NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Kakek

Di ruang tamu apartemenku yang luas, AC dingin, sofa empuk, wangi karpet masih baru.

Kakek duduk di sofa paling besar, pakai batik coklat, tongkatnya disandarin di samping. Ibu mertuaku duduk di sebelahku, tangannya mengelus punggungku pelan.

Aku duduk dengan perut yang sudah mulai membesar. Sudah 4 bulan. Gamis yang aku pakai sudah agak ketat di bagian perut, tapi masih muat. Malu sebenarnya dilihat Kakek, tapi Kakek senyumnya lembut sekali.

Kakek melihat perutku lama, lalu bertanya dengan suara berat tapi sayang.

"Sekarang berapa bulan kehamilan mu nak?" tanya Kakek.

Aku mengelus perutku pelan, "Mau 4 bulan Kek," jawabku lirih.

Ibu langsung nyaut, "MasyaAllah sudah 4 bulan ya Syana, cepet banget..."

Kakek mengangguk pelan, matanya menerawang, seperti ingat sesuatu yang jauh.

"Hmm... Syukurlah..." kata Kakek pelan, "Kakek jadi ingat dulu ketika Ibunya Brayen hamil Brayen..."

Aku dan Ibu langsung menatap Kakek. Pasti cerita seru.

"Manja banget dia," lanjut Kakek sambil tertawa kecil, "Semua harus didapet, apapun yang dia inginkan. Ayahnya Brayen, anak Kakek itu, sampai pusing."

Ibu mertuaku langsung malu, "Ayah! Jangan ceritain yang itu!"

Kakek malah makin semangat, "Harus diceritain! Biar Isyana tau kalau ngidam itu turun-temurun di keluarga ini! Hingga satu waktu ya, Ibu Brayen ngidam Mangga serut pakai ice cream jam 1 malam!"

Aku langsung tegak.

Deg. Dada Isyana berdegup kencang.

Ibu menatapku heran, "Lho, kok Isyana kaget?"

Aku menelan ludah, tanganku refleks mengelus perutku makin kencang.

"Duh itu Ayahnya Brayen panik nyari-nyari nggak ketemu," lanjut Kakek, tidak sadar aku sudah deg-degan, "Jam 1 malam semua toko tutup! Akhirnya dia manjat tengah malam di pohon mangga belakang Mansion kami! Pakai sarung, pakai senter di kepala, manjat pohon mangga jam 1 malam! Satpam kira maling! Hahaha!"

Ibu mertuaku tutup muka, "Ayah! Itu kan karena Ayah juga yang nyuruh! Ayah yang bilang 'jangan sampai cucu Kakek ngiler di dalam perut!'"

Kakek ngakak, "Iya! Kakek yang nyuruh! Karena kalau bumil ngidam tidak kesampaian, nanti anaknya ngileran!"

Aku masih diam, jantungku berdegup makin kencang.

Kok sama Kakek... ngidamnya aku juga...

Waktu di Bali bulan lalu, aku ngidam itu juga Kek...

Dan Alhamdulillah Mas Brayen mau manjat pohon bikin mangga rujak serut pakai ice cream deh...

"Ih kok bisa sama ya nak?" tanya Ibu, melihat wajahku yang tiba-tiba merah, "Kamu kenapa Syana? Kok diem?"

Aku menggigit bibir, malu.

"Iya aneh ya kok sama Bu?" jawabku pelan, suaraku hampir tidak kedengaran.

Kakek langsung menatapku tajam, insting Kakek kuat.

"Isyana ngidam mangga serut ice cream juga?" tanya Kakek.

Aku mengangguk pelan, sangat pelan.

"Jam berapa?" tanya Kakek lagi.

"Jam... jam 1 malam juga Kek... waktu di Bali..." jawabku lirih.

Dua detik hening.

Lalu...

"HAHAHAHAHA!" Kakek meledak tertawa sampai perutnya guncang, tongkatnya sampai jatuh, "SAMA! SAMA PERSIS KAYAK IBUNYA BRAYEN! BRAYEN MANJAT JUGA??"

Aku mengangguk lagi, makin malu, sampai mau nangis, "Iya Kek... Mas Brayen... Mas Brayen manjat pohon mangga di villa Bali jam 1 malam... pakai sarung juga... satpam villa juga kira maling juga Kek..."

Ibu mertuaku langsung melotot, lalu ngakak juga, "Ya Allah Brayen! Beneran kamu suruh manjat, Syana?"

"Isyana nggak nyuruh Bu... Isyana cuma... Isyana cuma ngeluh pelan 'pengen mangga serut dingin'... terus Mas Brayen langsung bangun, langsung keluar villa pakai sarung, bawa pisau... Isyana takut Bu..."

Kakek masih ngakak, "Itu Brayen! Itu darah bapaknya! Bapaknya dulu juga begitu! Istrinya cuma bilang 'pengen mangga' dengan nada pelan, dia langsung manjat! Tidak pakai nanya!"

Aku mengelus perutku, air mataku tiba-tiba netes, bukan karena sedih, tapi karena terharu dan lucu.

"Terus gimana Syana? Enak mangganya?" tanya Ibu sambil mengelus bahuku.

Aku tersenyum sambil nangis kecil, "Enak banget Bu... Mas Brayen serut mangganya pakai parutan keju, terus kasih ice cream vanilla, terus dia suapin Isyana di pinggir kolam villa jam setengah 2 malam... Isyana makan sambil nangis karena haru... Mas Brayen tangannya bergetah mangga semua..."

Kakek yang tadi ngakak, tiba-tiba diam, matanya berkaca-kaca.

Kakek menatap perutku, lalu menatapku.

"Syana..." suara Kakek tiba-tiba pelan dan berat, tidak bercanda lagi, "Kamu tau kenapa Brayen mau manjat jam 1 malam?"

Aku menggeleng.

"Karena Brayen takut," kata Kakek, "Takut kalau anaknya nanti ngileran seperti kata orang dulu. Tapi lebih dari itu, Brayen takut kalau kamu kecewa. Anak laki-laki di keluarga kami diajari satu hal sejak kecil: kalau istrimu sedang hamil, dia sedang berjuang antara hidup dan mati membawa darah dagingmu. Jadi apapun yang dia minta jam 1 malam, itu bukan manja. Itu dia sedang butuh kamu untuk bilang 'Mas ada di sini'."

Deg.

Aku langsung nangis. Beneran nangis. Bukan nangis cengeng, tapi nangis haru.

Ibu mertuaku juga nangis, memelukku.

"Ayah... jangan bikin Isyana nangis... lagi hamil..."

Kakek menghela napas, lalu mengelus kepalaku seperti mengelus cucu kecil.

"Kakek dulu juga manjat pohon mangga untuk Neneknya Brayen," kata Kakek lirih, "Jam 2 malam, hujan, Kakek manjat. Karena Kakek tau, setelah anak itu lahir, istri Kakek tidak akan pernah manja lagi. Dia akan jadi ibu yang kuat. Jadi saat dia masih boleh manja, biarkan dia manja sepuasnya."

Aku makin sesenggukan di pelukan Ibu.

"Isyana... Isyana jadi kangen Mas Brayen Kek... Mas Brayen lagi meeting..."

Ibu mengelus perutku, "Sudah, sudah jangan nangis sayang... nanti dede bayinya ikutan sedih..."

Kakek berdiri, mengambil tongkatnya, lalu berjalan ke dapur.

"Ayo, Kakek mau bikin mangga serut ice cream sekarang! Mumpung masih jam 10 pagi, tidak perlu manjat malam-malam!"

Aku kaget, "Kakek bisa bikin?"

"Bisa! Kakek dulu yang ngajarin bapaknya Brayen! Sini, Isyana ajarin Kakek cara serutnya yang kayak di Bali itu gimana! Ibu ambil ice cream di kulkas!"

Dan siang itu, di apartemenku yang luas, tiga generasi ngumpul di dapur.

Kakek yang sudah sepuh, pakai batik, nyerut mangga dengan parutan keju, berantakan, mangganya loncat-loncat. Ibu mertuaku yang ketawa ngakak lihat cara Kakek nyerut. Dan aku, bumil 4 bulan, duduk di kursi tinggi, mengelus perut, sambil ngarahin, "Kek, serutnya tipis-tipis Kek, jangan tebal-tebal..."

"Tipis kayak gini nak?"

"Iya Kek, pinter!"

"Ha! Kakek masih pinter kan!"

Dan saat mangga serut ice cream itu jadi, kami makan bertiga di ruang tamu. Aku makan dua mangkok, Kakek satu mangkok, Ibu satu mangkok.

Rasanya tidak seenak buatan Mas Brayen jam 1 malam di Bali, tapi rasanya lebih hangat. Karena ada cerita Kakek di dalamnya.

Cerita tentang bagaimana cinta itu kadang harus manjat pohon jam 1 malam, pakai sarung, dikira maling, hanya untuk satu suapan mangga serut ice cream untuk wanita yang sedang membawa penerus keluarga.

Sore nanti, aku mau ceritain ini ke Mas Brayen. Pasti dia akan bilang, "Wah, berarti Mas sudah lulus jadi bapaknya bapak, Sayang..."

Dan aku akan jawab, "Iya Mas, Mas sudah lulus jadi ayah siaga paling hebat..."

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!