalu mengarahkannya ke bibir Clyrine.
"Nih, minum dulu pelan-pelan," perintah Damien.
Clyrine membuka matanya sedikit. Tanpa sanggup memegang botol itu sendiri, ia membiarkan Damien meminumkannya seperti anak kecil. Tegukan air dingin itu terasa luar biasa menyegarkan di tenggorokannya.
"Hukuman lo dianggap selesai," kata Damien seraya menutup kembali botol airnya. Ia mengusap pelan puncak kepala Clyrine yang penuh keringat, mengacak-acak rambut oranye itu dengan gemas. "Sana ganti baju. Gue antar lo pulang sebelum Alaric nyariin lo."
Clyrine mendongak, menatap netra gelap Damien dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil. Ada rasa hangat yang aneh menyelusup pelan di dadanya—rasa aman yang tak pernah ia dapatkan di dalam rumahnya sendiri.
"Kak..." panggil Clyrine lirih saat Damien hendak berdiri.
"Kenapa?"
"Makasih ya," bisik Clyrine jujur, menyunggingkan senyum tipis yang tulus dari balik kelelahannya. "Buat semuanya."
Damien menatap gadis itu sejenak, lalu membalas senyumnya sangat tipis. "Sama-sama. Sekarang buruan ganti baju, sebelum gue berubah pikiran dan nambah sepuluh push-up lagi."
"Aaghh! Tega banget sih!" jerit Clyrine kesal seraya berusaha bangkit berdiri dengan kaki gemetar, membuat Damien kembali tertawa kecil melihat tingkahnya.