NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GALAREA - Gadis Bodoh

Cowok berusia hampir 20 tahun, berjalan melewati koridor utama sebuah universitas. Dengan kedua tangan di dalam saku celana, tatapannya yang tajam, menghunus ke arah depan.

"Bodoh," gumamnya saat melihat seorang gadis terjerembab di lantai koridor, karena menginjak tali sepatunya sendiri.

Galaska, dengan almamater khas universitas tempatnya mengenyam pendidikan, berjalan mendekati gadis yang meringis sambil memegangi lututnya.

Ia berhenti dan berjongkok di depan gadis yang cukup dikenalnya sejak SMA, dulu.

Gadis itu mendongak dan menatap Gala masih dengan ringisan di bibirnya.

Tatapan mereka bertemu, ada harap dari gadis yang merupakan Mahasiswi baru itu, untuk mendapatkan pertolongan dari Gala.

Gala hanya menatap datar gadis itu, sebelum berucap, "Ceroboh lo gak pernah hilang, ya?"

Gadis bernama Reana itu, mengerucutkan bibirnya. "Bantuin, kek."

Gala mendengus pelan, lalu bangkit dari jongkoknya. Tak lupa, ia menepuk puncak kepala Rea sebanyak tiga kali.

"Udah gede, kan? Belajar mandiri," katanya sebelum berlalu tanpa membantu Rea, yang kini menatap langkahnya tak percaya.

Rea menggertakkan giginya, menahan emosi. "Cowok sialan, emang!"

Dengan kesal, Rea berdiri dari duduknya, lalu menepuk pantat dan lututnya untuk menghilangkan debu.

Kakinya sedikit terkilir dan ada lecet di kedua lututnya. Tapi, itu semua bukan masalah untuk seorang Reana.

Dengan langkah mantap, ia pergi ke lapangan dimana semua MABA sudah berkumpul, untuk segera melaksanakan upacara pembukaan acara Ospek.

Sampai di lapangan, tatapan Rea mengedar mencari keberadaan teman-teman SMA dan teman satu fakultasnya.

Setelah mendapatkan, Rea segera menghampiri teman-temannya itu, dan tanpa sengaja menabrak seseorang karena ia berjalan dengan kepala menunduk.

Rea mendongak, sontak membuat seseorang yang ditabraknya berdecak pelan.

"Hati-hati, bisa? Untung gue gak luka," kata Gala seraya menyentil kening Rea.

Rea menggeram pelan, lalu tanpa mengatakan apapun, ia berlalu meninggalkan Gala yang menatap kepergiannya dengan datar.

"Lo gak luka, kepala gue yang sakit," gerutu Rea seraya mengusap keningnya yang terasa sakit, karena membentur dada bidang Gala cukup keras.

Ditambah lagi dengan sentilan cowok itu yang tak pernah berubah sejak menjadi Kakak kelasnya dulu, sampai sekarang sudah menjadi Kakak tingkatnya.

"Lo kok bisa nabrak Bang Gala, sih?" tanya Cia, sahabatnya yang sudah berada di barisan.

"Gue jalan nunduk, ya kali mendongak. Yang ada kaki gue kesandung."

Cia meringis pelan, pasti sangat sakit menabrak dada seorang laki-laki. Ia saja sering menabrak dada suaminya, kadang terasa seperti benjol.

Tidak, itu berlebihan. Cia memang sedikit lebay jika menyangkut suami tercintanya, mohon dimaklumi sodara-sodara.

"Yang di belakang, bisa maju untuk melanjutkan obrolan," kata Gala dengan menggunakan mikrofon dari atas panggung, membuat dua gadis itu berhenti mengobrol dan berbaris rapi seperti yang lain.

"Abang sepupu lo ngeselin, pengin gue bejek-bejek itu muka jeleknya," bisik Rea yang mendapat cubitan kecil di lengannya oleh Cia.

"Jangan berisik, entar disuruh maju, tau rasa lo."

Rea mendengus, lalu menatap fokus ke arah depan, dimana Gala yang tengah berbicara dengan gaya cool nya.

"Sok ganteng, muka kayak lipatan lemak aja belagu," kata Rea dengan nada sebal.

"Jangan terlalu benci, nanti cinta loh."

Rea menengok ke arah Cia, menatapnya dengan mata menyipit. "Kayak lo sama Biru, maksudnya?"

Cia sontak membuang muka salah tingkah, membuat Rea mendengus sebal.

"Gak akan pernah gue bucin ke cowok galak kayak dia."

"Jodoh gak ada yang tau, Re."

"Untuk acara pengenalan lingkungan kampus, nanti masing-masing Fakultas akan di pimpin oleh anggota BEM, dibagi menjadi beberapa kelompok agar lebih mudah," kata seorang senior, yang memutus obrolan mereka.

Rea dan Cia sama-sama menatap ke arah depan, dimana beberapa anggota BEM berpencar untuk menempatkan diri di depan barisan MABA.

Rea sontak membulatkan mata dan menatap sinis Gala yang sudah menempatkan diri di barisannya.

"Sialan banget itu orang! Terobsesi sama gue kayaknya," gerutu Rea sambil menendang kerikil kecil di bawahnya.

Cia yang ada di samping Rea, sontak terkekeh dan menepuk pundak gadis itu. "Sabar aja, nanti lama-lama cinta, kok."

Rea mendelik sebal ke arah Cia, yang membuat gadis itu menyengir sambil mengangkat kedua jarinya.

"Re, itu barisan lo udah mulai jalan," kata Cia mengingatkan saat barisan Rea sudah mulai berjalan untuk mengelilingi lingkungan kampus.

"Malas, gue mau ikut barisan lo aja," kata Rea hendak masuk ke barisan Cia yang dipimpin oleh senior lain.

Namun, sebelum itu terjadi, Gala sudah lebih dulu menarik rambutnya yang dikuncir kuda, dari arah belakang.

"Ish, lepas!" Rea menepuk tangan Gala agar melepas tarikannya.

"Jalan sekarang atau gue botakin?"

Rea mendengus sebal, kemudian berjalan mendahului Gala dengan kaki yang dihentakkan.

Gala mengikuti Rea dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.

MABA lain yang didominasi mahasiswi, berulang kali curi pandang ke arah belakang, karena Gala tak kunjung maju untuk memimpin jalan dan menjelaskan tentang lingkungan kampus mereka.

Gala justru tampak berjalan santai di belakang, mengikuti setiap langkah Rea. Wajahnya sangat datar dan seperti tidak memedulikan apapun.

Langkah mereka terhenti, karena tidak tahu lagi harus berjalan ke arah mana. Di mana sekarang mereka ada di ujung koridor yang hanya terdapat toilet dosen.

"Kak, ini kemana lagi?" tanya seorang MABA perempuan, yang membuat Gala mendongak.

Sejak tadi ia berjalan dengan kepala menatap ke arah bawah, tepatnya menatap langkah kaki Rea.

Gala mengedarkan pandangan, lalu berbalik badan seraya menarik tangan Rea, memimpin jalan ke arah lain.

Rea berontak dan menghentakan tangan Gala hingga terlepas dari tangannya.

Hal itu tak lepas dari tatapan Maba lain, yang merasa iri dengan Rea. Beruntung sekali dipegang-pegang oleh seorang senior tampan.

Gala memandang lurus ke arah depan, dengan tangan kembali dimasukan ke dalam saku celana. Ia mulai menjelaskan tentang letak dan denah yang ada di kampus itu.

Cukup lama kegiatan berjalan, hingga mereka sampai di halaman tempat mereka berkumpul tadi.

"Ada yang ingin ditanyakan?" Gala berbalik, lalu tatapannya mengarah pada Rea yang juga tak sengaja menatapnya.

Rea membuang muka seraya mendengus, begitupun Gala yang ikut mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajah datar.

"Kak, kalau Presma di sini, siapa?" tanya salah satu MABA.

Gala mengedarkan pandangan, sebelum menunjuk salah satu senior yang duduk di pojok panggung.

"Itu yang lagi duduk, namanya Reksa."

Mereka ber-oh ria, sedangkan Rea sudah mendesah malas. Hari yang terik membuatnya kepanasan dan ingin segera duduk di bawah pohon rindang menikmati semilir angin.

"Kalau Kak Gala katua BEM nya, ya?"

Gala mengangguk singkat, lalu berucap, "BEM di fakultas Bisnis."

Mendengar itu, mereka mulai berbisik dengan senyum kagum, membuat Gala mendengus pelan.

Gala melirik gadis itu, tampak berulang kali mengusap keringat di keningnya.

"Kok Kak Gala sama Kak Reksa wajahnya mirip?"

Gala kembali fokus ke arah Maba yang lain. "Dia sepupu saya," jawab Gala singkat. "Kalian boleh istirahat dulu, nanti dilanjut lagi."

"Huh," desah Rea yang segera berlalu ke pinggir lapangan dan duduk di bawah pohon rindang, sesuai ekspektasinya.

"Setelah ini kegiatannya apa lagi, Kak?"

Gala menarik ujung lengan almamaternya, untuk melihat arloji hitam yang melingkar di sana.

"Nanti istirahat sampai lewat dzuhur, baru kegiatannya dilanjut. Bawa makan sama minum, kan?"

Semuanya mengangguk dan membuka tas mereka yang tergeletak di sekitarnya.

Berbeda dengan yang lain, Rea justru hanya diam seraya mengipas lehernya menggunakan telapak tangan.

Melihat itu, Gala mendekat dan menepuk puncak kepala Rea. "Bawa bekal?" tanyanya saat gadis itu mendongak.

Rea menggeleng pelan, membuat Gala berjongkok di hadapannya.

"Kenapa gak bawa?"

Rea memutar bola matanya, jengah melihat wajah super datar milik Gala.

"Malas."

Gala berdecak pelan. "Kalau nanti pingsan karena gak makan, gue gak akan nolongin lo."

Rea menatap Gala sinis. "Gue juga gak ngarep ditolongin sama lo!"

Gala mengedikan bahunya, lalu memilih bangkit untuk bergabung dengan Anggota BEM yang lain.

"Silakan istirahat, makan dan minum. Nanti kalau sudah azan, langsung ke mushola, salat bagi yang muslim," katanya sebelum berlalu.

Ia sempat melirik Rea sejenak, sebelum benar-benar pergi dari sana.

Rea sendiri bergerak menyandarkan punggungnya di pohon besar, seraya mengusap keringatnya berulang kali.

Kepalanya terasa pusing, mungkin karena hari yang begitu panas, dan pagi tadi ia belum sempat sarapan.

Ia juga tidak membawa bekal, karena lupa membawanya. Ia hanya membawa uang, sedangkan mereka dilarang untuk membeli makanan.

Bodoh memang, kenapa Rea tidak membawa bekal sesuai dengan arahan panitia Ospek, padahal sudah diingatkan dari awal.

Selama Ospek berjalan, semua diharuskan membawa bekal karena saat istirahat tidak boleh membeli apapun. Hal itu dimaksudkan untuk mengajarkan pada MABA tentang berhemat.

Beruntung, di kampus ini tidak ada hukuman berat bagi yang tidak membawa kelengkapan kebutuhan Ospek, sehingga Rea tidak mendapat hukuman.

Rea menoleh ke arah temannya yang lain, tidak ada yang ia kenal di sana. Ia kemudian mengedarkan pandangan untuk mencari Cia yang entah ada dimana.

Rea menghela nafas, tabiatnya yang tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan, membuatnya sulit mendapatkan teman baru.

Rea memilih bangkit, dia akan pergi ke kantin untuk mencari makan dan minum.

Masa bodoh jika nanti ia mendapat hukuman, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar perutnya dapat terisi.

Bahkan sekarang perutnya sudah sangat perih dan kepalanya terasa berputar, pandangannya pun perlahan mulai mengabur.

Susah payah, Rea melangkahkan kakinya. Namun, baru beberapa langkah, kepalanya terasa semakin pening.

Ia menghentikan langkahnya sejenak, memegangi kepalanya, sebelum akhirnya ambruk di tengah lapangan.

Semua mata tertuju pada Rea yang sudah tergeletak di bawah teriknya matahari, tak terkecuali dengan Gala yang mengepalkan tangannya dan menatap tubuh itu dengan sorot tajam.

"Gadis bodoh!"

.

To be continue ...

1
falea sezi
jahatnya saka😒
falea sezi
🤣🤣🤣 lucu amat pak su🤭
falea sezi
tolol d ancam gunanya police apa
falea sezi
bapak bangsat🤣
falea sezi
😓😓😓😓 ya ampun gar kenapa di buat meninggal kasian ih
falea sezi
bapak bangsat😒
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 gala gala ada aja
falea sezi
pantes songong wong gk di ajarin bapaknya sopan santun🤣
falea sezi
songong makanya gk punya temen😒 kenalan lah galak sok cantik mana ada ten cwek mau temenan🤣🤣🤣
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!