Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suara benturan logam bergema di koridor kapel, lebih keras dan lebih mengerikan daripada lonceng biara. Kayna bisa membayangkan apa yang terjadi di ruang konseling: Adrian, dengan jubah traveler yang kini pasti sudah robek, berhadapan dengan enam atau tujuh pembunuh bayaran terlatih.
"Jangan berhenti!" teriak Kayna pada Freya yang berlari di depannya, napasnya tersengal-sengal karena ketakutan dan kurangnya latihan fisik. "Kapel itu di ujung lorong kiri!"
Freya mengangguk kaku, matanya liar mencari-cari pintu kayu besar yang dimaksud. Mereka berbelok tajam, sepatu mereka berdecit di atas lantai batu yang dingin. Di depan mereka, terlihat pintu ganda kapel yang tinggi, dihiasi ukiran salib yang rumit.
"Mereka datang dari sana!" teriak salah satu agen Valerius dari arah koridor belakang. Langkah kaki berat terdengar mendekat dengan cepat.
Kayna menoleh sekilas. Tiga pria berpakaian hitam, wajah tertutup topeng kain, sedang berlari mengejar mereka. Salah satunya memegang busur silang kecil.
Panah, batin Kayna. Jika mereka menembak, kita mati.
"Ayo, Freya! Lebih cepat!" Kayna mendorong punggung Freya agar bergerak lebih gesit.
Mereka mencapai pintu kapel. Freya mencoba mendorongnya, tapi pintu itu terkunci rapat. "Kuncinya! Kita butuh kuncinya!" panik Freya, tangannya gemetar hebat saat mencoba memutar gagang pintu.
Di sudut kapel, terlihat sebuah meja sakristi tua dengan laci-laci kecil. Di atasnya ada sebuah lilin besar yang masih menyala redup, dan di sampingnya, tergantung sebuah kunci besi tua yang berkarat, kunci cadangan untuk keadaan darurat, seperti yang sering diceritakan para biarawati dalam dongeng-dongeng horor.
"Tapi Ibu Superior membawanya!" seru Freya putus asa.
"Tidak," ucap Kayna, matanya menangkap kilatan logam di bawah tumpukan kain altar yang berantakan di dekat meja. "Dia menyembunyikannya. Lihat!"
Kayna meraih kain itu, menariknya kasar. Di bawahnya, tergeletak sebuah kunci besi besar. Tapi sebelum ia bisa meraihnya, sebuah anak panah melesat dari kegelapan koridor, menghantam dinding tepat di sebelah kepalanya dengan bunyi thwack yang mematikan.
Kayna tidak gentar. Ia menerjang ke depan, mengambil risiko tubuh menjadi target, dan menyambar kunci itu. Tangannya terluka oleh sisi kunci yang tajam, darah mengalir deras, tapi ia mengabaikannya.
"Buka pintunya!" teriak Kayna, melemparkan kunci itu ke arah Freya.
Freya menangkap kunci itu dengan tangan gemetar. Ia memasukkan kunci ke lubang kunci, memutarnya. Klik.
Pintu kapel terbuka. Mereka berdua menyerbu masuk dan menutup pintu kembali dengan sekuat tenaga. Kayna segera mencari palang pengunci besi yang berat di balik pintu dan menggesernya ke tempatnya.
BRUK!
Tubuh-tubuh agen Valerius menghantam pintu dari luar, mencoba mendobrak. Palang besi itu bergoyang, tapi menahan. Untuk sekarang.
"Kita aman?" tanya Freya, terduduk di lantai, napasnya memburu.
"Untuk beberapa detik," jawab Kayna dingin. Ia melihat sekeliling kapel. Ruangan ini luas, tinggi, dan gelap. Cahaya matahari hanya masuk melalui jendela kaca patri di bagian atas. Di ujung ruangan, ada sebuah pintu kecil yang mengarah ke ruang bawah tanah yaitu terowongan pelarian.
"Tapi Adrian..." bisik Freya, wajahnya pucat. "Dia sendirian."
Kayna merasakan sakit di dadanya, lebih tajam daripada luka di tangannya. Ia ingin berlari kembali. Ia ingin membantu Adrian. Tapi jika ia pergi sekarang, semua usaha ini sia-sia. Bukti di perpustakaan Valerius akan hilang, dan kematian Adrian akan menjadi sia-sia.
"Adrian tahu risikonya," ucap Kayna, suaranya terdengar datar meski hatinya hancur. "Dan dia percaya padaku untuk menyelesaikan misi ini. Jadi kita tidak boleh gagal."
Ia menarik Freya berdiri. "Ayo. Ke ruang bawah tanah. Kita harus keluar dari biara ini dan menuju istana kerajaan sebelum Valerius menyadari bukunya hilang."
Mereka berlari menuju altar utama. Di belakang patung suci yang besar, terdapat sebuah tuas tersembunyi. Kayna menekannya. Lantai di depan altar bergeser perlahan, membuka tangga batu yang menurun ke kegelapan.
Udara lembap dan bau tanah basah menyeruak dari bawah.
"Turun," perintah Kayna.
Saat Freya mulai menuruni tangga, Kayna menoleh sekali lagi ke arah pintu kapel yang masih digedor-gedor. Suara dentuman semakin keras. Palang besi mulai melengkung.
Hold on, Adrian, doa Kayna dalam hati. Aku akan membawa bukti itu. Aku akan menghancurkan mereka. Dan aku akan kembali untukmu.
Dengan napas terakhir yang tertahan, Kayna turun ke kegelapan, menarik tuas lagi untuk menutup pintu perangkap di atas mereka, mengubur suara pertarungan di atas tanah.
..gagal terus🤣